Home » » RELASI MAKNA ANTONIM

RELASI MAKNA ANTONIM

Written By Berbagi ide muda Berkarya on Jul 4, 2014 | 11:38 PM

A. PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Dalam suatu bahasa, makna kata saling berhubungan, hubungan ini disebut Relasi makna. Relasi makna dapat berwujud bermacam – macam. Dalam setiap bahasa, termasuk bahasa indonesia, seringkali kita temui adanya hubungan kemaknaan atau relasi semantik antara sebuah kata atau satuan bahasa lainnya dengan kata atau satuan bahasa lainnya lagi. Salah satunya  kebalikan makna ( Antonim ) .

B.  PEMBAHASAN
 1. Menurut Abdul Chaer
            Kata antonimi berasal dari kata Yunani kuno, yaitu onoma yang artinya nama, dan anti yang artinya melawan. Maka secara harfiah antonim berarti nama lain untuk benda lain pula. Secara semantik Verhaar (1978 ) mendefinisikan sebagai ; Ungkapan biasanya berupa kata ,tetapi dapat pula berupa frase atau kalimat )yang maknanya dianggap kebalikan dari makna ungkapan lain. misalnya dengan kata bagus adalah berantonimi dengan kata buruk ; kata besar adalah beratonimi dengan kata kecil, dan kata membeli berantonimi dengan kata menjual.
            Dalam buku- buku pelajaran bahasa indonesia, antonimi biasanya disebut lawan kata.banyak orang yang tidak setuju dengan iistilah ini sebab pada hakekat nya yang berlawanan bukan kata-kata itu, melainkan makna dari kata-kata itu.
Sehubungan dengan ini banyak pula yang menyebutkan oposisi makna. Dengan istilah oposisi, maka bisa tercakup dari konsep yang betul- betul berlawanan sampai kepada yang hanya bersifat kontras saja. Kata hidup dan mati, seperti sudah dibicarakan diatas, bisa menjadi contoh berlawanan.
Menurut Chaer (1997: 27) antonim sering juga disebut dengan istilah oposisi makna, seperti pada uraian berikut ini:
a.Oposisi mutlak
Kata-kata yang memiliki pertentangan makna secra mutlak termasuk dalam jenis ini. Misalnya: hidup dengan mati. Orang yang hidup sudah pasti tidak mati, sedangkan orang yang mati pasti tidak hidup. Contoh lain diam dan gerak. Sesuatu yang diam pasti tidak bergerak, begitu pula sebaliknya sesuatu yang bergerak pasti tidak diam.
b. Oposisi kutub
Ada kata-kata yang pertentangannya tidak mutla, tetapi berjenjang/bertingkat. Contoh: kata kaya dengan miskin. Kaya dengan miskin tidak memiliki pertentangan yang mutlak. Orang yang kaya kadangkala masih merasa miskin, sebaliknya orang yang miskin mungkin ada yang merasa tidak miskin. Kata-kata yang beroposisi kutub umumnya berkelas kata adjektif. Contoh: cantik dengan jelek, periangdengan pendiam, pintar dengan bodoh, dan sebagainya.
c. Oposisi hubungan
Oposisi hubungan ditujukan untuk kata-kata yang saling berhubungan. Kehadiran suatu kata mengakibatkan kehadiran kata yang lain. Contoh, kata penjual ada karena adanya kata pembeli. Kata guru bersamaan hadir dengan kata murid, jika tidak ada kata guru maka tidak akan muncul kata murid. Kata-kata tersebut timbul secara serempak dan saling melengkapi.
Kata-kata yang beroposisi hubungan ini dapat berupa kata kerja dan kata benda. Contoh kata-kata yang berupa kata kerja antara lain adalah: pulang-pergi, maju-mundur, belajar-mengajar, dan sebagainya. Sedangkan contoh kata yang beroposisi hubungan berupa kata benda antara lain adalah: guru-murid, buruh-majikan, dan pimpinan-bawahan.
d. Oposisi Hierarkial
Kata-kata yang beroposisi hierarkial adalah kata-kata yang berupa nama satuan ukuran (berat, panjang, dan isi), satuan hitungan, penanggalan, dan jenjang kepangkatan. Kata centimeter dan kilometer merupakan contoh kata yang beroposisi secara hierarkial karena keduanya berada dalam deretan ukuran panajang. Begitu pula kata sersan dengan jenderal, karena berada dalam jenjang kepangkatan.
e. Oposisi majemuk
Adalah kata-kata yang tidak hanya beroposisi dengan satu kata saja, melainkan dengan dua buah kata atau lebih. Contoh, kata ramah dapat beroposisi dengan judes, galak, bengis, dan kejam. Atau dapat dibuat seperti gambar dibawah ini : 

                                                 duduk
                                                 tidur
   berdiri ><                    tiarap
                                                jongkok
                                                bersila
f. Oposisi inversi, oposisi ini terdapat pada pasangan kata seperti beberapa – semua, mungkin – wajib. Pengujian utama dalam menetapkan oposisi ini adalah apakah kata itu mengikuti kaidah sinonimi yang mencakup (a) penggantian suatu istilah dengan yang lain dan (b) mengubah posisi suatu penyangkalan dalam kaitan dengan istilah berlawanan. Contoh: beberapa negara tidak mempunyai pantai = tidak semua negara mempunyai pantai. Atau pula ragam itu dapat diklasifikasikan atas beberapa pasangan, yakni :
a. Antonim Komplementer
Antonim Komplementer, yaitu pasangan yang saling melengkapi. Yang satu tidaklah lengkap atau tidak sempurna bila tidak dibarengi oleh yang satu lagi.Sebagai contoh, kata suami berantonim dengan kata istri.
b. Antonim Gradabe
Suatu antonim disebut pasangan gradabel apabila penegatifan suatu kata tidaklah bersinonim dengan kata yang lain. Ciri lain sejumlah pasangan gradabel ialah bahwa yang berciri atau bertanda dan yang satu lagi tidak berciri atau tidak bertanda. Anggota pasangan yang tidak berciri atau tidak bertanda itu biasanya dipakai dalam pertanyaan-pertanyaan yang ada kaitannya dengan kadar atau tingkat.Sebagai contoh dalam suasana pasar, rajin x malas, berat x ringan.
c. Antonim Relasional
Antonim relasional adalah antonim yang memperlihatkan kesimetrisan dalam makna anggota pasangannya, karena anggota pasangan antonim itu terdapat hubungan yang erat. Sebagai contoh, kata guru dan murid. Kalau si A adalah atasan si B, maka si B adalah bawahan si A.
d. Antonim Resiprokal
Antonim resiprokal adalah antonim yang mengandung pasangan yang berlawanan atau bertentangan dalam makna tetapi juga secara fungsional berhubungan erat, hubungan itu justru hubungan timbal balik.
Sebagai contoh, pasangan kata, membeli >< menjual .

2. Menurut Parera
Bagi Parera J.D (2004), beliau menyifatkan antonim berpasangan dikenali sebagai pertentangan berbalasan di Indonesia. Pertentangan jenis ini juga dikenali sebagai komplementer. Menurut beliau lagi, pertentangan berbalasan ini menuntut balasan atau timbal balik sesuatu kata sebagai pelengkap makna dan ia perlu bersesuaian dengan sesuatu konteks. Lihat contoh seperti di bawah:
a.   tanya lawannya jawab                                
 b.  positif  lawannya negatif
c.  lebih lawannya kurang                                    
d. membeli lawannya menjual
e.  tambah lawannya kurang                   
f. menyerang lawannya menahan

 Antonim Berperingkat
Antonim jenis ini juga dipanggil sebagai antonim tafsiran (Redible Antonimy). Antonim berperingkat sering dikaitkan dengan kata adjektif. Antara kata adjektif yang sering dikaitakan dengan antonim jenis ini ialah putih lawannya hitam, tua lawannya putih, kecillawannya besar dan banyak lagi kata adjektif yang dikaitkan dengan antonim jenis ini. Namun begitu, menurut Abdullah Hassan perlawanan makna bagi kata adjektif mempunyai perbezaan. Perbezaan ini dapat dilihat berdasarkan kepada konteks sesuatu ayat itu sendiri. Rujuk contoh di bawah:
a.sekeping papan yang lebar adalah lebih kecil daripada sebuah sungai yang lebar.
 b.seluar panjang jauh lebih pendek jika dibandingkan dengan galah yangpendek.
  Antonim Berhubungan
Antonim berhubungan menurut Abdullah Hassan ialah sesuatu perkataan yang mempunyai berlawanan makna. Ada juga ahli bahasa memanggil antonim jenis ini sebagai antonim sebalikkan. Namun begitu, makna bagi perkataan tersebut saling berhubungan. Kata antonim ini dikenali sebagai konvensi yang membawa maksud hubungan antara dua maujud daripada satu sudut pandangan yang berbeza. Contoh antonim berhubungan dalam bahasa Melayu:
                 i.     jatuh lawan bangun
               ii.     pensyarah lawan pelajar
             iii.     beli lawan jual
Bukan dalam bahasa Melayu sahaja yang mempunyai perkataan-perkataan yang berhubungan tetapi, terdapat juga dalam bahasa Melayu. Lihat contoh yang diberikan seperti di bawah:
               i.     husband / wife
             ii.     buy / sell
           iii.     give / receive
Bagi Parera J.D pula, antonim berhubungan disebut sebagai pertentangan kenasabahan. Jika kita lihat makna kenasabahan yang merujuk dalam Kamus Dewan Edisi Keempat, kenasabahan membawa maksud perbandingan, pertalian dan perhubungan. Merujuk kepada antonim ia membawa maksud pertentangan antara sesuatu perkataan dengan perkataan yang lain. Menurut J.D Parera, antonim jenis ini adalah pertentangan yang menunjukkan hubungan dalam kekeluargaan, tugas atau sesuatu organisasi. Contoh yang diberikan oleh beliau ialah:
               i.     pria lawan wanita
             ii.     komandan lawan prajuit
           iii.     pemimpin lawan pengikut
           iv.      kakak lawan adik
Melalui sumber rujukan kedua, antonim dapat dibahagikan kepada:
                        i.          Pertentangan makna kata kerja.
                                    Contoh:   pukul bertentangan/berlawanan dengan belai.
                        ii.         Pertentangan makna kata nama.
                                    Contoh:   malam bertentangan/berlawanan dengan siang.
                        iii.        Pertentangan makna kata sifat.
                                    Contoh:   putih bertentangan/berlawanan dengan hitam.
 jenis-jenis antonim ialah antonim berpasangan, beperingkat dan berhubungan seperti yang dijelaskan dalam di bawah:
Jenis Antonim  dan Contoh
Antonim Berpasangan   Misalnya perkataan ‘siang’ lawannya malam. Perkataan-perkataan tersebut menunjukkan makna yang berlawanan tentang alam semula jadi.
Antonim Berperingkat   Antonim ini dinamakan antonim berperingkat kerana terdapatnya peringkat, sama ada ‘usia’, ‘ukuran’, ‘bentuk’ dan sebagainya. Peringkat ini berasaskan kata sifat atau kata yang menunjukkan keadaan dalam kategori yang sama sahaja. Contohnya ialah ‘muda’ lawannya ‘tua’ dan ‘tinggi’ lawannya ‘rendah’.
Antonim Berhubungan (Kata Bertentangan yang Berhubungan)                Maksud antonim ini ialah perkataan yang berlawanan makna tetapi mempunyai hubungan. Misalnya ‘pensyarah’ lawannya ‘pelajar’. Jelasnya, jika ada ‘pensyarah, pelajar pun wujud’. Atau perkataan tidur - jaga, hidup - mati, duduk - bangun, tajam - tumpul, kembang - kuncup, sihat - sakit, gembira - sedih, dan sebagainya dinamakan pasangan komplemen, iaitu pasangan perkataan berlawan yang saling melengkapi antara satu sama lain. Termasuk dalam jenis ini ialah kata-kata seperti ‘tidak hidup - mati dan tidak mati - hidup’, ‘tidak tidur - jaga dan tidak jaga - tidur’, dan sebagainya.
 Dalam ulasan seterusnya jenis antonim kedua menurut Siti Hajar ialah pasangan kata antonim yang menunjukkan hubungan darjah seperti perkataan besar - kecil, tebal - nipis, panjang - pendek, kurius - gemuk dan sebagainya. Beliau menambah, makna kata adjektif yang menunjukkan pasangan darjh ini mempunyai hubungan rujukan dengan benda yang dimaksudkan.
Jenis antonim ketiga pula dinamakan hubungan bertentangan. Dalam hal ini kedua-kedua pasangan kata itu dari segi semantiknya membawa makna yang setara, misalnya beri - terima, jual - beli, murid - guru, majikan - pekerja, dan sebagainya. Siti Hajar menambah, dalam bahasa Inggeris terdapat beberapa pasangan perkataan yang menunjukkan pertentangan seperti ini, misalnya trainer - trainee, mentor - mentee, employer - employee, interviewer - interviewee, dan sebagainya.
Kesimpulannya, antonim boleh didefinisikan sebagai perkataan yang berlainan bentuk ejaan atau bunyi tetapi mempunyai makna yang berlawanan. Dalam hal antonim, agak sukar mencari pertentangan makna secara satu lawan satu. Untuk memahami pertentangan makna perkataan antonim, kita perlu mempunyai pengetahuan tentang sesuatu perkataan tersebut

3.Menurut Mansoer Patteda
Pateda (2001: 206) menjelaskan makna harfiah dari antonimi adalah nama lain untuk benda yang laian. Verhaar dalam Pateda (2001:207) menjelaskan “Antonim adalah ungkapan (biasanya kata, tetapi dapat juga frasa atau kalimta) yang dianggap bermakna kebalikan dari ungkapan lain”.
Verhaar dalam Padeta (2001: 208) menbedakan antonim berdasarkan sistem sebagai berikut:
1.      Antonim antarkalimat, misalnya dia sakit dan dia tidak sakit.
2.      Antonim antarfrasa, misalnya secara teratur dan secara tidak teratur.
3.      Antonim antrakata, misalnya makan dan minum.
Antonim ini disebut bertaraf karena antara panas dengan dingin masih ada kata-kata lain seperti hangat,dan suam-suam kuku. Oposisi makna dalam pasangan pasangan leksikal tidak bertaraf yang maknanya bertentangan disebut oposisi komplementer, seperti jantan dan betina. Relasi antarkaraada juga yang maknanya berkebalikan, seperti kata suami denga istri“Jika Tina istri Tono, berarti Tono suami Tini”.
 Antonim : hubungan semantik dua buah satuan ujaran yang maknanya
menyatakan kebalikan, pertentangan dengan ujaran yang lain.
Contoh : hidup x mati
Jenis antonim :
a. Antonim yang bersifat mutlak, contoh : diam x bergerak
b. Antonim yang bersifat relatif / bergradasi, contoh : jauh x dekat
c. Antonim yang bersifat relasional, contoh : suami x istri
d. Antonim yang bersifat hierarkial, contoh : tamtama x bintara



0 komentar:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.