Home » » Analisis Struktural Semiotika Michael Riffatere Sajak“Mandi” Karya Abdul Wachid B.S

Analisis Struktural Semiotika Michael Riffatere Sajak“Mandi” Karya Abdul Wachid B.S

Written By Berbagi ide muda Berkarya on Jul 4, 2014 | 11:46 PM

A.PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
 Perkembangan teori dan karya sastra dewasa ini semakin menampakkan relevansinya dengan perkembangan zaman. Ancangan semiotika, sebagai salah satu alternative untuk mengkaji karya sastra, muncul sejak perhatian pakar susastra memfokuskan diri pada hubungan antara penanda dan petanda dalam memahami makna. Karya sastra dengan keutuhannya secara semiotik dapat dipandang sebagai sebuah tanda. Sebagai suatu bentuk, karya sastra secara tulis akan memiliki sifat kerungan. Dimensi ruang dan waktu dalam sebuah cerita rekaan mengandung tabiat tanda- menanda yang menyiratkan makna semiotik. Dari dua tataran (level) antara mimetik dan semiotik (atau tataran kebahasan dan mistis) sebuah karya sastra menemukan keutuhannya untuk dipahami dan dihayati.
Puisi merupakan kristalisasi  pengalaman, maka hanya inti masalah yang dikemukakan; untuk mencapai hal itu perlu pemadatan. Untuk pemadatan ini, puisi hanya menyatakan sesuatu hal secara implisit, sugestif, dan mempergunakan ambiguitas. Semuanya itu yang menyebabkan sukarnya pemahaman puisi atau sajak.
Sesuai dengan sasaran kerja penelitian yang dibahas dalam pembicaraan ini, yaitu penelitian sastra, dapatlah diketahui bahwa melakukan kajian terhadap karya sastra merupakan kegiatan yang penting dalam perkembangan ilmu sastra. Ilmu sastra sebagai suatu disiplin akan berkembang berkat penajaman konsep- konsep, teori- teori, dan metodologi yang dihasilkan melalui penelitian- penelitian sastra. Dari sini dapat juga dilihat perlunya ilmu sastra untuk berkembang dan pentingnya penelitian untuk perkembangan dan kesempurnaan ilmu sastra.
Untuk penelitian sastra seperti itu, dapat dikaji dengan menggunakan salah satu teori sastra, pertama yang harus dilakukan harus mengerti terlebih dahulu mengenai teori itu, kemudian metodenya . Dan hal ini, teori yang dipergunakan sebagai pendekatan sastra adalah semiotik,. Jadi, haruslah dimengerti apakah semiotik itu dan seluk beluk serta metodenya  . Penelitian sastra dengan pendekatan semiotik itu sesungguhnya merupakan lanjutan atau perkembangan strukturalisme. Dikemukakan junus (1981 : 17) dalam ( Rachmat Djoko Pradopo ) Penelitian sastra dengan pendekatan semiotik. Bahwa semiotik itu merupakan lanjutan atau perkembangan strukturalisme.
Dalam penelitian sastra, pemilihan macam teori diarahkan oleh masalah yang akan dijawab oleh penelitian dan oleh tujuan yang akan dicapai penelitian.  Pada umumnya penelitian sastra dipergunakan teknik penelitian kualitatif. Penelitian semacam itu menitikberatkan pada segi alamiah dan mendasarkan pada karakter yang terdapat dalam data. Istilah untuk kegiatan “penelitian” dengan pengertian yang dikandung di dalamnya bagi kegiatan studi sastra Indonesia selama ini terutama dalam dunia akademi, dirasakan sebagai salah satu faktor yang sering menimbulkan persoalan. Menggantikan istilah “penelitian” dengan istilah “pembicaraan” untuk kegiatan studi sastra yang dilakukan oleh Umar Yunus  diakuinya sebagai satu upaya untuk menghindari masalah tersebut (1998).
Persoalan itu muncul akibat sifat- sifat sastra sendiri yang harus dihadapkan pada tuntutan keilmiahan kegiatan studi sebagai manifestasi dari kegiatan yang bersifat “ilmu” , yaitu istilah yang biasanya dipakai untuk pengetahuan yang sistematis dan terorganisasi ( Nazir, 1985; Hadi,1980). Karya adalah sesuatu yang sejak mulanya mengandung unsur yang kabur. Pembacalah yang mewujudkannya menjadi tidak kabur (Ingarden, 1973, dalam Hamdani. 1987).
Dalam studi sastra di Indonesia, penelitian yang dilakukan terhadap karya- karya satra Indonesia selama ini memperlihatkan perkembangan. Sejumlah tanggapan atau kritik terhadap studi sastra dapat dibaca pada berbagai tulisan. Diantaranya  dapat dibaca pada pertanyaan(Teeuw, 1983) yang menyebutkan bahwa belum sepuluh tahun studi sastra dilakukan terhadap karya- karya sastra Indonesia, baik modern maupun tradisional ; dan selama itu, terhadap karya – karya sastra modern maupun tradisonal; dan selama itu, terhadap karya- karya sastra modern pendekatan dilakukan tanpa  kerangka teori, secara intuisi, atau dengan berbagai pendekatan yang dicampurbaurkan.
1.      Identifikasi Masalah
Masalah yang diangkat dalam sajak “Mandi karya Abdul Wachid B.S adalah ketaklangsungan sajak diantaranya karena penggunaan bahasa kiasan yang merupakan penggantian arti. Penulis mengambil konsep Keindahan .Kata tersebut memiliki arti yang tersirat sehingga perlu adanya pembahasan yang lebih mendetail.
2.      Rumusan Masalah
a.    Bagaimana semiotika Michael Riffaterre dalam sajak “Mandi” ?
b.   Bagaimanakah simbol keindahan dalam sajak “Mandi”?

B. TEORI dan METODE
a. Teori Semiotika
 Semiotik diungkapkan oleh Rachmat Djoko Pradopo sebagai simbol atau tanda. Bahasa digunakan sebagai medium karya sastra sudah merupakan simbol atau tanda. Pada dasarnya bahasa atau kata-kata yang digunakan dalam karya sastra sudah menjadi sebuah lambang atau tanda yang memiliki makna tersendiri, yang telah ditentukan secara konvensional. Bahasa merupakan sistem ketandaan yang telah dimaknai menurut konvensi masyarakat. Sistem mengenai tanda atau simbol ini disebut semiotik atau semiologi.
Endraswara menyebutkan bahwa tanda sekecil apa pun dalam pandangan semiotik tetap diperhatikan. Pendekatan semiotik yang akan dipakai adalah semiotik model Michael Riffaterre. Pendekatan semiotik model Riffaterre dipakai berdasarkan pertimbangan bahwa semiotik Riffaterre lebih mengkhususkan pada analisis puisi. Oleh karena itu pendekatan semiotik yang lebih tepat digunakan adalah pendekatan semiotik Riffaterre.
Menurut Heru Kurniawan dalam buku Mistisisme Cahaya, dijelaskan simbol merupakan suatu tanda, tetapi tidak setiap tanda adalah simbol. Simbol yang berstruktur polisemik adalah ekspresi yang mengkomunikasikan banyak arti. Bagi Ricouer, yang menandai suatu tanda sebagai simbol adalah arti gandanya atau intensionalitas arti gandanya. Ricouer merumuskan bahwa setiap struktur pengertian adalah suatu arti langsung primer, harfiah, yang menunjukkan arti lain yang bersifat tidak langsung sekunder, figuratif yang tidak dapat dipahami selain lewat arti pertama (Poespoprodjo, 2004:119). Menurut Heru Kurniawan, simbol dikaitkan dengan bahasa sebab simbol muncul jika ia diujarkan, sedangkan metafora adalah pelaku ulang yang membahas aspek simbol.
Dalam Cours de Linguistique Generale yang diterbitkan oleh murid- muridnya (1916) setelah De Saussure meninggal, diuraikan dengan panjang lebar bahwa bahasa adalah sistem tanda; dan tanda merupakan kesatuan antara dua aspek yang tak terpisahkan satu sama lain : signifiant (penanda) dan signifie (petanda); signifiant adalah aspek formal atau bunyi pada tanda itu, padahal signifie adalah aspek kemaknaan atau konseptual; tetapi signifiant tidak identik dengan bunyi dan sigifie bukanlah denotatum, jadi hal atau benda dalam kenyataan yang diacu oleh tanda itu; secara kongkrit tanda burung tidak sama dengan bunyi fisik dan tidak pula dengan binatang dalam kenyataan.
Dalam buku Sastra dan Ilmu Sastra oleh Prof.Dr.A.TEEUW, dijelaskan Michael Riffatere tidak melawan prinsip strukturalisme sendiri, tetapi dia secara sangat pedas mengecam analisis sajak Les Chats seperti diberikan oleh Jakobson dengan Levi – Strauss yang dianggapnya penerapan prinsip strukturalisme yang tidak tepat. Riffatere sendiri adalah guru besar sastra Prancis pada Columbia University di New York dan dalam karangan yang cukup panjang diberikannya sebuah analisis alterrnatif mengenai sajak yang sama (Riffatere 1966).  Riffatere menonjolkan sajak sebagai sarana komunikasi, yang berfungsi dalam konteks stilistik (istilah Riffatere) yang sama dengan konteks harapan pembaca. Harapan itu ditentukan oleh segala sesuatu yang pernah dibaca oleh pembaca itu, sehingga sajak mendapat makna dalam konteks keseluruhan puisi Prancis yang ditulis sebelumnya (dalam hal ini sebelum sajak Baudelaire yang bersangkutan).
Ada anggapan semiotik dapat mempelajari seluruh kegiatan manusia yang dapat dianggap berfungsi sebagai tanda (bdk. Eco, 1977b:7), karena perbuatan manusia itu dianggap merupakan sistem tanda, yang berhubungan dengan suatu ideologi. Simbol, dari prespektif Saussurean, adalah jenis tanda dimana hubungan antara penanda dan petanda seakan- akan bersifat arbitrer. Konsekuensinya , hubungan kesejarahan akan mempengaruhi pemahaman kita.
Michael Riffatere mengatakan bahwa puisi itu menyatakan sesuatu secara tidak langsung , yaitu menyatakan sesuatu yang berarti yang lain (1978:1). Sejalan dengan itu A.S. Hornby mengatakan bahwa bahasa kiasan meliputi segala jenis ungkapan yang melibatkan penggunaan kata atau frasa dengan arti lain, selain arti harfiahnya (via Pradopo, 1978:41).
Menurut Arif Hidayat dalam buku Aplikasi Teori Hermeneutika dan Wacana Kritis dijelaskan, Semiotika itu sendiri adalah ilmu tentang tanda. Untuk memahami semiotika secara lebih dalam, perlu untuk mencermati tanda. Semiotika tidak dapat melepaskan diri dari tanda. Semiotika terus mengalami perkembangan dan perubahan sesuai dengan tanda- tanda yang ada realitas, dan juga hasil pemakanaan manusia terhadap kehadiran dari penanda itu sendiri.
Pokok- pokok pemikiran Riffatere dalam ancangan semiotika adalah: a dialectic between text and reader, dialektik antara tataran mimetik (istilah Peirce: tataran kebahasaan, makna denotatif) dan tataran semiotik (istilah Peirce: tataran mitis, makna konotatif) serta pada pihak lain daialektik antara teks dan pembaca. Riffatere lebih jauh menjelaskan bahwa yang menentukan makna sebuah karya sastra adalah pembaca secara mutlak, yaitu berdasarkan pengalamannya sebagai pembaca susastra.
b. Metode
Adapun metode, dalam studi sastra, memiliki ukuran keilmiahan sendiri yang ditentukan oleh karakteristiknya  sebagai sistem (Chamamah- Soeratno, 1991: 16). Riffatere mengajukan pendekatan yang bersifat semiotik, jadi yang berarti antara lain bahwa pertentangan antara meaning (arti) dan significance (makna) memainkan peranan yang sangat penting; dalam membaca puisi meaning yang kita berikan pada kata sesuai  dengan mimetik, atau fungsi referensialnya harus ditingkatkan menjadi significance berdasarkan penafsiran pertentangan dengan atau penyimpangan dari arti mimetik yang kita temukan , antara lain atas dasar kemampuan kita membaca puisi. Sebab “a poem says one thing and means another” (Riffatere 1978:1); kata- kata itu dalam konteks sajak mendapat makna, justru dalam kontras dengan arti biasa. Aspek puisi yang terpenting justru adalah ketegangan antara arti mimetik unsure bahasa  dan makna semiotiknya ketegangan yang tak kunjung habis.

C. PEMBAHASAN
Semiotika Michael Riffaterre dalam sajak “Mandi” menentukan makna sebuah sajak ialah pembacanya yang menentukan apa yang relevan, dan mempunyai fungsi puitik dalam sajak.  Riffatere menonjolkan sajak sebagai sarana komunikasi, yang berfungsi dalam konteks stilistik yang sama dengan konteks harapan pembaca. Hal tersebut terdapat dalam Perpuisian Abdul Wachid yang berjudul “Mandi”, penulis mampu berkomunikasi dengan bahasa perasaan berdialog dengan orang lain namun hal tersebut tidak nampak hanya realita pembaca yang mengetahuinya. Michael Riffaterre menjelaskan ketaklangsungan sajak diantaranya karena penggunaan bahasa kiasan, yang merupakan penggantian arti atau displacing(1978:2), sedangkan salah satu bahasa kiasan ialah pemakaian simbol. Hal tersebut tampak pada puisi yang berjudul “Mandi” bagaimana pengarang menjadikan sesuatu subjektif simbol Mandi, Mandi menjadikan bahan diskusi bagi pembaca. Karena hal tersebut tersampaikan dalam sajak “ Mandi” pengarang mengajak pembaca mengambil pesan- pesan yang tersampaikan seperti fungsi dan dampaknya mandi di larut malam.
Simbol Keindahan dalam sajak “Mandi” merupakan kata-kata yang digunakan pengarang itu sendiri. Pengarang mampu bermain dengan bahasa yang indah apabila puisi tersebut dibaca. Religuitas cinta yang merupakan simbol Keindahan masih sering terjadi antara penulis Abdul Wachid B.S dengan perpuisiannya, bagaimana konteks kata Mandi dengan Adzan, begitupun bahasa lainnya seperti Tidak jauh, tetapi menjauh dari telinga hati. Puisi yang berjudul “Mandi”- Di Rumah Doktor Suwito NS merupakan bahasa kiasan yang terlalu sederhana dan mudah untuk dianalisis dari pembaca. Selain bahasa, simbol yang digunakan sederahana keindahan konteks antara pembaca teks dapat terjadi karena adanya saling tukar tanggapan indera antara konteks dengan teks.
Cara menulis puisi merupakan ciri khas dari pengarang, pengarang telah mampu menemukan pribadi yang terdapat dalam dunia kepenyairannya.
Mandi
-Di Rumah Doktor Suwito NS
Jam melantunkan adzan isya’
Dunia terus saja mendesak
Sampailah aku di rumahmu
Di relung yang paling tenang dalam hatiku

“Mandilah sejenak”
Agar segar segala yang daki!”
Ujarmu samar, adzan bergerak
Tidak jauh, tetapi menjauh dari telinga hati

Tetapi hari telah malam
Aku tidak mau badan jadi demam
Kutolak halus ajakanmu
Sekalipun tahu diriku kelewat debu

“Mandilah!”
Ajakanmu begitu menampar
Rembulan semakin memar
Di batas terang rumah, lalu malamku bertambah lelah

Purwokerto, 7 November 2011
Dalam bait pertama menjelaskan bagamana penulis sedang dalam keadaan berpergian mudik ke kampung halamnnya yaitu Purwokerto mendapat tawaran dari sahabat akrabnya yang bernama Doktor Suwito NS untuk bermalam dirumahnya.

(Jam melantunkan adzan isya’)
Waktu sholat yang sebentar lagi datang dan harus dilaksanakan
(Dunia terus saja mendesak)
Pengarang berdialog dengan suara hati karena sebelumnya ada paksaan dari sahabat karibnya untuk segera bergegas mandi dan menunaikan ibadah sholat isya
(Sampailah aku di rumahmu)
Pengarang menceritakan telah sampai dirumah sahabat karibnya tersebut
(Di relung yang paling tenang dalam hatiku)
pengarang menggunakan bahasa kisan relung yang berrti tanah, bermaksud di rumah yang penuh dengan kenyamanan.
Pada bait pertama diatas ungkapan pengarang terhadap simbol keindahan jelas sudah terpaparkan.
(“Mandilah sejenak”)
(Agar segar segala yang daki!”)
(Ujarmu samar, adzan bergerak)
(Tidak jauh, tetapi menjauh dari telinga hati)
            Pada bait kedua ini, pengarang sebagaimana berdialog dengan sahabatnya yang bernama Doktor Suwito NS untuk segera menyuruh pengrang agar segera mandi karena adzan isya sebentar lagi datang.
(Tetapi hari telah malam)
Bagaimana waktu menunjukkan adanya perpanjangan malam
(Aku tidak mau badan jadi demam)
Pengarang berpikir logika bagaimana akibat dampak dari mandi malam
(Kutolak halus ajakanmu)
Pengarang disini menolak halus ajakan dari sahabat karibnya tersebut
(Sekalipun tahu diriku kelewat debu)
Sebagaimana ia tahu badannya masih kotor dan berdebu akibatnya perjalanan menempuh rumah sahabatnya tersebut
            Pada bait ketiga, pengarang memaparkan bagaimana berdiaolog dengan suara hatinya sendiri hal tersebut telah dipaparkan.

(“Mandilah!”)
(Ajakanmu begitu menampar)
Dalam arti memukul seuatu tetapi tidak mengenai sasaran (tampak)
(Rembulan semakin memar)
Seakan ajakan dari sahabatnya menjadi keras namun tidaklah tampak secara manusiawi
(Di batas terang rumah, lalu malamku bertambah lelah)
Tempat peristirahatan
Dalam bait ke4 ini,bagaimana pengarang menjelaskan inti dari sajak bait pertama hingga akhir dan pembaca mengetahui bahasa yang digunakan pengarang sesungguhnya menggunakan simbol keindahan bagi penikmatnya.



D. SIMPULAN
 Ancangan semiotika, sebagai salah satu alternative untuk mengkaji karya sastra, muncul sejak perhatian pakar susastra memfokuskan diri pada hubungan antara penanda dan petanda dalam memahami makna. Penelitian sastra dengan pendekatan semiotik itu sesungguhnya merupakan lanjutan atau perkembangan strukturalisme. Dikemukakan junus (1981 : 17) dalam  ( Rachmat Djoko Pradopo ) Penelitian sastra dengan pendekatan semiotik. Bahwa semiotik itu merupakan lanjutan atau perkembangan strukturalisme. Dari beberapa pendapat mengenai semiotika dapat disimpulkan,  Riffatere menonjolkan sajak sebagai sarana komunikasi, yang berfungsi dalam konteks stilistik (istilah Riffatere) yang sama dengan konteks harapan pembaca.
            Semiotika Michael Riffaterre dalam sajak “Mandi” menentukan makna sebuah sajak ialah pembacanya yang menentukan apa yang relevan, dan mempunyai fungsi puitik dalam sajak.  Riffatere menonjolkan sajak sebagai sarana komunikasi, yang berfungsi dalam konteks stilistik yang sama dengan konteks harapan pembaca.
            Simbol Keindahan dalam sajak “Mandi” merupakan kata-kata yang digunakan pengarang itu sendiri. Pengarang mampu bermain dengan bahasa yang indah apabila puisi tersebut dibaca. Religuitas cinta yang merupakan simbol Keindahan masih sering terjadi antara penulis Abdul Wachid B.S dengan perpuisiannya, bagaimana konteks kata Mandi dengan Adzan, begitupun bahasa lainnya seperti Tidak jauh, tetapi menjauh dari telinga hati.







E. DAFTAR PUSTAKA
Pradopo, Rachmat Djoko. 1990. Pengkajian puisi. Yogyakarta. Gadjah Mada University press
Teeuw. 1984. Sastra dan ilmu sastra . Jakarta. Pustaka jaya
Endraswara, Suwardi. 2013.Metodologi penelitian sastra. Yogyakarta.  CAPS
Jabrohim. 2002. Metodologi penelitian sastra. Yogyakarta. Haninda Graha Windya
Junus, Umar. 1985. Resespsi sastra sebuah pengantar. Jakarta . Gramedia
Hidayat, Arif.2012. Aplikasi Teori Hermeneutika dan Wacana Kritis. Purwokerto.STAIN Press
Kurniawan, Heru. 2011. Mistisisme Cahaya. Purwokerto. STAIN Purwokerto Press
Wachid, Abdul. 2010. Analisis Struktural Semiotik. Yogyakarta.  Cintabuku
Santosa, Puji. 2013. Ancangan Semiotika & Pengkajian Susastra. Bandung. CV Angkasa




0 komentar:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.