BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Bahasa memiliki peran yang sangat besar dalam kehidupan. Bahasa merupakan suatu alat komunikasi yang digunakan oleh manusia untuk menyampaikan pesan yang ingin disampaikan kepada lawan tuturnya. Begitu pentingnya kedudukan bahasa sehingga bahasa tidak pernah lepas dari kehidupan manusia. Bahkan bahasa bisa menjadi alat penggerak bagi setiap individu. Sebuah novel dapat menggugah hati sekaligus menjadi penyemangat untuk melakukan sebuah aktivitas atau kalimat- kalimat yang mempengaruhi pembaca. Bahasa sebagai salah satu alat untuk berkomunikasi juga digunakan sebagai sarana untuk penghibur atau hiburan. Menurut Wijana (1996:5) pragmatik merupakan bagian dari ilmu tanda sebenarnya telah dikemukakan sebelumnya oelh seorang filsuf yang bernama Charles Morris. Berbahasa adalah aktivitas sosial. Seperti halnya aktivitas- aktivitas sosial yang lain, kegiatan berbahasa baru terwujud apabila manusia terlibat di dalamnya. Bidang pragmatik dalam linguistik dewasa ini mulai mendapat perhatian para peneliti dan pakar bahasa di Indonesia. Bidang ini cenderung mengkaji fungsi ujaran atau fungsi bahasa daripada bentuk atau strukturnya. Dengan kata lain, pragmatik lebih cenderung ke fungsionalisme daripada ke formalisme. Hal itu sesuai dengan pengertian pragmatik yang dikutip dari http://lisadypragmatik.blogspot.com, bahwa pragmatik adalah kajian mengenai penggunaan bahasa atau kajian bahasa dan perspektif fungsional. Artinya, kajian ini mencoba menjelaskan aspek- aspek struktur bahasa dengan mengacu ke pengaruh-pengaruh dan sebab- sebab nonbahasa.
Di dalam berbicara, penutur dan lawan tutur sama- sama menyadari bahwa ada kaidah- kaidah yang mengatur tindakannya, penggunaan bahasanya, dan interpretasi- interpretasinya, terhadap tindakan dan ucapan lawan tuturnya. Setiap peserta tindak tutur bertanggung jawab terhadap tindakan dan penyimpangan terhadap kaidah kebahasaan di dalam interaksi lingual itu( Allan, 1986, 10). Grice (Wijana, 1996: 46-53) yang menyebutkan bahwa prinsip kerja sama ada empat maksim percakapan (conversational maxim). Yakni maksim kuantitas (maxim of quantity), maksim kualitas (maxim of quality), maksim relevansi (maxim of relevance), dan maksim pelaksanaan (maxim of manner).
Berbicara tidak selamanya berkaitan dengan masalah yang bersifat tekstual, tetapi seringkali pula berhubungan dengan persoalan yang bersifat interpersonal. Prinsip Kesopanan menurut Rahardi (2005: 59-66) dibagi menjadi enam maksim, yakni Prinsip kesopanan memiliki enam maksim yakni maksim kebijaksanaan, maksim kemurahan hati, maksim penghargaan, maksim kerendahan hati, maksim kecocokan, dan maksim kesimpatisan. Prinsip kesopanan ini berhubungan dengan dua peserta percakapan, yakni diri sendiri dan orang lain. Diri sendiri adalah penutur, dan orang lain adalah lawan tutur dan orang ketiga yang dibicarakan penutur dan lawan tutur.
Dari sekian banyak iklan maupun surat kabar dan sebagainya, yang lebih menarik perhatian menulis adalah menganalisis sebuah karya sastra yang berupa novel. Alasan penulis memilih judul “Prinsip Kerja Sama dan Prinsip Kesopanan dalam Novel Perempuan Yogya Karya Achmad Munif” karena perlu juga diadakan penelitian terhadap sebuah media bahan ajar/ bahan bacaan berupa novel barangkali juga masih banyak kesalahan maupun retorika pesan yang belum termuat di dalamnya. Situasi masyarakat yang kurang akan adanya pengapresiasi terhadap suatu karya untuk sebuah media seperti karya sastra sebuah novel. Novel dapat membuat pikiran pembaca hidup bahkan bisa juga berdrama terhadap sebuah intertekstual. Dengan kata lain, novel juga sangat berpengaruh terhadap perubahan nilai-nilai sebuah sistem demi melestarikan sebuah karya seni yang berguna bagi khalayak orang banyak, terutama Indonesia (Wijana, 2003:4).
Novel dapat muncul dari hasil komunikasi yang terkadang menyimpang dari maknanya, menyimpang bunyi, dan pembentukan kata baru. Prinsip kerja sama dan prinsip kesopanan bisa jadi dilanggar hanya untuk menimbulkan efek ketertarikan pesan realita bahasa terahadap masyarakat.
B. Identifikasi Masalah
1. Jenis- jenis prinsip kerja sama apa sajakah yang disimpangkan dalam Novel Perempuan Yogya Karya Achmad Munif.”
2. Jenis- jenis prinsip kesopanan apa sajakah yang dimanfaatkan dalam Novel Perempuan Yogya Karya Achmad Munif.”
3. Bentuk tuturan dalam Novel Perempuan Yogya Karya Achmad Munif.”
4. Maksud di balik prinsip kerja sama dalam Novel Perempuan Yogya Karya Achmad Munif.”
C. Batasan Masalah
1. Jenis- jenis prinsip kerja sama apa sajakah yang disimpangkan dalam Novel Perempuan Yogya Karya Achmad Munif.”
2. Jenis- jenis prinsip kesopanan apa sajakah yang dimanfaatkan dalam Novel Perempuan Yogya Karya Achmad Munif.”
D. Rumusan Masalah
1. Jenis- jenis prinsip kerja sama apa sajakah yang disimpangkan dalam Novel Perempuan Yogya Karya Achmad Munif ?”
2. Jenis- jenis prinsip kesopanan apa sajakah yang dimanfaatkan dalam Novel Perempuan Yogya Karya Achmad Munif ?”
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang dideskripsikan di atas, penelitian ini bertujuan sebagai berikut.
a. Mendiskripsikan jenis- jenis prinsip kerja sama dalam Novel Perempuan Yogya Karya Achmad Munif.
b. Mendiskripsikan jenis- jenis prinsip kesopanan dalam Novel Perempuan Yogya Karya Achmad Munif.
F. Manfaat Penelitian
Berkaitan dengan tujuan penelitian di atas, penelitian “Prinsip Kerja Sama dan Prinsip Kesopanan dalam Novel Perempuan Yogya Karya Achmad Munif” dengan harapan memperoleh dua manfaat, yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis.
1. Manfaat teoritis
Memberikan pengetahuan mengenai wujud implikatif tuturan yang di lontarkan tokoh dalam novel untuk mengungkap realisme sosial di masyarakat kaitannya dalam kajian pragmatik. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan tentang analisis aspek- aspek linguistik yang digunakan sebagai alat untuk membentuk wacana yang terdapat dalam sebuah novel.
2. Manfaat praktis
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai suatu rujukan penelitian berikutnya yang sejenis. Selain itu juga memperkaya referensi di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UAD, khususnya bidang pragmatik.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Penelitian Terdahulu
Penelitian Rahmawati (2009) mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang berjudul “Penerapan Prinsip Kerja Sama dalam Dialog Interaktif Kesehatan di Kalimaya Bhaskara FM”, mengahasilkan kesimpulan bahwa peserta tutur dalam “Dialog Interaktif Kesehatan di Kalimaya Bhaskara FM” menerapkan dan melanggar keempat maksim dari Prinsip Kerja Sama (PKS). Penerapan maksim digunakan karena dalam acara “Dialog Interaktif Kesehatan” dibutuhkan informasi yang benar, informatif, jelas, dan tidak ambigu.
Pertama, penerapan maksim kualitas ditandai oleh informasi yang benar dan memiliki bukti yang diberikan ole peserta tutur. Kedua, penerapan maksim kuantitas ditunjukkan dengan adanya informasi yang cukup dan tidak melebihi yang dberikan oleh peserta tutur. Ketiga, penerapan maksim berhubungan ditunjukkan oleh adanya kesesuaian antara informasi yang terdapat dalam tuturan dengan topik yang dibicarakan oleh peserta tutur. Keempat, penerapan maksim cara terlihat dari kejelasan informasi, menghindari ungkapan yang kabur, bertutur singkat dan teratur dalam menyampaikan informasi.
B. Kerangka Teori
1. Hakikat dan Latar Belakang Pragmatik
Menurut Wijana (1996:5) pragmatik merupakan bagian dari ilmu tanda sebenarnya telah dikemukakan sebelumnya oelh seorang filsuf yang bernama Charles Morris. Menurut Morris, dalam kaitannya dengan ilmu bahasa, semiotika (semiotics) memiliki tiga cabang, yakni sintaktika ‘studi relasi formal tanda-tanda’, semantika ‘studi relasi tanda dengan penafsirannya’. Akan tetapi, pragmatik yang berkembang saat ini yang mengubah orientasi linguistik di Amerika pada tahun 1970-an sebenarnya diilhami oleh karya- karya filsuf seperti Austin (1962) dan Searle (1969) yang termashur dengan teori tindak tuturnya (Kaswanti Purwo, 1990,11; Leech, 1983,2). Pragmatik merupakan cabang ilmu bahasa yang semakin dikenal pada masa sekarang ini walaupun kira- kira dua dasawarsa silam ilmu ini jarang atau hampir tidak pernah disebut oleh para ahli bahasa. Hal ini dilandasi oleh semakin sadarnya para linguis bahwa upaya untuk menguak hakikat bahasa tidak akan membawa hasil yang diharapkan tanpa didasari pemahaman terhadap pragmatik, yakni bagaimana bahasa itu digunakan dalam komunikasi (wijana, 1995: 46). Leech menggambarkan proses komunikasi dalam bahasa (manusiawi) seperti terlihat dalam gambar berikut.
pragmatik
gambar 1. Proses komunikasi bahasa dilihat dari pembicara
pada gambar dapat diketahui bahwa pragmatik erat sekali kaitannya dengan
semantik karena keduanya mendalami arti, tetapi di balik itu keduanya memiliki pula perbedaan. Gramatika adalah sistem formal yang abstrak suatu bahasa. Dalam proses yang digambarkan di atas, gramatika berinteraksi dengan pragmatik melalui semantik.
Retorika dalam hubungan ini merupakan seperangkat prinsip percakapan yang berhubungan dengan fungsi- fungsinya. Pemakaian retorika di sini adalah yang memiliki fokus pada situasi pembicaraan yang berorientasi pada maksud yaitu cara seorang pembicara menggunakan bahasa agar menghasilkan efek khusus terhadap pikiran pendengarnya.
2. Kajian Pragmatik
Bidang kajian pragmatik melingkupi empat aspek, yaitu tindak ujar, deiksis, praanggapan dan impikatur percakapan. Sebuah satuan ujaran dalam tindak tutur dapat dipahami dengan baik oleh pendengar apabila dieksisnya jelas, praanggapannyta dketahui dan implikatur percakapannya dipahami (Chaer dan Agustina, 2004; 56).
a. Tindak Ujar
Tindak ujar atau tindak tutur adalah tindakan yang dilakukan penutur dalam berbicara. Nurgiyantoro (2002:312-313) menyatakan bahwa bentuk percakapan yang bersifat pragmatik adalah percakapan yang hidup dan wajar dengan konteks pemakaiannya dalam penggunaan bahasa.
b. Deiksis
Deiksis adalah hubungan antara kata yang digunakan di dalam tindak tutur dengan referen kata yang tidak tetap atau dapat berubah dan berpindah- pindah tergantung siapa yang menjadi pembicara, saat dan tempat dituturkannya kata- kata itu. Kata- kata yang referensinya deiksis ini antara lain (1) kata- kata yang berhubungan dengan pesona (dalam tindak tutur berupa kata- kata pronomina), (2) deiksis tempat (dalam tindak tutur berupa kata- kata yang menyatakan tempat (dalam tindak tutur berupa kata-kata yang menyatakan tempat seperti di sini, di sana, (3) deiksis waktu (dalam tindak tutur berupa kata- kata yang menyatakan waktu seperti tadi, besok, nanti, kemarin). Deiksis merupakan cara yang paling jelas untuk menggambarkan hubungan antara bahasa dan konteks dalam struktur bahasa
Contoh “ kemarin siang saya mengunjungi Prambanan”
Kata kemarin menunjukkan penggunaan deiksis waktu, sedangkan kata saya menunjukkan penggunaan deiksis persona.
c. Praanggapan/ Presupposition
Menurut Yule (2006: 43) presupposition adalah sesuatu yang diasumsikan oleh penutur sebagai kejadian sebelum menghasilkan suatu tuturan. Sebuah kalimat dapat mempresuposisikan dan mengimplikasikan kalimat yang lain jika ketidakbenaran kalimat yang kedua (yang dipresuposisikan) tidak dapat dikatakan benar atau salah misalnya “Buku Kartini Sangat Memikat”. Kalimat tersebut mempresuposisikan bahwa ada buku yang berjudul Kartini. Bila memang ada buku yang berjudul seperti itu kalimat tersebut dapat dinilai besar dan salahnya, akan tetapi bila tidak ada buku yang berjudul Kartini kalimat tersebut juga dapat dinilai benar dan salahnya dipahami secara tersirat. Memahami makna yang tersirat sangat penting untuk dapat memahami keseluruhan makna yang ada dalam suatu tindak tutur.
Praanggapan digunakan sebagai dasar penanggap sebelum menarik sebuah kesimpulan atau menginferensikannya. Sesuatu yang telah diyakini tersebut digunakan unutk menilai semua hal yang terjadi di dalam masyarakat.
d. Implikatur Percakapan
Makna tambahan yang disampaikan pada saaat terjadinya tuturan disebut implikatur (Wijana, 1996:38). Purwo (Chaer dan Agustina, 2004: 59) menyatakan bahwa implikatur percakapan adalah adanya keterkaitan antara ujaran- ujaran yang diucapkan antara dua orang yang sedang bercakap- cakap. Keterkaitan ini tampak secara literal, tetapi hanya dipahami secara tersirat. Implikatur mengacu pada penyampaian maksud, baik lahiriah maupun tersirat. Menggunakan implikatur di dalam komunikasi berarti menyatakan sesuatu secara tidak langsung. Contoh Siska mengatakan kepada temannya Septi.
Implikatur merupakan hal yang sangat penting dalam pragmatik. Komunikasi yang berlangsung sangat dipengaruhi oleh suatu kesepakatan bersama. Konteks yang terjadi dalam percakapan akan mengurangi penafsiran implikatur. Berdasarkan uraian di atas, dalam penelitian ini peneliti mengkaji mengenai implikatur percakapan konvensional mengenai prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan dalam Novel Perempuan Yogya.
3. Prinsip Kerja Sama dan Prinsip Kesopanan
Peneliti menggunakan teori Grice (Wijana, 1996: 46-53) yang menyebutkan bahwa prinsip kerja sama ada empat maksim percakapan (conversational maxim). Yakni maksim kuantitas (maxim of quantity), maksim kualitas (maxim of quality), maksim relevansi (maxim of relevance), dan maksim pelaksanaan (maxim of manner).
Prinsip kesopanan memiliki enam maksim yakni maksim kebijaksanaan, maksim kemurahan hati, maksim penghargaan, maksim kerendahan hati, maksim kecocokan, dan maksim kesimpatisan. Prinsip kesopanan ini berhubungan dengan dua peserta percakapan, yakni diri sendiri dan orang lain. Diri sendiri adalah penutur, dan orang lain adalah lawan tutur dan orang ketiga yang dibicarakan penutur dan lawan tutur.
Untuk mendapatkan hasil yang optimal penelitian ini juga didukung oleh teori Rahardi dalam bukunya berjudul Pragmatik Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia.
a. Prinsip Kerja Sama
Bila dalam suatu percakapan terjadi penyimpangan, ada implikasi- implikasi tertentu yang hendak dicapai oleh penuturnya. Bila implikasi itu tidak ada, maka penutur yang bersangkutan tidak melaksanakan kerja sama atau tidak bersifat kooperatif. Jadi, secara ringkas dapat diasumsikan bahwa ada semacam prinsip kerja sama yang harus dilakukan pembicara dan lawan bicara agar proses komunikasi itu berjalan lancar.
b. Prinsip Kesopanan
Prinsip Kesopanan menurut Rahardi (2005: 59-66) dibagi menjadi enam maksim, yakni Prinsip kesopanan memiliki enam maksim yakni maksim kebijaksanaan, maksim kemurahan hati, maksim penghargaan, maksim kerendahan hati, maksim kecocokan, dan maksim kesimpatisan. Prinsip kesopanan ini berhubungan dengan dua peserta percakapan, yakni diri sendiri dan orang lain. Diri sendiri adalah penutur, dan orang lain adalah lawan tutur dan orang ketiga yang dibicarakan penutur dan lawan tutur.
4. Novel
Novel sebagai sebuah karya sastra berbentuk komunikasi tertulis yang juga mempunyai simbol- simbol atau pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca. Kemampuannya besar sekali untuk menarik perhatian pembaca, mempengaruhi pikiran serta dapat memepengaruhi sikap maupun tingkah laku (Sadirman, dkk.,2006:45).
Novel menggambarkan suatu peristiwa realita maupun karangan seorang pengarang dan menjadikannya sebuah ke khasan.
C. Kerangka Berpikir
Penelitian ini berjudul “Prinsip Kerja Sama dan Prinsip Kesopanan dalam Novel Perempuan Yogya Karya Achmad Munif”. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti jenis- jenis prinsip kerja sama dan prinsip kesopanan dalam tuturan yang terdapat dalam novel Perempuan Yogya Karya Achmad Munif”. Peneliti menggunakan teori Grice (Wijana, 1996: 46-53) yang menyebutkan bahwa prinsip kerja sama ada empat maksim percakapan (conversational maxim). Yakni maksim kuantitas (maxim of quantity), maksim kualitas (maxim of quality), maksim relevansi (maxim of relevance), dan maksim pelaksanaan (maxim of manner).
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Subjek Dan Obyek Penelitian
Pada pelaksanaan penelitian ini, peneliti melakukan penelitian mengenai penerapan jenis- jenis prinsip kerja sama, jenis- jenis prinsip kesopanan dan bentuk tuturan prinsip kerja sama yang terdapat dalam novel Perempuan Yogya Karya Achmad Munif”.
Subjek penelitian ini adalah dialog atau percakapan dalam novel Perempuan Yogya Karya Achmad Munif”. Objek dari penelitian ini adalah prinsip kerja sama dan prinsip kesopanan kalimat yang terdapat dalam pada dan bentuk tuturan yang terdapat dalam novel Perempuan Yogya Karya Achmad Munif”.
B. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik baca catat dan riset kepustakaan. Teknik baca catat adalah teknik pemerolehan data kebahasaan dengan cara membaca suatu bacaan yang dilanjutkan dengan pengadaan pencatatan terhadapa data yang relevan. Teknik riset kepustakaan adalah teknik yang digunakan untuk menelaah dan mencari berbagai buku sebagai bahan pustaka yang digunakan dalam untuk sumber tertulis. Sumber pokoknya adalah semua buku yang berkaitan tentang prinsip kerja sama dan kesopanan yang digunakan sebagai objek penelitian ini.
C. Instrumen Penelitian
Instrumen merupakan suatu alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis sehingga mudah diolah (Suharsimi, 2006: 136). Instrumen penelitian adalah seperangkat alat yang digunakan untuk memperoleh data dalam sebuah penelitian. Instrumen yang digunkan dalam penelitian ini berupa lembaran kertas yang berisi menampung data mengenai tuturan yang terdapat dalam Novel Perempuan Yogya Karya Achmad Munif”.
Contoh lembaran data dapat dilihat:
(1) Danu: “Sediakan air hangat, aku mau mandi.”
Rum: “sudah tersedia, Mas.”
PKS
K
Keterangan:
PKS: Prinsip kerja sama
PK: prinsip kesopanan
(1): nomor yang akan dianalisis
D. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik deskriptif kualitatif. Teknik deskriptif kualitatif adalah teknik yang dapat digunakan untuk memerikan, menggambarkan, menguraikan dan menjelaskan fenomena objek penelitian dan dalam penelitiannya tidka menggunakan prosedur statistik. Dengan teknik deskriptif kualitatif peneliti berusaha mendeskripsikan makna tuturan sehingga diperoleh jenis maksim yang dijelaskan pada prinsip kerja sama dan prinsip kesopanan dalam Novel Perempuan Yogya Karya Achmad Munif.”
Analisis data dilakukan selama pengumpulan data untuk mengetahui kontribusi penerapan prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan terhadap efektivitas percakapan antara tokoh Danu dan Rum. Penelitian ini dilihat dari terciptanya situasi yang memungkinkan terjadinya peristiwa komunikatif antara tokoh Danu dan Rum. Aktivitas dalam analisis data ini meliputi (1) reduksi atau pengurangan data, (2) penyajian data, dan (3) verifikasi /penyimpulan. Ketiga tahap tersebut saling berkaitan meskipun dalam pelaksanaannya dibedakan agar kegiatan menjadi sistematis.
Daftar Pustaka
Wijana, Dewa Putu.2003. Dasar-Dasar Pragmatik.Yogyakarta: Andi.
Yule, George (Penerjemah Indah Fajar Wahyuni). 2006. Pragmatik.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rahmawati. 2009. “Penerapan Prinsip Kerja Sama dalam Dialog Interaktif Kesehatan di Kalimaya Bhaskara FM”. Skripsi. Malang: Universitas Negeri Malang.
Nurgiyantoro, Burhan.2002, Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Munif, Achmad. 2006. Perempuan Yogya. Yogyakarta: Navila.
Rahardi, R. Kunjana. 2005. Pragmatik Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. Jakarta: Penerbit Erlangga.
http://www.lisadypragmatik.blogspot.com/2007/07/pragmatik-oleh-sidon.html. Diunduh pada tanggal 06 juni 2015.
Home »
jenis makalah
,
proposal penelitian
» PRINSIP KERJA SAMA DAN PRINSIP KESOPANAN DALAM NOVEL PEREMPUAN YOGYA KARYA ACHMAD MUNIF (Kajian Pragmatik)

0 komentar:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.