A.
PENDAHULUAN
Sastra muncul
karena dilatar belakangi bahwa sastra muncul dari masyarakat dan merupakan
cermin dari kehidupan masyarakat dapat dilihat dari nilai- nilai atau norma
yang ada seperti norma agama, susila, atau sosial. Karya
sastra merupakan cerita berupa tafsiran atau imajinasi pengarang tentang
peristiwa yang pernah terjadi dalam khayalan saja, akan tetapi sastra
mengandung unsur kehidupan
yang menimbulkan rasa senang, nikmat, terharu, menarik perhatian dan
menyegarkan perasaan penikmatnya. Selain itu sastra berguna juga untuk manusia,
kebudayaan, serta zaman karena didalam karya sastra dilukiskan keadaan dan
kehidupan sosial suatu
masyarakat, peristiwa-peristiiwa, ide dan gagasan serta nilai-nilai yang
diamanatkan pencipta lewat tokoh-tokoh cerita.
Kegiatan
membaca prosa fiksi pada dasarnya merpakan kegiatan berapresiasi sastra secara
langsung. Apakah arti kata “apresiasi” yang sebenarnta? Dengan kata lain
apresiasi sastra adalah upaya memahami karya sastra, yaitu upaya bagtaimana
cara untuk dapat mengerti sebuah karya sastra yang kita baca, baik fiksi maupun puisi, mengerti
maknanya, baik yang internasional maupun yang aktual, dan mengerti seluk beluk
strukturnya. Apresiasi sastra itu merupakan upaya “merebut makna” karya sastra (Teew, 1980)
sebagai tugas utama seorang pembaca.
Penulis menganalisis novel PULANG karya Toha Mohtar menggunakan pendekatan strukturalisme,
yaitu memandang karya sastra
sebagai lembaga sosial atau sebagai sistem tanda yang terdiri atas struktur
saling berhubungan yang memenuhi dan menentukan dirinya sendiri (otonom). Karya
sastra analisis struktural dalam karya sastra khususnya prosa fiksi dapat
dilakukan dengan mengidentifikasi, mengkaji dan mendeskripsikan fungsi dan
hubungan antar unsur intrinsik fiksi seperti plot, tokoh, penokohan, latar,
sudut pandang, tema dan amanat.
B.
PEMBAHASAN
1.
Sinopsis Novel “Pulang” karya Toha Mohtar
Pulang mengisahkan seorang pemuda
pribumi yang menjadi tentara Heiho, yang memerangi bangsanya sendiri. Nama
pemuda itu Tamin. Tujuh tahun lamanya Tamin menjadi Heiho dan tinggal di
Jepang. Kisah dimulai ketika si tokoh utama Tamin berkeinginan pulang kembali
ke Indonesia. Tamin sangat rindu pada keluarga dan kampong halamannya.
Selama ini, orang-orang di kampung
halamannya menganggap Tamin sebagai pahlawan gerilya yang telah berjuang
membela bangsa dan negaranya dari penjajah. Itulah sebabnya ketika Tamin
datang, orang-orang sekampung mengelu-elukannya. Padahal kenyataannya Tamin
adalah seorang pengkhianat bangsa. Tamin adalah seorang tentara penjajah yang
melawan negaranya sendiri. Hal inilah yang menggelisahkan hati Tamin saat ia
pulang. Bahkan orangtuanya sendiri tidak tahu bahwa ia adalah tentara Heiho.
Melihat kenyataan ini, Tamin terpaksa
berbohong ketika ia disuruh menceritakan pengalamannya bertempur selama tujuh
tahun. Ia mengarang cerita bagaimana bergerilya di hutam-hutan di Jawa Barat
dan bertempur melawan penjajahan Belanda. Betapa cerita bohong ini
menggelisahkan dan menyiksa perasaan Tamin. Lebih-lebih ketika dirinya diminta untuk
menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Karena tidak kuat mengingkari hati nuraninya,
Tamin diam-diam pergi meninggalkan desanya. Ia pergi mengembara. Namun dalam
pengembaraannya pun Tamin merasa tersiksa. Ia khawatir jika ada orang yang tahu
dan membocorkan keadaan dirinya yang sebenarnya kepada orang-orang kampong
halamannya.
Suatu hari dalam pengembaraannya Tamin
bertemu dengan Pak Banji, seorang tetangga kampung halamannya. Dari cerita pak
Banji, Tamin baru tahu bahwa Ayahnya telah meninggal. Pak Banji juga
mengabarkan bahwa orang-orang sekampungnya mengharapkan ia pulang. Mereka
sangat ingin mendengarkan kisah perjuangan Tamin melawan penjajah.
Mendengar cerita Pak Banji di satu sisi
Tamin senang belum mengetahui jati dirinya yang sebenarnya. Namun di sisi lain,
ia sangat sedih karena ayahnya telah meninggal dunia. Karena dua perasaan yang
bercampur aduk itulah Tamin memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya. Ia
bertekat untuk membangun kampung halamannya sebagai wujud penyesalan karena
telah melawan bangsanya sendiri.
Dalam hati kecil ia berkeyakinan bahwa
sebenarnya dirinya tidak sepenuhnya bersalah ketika menjadi tentara Heiho.
Waktu itu ia sangat terpengaruh dengan propaganda Jepang dan sekutunya. Dan
tekatnya membangun kampungnya adalah manifestasi terhadap kecintaannya kepada
kampung halaman tercintanya.
2.
analisis Struktural
a.
Tema
Tema merupakan makna cerita, gagasan
sentral, atau dasar cerita. Dalam novel Pulang karya Toha Mohtar bertemakan
“konflik batin seorang pemuda peribumi yang menjadi tentara heiho”.
b.
Plot
Plot adalah cerita yang berisi urutan
kejadian, tiap kejadian itu dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang
satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain. Dalam novel
Pulang karya Toha Mohtar pengarang mengisahkan seorang pemuda pribumi yang
bernama Tamin. Tamin menjadi tentara heiho dan seorang anak. Konflik Tamin
muncul ketika ia berinteraksi dengan beberapa tokoh yaitu Sumi, ayah, dan
ibunya. Fenomena yang terjadi di masyarakat menunjukkan masalah rumah tangga
yang dapat memunculkan konflik dikarenakan masalah yang sensitif berkaitan
dengan masalah yang menyangkut efeksi atau perasaan dan fungsi-fungsi
kerohanian dan masalah ekonomi. Konlfik social yang munculndapat dikarenakan
masalah kepulangan seorang nak yang mengembara sebagi Heiho sering menjadi
masalah utama dalam kehidupan rumah tangga yang berkaitan dengan masalah yang
menyangkut efeksi atau perasaan dan fungsi-fungsi kerohanian.
c.
Latar
Latar adalah segala penggambaran
mengenai waktu, ruang atau tempat, situasi, dan suasana yang ada dalam karya
sastra tersebut. Latar dalam cerita
Novel Pulang mengambil tempat-tempat tertentu untuk membentuk karakteristik dan
lakon cerita ini seperti di ruang tamu, dapur, kebun, pasar dan lain-lain. Sebagian besar di sepanjang
kaki Wilis, Kelud dan Brantas.
d.
tokoh dan Penokohan
Tokoh adalah orang-orang yang
diceritakan dalam suatu karya naratif, atau drama, yang oleh pembaca
ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang
diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. Sedangkan
penokohan adalah cara pengarang menggambarkan atau menampilkan tokoh-tokoh
dalam ceritanya. Maka untuk novel Pulang tokoh yang pertama bernama Tamin
sebagai tokoh utama ia memiliki karakter pembohong, penghianat karena menjadi
Heiho untuk memerangi bangsa sendiri, tetapi dibalik semua itu ia penyayang dan
patuh pada orang tuanya.
Ibu : “Katakan, engkau tak akan pergi lagi,
Tamin!”
Tamin : “Ya, aku tak hendak pergi lagi,
akan selalu disini, mak!”
Percakapan di atas menunjukan bahwa
Tamin patuh pada orang tuanya. Tokoh kedua yaitu Ibunda Tamin, sebagai sosok
seorang ibu tidaklah terlepas dari rasa kasih sayang dan lemah lembut. Ia
selalu sabar dalam menunggu kedatangan anaknya pulang, setia selalu pada
keluarga. Seperti percakapan ketika ibunya berkata.
Ibu :“Katakan, engkau tak akan pergi lagi, Tamin!”
dengan mata yang sejuk itu menatap wajah
anaknya dengan penuh sayang.
Melalui percakapan tersebut sudah
dijelaskan bahwa Ibu Tamin memiliki sifat yang penyayang terhadap anaknya
Tamin. Yang dibuktikan ketika Ibu Tamin menatap dengan mata yang sejuk dan
penuh dengan saying tersebut. Tokoh yang ketiga, Bapak Tamin adalah seorang
pemimpin keluarga yang bijaksana, baik hati, setia dan penyayang terhadap
keluarga yang dapat dilihat dari percakapannya dengan Tamin:
Bapak
: “akhirnya engkau kembali jua,
Tamin. Tuhan mengabulkan
doaku siang dan malam. Tak ada yang lebih
besar
kuharapkan dalam hidup ini, kecuali
kedatanganmu. “Apa
gerangan yang aku mimpikan semalam?”
Percakapan di atas dapat menunjukkan
bahwa watak Bapak Tamin yang penuh dengan sifat penyayang. Tokoh yang keempat
yaitu Sumi adik perempuan dari Tamin memiliki sifat penyayang, sopan santun
pada orang tua, dan baik hati. Tokoh yang kelima yaitu Mbok Min seorang dukun
bayi yang baik hati, suka bercanda terlihat ketika ia berbincang dengan Tamin:
Mbok
Min : “Engkau sudah kawin? Oh, jika
belum perawan-
perawan desa ini berpacu merebut engkau!”
kata Mbok
Min, dan Tamin tertawa karenanya.
Tokoh keenam yaitu Pak Banji yang
memiliki sifat periang, baik hati, agak keras, dan ramah terhadap siapapun. Dan
tokoh yang ketujuh yaitu Isah memiliki sifat cantik, lemah lembut, sopan
terhadap orang tua, suka menolong orang lain.
e.
Gaya bahasa
Gaya bahasa adalah bahasa indah yang
dipergunakan untuk meningkatkan efek dengan jalan memperkenalkan serta
memperbandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang
lebih umum. Gaya bahasa yang digunakan yaitu personifikasi dimana jenis majas
yang meletakan sifat-sifat insani kepada barang yang tidak bernyawa dan ide
yang abstrak, misalnya suara air bertambah keras memanggil-manggil, matahari
telah menyembunyikan diri seluruhnya di balik gunung Wilis, tinggal cahayanya
yang bertambah lemah menembus langit dan memberikan ciuman terakhir pada
mendung yang berarak-arak di atas kepala, turunnya senja kala itu disambut oleh
kesepian; burung-burung yang pulang sarang malas berkicau. Sebagian besar
menggunakan idiom-idiom, sehingga kurang dapat dipahami dalam bahasa Indonesia
sesuai EYD.
f.
sudut pandang
Sudut pandang adalah bagaimana cara si
pengarang bercerita atau memposisikan diri di dalam suatu alur cerita karya
sastra. Dalam novel ini posisi pengarang terlibat langsung atau ada dalam
cerita, dan menjadi tokoh utama dalam cerita tersebut. Maka dari itu, dapat
dikatakan untuk sudut pandang yang digunakan pada novel berjudul Pulang ini
adalah sudut pandang orang pertama.
g.
Amanat
Amanat merupakan pesan yang ingin
disampaikan pengarang kepada pembacanya. Amanat yang terkandung dalam novel ini
yaitu: 1. Kita harus berbakti kepada orang tua; 2. Lebih baik jujur walau
kenyataan itu pahit daripada terbelenggu oleh perasaan hati dan pikiran yang
merasa bersalah; 3. Jangan berbohong untuk menutupi sebuah pengkhianatan
terhadap Bangsa sendiri; 4. Lebih baik hidup sederhana di kampung halaman
daripada di negara lain penuh dengan kemewahan tetapi memerangi negara sendiri.
Unsur-unsur pembangun karya sastra baik ekstrinsik maupun instrinsik sudah
dijelaskan pada pembahasan yang sebelumnya. Selanjutnya, berikut ini adalah
sinopsis dari novel Pulang.
C.
KESIMPULAN
Kegiatan
membaca prosa fiksi pada dasarnya merpakan kegiatan berapresiasi sastra secara
langsung. Apakah arti kata “apresiasi” yang sebenarnta? Dengan kata lain
apresiasi sastra adalah upaya memahami karya sastra, yaitu upaya bagtaimana
cara untuk dapat mengerti sebuah karya sastra yang kit abaca, baik fiksi maupun
puisi, mengerti maknanya, baik yang internasional maupun yang actual, dan
mengerti seluk beluk strukturnya.
Apresiasi
sastra itu merupakan upaya “merebut
makna” karya sastra (Teew, 1980) sebagai tugas utama seorang pembaca. Untuk
menganalisis novel PULANG karya Toha Mohtar penulis menggunakan pendekatan
strukturalisme, yaitu pendekatan yang memandang karya sastra sebagai teks
mandiri. Penelitian dilakukan secara objektif yaitu menekankan aspek intrinsic
kary sastra. Unsure-unsur itu tidak jauh berbeda dengan sebuah “artefak” (benda
seni) yang bermakna. Artefk tersebut terdiri dari unsure dalam teks seperti
tema, plot, latar, penokohan, tokoh, gya bahasa,dan sudut pandang yang menjalin
rapi.
Dalam
analisis novel “pulang” karya Toha Muchtar menggunakan pendekatan structural
ini penulis membahas tentang , plot, latar, penokohan, tokoh, gya bahasa,dan
sudut pandang. Unsure-unsur intrinsic ini terjalin secara rapi. Manfaat
secara praktis yaitu bagi mahasiswa sastra untuk kegiatan analisis terhadap
karya sastra dari segi pemahaman konflik sosial yang dialami oleh tokoh yang
terdapat dalam sebuah karya sastra.
Daftar Pustaka
Endraswara.
Suwardi. 2013. Metodologi penelitian sastra. Yogyakarta.CAPS
Sayuti.
Sayuti. A. 2000. Berkenalan dengan prosa
puisi. Yogyakarta. KDT
http://www.slideshare.net/lhaylap/teori-strukturalisme-prosa-fiksi
diunduh tnggl 29-06-2014 jam 21.42

0 komentar:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.