Home » » Analisis Penyiasatan Struktur dalam “ Perpuisian Chairil Anwar Angkatan 45”

Analisis Penyiasatan Struktur dalam “ Perpuisian Chairil Anwar Angkatan 45”

Written By Berbagi ide muda Berkarya on Jan 14, 2015 | 10:37 PM

A.    Pendahuluan
Latar Belakang
Stilistik berusaha dan berhasil menetapkan keistimewaan pemakaian bahasa secara insidental, tetapi tidak berhasil menerangkan apakah ciri khas bahasa puisi secara umum dan hakiki. Pemanfaatan bahasa dalam puisi memang berbeda dengan pemakaian bahasa pada umumnya. Hal ini secara instingtif disadari atau dirasakan oleh kebanyakan pembaca, bahkan oleh pembaca tak terpelajar sekalipun. Dalam sejumlah hal, puisi memang menggunakan kata- kata yang berbeda dengan kata sehari- hari, terutama sekali dalam hal strukturnya. Bahasa puisi seolah- olah memiliki semacam “tata bahasa” khusus. Bahkan, “ tata bahasa” dalam puisi kadang- kadang tampak sangat menyimpang, apalagi jika dilihat dari segi tata bahasa normatif. Akan tetapi, penyimpangan- penyimpangan tersebut dilakukan demi pencapaian tujuan estetis.
Pendekatan stilistika beranggapan bahwa kemampuan satrawan mengeksploitasi bahasa merupakan suatu puncak kreativitas yang dinilai sebagai bakat, oleh karena itu aplikasi dari pendekatan stilistika tidak hanya ditunjukkan kepada analisis pemakaian gaya bahasa yang indah dan menarik tetapi juga memberikan perhatian khusus kepada penggunaan bahasa yang paling sadar dan paling kompleks dalam kesusastraan dan penyiasatan struktur serta pilihan kata (diksi).
Makalah. Titik suyatmi. Stilistika.uad. jogja. Hal 26-30.
(teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra )Pengantar Teori Sastra). Jakarta Pusat: Pustaka Jaya.

Puisi adalah karya estetis yang memanfaatkan sarana bahasa secara khas. Hal ini sejalan dengan pandangan yang menyatakan bahwa jika suatu ungkapan yang memanfaatkan sarana bahasa itu bersifat “luar biasa,” ungkapan itu disebut sebagai ungkapan sastra atau bersifat sastrawi. Pada tataran penulisan kata, seringkali juga di dapatkan penulisan yang berbeda dari kelaziman normatif. Misalnya saja kapitalisasi kata tertentu, dimiringkan, diapit tanda kurung atau tanda hubung, dan sebagainya. Semuanya itu dalam rangka mencapai efek tertentu bagi gagasan yang diharapkan mengemuka. Dalam ilmu sastra sejak dahulu keistimewaan pemakaian bahasa dalam sastra, khususnya dalam puisi, ditonjolkan.
 Jadi walaupun dalam penyimpangannya dari bahasa  sehari- hari tidak dapat dicari dasar untuk membedakan sastra dari pemakaian yang lain, namun keistimewaan bahasa puisi dan sastra tetap diteliti, dan secara sistematik disusun dalam sistem retorika yang amat luas dan halus. Menurut Teeuw, melalui karya- karya Chairil Anwarlah terjadi revolusi total dalam bahasa, dengan cara mendekonstruksi sistem sastra lama yang mendominasi oleh berbagai ikatan, sehingga menjadi baru sama sekali. Pada gilirannya Chairil Anwar dianggap sebagai pelopor dalam memanfaatkan kemampuan bahasa Indonesia, khususnya dalam karya sastra, sekaligus memengaruhi perkembangan karya sastra selanjutnya.
Stilistika memiliki unsur-unsur gaya atau stile, salah satunya adalah retorika. Retorika merupakan suatu cara penggunaan bahasa untuk memperoleh efek estetik. Retorika pada dasarnya berkaitan dengan pembicaraan tentang dasar-dasar penyusunan sebuah wacana yang efektif. Retorika memiliki unsur-unsur yang meliputi : (1) permajasan, (2) penyiasatan struktur, dan (3) pencitraan.
Melihat adanya unsur-unsur retorika, maka makalah ini akan menjelaskan dan menganalisis tentang penyiasatan struktur yang berjudul “Analisis Penyiasatan Struktur dalam Perpuisian Chairil Anwar Angkatan 45”. Selain itu, akan di jelaskan juga fungsi dan makna yang terkandung dalam kumpulan puisi tersebut.

1.1  Identifikasi Masalah
1.      Bagaimana penyiasatan struktur yang terkandung dalamAnalisis Penyiasatan Struktur dalam Perpuisian Chairil Anwar Angkatan 45 ?
2.      Bagaimana fungsi dan makna yang terkandung dalamAnalisis Penyiasatan Struktur dalam Perpuisian Chairil Anwar Angkatan 45”?
     
1.2  Pembatasan masalah
Berdasarkan identifikasi masalah diatas, maka pembatasan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut.
1.      Bentuk penyiasatan struktur yang digunakan pengarang dalam “Analisis Penyiasatan Struktur dalam Perpuisian Chairil Anwar Angkatan 45.
2.      Penyiasatan struktur yang terdapat dalam Analisis Penyiasatan Struktur dalam Perpuisian Chairil Anwar Angkatan 45.
       1.3 Perumusan masalah
Berdasarkan pembatasan masalah diatas, maka peneliti membatasi permasalah an dalam penelitian ini sebagai berikut.
1.      Penyiasatan struktur apa sajakah yang terdapat dalam “Analisis Penyiasatan Struktur dalam Perpuisian Chairil Anwar Angkatan 45?.
2.      Apa tujuan penggunaan penyiasatan struktur dalam “Analisis Penyiasatan Struktur dalam Perpuisian Chairil Anwar Angkatan 45?.

2        Tujuan penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka  tujuan penelitian dalam penelitian ini sebagai berikut.
1.      Mendeskripsikan penyiasatan struktur yang terdapat dalam “Analisis Penyiasatan Struktur dalam Perpuisian Chairil Anwar Angkatan 45.
2.      Mendeskripsikan bentuk penyiasatan struktur berupa diksi yang terdapat dalam  “Analisis Penyiasatan Struktur dalam Perpuisian Chairil Anwar Angkatan 45.


B.     Kajian Teori
Sudah semenjak abad kelima dibedakan dua artes (ars adalah kepandaian, teknis ilmiah, sistem aturan; baru kemudian dalam bahasa Perancis dan Inggris art berkembang maknanya menjadi ‘seni’) yang masing- masing diberi nama grammatica dan rhetorica: grammatica meliputi recte loquendi scientia, ilmu untuk berbicara secara tepat, dan poetarum enarratio, semacam ilmu sastra (Latin, sudah tentu); retorika adalah ars bene dicendi, kepandaian mengatakan sesuatu secara baik, yang pada awalnya terutama mengacu kepada pengertian kepandaian orator, tukang pidato (ahli) tetapi yang kemudian meliputi juga pemakaian bahasa dalam sastra: mulai dari abad ke- 4” elle se confodit avec la notion meme de litterature” (Zumthor 1971:50: retorik bercampur baur dengan konsep sastra itu sendiri). Tetapi adakalanya puisi digolongkan pula dalam grammatica (Curtius 1973: 45: Poetry was assigned sometimes to ‘grammar, sometimes to rhetoric”). Pada jaman modern stilistik seringkali memperlihatkan persamaan dengan retorika, tetapi tanpa aspek normatifnya;stilistik, ilmu gaya bahasa, juga diberi definisi yang bermacam- macam, tetapi pada prinsipnya selalu meneliti pemakaian bahasa yang khas atau istimewa, yang merupakan ciri khas seorang penulis, aliran sastra dan lain- lain, atau pula yang menyimpang dari bahasa sehari- hari atau dari bahasa yang dianggap normal, baku dan lain-lain. Sudah tentu ilmu gaya bahasa berhasil menentukan secara cukup tegas, misalnya, pemakaian bahasa seorang penyair atau kelompok penyair tertentu, khususnya dalam penyimpangannya dari pemakaian bahasa oleh penyair dari mahzab atau aliran ataupun angkatan lain; namun ini pun tidak menghasilkan kemungkinan definisi bahasa puisi yang berlaku umum.
1.    Hakikat Stilistika
Stilistika dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2012; 1340) diartikan sebagai ilmu tentang penggunaan bahasa dan gaya bahasa di dalam karya sastra. Stilistika (stylistics) menyaran pada pengertian studi tentang stile (Lecch & Short, 1981:13), kajian terhadap wujud performansi kebahasaan, khususnya yang terdapat di dalam karya sastra. Kajian stilistika itu sendiri sebenarnya dapat ditujukan terhadap berbagai ragam penggunaan bahasa, tak terbatas pada sastra saja, namun biasanya stilistika lebih sering dikaitkan dengan bahasa sastra (Chapman dalam Nurgiyantoro 279).
Stilistika tidak lepas dari gaya. Gaya atau khususnya gaya bahasa dikenal dalam retorika dengan istilah style. Kata style diturunkan dari kata Latin stilus, yaitu semacam alat untuk menulis pada lempengan lilin yang pada akhirnya hal itu dititikberatkan pada keahlian untuk menulis indah, maka style lalu berubah menjadi kemampuan dan keahlian untuk menulis atau mempergunakan kata-kata secara indah.

2.    Penyiasatan Struktur
Ada bermacam gaya bahasa yang terlahir dari penyiasatan struktur kalimat. Salah satu gaya yang banyak dipergunakan orang adalah yang berangkat dari bentuk pengulangan, baik berupa pengulangan kata, bentukan kata, frase, kalimat, maupun bentuk-bentuk lain, misalnya gaya repetisi, paralelisme, anafora, polisidenton, dan asidenton.
Sedangkan bentuk-bentuk yang lain misalnya antitesis, alitrasi, klimaks, antiklimaks, dan pertanyaan retoris. Dalam khazanah perpuisian Indonesia modern dapat dijumpai banyak sekali ragam sarana retorik. Namun, hanya beberapa ragam saja yang mempunyai frekuensi pemakaian yang tinggi, yang hampir setiap penyair mempergunakannya. Salah satu jenis sarana retorik yang mempunyai frekuensi pemakaian tinggi adalah repetisi atau pengulangan
a.    Repetisi
          Repetisi adalah perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai (Keraf, 2008: 127).
Contoh  :  Atau maukah kau pergi bersama serangga-serangga tanah, pergi bersama kecoak-kecoak, pergi bersama mereka yang menyusupi tanah, menyusupi alam?
b.    Anafora
          Anafora adalah repetisi yang berwujud perulangan kata pertama pada tiap kalimat (Keraf, 2008: 127).
Contoh  :  Bahasa yang baku pertama-tama berperan sebagai pemersatu dalam pembentukan suatu masyarakat bahasa-bahasa yang bermacam-macam dialeknya. Bahasa yang baku akan mengurangi perbedaan variasi dialek Indonesia secara geografis, yang tumbuh karena kekuatan bawah-sadar pemakai bahasa Indonesia, yang bahasa pertamanya suatu bahasa Nusantara. Bahasa yang baku itu akan mengabitkan selingan bentuk yang sekecil-kecilnya.


c.    Paralelisme
          Paralelisme adalah semacam gaya bahasa yang berusaha mencapai kesejajaran dalam pemakaian kata-kata atau frasa-frasa yang menduduki fungsi yang sama dalm bentuk gramatikal yang sama (Keraf, 2008: 126).
Contoh  : Bukan saja perbuatan itu harus dikutuk, tetapi juga harus diberantas.
d.   Polisidenton
          Polisidenton adalah suatu gaya yang merupakan kebalikan dari asidenton (Keraf, 2008: 131).
Contoh  :  Dan kemanakah burung-burung yang gelisah dan tak berumah dan tak menyerah pada gelap dan dingin yang bakal merontokkan bulu-bulunya?
         
e.    Asidenton
          Asidenton adalah suatu gaya yang berupa acuan, yang bersifat padat dan mampat di mana beberapa kata, frasa, atau klausa yang sederajat tidak dihubungkan dengan kata sambung. Bentuk-bentuk itu biasanya dipisahkan saja dengan koma.
Contoh  :  Dan kesekan, kepedihan, kesakitan, seribu derita detik-detik penghabisan orang melepaskan nyawa.


f.     Antitesis
          Antitesis adalah sebuah gaya bahasa yang mengandung gagasan-gagasan yang bertentangan, dengan mempergunakan kata-kata atau kelompok kata yang berlawanan (Keraf, 2008: 126).
Contoh :  Mereka sudah kehilangan banyak dari harta bendanya, tetapi mereka juga telah banyak memperoleh keuntungan daripadanya.
g.    Aliterasi
          Aliterasi adalah semacam gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan yang sama (Keraf, 2008: 130).
Contoh :    Takut titik lalu tumpah.
                   Keras-keras kerak kena air lembut juga.
h.    Klimaks
          Gaya bahasa klimaks diturunkan dari kalimat yang bersifat periodik. Klimaks adalah semacam gaya yang mengandung urutan-urutan pikiran yang setiap kali semakin meningkat kepentingannya dari gagasan-gagasan sebelumnya (Keraf, 2008: 124).
Contoh :   Kesengsaran membuahkan kesabaran, kesabaran pengalaman, dan   pengalaman harapan.




i.      Antiklimaks
          Antiklimaks dihasilkan oleh kalimat yang berstruktur mengendur. Antiklimaks sebagai gaya bahasa merupakan suatu acuan yang gagasan-gagasannya diurutkan dari yang terpenting berturut-turut ke gagasan yang kurang penting (Keraf, 2008: 125).
Contoh :   Ketua pengadilan negeri itu adalah seorang yang kaya, pendiam, dan tidak terkenal namanya.

j.      Pertanyaan Retoris
          Gaya yang serupa pertanyaan retoris- sebuah gaya yang banyak dimanfaatkan oleh para orator- menekankan pengungkapan dengan menampilkan semacam pertanyaan yang sebenarnya tak menghendaki jawaban (Nurgiyantoro, 2010: 303).

A.  Metode Penelitian
1.    Subjek Penelitian
              Subjek adalah sumber data dari mana data diperoleh (Siswantoro, 2005: 63). Dalam penelitian ini subjek penelitiannya adalah Koleksi sajak Chairil Anwar 1942- 1949 yang terdiri dari 131 halaman, dan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2011.


2.    Objek Penelitian
              Objek penelitian harus ada sebagai tindak ilmiah yang merupakan gejala atau fenomena yang akan diteliti. Berdasarkan objek penelitian sastra, objek dibedakan menjadi dua macam yaitu: objek material dan objek formal.
              Objek material berarti pernyataan yang diselidiki atau dibahas adalah manusia itu sendiri. Objek formal merujuk pada aspek khusus dari objek material yang akan diteliti seperti: perilaku sendiri, kebudayaan manusia, kehidupan manusia, dan sebagainya (Siswantoro, 2005: 46-47).
              Penelitian ini yang menjadi objek material adalah penyiasatan struktur yang terdapat dalam Sajak Chairil Anwar Angkatan 45.

3.    Metode Pengumpulan Data
Metode dapat diartikan sebagai prosedur atau tata cara yang sistemasis yang dilakukan seorang peneliti dalam upaya mencapai tujuan seperti memecahkan masalah atau menguak kebenaran atas fenomena tertentu (siswantoro, 2005:55). Metode baca catat dan kajian kepustakaan adalah metode yang digunakan dalam penelitian ini. Metode baca catat diartikan sebagai metode yang digunakan untuk memperoleh data dengan cara membaca keseluruhan teks dan literature, kemudian mencatat data yang ditemukan pada kartu data yang telah disediakan, sedangkan metode kajian kepustakaan diartikan sebagai metode yang digunakan untuk memakai dan memperoleh berbagai buku dan artikel sebagai bahan pustaka yang digunakan  sebagai sumber tertulis. Kajian kepustakaan dalam penelitian ini adalah dengan cara menemukan dan memahami pokok permasalah yang diteliti,  kemudian menentukan sumber tertulis yang akan digunakan.


4.    Instrumen Penelitian
Instrumen sama halnya dengan alat yang merujuk kepada sarana pengumpulan data (Siswantoro, 2005: 65). Oleh karena itu, dalam penelitian ini instrumen yang digunakan adalah teks itu sendiri, peneliti serta kartu data. Teks berupa novel, dan peneliti bertindak sebagai instrument sekaligus pengumpul dan pengolah data.

5.    Metode Analisis Data
Analisis data adalah kegiatan yang dilakukan satelah menyelesaikan data sesuai dengan cerita yang akan diteliti (Siswantoro, 2005: 48). Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskripsi kualitatif dan interprestasi. Deksriptif kualitatif adalah dengan mengambarkan isi cerita kemudian interprestasi adalah analisis terhadap data yang diperoleh.
C.    Hasil Penelitian dan Pembahasan
Analisis penyiasatan struktur pada perpuisian Chairil Anwar Angkatan 45, sebagai berikut :
1.      SENJA DI PELABUHAN KECIL
Buat Sri Ajati
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak

tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
                                                                                                1946           


Bait
Penyiasatan Struktur
Fungsi
Makna
Ini kali tidak ada yang mencari cinta di antara gudang, rumah tua, pada cerita tiang serta temali.
Pararelisme
Membentuk pengulangan struktur dan bagian-bagian kalimat yang mempunyai kesamaan struktur gramatikal secara berurutan

Ungkapan suasana kesedihan


Ini kali tidak ada yang mencari cinta di antara gudang, rumah tua, pada cerita tiang serta temali.
Asindenton

Membentuk gagasan-gagasan yang sederajat, memberi penekanan yang sama dan dapat membangkitkan efek retoris

Kesedihan
Tidak ada pertolongan
Kapal, perahu tiada berlaut menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Adanya kejadian fenomena alam, yakni suasana pantai yang sendu dan rawan
Ada juga kelepak elang menyinggung muram, desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan.
Berjalan menyisir semenanjung, masih pengap harap
Sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat, sedu penghabisan, sedu penghabisan bisa terdekap
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang menyinggung muram, desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak dan kini tanah dan air tidur hilang ombak

Polisindenton dan Asindenton
Membentuk gagasan-gagasan yang sederajat, memberi penekanan yang sama dan dapat membangkitkan efek retoris
Susana kesedihan yang mendalam, adanya kerawanan yang menghantui



2.      KEPADA PENYAIR BOHANG
Suaramu bertanda derita laut tenang...
Si Mati ini padaku masih berbicara
Karena dia cinta, di mulutnya membusah
Dan rindu yang mau memerahi segala
Si Mati ini matanya  terus bertanya!


Kelana tidak bersejarah
Berjalan kau terus!
Sehingga tidak gelisah
Begitu berlumuran darah.

Dan duka juga menengadah
Melihat gayamu melangkah
Mendayu suara patah:
“Aku saksi!”

Bohang,
Jauh di dasar jiwamu
Bertampuk suatu dunia;
Menguyup rintik satu- satu
Kaca dari dirimu pula...
                                                            1945



·         Analisis :

Bait
Penyiasatan Struktur
Fungsi
Makna

Kelana tidak bersejarah
Berjalan kau terus!
Sehingga tidak gelisah
Begitu berlumuran darah.
Pararelisme

Membentuk pengulangan struktur dan bagian-bagian kalimat yang mempunyai kesamaan struktur gramatikal secara berurutan

Perjuangan sampai menemukan suatu keberhasilan








Bohang,
Jauh di dasar jiwamu
Bertampuk suatu dunia;
Menguyup rintik satu- satu
Kaca dari dirimu pula...












Asindenton

Membentuk gagasan-gagasan yang sederajat, memberi penekanan yang sama dan dapat membangkitkan efek retoris

Penggambaran sesosok pemimpin yang di harapkan masyarakat

           
Dan duka juga menengadah
Melihat gayamu melangkah
Mendayu suara patah:
“Aku saksi!”





Pertanyaan Retoris
Gaya yang serupa pertanyaan retoris- sebuah gaya yang banyak dimanfaatkan oleh para orator- menekankan pengungkapan dengan menampilkan semacam pertanyaan yang sebenarnya tak menghendaki jawaban

Kepedihan orang- orang tertindas menumbuhkan semngat kepahlawanan ketika sesosok pemimpin yang bijak
3.      MALAM
Mulai kelam
belum buntu malam,
kami masih saja berjaga
-Thermopylae?-
-jagal tidak dikenal?-
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam
                              hilang
                                             1945




Thermopylae?-
-jagal tidak dikenal?-
Mulai kelam
belum buntu malam,
kami masih saja berjaga




Polisindenton dan Asindenton

Membentuk gagasan-gagasan yang sederajat, memberi penekanan yang sama dan dapat membangkitkan efek retoris


Persekutuan negara yunani, semacam medan pertempuran



tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam
                              hilang
Antitesis
Memunculkan ide yang bertentangan dan dapat diwujudkan ke dalam kata atau kelompok kata yang berlawanan
Sebelum hari esok datang kematian, perjuangan masih tetap bertahan
4.      CINTAKU JAUH DI PULAU

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri.

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole- ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja.”

Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh!
Mengapa ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh  di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.
                                                          1946


·         Analisis :

Bait
Penyiasatan Struktur
Fungsi
Makna
Cintaku jauh di pulau,
Manisku jauh  di pulau,

Repitisi
Memberi penegasan dan mengulangi gagasan yang telah disampaikan
Kasih sayang dan kenangan yang masih tersimpan


Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole- ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya.
Pararelisme

Membentuk pengulangan struktur dan bagian-bagian kalimat yang mempunyai kesamaan struktur gramatikal secara berurutan







Gambaran sosok kerinduan




Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri.

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole- ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
Manisku jauh  di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.

Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh!
Mengapa ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!


Asindenton














Polisidenton

Sosok lelaki yang merindukan kekasih yang telah tiada dan bertanya- tanya pada diri sendiri, ketika meninggal dan menyusulnya




Menyesal dan marah ketika sesuatu yang seharusnya bersama malah pergi meninggalkan terlebih dahulu
Membentuk gagasan-gagasan yang sederajat, memberi penekanan yang sama dan dapat membangkitkan efek retoris



Polisidenton adalah suatu gaya yang merupakan kebalikan dari asidenton



kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.




Aliterasi

semacam gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan yang sama
Tidak ada lagi yang memuji







Mengapa ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!



Pertanyaan Retoris

menekankan pengungkapan dengan menampilkan semacam pertanyaan yang sebenarnya tak menghendaki jawaban
Kegelisahan dan kekecewaan yang belum dapat menerima










5.      KEPADA KAWAN

Sebelum Ajal mendekat dan mengkhianat,
mencengkam dari belakang ‘tika kita tidak melihat,
selama masih menggelombang dalam dada darah serta rasa,

belum bertugas kecewa dan gentar belum ada,
tidak lupa tiba- tiba malam membenam,
layar merah terkibar hilang dalam kelam,
kawan, mari kita putuskan kini di sini:
Ajal yang menarik kita, juga mencekik diri sendiri!

Jadi
Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan,
Tembus jelajah dunia ini dan balikkan
Peluk kucup perempuan, tinggalkan kalau merayu,
Pilih kuda yang paling liar, pacu laju,
Jangan tambatkan pada siang dan malam
Dan
Hancurkan lagi apa yang kau perbuat,
Hilang sonder pusaka, sonder kerabat.
Tidak minta ampun atas segala dosa,
Tidak memberi pamit pada siapa saja!
Jadi
mari kita putuskan sekali lagi:
Ajal yang menarik kita, ‘kan merasa angkasa sepi,
Sekali lagi kawan, sebaris lagi:
Tikamkan pedangmu hingga ke hulu
Pada siapa yang mengairi kemurnian madu!!!

                                                            30 November 1946
Jadi
Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan,
Jadi
mari kita putuskan sekali lagi:
Repitisi
Memberi penegasan dan mengulangi gagasan yang telah disampaikan
Kata jadi- merupakan sebuah pembeda antara penekanan dan konflik


Tikamkan pedangmu hingga ke hulu
Pada siapa yang mengairi kemurnian madu!!!
Pararelisme

Membentuk pengulangan struktur dan bagian-bagian kalimat yang mempunyai kesamaan struktur gramatikal secara berurutan
Memberantas kepada siapa saja yang mengkhianati suatu persahabatan









Ket: Semua Puisi
Asindenton dan polisidenton

Membentuk gagasan-gagasan yang sederajat, memberi penekanan yang sama dan dapat membangkitkan efek retoris

Menceritakan tentang arti persahabatan, persahabatan bisa tatkala rusak apabila keegoaan saling merajalela di masing- masing individu.  Perjuangan dan pengembaraan dalam dunia persahabatan yang sangat mengisahkan arti sebuah perjuangan.
tidak lupa tiba- tiba malam membenam,
layar merah terkibar hilang dalam kelam,

Klimaks

semacam gaya yang mengandung urutan-urutan pikiran yang setiap kali semakin meningkat kepentingannya dari gagasan-gagasan sebelumnya
Jangan melupakan arti sebuah persahabatan dan perjuangan seorang sahabat dalam lingkungan kehidupan kita


Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan dan hasil penelitian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. Bentuk penyiasatan struktur yang terdapat dalam Koleksi Sajak Chairil Anwar 1942-1949, terdiri dari diantaranya repetisi, anafora, paralelisme, antithesis, asidenton, polisdenton, aliterasi, klimaks, antiklimaks










DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan Nasional. 2012. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Keraf, Gorys. 2008. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Siswantoro. 2005. Metode Penelitian Sastra: Analisis Psikologis. Surakarta: Muhammadiyah University Press.
Suyatmi, Titiek. 2008. Stilistika. Yogyakarta: Universitas Ahmad Dahlan.
Anwar.Chairil. 2011. Aku Ini Binatang Jalang. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
      Teeuw. 1984 .Sastra dan ilmu sastra . Jakarta. Pustaka jaya
       Sayuti. Suminto A. berkenalan dengan Puisi. Yogyakarta:Gama Media, 2002.

























0 komentar:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.