A.
Pendahuluan
Latar Belakang
Stilistik
berusaha dan berhasil menetapkan keistimewaan pemakaian bahasa secara
insidental, tetapi tidak berhasil menerangkan apakah ciri khas bahasa puisi
secara umum dan hakiki. Pemanfaatan bahasa dalam puisi memang berbeda dengan
pemakaian bahasa pada umumnya. Hal ini secara instingtif disadari atau
dirasakan oleh kebanyakan pembaca, bahkan oleh pembaca tak terpelajar
sekalipun. Dalam sejumlah hal, puisi memang menggunakan kata- kata yang berbeda
dengan kata sehari- hari, terutama sekali dalam hal strukturnya. Bahasa puisi
seolah- olah memiliki semacam “tata bahasa” khusus. Bahkan, “ tata bahasa”
dalam puisi kadang- kadang tampak sangat menyimpang, apalagi jika dilihat dari
segi tata bahasa normatif. Akan tetapi, penyimpangan- penyimpangan tersebut
dilakukan demi pencapaian tujuan estetis.
Pendekatan
stilistika beranggapan bahwa kemampuan satrawan mengeksploitasi bahasa
merupakan suatu puncak kreativitas yang dinilai sebagai bakat, oleh karena itu
aplikasi dari pendekatan stilistika tidak hanya ditunjukkan kepada analisis
pemakaian gaya bahasa yang indah dan menarik tetapi juga memberikan perhatian
khusus kepada penggunaan bahasa yang paling sadar dan paling kompleks dalam
kesusastraan dan penyiasatan struktur serta pilihan kata (diksi).
Makalah.
Titik suyatmi. Stilistika.uad. jogja. Hal 26-30.
(teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra )Pengantar Teori
Sastra). Jakarta Pusat: Pustaka Jaya.
Puisi
adalah karya estetis yang memanfaatkan sarana bahasa secara khas. Hal ini
sejalan dengan pandangan yang menyatakan bahwa jika suatu ungkapan yang
memanfaatkan sarana bahasa itu bersifat “luar biasa,” ungkapan itu disebut
sebagai ungkapan sastra atau bersifat sastrawi. Pada tataran penulisan kata,
seringkali juga di dapatkan penulisan yang berbeda dari kelaziman normatif.
Misalnya saja kapitalisasi kata tertentu, dimiringkan, diapit tanda kurung atau
tanda hubung, dan sebagainya. Semuanya itu dalam rangka mencapai efek tertentu
bagi gagasan yang diharapkan mengemuka. Dalam ilmu sastra sejak dahulu
keistimewaan pemakaian bahasa dalam sastra, khususnya dalam puisi, ditonjolkan.
Jadi walaupun dalam penyimpangannya dari
bahasa sehari- hari tidak dapat dicari
dasar untuk membedakan sastra dari pemakaian yang lain, namun keistimewaan
bahasa puisi dan sastra tetap diteliti, dan secara sistematik disusun dalam
sistem retorika yang amat luas dan halus. Menurut Teeuw, melalui karya- karya
Chairil Anwarlah terjadi revolusi total dalam bahasa, dengan cara
mendekonstruksi sistem sastra lama yang mendominasi oleh berbagai ikatan,
sehingga menjadi baru sama sekali. Pada gilirannya Chairil Anwar dianggap
sebagai pelopor dalam memanfaatkan kemampuan bahasa Indonesia, khususnya dalam
karya sastra, sekaligus memengaruhi perkembangan karya sastra selanjutnya.
Stilistika memiliki unsur-unsur gaya atau stile, salah
satunya adalah retorika. Retorika merupakan suatu cara penggunaan bahasa untuk
memperoleh efek estetik. Retorika pada dasarnya berkaitan dengan pembicaraan
tentang dasar-dasar penyusunan sebuah wacana yang efektif. Retorika
memiliki unsur-unsur yang meliputi : (1) permajasan, (2) penyiasatan struktur, dan (3) pencitraan.
Melihat adanya unsur-unsur retorika, maka makalah ini
akan menjelaskan dan menganalisis tentang penyiasatan struktur yang berjudul “Analisis Penyiasatan Struktur dalam Perpuisian Chairil
Anwar Angkatan 45”. Selain itu, akan di jelaskan juga fungsi dan makna yang
terkandung dalam kumpulan puisi tersebut.
1.1 Identifikasi
Masalah
1.
Bagaimana penyiasatan
struktur yang terkandung dalam “Analisis
Penyiasatan Struktur
dalam Perpuisian Chairil Anwar Angkatan 45” ?
2.
Bagaimana fungsi dan
makna yang terkandung dalam “Analisis
Penyiasatan Struktur
dalam Perpuisian Chairil Anwar Angkatan 45”?
1.2 Pembatasan masalah
Berdasarkan
identifikasi masalah diatas, maka pembatasan masalah dalam penelitian ini
sebagai berikut.
1. Bentuk
penyiasatan struktur yang digunakan pengarang dalam “Analisis Penyiasatan Struktur dalam Perpuisian Chairil
Anwar
Angkatan 45”.
2. Penyiasatan
struktur yang terdapat dalam “Analisis
Penyiasatan Struktur
dalam Perpuisian Chairil Anwar Angkatan 45”.
1.3 Perumusan masalah
Berdasarkan pembatasan masalah
diatas, maka peneliti membatasi permasalah an dalam penelitian ini sebagai
berikut.
1.
Penyiasatan
struktur apa sajakah yang terdapat dalam “Analisis Penyiasatan Struktur dalam Perpuisian Chairil
Anwar
Angkatan 45”?.
2.
Apa tujuan
penggunaan penyiasatan struktur dalam “Analisis Penyiasatan Struktur dalam Perpuisian Chairil
Anwar
Angkatan 45”?.
2
Tujuan penelitian
Berdasarkan rumusan masalah
diatas, maka tujuan penelitian dalam
penelitian ini sebagai berikut.
1.
Mendeskripsikan
penyiasatan struktur yang terdapat dalam “Analisis Penyiasatan Struktur dalam Perpuisian Chairil
Anwar
Angkatan 45”.
2.
Mendeskripsikan
bentuk penyiasatan struktur berupa diksi yang terdapat dalam “Analisis Penyiasatan Struktur dalam Perpuisian Chairil
Anwar
Angkatan 45”.
B.
Kajian Teori
Sudah semenjak abad kelima dibedakan dua artes (ars
adalah kepandaian, teknis ilmiah, sistem aturan; baru kemudian dalam bahasa
Perancis dan Inggris art berkembang maknanya menjadi ‘seni’) yang masing-
masing diberi nama grammatica dan rhetorica: grammatica meliputi recte
loquendi scientia, ilmu untuk berbicara secara tepat, dan poetarum
enarratio, semacam ilmu sastra (Latin, sudah tentu); retorika adalah ars bene dicendi, kepandaian mengatakan
sesuatu secara baik, yang pada awalnya terutama mengacu kepada pengertian
kepandaian orator, tukang pidato
(ahli) tetapi yang kemudian meliputi juga pemakaian bahasa dalam sastra: mulai
dari abad ke- 4” elle se confodit avec la notion meme de litterature” (Zumthor
1971:50: retorik bercampur baur dengan konsep sastra itu sendiri). Tetapi
adakalanya puisi digolongkan pula dalam grammatica
(Curtius 1973: 45: Poetry was assigned sometimes to ‘grammar, sometimes to
rhetoric”). Pada jaman modern stilistik seringkali memperlihatkan persamaan
dengan retorika, tetapi tanpa aspek normatifnya;stilistik, ilmu gaya bahasa,
juga diberi definisi yang bermacam- macam, tetapi pada prinsipnya selalu
meneliti pemakaian bahasa yang khas atau istimewa, yang merupakan ciri khas
seorang penulis, aliran sastra dan lain- lain, atau pula yang menyimpang dari
bahasa sehari- hari atau dari bahasa yang dianggap normal, baku dan lain-lain.
Sudah tentu ilmu gaya bahasa berhasil menentukan secara cukup tegas, misalnya,
pemakaian bahasa seorang penyair atau kelompok penyair tertentu, khususnya
dalam penyimpangannya dari pemakaian bahasa oleh penyair dari mahzab atau
aliran ataupun angkatan lain; namun ini pun tidak menghasilkan kemungkinan
definisi bahasa puisi yang berlaku umum.
1.
Hakikat
Stilistika
Stilistika
dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2012; 1340) diartikan sebagai ilmu tentang
penggunaan bahasa dan gaya bahasa di dalam karya sastra. Stilistika (stylistics) menyaran pada pengertian
studi tentang stile (Lecch & Short, 1981:13), kajian terhadap wujud
performansi kebahasaan, khususnya yang terdapat di dalam karya sastra. Kajian
stilistika itu sendiri sebenarnya dapat ditujukan terhadap berbagai ragam
penggunaan bahasa, tak terbatas pada sastra saja, namun biasanya stilistika
lebih sering dikaitkan dengan bahasa sastra (Chapman dalam Nurgiyantoro 279).
Stilistika
tidak lepas dari gaya. Gaya atau khususnya gaya bahasa dikenal dalam retorika
dengan istilah style. Kata style diturunkan dari kata Latin stilus,
yaitu semacam alat untuk menulis pada lempengan lilin yang pada akhirnya hal
itu dititikberatkan pada keahlian untuk menulis indah, maka style lalu berubah menjadi kemampuan dan
keahlian untuk menulis atau mempergunakan kata-kata secara indah.
2.
Penyiasatan
Struktur
Ada
bermacam gaya bahasa yang terlahir dari penyiasatan struktur kalimat. Salah
satu gaya yang banyak dipergunakan orang adalah yang berangkat dari bentuk
pengulangan, baik berupa pengulangan kata, bentukan kata, frase, kalimat,
maupun bentuk-bentuk lain, misalnya gaya repetisi, paralelisme, anafora,
polisidenton, dan asidenton.
Sedangkan bentuk-bentuk
yang lain misalnya antitesis, alitrasi, klimaks, antiklimaks, dan pertanyaan
retoris. Dalam khazanah perpuisian Indonesia modern dapat
dijumpai banyak sekali ragam sarana retorik. Namun, hanya beberapa ragam saja
yang mempunyai frekuensi pemakaian yang tinggi, yang hampir setiap penyair
mempergunakannya. Salah satu jenis sarana retorik yang mempunyai frekuensi
pemakaian tinggi adalah repetisi atau
pengulangan
a. Repetisi
Repetisi adalah perulangan bunyi, suku kata, kata atau
bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks
yang sesuai (Keraf, 2008: 127).
Contoh : Atau
maukah kau pergi bersama
serangga-serangga tanah, pergi bersama
kecoak-kecoak, pergi bersama mereka
yang menyusupi tanah, menyusupi
alam?
b. Anafora
Anafora adalah repetisi yang berwujud perulangan kata
pertama pada tiap kalimat (Keraf, 2008: 127).
Contoh : Bahasa yang baku pertama-tama berperan
sebagai pemersatu dalam pembentukan suatu masyarakat bahasa-bahasa yang
bermacam-macam dialeknya. Bahasa yang
baku akan mengurangi perbedaan variasi dialek Indonesia secara geografis,
yang tumbuh karena kekuatan bawah-sadar pemakai bahasa Indonesia, yang bahasa
pertamanya suatu bahasa Nusantara. Bahasa
yang baku itu akan mengabitkan selingan bentuk yang sekecil-kecilnya.
c. Paralelisme
Paralelisme adalah semacam gaya bahasa yang berusaha
mencapai kesejajaran dalam pemakaian kata-kata atau frasa-frasa yang menduduki
fungsi yang sama dalm bentuk gramatikal yang sama (Keraf, 2008: 126).
Contoh : Bukan saja perbuatan itu harus dikutuk,
tetapi juga harus diberantas.
d. Polisidenton
Polisidenton adalah suatu gaya yang merupakan kebalikan
dari asidenton (Keraf, 2008: 131).
Contoh : Dan
kemanakah burung-burung yang gelisah dan tak berumah dan tak menyerah pada
gelap dan dingin yang bakal merontokkan bulu-bulunya?
e. Asidenton
Asidenton adalah suatu gaya yang berupa acuan, yang
bersifat padat dan mampat di mana beberapa kata, frasa, atau klausa yang
sederajat tidak dihubungkan dengan kata sambung. Bentuk-bentuk itu biasanya
dipisahkan saja dengan koma.
Contoh : Dan
kesekan, kepedihan, kesakitan, seribu derita detik-detik penghabisan orang
melepaskan nyawa.
f. Antitesis
Antitesis adalah sebuah gaya bahasa yang mengandung
gagasan-gagasan yang bertentangan, dengan mempergunakan kata-kata atau kelompok
kata yang berlawanan (Keraf, 2008: 126).
Contoh
: Mereka sudah kehilangan banyak dari
harta bendanya, tetapi mereka juga telah banyak memperoleh keuntungan
daripadanya.
g. Aliterasi
Aliterasi adalah semacam gaya bahasa yang berwujud
perulangan konsonan yang sama (Keraf, 2008: 130).
Contoh : Takut titik lalu tumpah.
Keras-keras kerak kena air
lembut juga.
h. Klimaks
Gaya bahasa klimaks
diturunkan dari kalimat yang bersifat periodik. Klimaks adalah semacam gaya
yang mengandung urutan-urutan pikiran yang setiap kali semakin meningkat
kepentingannya dari gagasan-gagasan sebelumnya (Keraf, 2008: 124).
Contoh
: Kesengsaran membuahkan kesabaran,
kesabaran pengalaman, dan pengalaman
harapan.
i. Antiklimaks
Antiklimaks dihasilkan oleh kalimat yang berstruktur
mengendur. Antiklimaks sebagai gaya bahasa merupakan suatu acuan yang
gagasan-gagasannya diurutkan dari yang terpenting berturut-turut ke gagasan
yang kurang penting (Keraf, 2008: 125).
Contoh
: Ketua pengadilan negeri itu adalah
seorang yang kaya, pendiam, dan tidak terkenal namanya.
j. Pertanyaan
Retoris
Gaya yang serupa pertanyaan retoris- sebuah gaya yang
banyak dimanfaatkan oleh para orator- menekankan pengungkapan dengan
menampilkan semacam pertanyaan yang sebenarnya tak menghendaki jawaban
(Nurgiyantoro, 2010: 303).
A.
Metode
Penelitian
1.
Subjek
Penelitian
Subjek adalah sumber data dari
mana data diperoleh (Siswantoro, 2005: 63). Dalam penelitian ini subjek
penelitiannya adalah Koleksi sajak
Chairil Anwar 1942- 1949 yang terdiri dari 131 halaman, dan
diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2011.
2.
Objek
Penelitian
Objek penelitian harus ada sebagai
tindak ilmiah yang merupakan gejala atau fenomena yang akan diteliti.
Berdasarkan objek penelitian sastra, objek dibedakan menjadi dua macam yaitu:
objek material dan objek formal.
Objek
material berarti pernyataan yang diselidiki atau dibahas adalah manusia itu
sendiri. Objek formal merujuk pada aspek khusus dari objek material yang akan
diteliti seperti: perilaku sendiri, kebudayaan manusia, kehidupan manusia, dan
sebagainya (Siswantoro, 2005: 46-47).
Penelitian
ini yang menjadi objek material adalah penyiasatan struktur yang terdapat dalam Sajak Chairil Anwar Angkatan 45.
3.
Metode
Pengumpulan Data
Metode
dapat diartikan sebagai prosedur atau tata cara yang sistemasis yang dilakukan
seorang peneliti dalam upaya mencapai tujuan seperti memecahkan masalah atau
menguak kebenaran atas fenomena tertentu (siswantoro, 2005:55). Metode baca
catat dan kajian kepustakaan adalah metode yang digunakan dalam penelitian ini.
Metode baca catat diartikan sebagai metode yang digunakan untuk memperoleh data
dengan cara membaca keseluruhan teks dan literature, kemudian mencatat data
yang ditemukan pada kartu data yang telah disediakan, sedangkan metode kajian
kepustakaan diartikan sebagai metode yang digunakan untuk memakai dan memperoleh
berbagai buku dan artikel sebagai bahan pustaka yang digunakan sebagai sumber tertulis. Kajian kepustakaan
dalam penelitian ini adalah dengan cara menemukan dan memahami pokok permasalah
yang diteliti, kemudian menentukan
sumber tertulis yang akan digunakan.
4.
Instrumen
Penelitian
Instrumen
sama halnya dengan alat yang merujuk kepada sarana pengumpulan data
(Siswantoro, 2005: 65). Oleh karena itu, dalam penelitian ini instrumen yang
digunakan adalah teks itu sendiri, peneliti serta kartu data. Teks berupa
novel, dan peneliti bertindak sebagai instrument sekaligus pengumpul dan
pengolah data.
5.
Metode
Analisis Data
Analisis
data adalah kegiatan yang dilakukan satelah menyelesaikan data sesuai dengan cerita yang akan
diteliti (Siswantoro, 2005: 48). Analisis yang digunakan dalam penelitian ini
adalah analisis deskripsi kualitatif dan interprestasi. Deksriptif kualitatif
adalah dengan mengambarkan isi cerita kemudian interprestasi adalah analisis
terhadap data yang diperoleh.
C.
Hasil
Penelitian dan Pembahasan
Analisis penyiasatan
struktur pada perpuisian Chairil Anwar
Angkatan 45, sebagai berikut :
1.
SENJA DI PELABUHAN KECIL
Buat Sri Ajati
Ini
kali tidak ada yang mencari cinta
di
antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang
serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus
diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis
mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung
muram, desir hari lari berenang
menemu
bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan
kini tanah dan air tidur hilang ombak
tiada
lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir
semenanjung, masih pengap harap
sekali
tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari
pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
1946
|
Bait
|
Penyiasatan
Struktur
|
Fungsi
|
Makna
|
|
|
Ini kali tidak ada yang mencari cinta di antara gudang,
rumah tua, pada cerita tiang serta temali.
|
Pararelisme
|
Membentuk
pengulangan struktur dan bagian-bagian kalimat yang mempunyai kesamaan
struktur gramatikal secara berurutan
|
Ungkapan suasana kesedihan
|
|
|
Ini kali tidak ada yang mencari cinta di antara gudang,
rumah tua, pada cerita tiang serta temali.
|
Asindenton
|
Membentuk
gagasan-gagasan yang sederajat, memberi penekanan yang sama dan dapat
membangkitkan efek retoris
|
Kesedihan
|
|
|
Tidak ada pertolongan
|
||||
|
Kapal, perahu tiada berlaut menghembus diri dalam
mempercaya mau berpaut
|
||||
|
Adanya kejadian fenomena alam, yakni suasana pantai
yang sendu dan rawan
|
||||
|
Ada juga kelepak elang menyinggung muram, desir hari
lari berenang menemu bujuk pangkal akanan.
Berjalan menyisir semenanjung, masih pengap harap
Sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan dari
pantai keempat, sedu penghabisan, sedu penghabisan bisa terdekap
|
||||
|
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan.
Tidak bergerak dan kini tanah dan air tidur hilang ombak
|
Polisindenton
dan Asindenton
|
Membentuk
gagasan-gagasan yang sederajat, memberi penekanan yang sama dan dapat
membangkitkan efek retoris
|
Susana kesedihan yang mendalam, adanya kerawanan yang menghantui
|
2.
KEPADA PENYAIR BOHANG
Suaramu
bertanda derita laut tenang...
Si
Mati ini padaku masih berbicara
Karena
dia cinta, di mulutnya membusah
Dan
rindu yang mau memerahi segala
Si
Mati ini matanya terus bertanya!
Kelana tidak bersejarah
Berjalan kau terus!
Sehingga tidak gelisah
Begitu berlumuran darah.
Dan duka juga menengadah
Melihat gayamu melangkah
Mendayu suara patah:
“Aku saksi!”
Bohang,
Jauh di dasar jiwamu
Bertampuk suatu dunia;
Menguyup rintik satu- satu
Kaca dari dirimu pula...
1945
·
Analisis :
|
Bait
|
Penyiasatan
Struktur
|
Fungsi
|
Makna
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Kelana
tidak bersejarah
Berjalan
kau terus!
Sehingga
tidak gelisah
Begitu
berlumuran darah.
|
Pararelisme
|
Membentuk
pengulangan struktur dan bagian-bagian kalimat yang mempunyai kesamaan
struktur gramatikal secara berurutan
|
Perjuangan sampai menemukan suatu keberhasilan
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Bohang,
Jauh
di dasar jiwamu
Bertampuk
suatu dunia;
Menguyup
rintik satu- satu
Kaca
dari dirimu pula...
|
Asindenton
|
Membentuk
gagasan-gagasan yang sederajat, memberi penekanan yang sama dan dapat
membangkitkan efek retoris
|
Penggambaran sesosok pemimpin yang di harapkan
masyarakat
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Dan duka
juga menengadah
Melihat
gayamu melangkah
Mendayu
suara patah:
“Aku saksi!”
|
Pertanyaan
Retoris
|
Gaya
yang serupa pertanyaan retoris- sebuah gaya yang banyak dimanfaatkan oleh
para orator- menekankan pengungkapan dengan menampilkan semacam pertanyaan
yang sebenarnya tak menghendaki jawaban
|
Kepedihan orang- orang tertindas menumbuhkan semngat
kepahlawanan ketika sesosok pemimpin yang bijak
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
3.
MALAM
Mulai kelam
belum buntu malam,
kami masih saja berjaga
-Thermopylae?-
-jagal tidak dikenal?-
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam
hilang
1945
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||

0 komentar:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.