Home » » ANALISIS SOSIOLOGI SASTRA DALAM NOVEL SRI SUMARAH DAN BAWUK KARYA UMAR KAYAM

ANALISIS SOSIOLOGI SASTRA DALAM NOVEL SRI SUMARAH DAN BAWUK KARYA UMAR KAYAM

Written By Berbagi ide muda Berkarya on Jul 4, 2014 | 11:48 PM

A.    PENDAHULUAN
Sastra merupakan sebagai cermin masyarakat artinya sampai sejauh mana sastra dapat dianggap sebagai mencerminkan keadaan masyarakat. Pengertian ‘‘cermin” di sini sangat kabur dan oleh karenanya banyak disalahgunakan, terutama mendapat perhatian yaitu sastra mungkin tidak dapat dikatakan mencerminkan masyarakat pada waktu ia ditulis, sebab banyak ciri-ciri masyarakat yang ditampilkan dalam karya sastra itu sudah tidak berlaku lagi pada waktu ia ditulis. Sifat “lain dari yang lain’’ seorang pengarang sering mempengaruhi pemilihan dan penampilan fakta-fakta sosial dalam karyanya. Genre sastra sering merupakan sikap sosial suatu kelompok tertentu, dan bukan sikap sosial seluruh masyarakat. Sastra yang berusaha untuk menampilkan keadaan masyarakaat secermat-cermatnya mungkin saja tidak bisa dipercaya sebagai cermin masyarakat. Demikian sebaliknya, karya yang sama sekali tidak dimaksudkan untuk menggambarkan masyarakat secara teliti barang kali masih dapat digunakan sebagai bahan untuk mengetahui keadaan masyarakat. Pandangan sosial pengarang harus diperhitungkan apabila kita menilai karya sastra sebagai cermin masyarakat
Berdasarkan penjelasan di atas sastra merupakan luapan perasaan seseorang yang melihat dari kehidupan manusia yang penuh dengan liku-liku dan masalah-masalah yang terjadi dalam kisah kehidupan manusia di lingkungan sekitarnya sebagai makhluk sosial, untuk diungkapkan ke dalam sebuah karya sastra melalui bahasa yang indah sebagai alat untuk menyampaikan oleh pengarang dalam sebuah karya sastra.
Masyarakat pertama dihuni oleh pengarang, keberadaannya tetap, tidak berubah sebab merupakan proses sejarah. Sebagai makhluk kreatif, pengarang memiliki sejarah perkembangannya yang sangat panjang, partisipasinya dipertimbangkan dalam setiap periode, aliran, zaman, kelas, dan berbagai kategori sosial lainnya, baik dengan cara menerima maupun menolaknya. Sebagai anggota masyarakat subjek pengarang dalam kehidupan sehari-hari tidak terbatas pada partisipasi kreatif dan aktivitas intelektual tetapi meliputi totalitas kahidupan praktis, termasuk kontruksi pengalaman psikologis dan religius serta kehidupan sosial yang melatarbelakanginya. Masyarakat yang kedua dihuni oleh tokoh-tokoh rekaan, sebagaai manifestasi subjek pengarang. Secara teoretis masyarakat ini merupakan masyarakat imajiner yang sesuai dengan hakikat karya sebagai rekaan. Relevansinya adalah fungsi-fungsinya dalam menampilkan unsur-unsur karya sastra, seperti tokoh-tokoh, tema, sudut pandang, dan sebagainya. Oleh karena itu, keberadaanya mempunyai dua dimensi yang berbeda. Disatu pihak, sebagai bentuk fiksi, yaitu sebagai naskah bersifat tetap, di pihak lain sebagai kualitas psiko, yaitu  sebagai teks berubah secara terus-menerus. Masyarakat yang terakhir dihuni oleh para pembaca, sebagai sejarah kebudayaannya sama dengan masyarakat yang pertama. Masyarakat pembacalah yang memungkinkan para pembaca berhasil untuk memberikan pemahaman berbeda-beda terhadap karya yang sama. Sebagai akibat perbedaan ruang, sebuah karya sastra dapat ditafsirkan secara bermacam-macam sesuai dengan latar belakang  masing-masing pembaca. Perbedaannya, masyarakat pembaca berubah sebagai akibat perubahan pembaca itu sendiri yang berganti-ganti sepanjang zaman.
Berdasarkan penjelasan di atas pengarang merupakan manusia biasa seperti masyarakat biasa, tetapi mempunyai daya imajinasi dan ide kreatif yang baik dalam menghasilkan karyanya, karena pengarang selalu melihat kehidupan sosial untuk dijadikan sebuah karya sastra, sehingga apa yang terjadi dalam masyarakat pengarang bisa menyampaikan kepada pembacanya.
Karya sastra diciptakan oleh sastrawan untuk dinikmati, dipahami, dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Sastrawan itu sendiri masyarakat, ia terikat dengan status tertentu. Sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium, bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial. Dalam pengertian ini, kehidupan mencakup hubungan antar peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang. Bagaimana pun juga, peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang, sering menjadi bahasa sastra, adalah pantulan hubungan seseorang dengan orang lain yaitu dengan masyarakat.
Novel Sri Sumarah dan Bawuk karya Umar Kayam bercerita tentang perjalanan  seorang wanita yang memiliki suami, tetapi suaminya sama-sama terlibat dalam pemberontakan PKI dan meninggal dunia. Sri Sumarah yang kehilangan suami akhirnya meniti dirinya sebagai tukang pijit jempolan. Sedangkan, bawuk yang mencari suaminya “Hassan” ternyata sudah meninggal akibat pemberontakan PKI, tetapi Bawuk belum mengetahuinya dan kini keberadaannyapun tidak diketahui.  

B.     ANALISIS  SOSIAL DAN BUDAYA PENGARANG TERHADAP KARYA SASTRA SRI SUMARAH DAN BAWUK
1.      Biografi Pengarang
Umar Kayam adalah sastrawan yang sosiolog, atau sosiolog yang sastrawan. Ayah Umar Kayam adalah seorang guru Hollands Inlands School (HIS) . Lahir 30 April 1932, di Ngawi Jawa Timur. Menempuh pendidikan di HIS Mangkunegoro Surakarta, di mana ayahnya juga mengajar di sana. Di sekolah tersebut dia berteman akrab dengan Kliwir panggilan akrab Wiratmo Sukito, salah seorang tokoh MANIKEBU Gelanggang Tahun 60-an. Setelah itu, dia melanjutkan sekolah di MULO (setingkat dengan SMP), dan melanjutkan SMA bagian bahasa (bagian A) di Yogyakarta. Lulus dari SMA tahun 1951, Umar Kayam atau biasa dipanggil UK melanjutkan pendidikan di Fakultas Pedagogi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Pada tahun 1955 UK melanjutkan studinya ke University School of Education, USA (1963). Setelah mendapatkan gelar Master of Education di Univerasitas ini, UK melanjutkan program doktoralnya ke Cornell University, USA (1965) dengan desertasi “Aspect of Interdepartemental Coordination Problems in Indonesian Community Development”.

2.      Latar Belakang
Dalam buku Pamusuk Eneste “Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang”, Kayam menjelaskan bagaimana karya-karyanya lahir. Sri Sumarah di tulis pada waktu Umar Kayam memperoleh undangan seminar di Oahu, Hawaii. Umar Kayam berterus terang bahwa cerpen tersebut dilahirkan dalam lokasi puluhan ribu mil dari Jakarta. Keadaan yang kontras pada latar proses penulisan, pantai Waikiki, pusat pertokoan Alomoana, kampus Manoa yang cantik, dan kelab-kelab malam yang memeukau. Tidak ahanya itu, ia lahirkan dalam latar dan setting peristiwa besar tahun 1965. “Sri Sumarah” yang pasrah dengan kesialan nasibnya karena ketrelibatan anaknya pada Gerwani, desanya yang melarat, rumahnya yang reot sungguh tidak memberi peluang yang masuk akal untuk menjelaskan suatu proses penulisan.
Sedangkan “Bawuk”, dengan kegairahan seorang anak muda yang percaya pada suatu komitmen terhadap datangnya suatu orde baru yang harus meninggalkan orde yang lapuk, Kayam berusaha membersihakan lingkungan kerja dari unsur orde yang lapuk itu. Akan tetapi, bersamaan dengan itu, Kayam melihat korban-korban berjatuhan. Siapakah yang menentukan ‘harus’ dan ‘tidak harus’ menjadi koraban. Dalam kebimbangan dan ketidak mnengertian inilah “Bawuk” dilahirkan. Kekonsekuensian tragis yang harus Bawuk pikul, Kayam berusaha memahami siapa yang ‘harus’ dan yang ‘tidak harus’ menjadi korban.

3.      Proses Kreatif
Proses kreativitas kelahiran dari karya-karya Umar Kayam, berkaitan erat dengan latar belakang kehidupannya, yaitu budaya Jawa. Sebagaian besar banyak mengatakan Umar Kayam sebagai seorang realis. Unsur realisme Umar Kayam adalah realisme budaya Jawa yang diperlihatkan pada tokoh yang memiliki kepribadian Jawa. Dari kebudayaan Jawa itulah, dapat diketahui bagaimana Umar Kayam dapat mengeksplor karyanya terhadap Sri Sumarah dan Bawuk. Dari karya Kayam yang lahir dengan tokoh-tokoh wanita Jawa, menunjukan keragaman pikiran anatara cerpen dan realita kehidupan sehari-hari.
Selain itu, wanita Jawa yang digambarkan pada cerpen Kayam, sungguh menarik perhatian. Seolah-olah dilema sosial atas terjadinya gestapu/PKI merupakan gambaran keadaan yang masih rawan. Tapi dengan penuh ketekunan, keterampilan dan kesungguhan serta ketidak terlepasannya Kayam sebagai intelektual dan ilmuan, maka wanita Jawa dalam cerpennya merupakan refrensi budaya Timur. Persoalan itu berkaitan dengan situasi, kondisi dan hubungan kesenjangan waktu.
Siapakah Sri Sumarah. Kita bisa lihat Kayam membuka awal ceritanya.
 “ Dikampungnya, dia dipanggil Bu Guru Pijit. Sesungguhnya dia bukan guru pijit. Bukan juga guru. Dia tukang pijit. Ah, tidak juga sesungguhnya. Bukankah tukang pijit terlalu sering dibayangkan sebagai mereka yang suka menjelajahi lorong-lorong kota dengan tongkat yang dihentakkan dan berbunyi crek-crek itu?”. (h.5).
Umar kayam membeberkan arti sumarah dengan gambalang .Sri memegang betul sikap sumarah, sebuah sikap pasrah, menyerah, atau menerima keadaan yang datang dalam hidupnya. Makna sikap yang menjadi bagian budaya Jawa ini diungkapkan Kayam dalam kutipan berikut.
“Sri Sumarah –yang artinya Sri yang “menyerah” atau yang “terserah”- menyerah saja waktu neneknya menyatakan kepadanya bahwa saatnya sudah tiba untuk menyiapkan diri naik ke jenjang perkawinan”. (hlm.8).
Sri Sumarah yang diciptakan sebagai wanita ‘mumpuni’, berkat terapan embahnya berhasil dengan baik memerankan sikap sumarah yang merupakan konsep Umar Kayam, yaitu mengerti dan terbuka tetapi tidak menolak (h.10). Kehidupan wanita Jawa digambarkan Kayam menceritakan pribadi Sri Sumarah yang pasrah kepada ‘ngulo urip’. Nasib yang melindas pada anak gadis itu semasa kecilnya terselubung dalam didikan seorang neneknya, sekaligus kepribadiannya, dan proses pilihan-pilihan hidupnya, serta pikirannya. Dari gambaran proses itulah, maka Sri Sumarah akan terbiasa dengan lambang wanita seperti Sembadra istri Arjuna. Yang selalu nrimo dan menjadi bagian hidup kehidupan suami. Sebagai Wanita Jawa, “Sri Sumarah lebih banyak memberikan gambaran lintas budaya, atau salah satu bagiannya”.[4]
Kepasrahan yang digambarkan oleh pengarang, Sri Sumarah sebenarnya simbol manusia Jawa dari kebudayaan wayang (h.10). Disamping itu, kebudayaan Jawa gambaran dari wanita Jawa dalam cerpen Kayam merasa hidup pada zamannya. Menurut Nirwanto Ki.S.Hendrowinoto dalam artikelnya “Wanita Jawa dalam Ekspresi Umar Kayam” mengatakan bahwa, dalam cerpen Umar Kayam, wanita Jawa sebagai sentralisasi pemberontakannya. Kehadiran cerita Sri Sumarah dan Bawuk, sebenarnya menyuguhkan persoalan eksistensialisme dalam jaman teknologi. Sebagai karya sastra, Sri Sumarah bukanlah suatu gejala yang tersendiri. Ia adalah suatu hasil pengaruh antara faktor sosial dan kultural. Sri Sumarah sebenarnya merupakan usaha Kayam untuk menafsirkan salah satu konsep hidup orang Jawa (yaitu sikap sumarah) berdasarkan eksperimen moral dan daya krestivitasnya.
Sedangkan dalam cerita “Bawuk”, Bawuk menjadi tokoh utama. Umar Kayam mendeskripsikannya dengan sangat bagus. Bawuk adalah perempuan yang periang, ceriwis, dan selalu memebri nada yang hiruk pikuk dalam suart-suratnya. Itulah yang membuat surat-surat Bawuk menarik dan membuat kangen saudara-saudaranya dan kawan-kawannya.
Seperti halnya dengan Sri Sumarah, Kayam juga menampilkan tokoh wanita Jawa sebagai sentralisasi ceritanya. Tapi dalam cerira Bawuk, Bawuk anak bungsu kelima bersaudara dari keluarga Suryo, sebuah keluarga yang cukup berada dan terpandang di Karangrandu. Tuan Suryo adalah seorang onder distrik (pembantu bupati) dan priyayi yang disegani dan dihormati di sana, otomatis Bawuk mengenyam kebudayaan priyayi gubermen.
‘           Bawuk’ merupakan cerpen sejarah yang mengisahkan kehidupan anak bungsu sebuah keluarga yang berasal dari keluarga feudal yang tiba-tiba mengalami masa kemerdekaan sampai akhirnya mengalami pemberontakan G30S PKI pada tahun 1965. Umar Kayam hidup pada zaman itu. Dengan demikian, tidak diragukan lagi bahwa Kayam banyak tahu tentang peristiwa itu serta keadaan masyarakat yang sebenarnya.
“siapakah yang akan menduga bahwa yang ada di becak itu adlah Nyonya Hassan, istri seorang Komunis kota S yang sering disebut-sebut Aidit sebagai ahli pemuda yang sangat berbakat, yang pada akhir bulan Oktober 1965 ikut mengatur pawai Dewan Revolusi di kota S?”. (h.98).
Sangat jelas, Umar Kayam menggambarkan latar waktu dalam cerita “Bawuk”, yang diamana, pada zaman itu merupakan periode terdahsyat dalam sejarah Indonesia. 
Jakob Sumardjo (1983:215) memandang “Bawuk” sebagai cerita pendek yang panjang, yang berbicara tentang ketabahan wanita “domba hitam” keluarga yang tetap teguh pada pendirian dan pilihan suaminya meskipun mendapat tentangang keluarganya. Bawuk adalah penanaman sikap yang demikian itu, sebab Bawuk dalam cerita ini memang diceritakan bernasib demikian. Gadis ini ternyata menanggung nasib buruk berusamikan orang yang kurang berpendidikan, keras kepala dan tokoh komunis.

Umar Kayam mempermasalahkan suatu tragedi kehidupan, gaya penuturannya yang halus, lembut, penuh nuansa perasaan kewanitaan dan kemanusiaan yang diselimuti dengan humor-humor halus dan adanya bahasa Jawa, Belanda dan Inggris. Hal ini karena bahasa-bahasa kaum priyayi Jawa yang banyak diambil Umar Kayam sebagai latar dalam cerita.
Oleh keluarganya, ia telah dicap ‘salah pilih’, salah memilih suaminya Hassan. Tapi bukan Bawuk kalau ia tidak konsekwen dengan pilihannya. Ia harus menderita karena suaminya. Mengikuti ideology suaminya dan mengikuti perjuangan suaminya.   Bawuk yang tanpa keyakinan, hanya karena mempunyai suami seorang PKI, tertekan dalam dokrin dan pola piker komunis. Bagi Umar Kayam, mereka adalah manusia dengan segala kelemahan dan kelebihannya. Manusia Jawa yang karena perjalanan waktu, yang karena paksaan keadaan dan lingkungan, bisa mempunya sosok dan penampilan yang berbeda.
“ati-ati, nduk. Kau cari Hassan sampai ketemu, ya?”.
“ibu yang bijaksana, ternyata cuma kau yang mengerti”. (h.124).  
Kekonsekwenan Bawuk itulah yang ingin disampaikan kepada pembaca. Kasih sayang seorang Umar Kayam pada Ibu akan abadi selamanya.
Dilihat dari kedua cerita ini, memang ada kesejajaran “Sri Sumarah” dan “Bawuk”. Yakni, keduanya sama-sama ,menyinggung G30S/PKI. Keduanya bercerita tentang penderitaan manusia. Kesengsaraan manusia, korban zaman, korban keadaan, korban kekejaman sesama manusia, dan korban kebodohan. Korban lingkungan dan korban keluarga. Bila “Sri Sumarah” merupakan korban jaman, maka “Bawuk” merupakan korabn yang dibuatnya sendiri. Hal ini karena, Sri tidak mengikuti dan tidak tahu apa yang tengah terjadi, ia digambarkan sebagai seorang perempuan yang mengutamakan kesejahteraan keluarga. Sedangkan Bawuk, dari awal dia telah mengetahui dan telah sadar apa resiko jika menikah dengan seorang tokoh komunis.
Kedua cerita ini seperti cerita kebanyak cerpen-cerpen Kayam yang lain, adalah merupakan ‘sepotong kehidupan’. Umar Kayam tidak pernah memasangnya dalam plot yang biasa. Seperti cerita ini belum berakhir. Tidak ada surprise diakhir ceritanya.


C.       SIMPULAN
Kedua cerita ini menampilkan nasib malang dua orang wanita Jawa, ada semacam ‘nasib’ yang tidak terhindarkan. Mereka tidak bersalah, berbuat sebaik mungkin menurut hati nurani dan kaidah social, tetapi kemalangan itu datang juga. Penderitaan Bawuk karena cintanya kepada suaminya, ketaatannya Sri Sumarah karena kecintaan pada suami almarhum, semua itu adalah di luar kemampuan wanita-wanita itu.
Kebudayaan Jawa dan gambaran dari wanita Jawa  menjadi refleksi dalam cerpen Umar Kayam. Wanita Jawa dijadikan sebagai sentralisasi pemberontakannya, kehadiran cerita Sri Sumarah dan Bawuk, sebenarnya menyuguhkan persoalan eksistensialisme dalam zaman teknologi. Unsur realisme Umar Kayam adalah realisme budaya Jawa yang diperlihatkan pada tokoh yang memiliki kepribadian Jawa. Dari kebudayaan Jawa itulah, dapat diketahui bagaimana Umar Kayam dapat mengeksplor karyanya terhadap Sri Sumarah dan Bawuk.
Lingkungan sosial yang terjadi pada saat itu adalah peristiwa besar dalam sejarah Indonesia yaitu peristiwa 1965, dan pada saat ini zaman Umar Kayam muda, yang menyebabkan lahirnya kedua cerita ini yang sma-sama menyinggung peristiwa itu. Tidak hanya itu,  kebudayaan Jawa yang merupakan latar belakang keluarga Umar Kayam.


0 komentar:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.