Home » » PENULISAN KARYA SASTRA

PENULISAN KARYA SASTRA

Written By Berbagi ide muda Berkarya on Jul 1, 2015 | 10:05 AM

PENULISAN KARYA SASTRA


1. Sajak Abdul Wachid B.S.
SETIAP HURUF
-K.H. M. Sahal mahfudz
setiap huruf yang
dituliskan setiap huruf yang
diucapkan: kebaikan yang

indah tak terbilang

seperti menulis di atas batu
menjadi prasasti yang
tidak terhapus oleh lumut waktu

tetapi huruf yang
terucap dari bibirku orangorang yang
lalulalang bagai ilalang

di batin guru justru bagai menulis di atas air
terus saja mengalir
kepada hilir permaafan tanpa petir

hingga telinga menjadi radar semesta yang
hubungkan kemakhlukan dan kemahaan
hyang

setiap hurup yang
menderas di nadinadi jiwa raganya hanya
hyang

hingga semesta hati manusia
menjadi perpustakaan yang
menyimpan rapi huruphurup cintanya

seekor kupu di pagi jum’at itu
mengisyaratkan
salamnya abadi
yogyakarta, 24 januari 2014
(Sumber: majalah Mayara edisi 142 Th.XI/hal. 21)
Sajak ini mempunyai diksi yang baik juga pemenggalan kata yang tidak terlalu boros. Penulis mengungkapkan bagaimana konteksnya dengan habluminallah dan habluminannas. Beberapa lafaz maupun ayat suci al-qur’an seperti surah al- fatiha maupun lafaz subhanallah, alhamdulillah, allahu akbar sangat bermakna untuk kehidupan. Dengan sering banyak-banyak menyebut asma Allah maka timbul pula setiap butir kehidupan hingga menjadi barokah bagi umat sesama makhluk di muka bumi. Dalam sajak Abdul Wachid B.S terdapat rima yang memuat 1 bait terdiri dari 3 baris, mempunyai kata perulangan “yang” bisa dikatakan sebagai kata penghubung maupun menunjukkan metafora. Bahasa yang disampaikan bisa dikaji maknanya sehingga pembaca bisa berimajinasi masuk ke dalam dunianya. Adanya sebuah proses interpretasi teks
“hingga telinga menjadi radar semesta yang
hubungkan kemakhlukan dan kemahaan
hyang”
yang mengisahkan tejadinya sebuah pendekatan spiritual terhadap pengarang. Imajinasi pengarang memperngaruhi pembaca terhadap sebuah alur proses kehidupan, bagaimana hubungannya antar sesama makhluk seperti hal pada umumnya dikatakan habluminallah dan habluminannas. Sedang terdapat unsur batin terhadap sajak beliau ini, sebuah nada yang begitu indah ketika sajak tersebut dibacakan, mempunyai perasaan yang memurnikan terhadap pembaca lainnya sehingga sajak tersebut bisa dibaca oleh kalangan manapun. Amanat yang disampaikan juga jelas, pentingnya sebuah hubungan antar sesama makhluk agar meraih setiap butir-butir kehidupan.

2.
Sajak UMBU LANDU PARANGGI: MELODIA

Cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan
karena sajak pun sanggup merangkum duka
gelisah kehidupan
baiknya mengenal suara sendiri dalam mengarungi
suara suara dunia luar sana
sewaktu-waktu mesti berjaga dan pergi
membawa langkah kemana saja.

Karena kesetiaanlah maka jinak mata dan hati pengembara
dalam kamar berkisah, taruhan jerih
memberi arti kehadirannya
membukakan diri, bergumul dan menjaring
hari-hari tergesa berlalu
meniup deras usia, mengitari jarak
dalam gempuran waktu.

Takkan jemu napas bergelut di sini,
dengan sunyi dan rindu menyanyi
dalam kerja berlembur suka-duka
hikmah pengertian melipur hati damai
begitu berarti kertas-kertas di bawah bantal,
penanggalan penuh coretan
selalu sepenanggungan, mengadu padaku
dalam manja bujukan
Rasa-rasanya padalah dengan dunia sendiri manis,
bahagia sederhana
di rumah kecil papa, tapi bergelora hidup
kehidupan dan berjiwa
kadang seperti terpencil, tapi gairah
bersahaja harapan dan impian
yang teguh mengolah nasib dengan urat biru
di dahi dan kedua tangan
Yogya, 1964
(Sumber: Suryadi, AG.1987. Tonggak Antologi Puisi Indonesia Modern 3. Jakarta. PT Gramedia)
Tema drama: perjuangan
Nama pemeran drama: 1. Rangga 2. Sani
Penokohan/karakter: 1. Rangga( seorang penulis) 2. Sani( Pedagang kaki lima)
Ketika matahari sengat menyapa di keramaian Jeram Tua di Yogyakarta. Seorang laki-laki berbadan kurus, bergerumul dengan kertas- kertas melintasi sepanjang jalanan kota tua tersebut.
Rangga: “Cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan”, ah sore yang bersahabat hari ini. (Seorang laki-laki menuju jajanan kaki lima, sambil membawa coretan kertas-kertas) (setting: suasana flashback masa lampau, cahaya kuning tua)
Sani: “nampaknya jajanan sore ini tidak laris teman”, (pedagang yang berceloteh dengan dirinya sendiri)
Rangga: assalamualaikum, maaf pak Tua, harga satu kue molen ini berapa? (dialog antar dua tokoh, penulis dan pedagang kaki lima)
Sani: waalaikumsalam, alhamdulillah..ada pembeli pertama yang membeli jajananku ini, 500 perak saja tuan. (Suasana: cahaya agak meredup seperti menuju malam)
Rangga: kalau begitu saya beli 3000 ya pak, jangan lupa di kasih cabai mentahnya juga, hehehe (terjadinya interaksi dialog antar dua tokoh)
Sani: terimakasih tuan, (sambil memegang baju- baju sang pembeli, dengan nada memelas)
Rangga: tampaknya anda bersedih, pak? (berganti suasana malam)
Sani: bagaimana aku tak sedih, hasil daganganku seperti ini. Jangankan untuk membeli sehelai baju yang baru, untuk mencukupi kebutuhan keluarga rasa- rasanya tidak mampu Tuan. (Suasana Adzan Isya, dengan ditemani suara- suara jangkrik, membuat suasana semakin mencekam malam)
Rangga:
“Karena kesetiaanlah maka jinak mata dan hati pengembara
dalam kamar berkisah, taruhan jerih
memberi arti kehadirannya
membukakan diri, bergumul dan menjaring
hari-hari tergesa berlalu
meniup deras usia, mengitari jarak
dalam gempuran waktu”.
Jangan engkau bersedih pak, setiap kisah pasti ada cerita, setiap pula dibutuhkan perjuangan, cinta dan kasih sayang. Hidup ini jalani dengan penuh rasa cinta pasti akan bermakna.
Sani: ah, cinta tak bisa membuatku kaya, Tuan. Hahaha..! (sambil menunjuk dengan mimik wajah yang bersedih )
Rangga:
“Takkan jemu napas bergelut di sini,
dengan sunyi dan rindu menyanyi
dalam kerja berlembur suka-duka
hikmah pengertian melipur hati damai
begitu berarti kertas-kertas di bawah bantal,
penanggalan penuh coretan
selalu sepenanggungan, mengadu padaku
dalam manja bujukan
Rasa-rasanya padalah dengan dunia sendiri manis,
bahagia sederhana
di rumah kecil papa, tapi bergelora hidup
kehidupan dan berjiwa
kadang seperti terpencil, tapi gairah
bersahaja harapan dan impian
yang teguh mengolah nasib dengan urat biru
di dahi dan kedua tangan”

saya, tidak pernah melihat perubahan yang terjadi pada saya. Cinta yang membuat saya seperti ini, menjalani semua dengan semestinya. Menuliskan sajak-sajak untuk kota tua ini, menuliskan para pedagang-pedagang seperti bapak terkadang juga menyanyikannya. Banyak orang-orang yang mempunyai segalanya tapi tidak bisa menikmati indahnya kehidupan, contohnya saja seringkali terjadi pertikaian antar keluarga( perceraian, penindasan, pembunuhan, pemerkosaan terhadap anak kandung sendiri) (suasana: ilustrasi tarian yang menggambarkan surealis cerita, bagaimana fenomena kehidupan yang terjadi era saat ini)
Sani: sambil terpaku melihat ada sebuah peristiwa yang mengiringi di samping sudut dagangannya, sebuah keluarga yang selalu ceria meski penampilan kumal, kotor setara dengan gelandangan tetapi mereka menjalani hidup penuh dengan cinta. Terimakasih Tuan” ! (sambil mengelus dadanya, suasana: butiran salju yang jatuh pada pekat malam menandakan sebuah akhir kisah cerita)
Pedagang akhirnya menikmati hidupnya dengan penuh rasa cinta, karena Cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan

0 komentar:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.