A.
PENDAHULUAN
Sastra merupakan sebagai cermin masyarakat artinya sampai sejauh mana
sastra dapat dianggap sebagai mencerminkan keadaan masyarakat. Pengertian
‘‘cermin” di sini sangat kabur dan oleh karenanya banyak disalahgunakan,
terutama mendapat perhatian yaitu sastra mungkin tidak dapat dikatakan
mencerminkan masyarakat pada waktu ia ditulis, sebab banyak ciri-ciri
masyarakat yang ditampilkan dalam karya sastra itu sudah tidak berlaku lagi
pada waktu ia ditulis. Sifat “lain dari yang lain’’ seorang pengarang sering
mempengaruhi pemilihan dan penampilan fakta-fakta sosial dalam karyanya. Genre
sastra sering merupakan sikap sosial suatu kelompok tertentu, dan bukan sikap
sosial seluruh masyarakat. Sastra yang berusaha untuk menampilkan keadaan
masyarakaat secermat-cermatnya mungkin saja tidak bisa dipercaya sebagai cermin
masyarakat. Demikian sebaliknya, karya yang sama sekali tidak dimaksudkan untuk
menggambarkan masyarakat secara teliti barang kali masih dapat digunakan
sebagai bahan untuk mengetahui keadaan masyarakat. Pandangan sosial pengarang
harus diperhitungkan apabila kita menilai karya sastra sebagai cermin
masyarakat
Berdasarkan penjelasan di atas
sastra merupakan luapan perasaan seseorang yang melihat dari kehidupan manusia
yang penuh dengan liku-liku dan masalah-masalah yang terjadi dalam kisah
kehidupan manusia di lingkungan sekitarnya sebagai makhluk sosial, untuk
diungkapkan ke dalam sebuah karya sastra melalui bahasa yang indah sebagai alat
untuk menyampaikan oleh pengarang dalam sebuah karya sastra.
Masyarakat pertama dihuni oleh pengarang, keberadaannya tetap, tidak
berubah sebab merupakan proses sejarah. Sebagai makhluk kreatif, pengarang
memiliki sejarah perkembangannya yang sangat panjang, partisipasinya
dipertimbangkan dalam setiap periode, aliran, zaman, kelas, dan berbagai
kategori sosial lainnya, baik dengan cara menerima maupun menolaknya. Sebagai
anggota masyarakat subjek pengarang dalam kehidupan sehari-hari tidak terbatas
pada partisipasi kreatif dan aktivitas intelektual tetapi meliputi totalitas
kahidupan praktis, termasuk kontruksi pengalaman psikologis dan religius serta
kehidupan sosial yang melatarbelakanginya. Masyarakat yang kedua dihuni oleh
tokoh-tokoh rekaan, sebagaai manifestasi subjek pengarang. Secara teoretis
masyarakat ini merupakan masyarakat imajiner yang sesuai dengan hakikat karya
sebagai rekaan. Relevansinya adalah fungsi-fungsinya dalam menampilkan unsur-unsur karya sastra, seperti
tokoh-tokoh, tema, sudut pandang, dan
sebagainya. Oleh karena itu, keberadaanya mempunyai dua
dimensi yang berbeda. Disatu pihak, sebagai bentuk fiksi, yaitu sebagai naskah
bersifat tetap, di pihak lain sebagai kualitas psiko, yaitu sebagai teks berubah secara terus-menerus.
Masyarakat yang terakhir dihuni oleh para pembaca, sebagai sejarah
kebudayaannya sama dengan masyarakat yang pertama. Masyarakat
pembacalah yang memungkinkan para pembaca berhasil untuk memberikan pemahaman
berbeda-beda terhadap karya yang sama. Sebagai akibat perbedaan ruang, sebuah
karya sastra dapat ditafsirkan secara bermacam-macam sesuai dengan latar
belakang masing-masing pembaca.
Perbedaannya, masyarakat pembaca berubah sebagai akibat perubahan pembaca itu
sendiri yang berganti-ganti sepanjang zaman.
Berdasarkan penjelasan di atas pengarang merupakan manusia biasa seperti
masyarakat biasa, tetapi mempunyai daya imajinasi dan ide kreatif yang baik
dalam menghasilkan karyanya, karena pengarang selalu melihat kehidupan sosial
untuk dijadikan sebuah karya sastra, sehingga apa yang terjadi dalam masyarakat
pengarang bisa menyampaikan kepada pembacanya.
Karya sastra diciptakan oleh sastrawan untuk dinikmati, dipahami, dan
dimanfaatkan oleh masyarakat. Sastrawan itu sendiri masyarakat, ia terikat
dengan status tertentu. Sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa
sebagai medium, bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan
gambaran kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial. Dalam pengertian ini, kehidupan mencakup
hubungan antar peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang. Bagaimana pun
juga, peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang, sering menjadi
bahasa sastra, adalah pantulan hubungan seseorang dengan orang lain yaitu
dengan masyarakat.
Novel Sri
Sumarah dan Bawuk karya Umar Kayam bercerita tentang perjalanan seorang wanita yang memiliki suami, tetapi
suaminya sama-sama terlibat dalam pemberontakan PKI dan meninggal dunia. Sri
Sumarah yang kehilangan suami akhirnya meniti dirinya sebagai tukang pijit
jempolan. Sedangkan, bawuk yang mencari suaminya “Hassan” ternyata sudah
meninggal akibat pemberontakan PKI, tetapi Bawuk belum mengetahuinya dan kini
keberadaannyapun tidak diketahui.
B.
ANALISIS SOSIAL DAN BUDAYA PENGARANG
TERHADAP KARYA SASTRA SRI SUMARAH DAN BAWUK
1.
Biografi Pengarang
Umar
Kayam adalah sastrawan yang sosiolog, atau sosiolog yang sastrawan. Ayah Umar
Kayam adalah seorang guru Hollands Inlands School (HIS) . Lahir 30 April 1932,
di Ngawi Jawa Timur. Menempuh pendidikan di HIS Mangkunegoro Surakarta, di mana
ayahnya juga mengajar di sana. Di sekolah tersebut dia berteman akrab dengan
Kliwir panggilan akrab Wiratmo Sukito, salah seorang tokoh MANIKEBU Gelanggang
Tahun 60-an. Setelah itu, dia melanjutkan sekolah di MULO (setingkat dengan
SMP), dan melanjutkan SMA bagian bahasa (bagian A) di Yogyakarta. Lulus dari
SMA tahun 1951, Umar Kayam atau biasa dipanggil UK melanjutkan pendidikan di
Fakultas Pedagogi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Pada tahun 1955 UK
melanjutkan studinya ke University School of Education, USA (1963). Setelah mendapatkan
gelar Master of Education di Univerasitas ini, UK melanjutkan program
doktoralnya ke Cornell University, USA (1965) dengan desertasi “Aspect of
Interdepartemental Coordination Problems in Indonesian Community Development”.
2.
Latar Belakang
Dalam
buku Pamusuk Eneste “Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang”, Kayam menjelaskan
bagaimana karya-karyanya lahir. Sri Sumarah di tulis pada waktu Umar Kayam
memperoleh undangan seminar di Oahu, Hawaii. Umar Kayam berterus terang bahwa
cerpen tersebut dilahirkan dalam lokasi puluhan ribu mil dari Jakarta. Keadaan
yang kontras pada latar proses penulisan, pantai Waikiki, pusat pertokoan
Alomoana, kampus Manoa yang cantik, dan kelab-kelab malam yang memeukau. Tidak
ahanya itu, ia lahirkan dalam latar dan setting peristiwa besar tahun 1965.
“Sri Sumarah” yang pasrah dengan kesialan nasibnya karena ketrelibatan anaknya
pada Gerwani, desanya yang melarat, rumahnya yang reot sungguh tidak memberi
peluang yang masuk akal untuk menjelaskan suatu proses penulisan.
Sedangkan
“Bawuk”, dengan kegairahan seorang anak muda yang percaya pada suatu komitmen
terhadap datangnya suatu orde baru yang harus meninggalkan orde yang lapuk,
Kayam berusaha membersihakan lingkungan kerja dari unsur orde yang lapuk itu.
Akan tetapi, bersamaan dengan itu, Kayam melihat korban-korban berjatuhan.
Siapakah yang menentukan ‘harus’ dan ‘tidak harus’ menjadi koraban. Dalam
kebimbangan dan ketidak mnengertian inilah “Bawuk” dilahirkan. Kekonsekuensian
tragis yang harus Bawuk pikul, Kayam berusaha memahami siapa yang ‘harus’ dan
yang ‘tidak harus’ menjadi korban.
3.
Proses Kreatif
Proses
kreativitas kelahiran dari karya-karya Umar Kayam, berkaitan erat dengan latar
belakang kehidupannya, yaitu budaya Jawa. Sebagaian besar banyak mengatakan
Umar Kayam sebagai seorang realis. Unsur realisme Umar Kayam adalah realisme
budaya Jawa yang diperlihatkan pada tokoh yang memiliki kepribadian Jawa. Dari
kebudayaan Jawa itulah, dapat diketahui bagaimana Umar Kayam dapat mengeksplor
karyanya terhadap Sri Sumarah dan Bawuk. Dari karya Kayam yang lahir dengan
tokoh-tokoh wanita Jawa, menunjukan keragaman pikiran anatara cerpen dan
realita kehidupan sehari-hari.
Selain
itu, wanita Jawa yang digambarkan pada cerpen Kayam, sungguh menarik perhatian.
Seolah-olah dilema sosial atas terjadinya gestapu/PKI merupakan gambaran
keadaan yang masih rawan. Tapi dengan penuh ketekunan, keterampilan dan
kesungguhan serta ketidak terlepasannya Kayam sebagai intelektual dan ilmuan,
maka wanita Jawa dalam cerpennya merupakan refrensi budaya Timur. Persoalan itu
berkaitan dengan situasi, kondisi dan hubungan kesenjangan waktu.
Siapakah
Sri Sumarah. Kita bisa lihat Kayam membuka awal ceritanya.
“
Dikampungnya, dia dipanggil Bu Guru Pijit. Sesungguhnya dia bukan guru pijit.
Bukan juga guru. Dia tukang pijit. Ah, tidak juga sesungguhnya. Bukankah tukang
pijit terlalu sering dibayangkan sebagai mereka yang suka menjelajahi
lorong-lorong kota dengan tongkat yang dihentakkan dan berbunyi crek-crek
itu?”. (h.5).
Umar
kayam membeberkan arti sumarah dengan gambalang .Sri memegang betul sikap
sumarah, sebuah sikap pasrah, menyerah, atau menerima keadaan yang datang dalam
hidupnya. Makna sikap yang menjadi bagian budaya Jawa ini diungkapkan Kayam
dalam kutipan berikut.
“Sri
Sumarah –yang artinya Sri yang “menyerah” atau yang “terserah”- menyerah saja
waktu neneknya menyatakan kepadanya bahwa saatnya sudah tiba untuk menyiapkan
diri naik ke jenjang perkawinan”. (hlm.8).
Sri
Sumarah yang diciptakan sebagai wanita ‘mumpuni’, berkat terapan embahnya
berhasil dengan baik memerankan sikap sumarah yang merupakan konsep Umar Kayam,
yaitu mengerti dan terbuka tetapi tidak menolak (h.10). Kehidupan wanita Jawa
digambarkan Kayam menceritakan pribadi Sri Sumarah yang pasrah kepada ‘ngulo
urip’. Nasib yang melindas pada anak gadis itu semasa kecilnya terselubung
dalam didikan seorang neneknya, sekaligus kepribadiannya, dan proses
pilihan-pilihan hidupnya, serta pikirannya. Dari gambaran proses itulah, maka
Sri Sumarah akan terbiasa dengan lambang wanita seperti Sembadra istri Arjuna.
Yang selalu nrimo dan menjadi bagian hidup kehidupan suami. Sebagai Wanita
Jawa, “Sri Sumarah lebih banyak memberikan gambaran lintas budaya, atau salah
satu bagiannya”.[4]
Kepasrahan
yang digambarkan oleh pengarang, Sri Sumarah sebenarnya simbol manusia Jawa
dari kebudayaan wayang (h.10). Disamping itu, kebudayaan Jawa gambaran dari
wanita Jawa dalam cerpen Kayam merasa hidup pada zamannya. Menurut Nirwanto
Ki.S.Hendrowinoto dalam artikelnya “Wanita Jawa dalam Ekspresi Umar Kayam”
mengatakan bahwa, dalam cerpen Umar Kayam, wanita Jawa sebagai sentralisasi
pemberontakannya. Kehadiran cerita Sri Sumarah dan Bawuk, sebenarnya
menyuguhkan persoalan eksistensialisme dalam jaman teknologi. Sebagai karya
sastra, Sri Sumarah bukanlah suatu gejala yang tersendiri. Ia adalah suatu
hasil pengaruh antara faktor sosial dan kultural. Sri Sumarah sebenarnya
merupakan usaha Kayam untuk menafsirkan salah satu konsep hidup orang Jawa
(yaitu sikap sumarah) berdasarkan eksperimen moral dan daya krestivitasnya.
Sedangkan
dalam cerita “Bawuk”, Bawuk menjadi tokoh utama. Umar Kayam mendeskripsikannya
dengan sangat bagus. Bawuk adalah perempuan yang periang, ceriwis, dan selalu
memebri nada yang hiruk pikuk dalam suart-suratnya. Itulah yang membuat surat-surat
Bawuk menarik dan membuat kangen saudara-saudaranya dan kawan-kawannya.
Seperti
halnya dengan Sri Sumarah, Kayam juga menampilkan tokoh wanita Jawa sebagai
sentralisasi ceritanya. Tapi dalam cerira Bawuk, Bawuk anak bungsu kelima
bersaudara dari keluarga Suryo, sebuah keluarga yang cukup berada dan
terpandang di Karangrandu. Tuan Suryo adalah seorang onder distrik (pembantu
bupati) dan priyayi yang disegani dan dihormati di sana, otomatis Bawuk
mengenyam kebudayaan priyayi gubermen.
‘ Bawuk’ merupakan cerpen sejarah yang
mengisahkan kehidupan anak bungsu sebuah keluarga yang berasal dari keluarga
feudal yang tiba-tiba mengalami masa kemerdekaan sampai akhirnya mengalami
pemberontakan G30S PKI pada tahun 1965. Umar Kayam hidup pada zaman itu. Dengan
demikian, tidak diragukan lagi bahwa Kayam banyak tahu tentang peristiwa itu
serta keadaan masyarakat yang sebenarnya.
“siapakah
yang akan menduga bahwa yang ada di becak itu adlah Nyonya Hassan, istri
seorang Komunis kota S yang sering disebut-sebut Aidit sebagai ahli pemuda yang
sangat berbakat, yang pada akhir bulan Oktober 1965 ikut mengatur pawai Dewan
Revolusi di kota S?”. (h.98).
Sangat
jelas, Umar Kayam menggambarkan latar waktu dalam cerita “Bawuk”, yang diamana,
pada zaman itu merupakan periode terdahsyat dalam sejarah Indonesia.
Jakob
Sumardjo (1983:215) memandang “Bawuk” sebagai cerita pendek yang panjang, yang
berbicara tentang ketabahan wanita “domba hitam” keluarga yang tetap teguh pada
pendirian dan pilihan suaminya meskipun mendapat tentangang keluarganya. Bawuk
adalah penanaman sikap yang demikian itu, sebab Bawuk dalam cerita ini memang
diceritakan bernasib demikian. Gadis ini ternyata menanggung nasib buruk
berusamikan orang yang kurang berpendidikan, keras kepala dan tokoh komunis.
Umar
Kayam mempermasalahkan suatu tragedi kehidupan, gaya penuturannya yang halus,
lembut, penuh nuansa perasaan kewanitaan dan kemanusiaan yang diselimuti dengan
humor-humor halus dan adanya bahasa Jawa, Belanda dan Inggris. Hal ini karena
bahasa-bahasa kaum priyayi Jawa yang banyak diambil Umar Kayam sebagai latar
dalam cerita.
Oleh
keluarganya, ia telah dicap ‘salah pilih’, salah memilih suaminya Hassan. Tapi
bukan Bawuk kalau ia tidak konsekwen dengan pilihannya. Ia harus menderita
karena suaminya. Mengikuti ideology suaminya dan mengikuti perjuangan
suaminya. Bawuk yang tanpa keyakinan, hanya karena mempunyai suami
seorang PKI, tertekan dalam dokrin dan pola piker komunis. Bagi Umar Kayam,
mereka adalah manusia dengan segala kelemahan dan kelebihannya. Manusia Jawa
yang karena perjalanan waktu, yang karena paksaan keadaan dan lingkungan, bisa
mempunya sosok dan penampilan yang berbeda.
“ati-ati,
nduk. Kau cari Hassan sampai ketemu, ya?”.
“ibu
yang bijaksana, ternyata cuma kau yang mengerti”. (h.124).
Kekonsekwenan
Bawuk itulah yang ingin disampaikan kepada pembaca. Kasih sayang seorang Umar
Kayam pada Ibu akan abadi selamanya.
Dilihat
dari kedua cerita ini, memang ada kesejajaran “Sri Sumarah” dan “Bawuk”. Yakni,
keduanya sama-sama ,menyinggung G30S/PKI. Keduanya bercerita tentang
penderitaan manusia. Kesengsaraan manusia, korban zaman, korban keadaan, korban
kekejaman sesama manusia, dan korban kebodohan. Korban lingkungan dan korban
keluarga. Bila “Sri Sumarah” merupakan korban jaman, maka “Bawuk” merupakan
korabn yang dibuatnya sendiri. Hal ini karena, Sri tidak mengikuti dan tidak
tahu apa yang tengah terjadi, ia digambarkan sebagai seorang perempuan yang
mengutamakan kesejahteraan keluarga. Sedangkan Bawuk, dari awal dia telah
mengetahui dan telah sadar apa resiko jika menikah dengan seorang tokoh
komunis.
Kedua
cerita ini seperti cerita kebanyak cerpen-cerpen Kayam yang lain, adalah
merupakan ‘sepotong kehidupan’. Umar Kayam tidak pernah memasangnya dalam plot
yang biasa. Seperti cerita ini belum berakhir. Tidak ada surprise diakhir
ceritanya.
C.
SIMPULAN
Kedua
cerita ini menampilkan nasib malang dua orang wanita Jawa, ada semacam ‘nasib’
yang tidak terhindarkan. Mereka tidak bersalah, berbuat sebaik mungkin menurut
hati nurani dan kaidah social, tetapi kemalangan itu datang juga. Penderitaan
Bawuk karena cintanya kepada suaminya, ketaatannya Sri Sumarah karena kecintaan
pada suami almarhum, semua itu adalah di luar kemampuan wanita-wanita itu.
Kebudayaan
Jawa dan gambaran dari wanita Jawa menjadi refleksi dalam cerpen Umar
Kayam. Wanita Jawa dijadikan sebagai sentralisasi pemberontakannya, kehadiran
cerita Sri Sumarah dan Bawuk, sebenarnya menyuguhkan persoalan eksistensialisme
dalam zaman teknologi. Unsur realisme Umar Kayam adalah realisme budaya Jawa
yang diperlihatkan pada tokoh yang memiliki kepribadian Jawa. Dari kebudayaan
Jawa itulah, dapat diketahui bagaimana Umar Kayam dapat mengeksplor karyanya
terhadap Sri Sumarah dan Bawuk.
Lingkungan
sosial yang terjadi pada saat itu adalah peristiwa besar dalam sejarah
Indonesia yaitu peristiwa 1965, dan pada saat ini zaman Umar Kayam muda, yang
menyebabkan lahirnya kedua cerita ini yang sma-sama menyinggung peristiwa itu.
Tidak hanya itu, kebudayaan Jawa yang merupakan latar belakang keluarga
Umar Kayam.

0 komentar:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.