BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Bahasa
sebagai alat komunikasi merupakan sarana perumusan maksud, melahirkan perasaan,
dan memungkinkan kita menciptakan kegiatan berkomunikasi sesama manusia
mengatur berbagai aktivitas kemasyarakatan, merencanakan dan mengarahkan masa
depan kita. Bahasa sebagai alat komunikasi diperoleh manusia sejak lahir sampai
usia lima tahun, yang dikenal dengan istilah pemerolehan bahasa. Dalam kehidupan setiap
orang tentu saja tidak terlepas dari bahasa.
Pertama kali seorang anak memperoleh bahasa yang didengarkan langsung dari sang
ibu sewaktu anak tersebut terlahir ke dunia ini. Kemudian seiring berjalannya
waktu dan seiring pertumbuhan si anak maka ia akan memperoleh bahasa selain
bahasa yang diajarkan ibunya itu baik bahasa kedua, ketiga ataupun seterusnya
yang disebut dengan akuisisi bahasa (language
acquisition) tergantung dengan lingkungan sosial dan tingkat kognitif yang
dimiliki oleh orang tersebut melalui proses pembelajaran.
Pemerolehan
bahasa merupakan sebuah hal yang sangat menakjubkan terlebih dalam proses
pemerolehan bahasa pertama yang dimiliki langsung oleh anak tanpa ada
pembelajaran khusus mengenai bahasa tersebut kepada seorang anak (bayi).
Seorang bayi tidak hanya merespon ujaran-ujaran yang sering didengarnya dari
lingkungan sekitar terlebih adalah ujaran ibunya yang sangat sering di dengar
oleh anak tersebut. Dalam proses perkembangan, semua anak manusia yang normal
paling sedikit memperoleh satu bahasa alamiah. Dengan perkataan lain setiap
anak yang normal atau pertumbuhan yang wajar, memperoleh suatu bahasa yaitu
bahasa pertama atau bahasa asli, bahasa ibu dalam tahun-tahun pertama kehidupan
didunia.
Pemerolehan
bahasa atau akuisisi bahasa adalah proses yang berlangsung di dalam otak
anak-anak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya.
Pemerolehan bahasa biasanya dibedakan dengan pembelajaran bahasa. Pembelajaran
bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seorang
kanak-kanak mempelajari bahasa kedua setelah ia memperoleh bahasa pertamanya.
Jadi pemerolehan bahasa berkenaan dengan bahasa pertama, sedang pembelajaran
bahasa berkenaan dengan bahasa kedua (Chaer, 2003:167).
Pemerolehan
bahasa pada anak dipengaruhi oleh interaksi sosial dan perkembangan kognitif
anak. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pemerolehan bahasa pada anak
yang berusia 2
tahun 7 bulan dengan menggunakan
teori pemerolehan semantik. Dalam penelitian ini menggunakan obyek anak laki- laki berusia 2 tahun
7 bulan yang bernama Muhammad Fajri Novrianta.
B. RUMUSAN
MASALAH
Berdasarkan
latar belakang di atas dapat diperoleh rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa sajakah kata-kata yang telah diperoleh oleh seorang
anak yang berusia 2 tahun 7
bulan yang diamati selama 2 minggu?
2. Bagaimanakah makna kata-kata yang diperoleh anak yang berusia 2 tahun 7 bulan berdasarkan analisis
pemerolehan semantik?
C. METODOLOGI PENELITIAN
1. Data dan
Sumber Data Penelitian
Sumber
data penelitian ini adalah anak laki- laki usia 2 tahun 7 bulan. Anak tersebut bernama Muhammad Fajri Novrianta. Fajri adalah anak yang berasal dari Desa Serang
Banjarnegara.
Di rumah Fajri
tinggal bersama kedua orang tua, Nenek, dan Kakaknya. Ayahnya bekerja di sebagai sopir, sedangkan Ibunya merupakan ibu rumah tangga. Fajri diasuh oleh ibu, nenek dan kakaknya. Sehingga dalam pemerolehan
bahasanya, Fajri mengenal
dua bahasa yaitu bahasa Jawa dan bahasa Indonesia.
Data penelitian ini berupa data
kebahasaan lisan yang ditulis. Data ini berbentuk wacana interaksional.
Wujud data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah wujud verbal atau bentuk
bahasa yang digunakan dalam peristiwa tutur di rumah . Data-data tersebut
diperoleh dari kegiatan, percakapan formal antara subjek penelitian dan penulis
sendiri yang kemudian ditulis dalam catatan harian atau catatan lapangan.
2. Metode
Pengambilan Data
Metode pengambilan data yang digunakan
dalam analisis ini yaitu dengan cara mengumpulkan beberapa data yang kemudian
dianalisis dan disimpulkan. Pengumpulan data itu berguna sebagai landasan dalam
menganalisis pemerolehan bahasa pada anak yang berusia 2 tahun 7 bulan.
Selain itu dapat pula dijadikan sebagai dasar dari suatu penelitian yang
digunakan untuk menarik kesimpulan.
Metode pengambilan data yang dilakukan
dalam penelitian ini menggunakan metode buku harian. Metode buku harian
dilakukan dengan mencatat apa saja yang diucapkan oleh anak dalam suatu buku
harian. Data dalam buku harian dianalisis untuk melihat pemerolehan semantik
bahasa pada anak yang berusia 2 tahun 7
bulan yang bernama Fajri kemudian disimpulkan
hasilnya.
Saat penelitian, peneliti mengamati
bagaimana bahasa yang yang digunakan oleh anak tersebut untuk berinteraksi
dengan orang lain, kemudian menyimak kata yang diucapkan anak tersebut. Setelah
menyimaknya kemudian penulis menggunakan metode buku harian untuk menuliskan data yang
sudah diperoleh, yang nantinya akan menjadi bahan pokok penelitian.
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Hakikat
Pemerolehan Bahasa Anak
Pemerolehan
bahasa atau akuisisi bahasa adalah proses yang berlangsung di dalam otak
anak-anak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya.
Pemerolehan bahasa biasanya dibedakan dengan pembelajaran bahasa. Pembelajaran
bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seorang
kanak-kanak mempelajari bahasa kedua setelah ia memperoleh bahasa pertamanya.
Jadi pemerolehan bahasa berkenaan dengan bahasa pertama, sedang pembelajaran
bahasa berkenaan dengan bahasa kedua (Chaer, 2003:167).
Pemerolehan bahasa anak melibatkan dua
keterampilan, yaitu kemampuan untuk menghasilkan tuturan secara spontan, dan
kemampuan untuk memahami tuturan orang lain. Jika dikaitkan dengan hal
tersebut, maka yang dimaksud dengan pemerolehan bahasa adalah proses pemilikan
kemampuan berbahasa, baik berupa pemahaman ataupun pengungkapan secara alami,
tanpa melalui kegiatan pembelajaran formal (Tarigan dkk., 1998).
Gracia (dalam Krisanjaya, 1998)
mengatakan bahwa pemerolehan bahasa anak dapat dikatakan mempunyai ciri
kesinambungan, memiliki suatu rangkaian kesatuan, yang bergerak
dari ucapan satu kata sederhana menuju gabungan kata yang lebih rumit
(sintaksis). Kalau kita beranggapan bahwa fungsi tangisan sebagai awal dari kompetensi
komunikasi, maka ucapan kata tunggal yang biasanya sangat individual dan kadang
aneh seperti: “mamam” atau “maem” untuk makan, hal ini menandai tahap pertama
perkembangan bahasa formal. Untuk perkembangan berikutnya kemampuan
anak akan bergerak ke tahap yang melebihi tahap awal tadi,yaitu anak akan
menghadapi tugas-tugas perkembangan yang berkaitan dengan fonologi, morfologi,
sintaksis dan semantik.
B. Tahap
Perkembangan Bahasa Anak
Menurut Piaget dan Vygotsy (dalam
Tarigan, 1988), tahap-tahap perkembangan bahasa anak adalah sebagai berikut:
1. Tahap
Meraban (Pralinguistik) Pertama(0,0-0,5)
Pada tahap meraban pertama, selama
bulan-bulan awal kehidupan, bayi-bayi menangis, mendekut, mendenguk, menjerit,
dan tertawa.
2.
Tahap Meraban Kedua
(0,5-1,0)
Tahap ini anak mulai aktif artinya tidak
sepasif sewaktu ia berada pada tahap meraban pertama. Secara fisik ia sudah
dapat melakukan gerakan-gerakan seperti memegang dan mengangkat benda atau
menunjuk. Berkomunikasi dengan mereka mulai mengasyikkan karena mereka mulai
aktif memulai komunikasi, kita lihat apa saja yang dapat mereka lakukan pada
tahap ini. Menurut tarigan (1985) tahap ini disebut juga tahap kata omong
kosong, tahap kata tanpa makna. Menurut Tarigan (1985), orang tua harus
mengumpan balik auditori untuk memelihara vokalisasi anak, maksudnya adalah agar
anak tetap aktif meraban. Sebagai langkah awal latihan ialah mengucapkan
kata-kata yang bermakna.
3. Tahap
Linguistik
Jika pada tahap pralinguistik
pemerolehan bahasa anak belum menyerupai bahasa orang dewasa maka pada tahap
ini anak mulai bisa mengucapkan bahasa yang menyerupai ujaran orang dewasa.
Para ahli psikolinguistik membagi tahap ini ke dalam lima tahapan, yaitu:
a) Tahap
I, tahap Holofrastik (Tahap Linguistik pertama, 1,0-2,0)
Pada usia 1-2 tahun masukan kebahasan berupa
pengetahuan anak tentang kehidupan di sekitarnya semakin banyak, misal:
nama-nama keluarga, binatang, mainan, makanan, kendaran, dan sebagainya.
Faktor-faktor masukan inilah yang memungkinkan anak memperoleh semantik (makna
kata) dan kemudian secara bertahap dapat mengucapkannya. Tahap ini adalah tahap
di mana anak sudah mulai mengucapkan satu kata.
Menurut Tarigan (1985) ucapan-ucapan satu kata pada periode ini disebut holofrase/holofrastik
karena anak-anak menyatakan makna keseluruhan frase atau kalimat dalam satu kata
yang diucapkannya itu.
b) Tahap
II, kalimat Dua Kata (2,0-3,0)
Kanak-kanak memasuki tahap ini dengan
pertama sekali mengucapkan dua holofrase dalam rangakaian yang cepat (Tarigan,
1980). Keterampilan
anak pada akhir tahapan
ini makin luar biasa. Komunikasi yang ingin ia sampaikan adalah bertanya dan
meminta. Kata-kata yang digunakan untuk itu semua sama seperti
perkembangan awal yaitu: sana, sini, itu, lihat, mau,
dan minta.
Anak terampil melontarkan kombinasi
antara informasi lama dan baru. Pada periode ini tampak sekali kreativitas.
Keterampilan tersebut muncul pada anak dikarenakan makin bertambahnya
pembendaharaan kata yang diperoleh dari lingkungannya dan juga karena
perkembangan kognitif serta fungsi biologis pada anak.
c) Tahap
Linguistik III: Pengembangan Tata Bahasa (3,0-4,0)
Tahap ini pada umumnya dialami oleh anak berusia
sekitar 2,5 tahun – 5 tahun. Anak mulai sudah dapat bercakap-cakap dengan teman
sebaya dan mulai aktif memulai percakapan. Fase sebelumnya sampai tahap
perkembangan 2 kata anak lebih banyak bergaul dengan orang tuanya. Sedangkan
pada tahap ini pergaulan anak makin luas yang berarti menambah pengetahuan dan menambah
perbendaharaan kata.
d) Tahap
Linguistik IV: Tata Bahasa Menjelang Dewasa/Pradewasa (4,0-5,0)
Pada tahap ini anak sudah mulai
menerapkan struktur tata bahasa dan kalimat-kalimat yang agak lebih rumit.
Kemampuan menghasilkan kalimat-kalimatnya sudah beragam, ada kalimat
pernyataan/kalimat berita, kalimat perintah dan kalimat tanya. Kemunculan
kalimat-kalimat rumit di atas menandakan adanya
peningkatan kemampuan kebebasan anak.
Pada tahap ini anak masih mengalami
kesulitan bagaimana memetakan ide ke dalam bahasa.Maksudnya adalah si anak
mengalami kesulitan dalam mengungkapkan pikirannya ke dalam kata-kata yang
bermakna. Hal ini karena anak memiliki keterbatasan-keterbatasan seperti:
penguasaan struktur tata bahasa, kosa kata dan imbuhan.
e) Tahap
Linguistik V : Kompetensi Penuh (5,0-)
Sejak usia 5 tahun pada umumnya
anak-anak yang perkembangannya normal telah menguasai elemen-elemen sintaksis
bahasa ibunya dan telah memiliki kompetensi (pemahaman dan produktivitas
bahasa) secara memadai. Walau demikian, perbendaharaan katanya masih terbatas
tetapi terus berkembang/bertambah dengan kecepatan yang mengagumkan.
C. Pemerolehan Bahasa dalam Bidang Semantik
Kata semantik dalam bahasa indonesia berasal dari bahasa Yunani sema ( kata benda yang berarti “tanda”
atau “lambang”. Kata kerjanya adalah semaino
yang berarti menandai atau “melambangkan”. Yang dimaksud dengan tanda atau
lambang disini sebagai padanan kata sema itu adalah tanda linguistik
(prancis : signe linguistique)
seperti yang telah dikemukakan oleh Ferdinand De saussure (1966) (dalam
Semantik Bahasa Indonesia, Abdul Chaer: 2) yaitu terdiri dari komponen yang mengartikan, yang berwujud
bentuk-bentuk bunyi bahasa dan komponen yang diartikan atau makna komponen yang pertama itu. kedua
komponen ini adalah merupakan tanda atau lambang sedangkan yang ditandai atau
dilambangi adalah sesuatu yang berada di luar bahasa yang lazim disebut referen
atau hal yang merujuk.
Selain istilah semantik dalam sejarah linguistik ada pula digunakan istilah
lain seperti semiotika, semiologi, semasiologi, sememik dan semik untuk merujuk
pada bidang studi yang mempelajari makna atau arti dari suatu tanda atau
lambang. Namun istilah semantik lebih umum digunakan dalam studi linguistik
karena istilah-istilah yang lainnya itu mempunyai cakupan objek yang lebih
luas, yakni mencakup makna tanda atau lambang pada umumnya. Berlainan dengan
tataran analisis lainnya, semantik merupakan cabang linguistik yang mempunyai
hubungan dengan ilmu-ilmu sosial lain seperti sosiologi dan antropologi bahkan
dengan filsafat dan psikologi.
Untuk
dapat mangkaji pemerolehan semantik anak,
perlu terlebih dahulu memahami apa yang dimaksud
dengan makna atau arti itu. Maka
dapat dijelaskan berdasarkan yang disebut
penanda-penanda semantik. Ini berarti, makna sebuah
kata merupakan gabungan dari fitur-fitur semantik ini. (Larson, 1989. Dalam Psikolinguistik, Abdul Chaer:
194-195). Teori dalam pemerolehan bahasa bidang
semantik adalah sebagai berikut :
1.
Teori Fitur Semantik
Teori fitur mengatakan bahwa konsep
terbentuk dari sekelompok unit yang lebih kecil yang dinamakan fitur. Konsep
mengenai objek yang dinamakan kucing, misalnya, mempunyai sekelompok fitur
yakni, (a) berkaki empat,(b) bermata dua, (c) bertelinga dua, (d) berhidung
satu, (e) berkumis, (f) berbulu, (g) berwarna putih, hitam, coklat dan lainnya.
Anak-anak
dapat memahami sebuah makna dari suatu konsep dengan adanya tanda-tanda yang
memudahkan ia dalam memahami konsep tersebut. Untuk lebih jelas dapat di
contohkan, seekor sapi memiliki tubuh gemuk, berbadan besar, berkaki empat,
memiliki dua mata yang besar, bertelinga dua, berwarna kuning dan lainnya.
Ketika seorang anak melihat seekor sapi, maka ia memahami bahwa sapi itu seperti ini (tanda yang
telah dijelaskan) atau seorang anak mendengar kata “sapi” maka ia akan memahami
sebagaimana ciri atau tanda yang pernah ia lihat
sebelumnya. Dan bisa juga dicontohkan lagi, ketika anak melihat seekor kerbau
ia juga akan mengatakan bahwa itu sapi karena memiliki tanda hampir sama dengan
sapi. Beginilah anak-anak memperoleh sebuah makna dari suatu konsep menurut teori
fitur ini.
Asumsi-asumsi yang menjadi dasar
hipotesis fitur-fitur semantik
adalah :
a.
Fitur-fitur makna yang
digunakan anak-anak
dianggap sama dengan beberapa fitur makna yang digunakan oleh orang dewasa.
b.
Berdasarkan pengalaman anak-anak
mengenai dunia dan mengenai bahasa masih sangat terbatas bila dibandingkan
dengan pengalaman orang dewasa, maka masa
kanak-kanak hanya akan menggunakan dua atau tiga
fitur saja untuk sebuah kata sebagai masukan leksikon.
c.
Pemilihan fitur-fitur
yang berkaitan ini didasarkan pada pengalaman anak-anak sebelumnya, maka
fitur-fitur ini pada umumnya didasarkan pada informasi persepsi atau
pengamatan.
Clark (1977) secara umum
menyimpulkan perkembangan pemerolehan semantik ini kedalam empat tahap, yaitu :
a.
Tahap penyempitan makna
kata
Tahap
ini berlangsung antara umur satu sampai satu setengah tahun (1–1,6). Pada tahap ini anak-anak menganggap satu benda
tertentu yang dicakup oleh satu makna menjadi nama dari benda itu. Jadi, yang
disebut (meong) hanyalah kucing yang dipelihara di rumah saja. Begitu juga
(gukguk) hanyalah anjing yang ada dirumah saja, tidak termasuk yang berada di
luar rumah si anak.
b.
Tahap Generalisasi
berlebihan
Tahap
ini berlangsung antara usia satu tahun setengah sampai dua tahun setengah (1,6–2,6). Pada tahap ini
anak-anak mulai menggeneralisasikan makna suatu kata secara berlebihan. Jadi,
yang dimaksud dengan anjing atau gukguk dan kucing atau meong adalah semua
binatang yang berkaki empat, termasuk kambing
dan kerbau.
c.
Tahap medan semantik
Tahap
ini berlangsung antara usia dua setengah tahun
sampai lima tahun (2,6 – 5,0).
Pada tahap ini anak-anak mulai mengelompokkan kata-kata yang berkaitan ke dalam
satu medan semantik. Pada mulanya proses ini berlangsung jika makna kata-kata
yang digeneralisasi secara berlebihan semakin sedikit setelah kata-kata baru
untuk benda-benda yang termasuk dalam generalisasi ini dikuasai oleh anak-anak.
Umpamanya, kalau pada mulanya kata anjing berlaku untuk semua binatang berkaki
empat ; namun, setelah mereka mengenal kata kuda, kambing , dan harimau, maka
anjing hanya berlaku untuk anjing saja.
d.
Tahap generalisasi
Tahap
ini berlangsung setelah anak-anak berusia lima tahun. Pada tahap ini anak-anak
telah mulai mampu mengenal benda-benda yang sama dari sudut persepsi, bahwa
benda-benda itu mempunyai fitur-fitur semantik yang sama. Pengenalan ini semakin
sempurna jika kanak-kanak semakin bertambah
usianya. Jadi, ketika berusia antara 5–7 tahun mereka telah mampu mengenal yang
dimaksud dengan heawan, yaitu semua mahluk yang termasuk hewan.
Masa kanak-kanak membutuhkan
tahap-tahapan dalam memperoleh makna semantik,
dan lingkungan sangat membantu kanak-kanak untuk memperoleh makna tersebut,
karena dalam proses pemerolehan itu kanak-kanak menggunakan indranya. Jadi,
semakin banyak kanak-kanak mengamati lingkungannya akan sangat membantu sekali
dalam memperolah makna kata-kata dari suatu konsep.
BAB
III
PEMBAHASAN
A. Hasil
Analisis
Pada anak usia 2 tahun 7 bulan seperti Fajri ini masuk ke dalam
tahap linguistik tiga yang berarti anak sudah mengembangkan bahasa yang ia
miliki. Pada tahap linguistik tiga tersebut, anak sudah mampu berbincang dengan
teman sebaya bahkan dengan orang dewasa seperti dalam percakapan di atas. Anak juga
sudah mulai dapat menyimak televisi
dan mulai menyimak percakapan-percakapan di sekitarnya yang didengar. Sehingga
terkadang anak sering meniru percakapan-percakapan sekitarnya. Namun dalam
mengucapkan kata-kata, Fajri sering masih mengalami kesulitan dalam
mengucapkan.
Tabel 1
Hasil Penelitian Pemerolehan Bahasa Selama 2 Minggu
|
No
|
Hari/tanggal/bulan
|
Semantik
|
Ujaran bahasa daerah
|
Ujaran bahasa indonesia
|
|
1.
|
Selasa, 2 Desember 2014
|
[Ajri]
|
|
Fajri
|
|
[Jaja]
|
|
Jajan
|
||
|
[Mobing]
|
|
Mobil
|
||
|
[Dede’]
|
[Dedek]
|
Adek
|
||
|
[Nat]
|
|
Donat
|
||
|
[Empe]
|
|
Tempe
|
||
|
[Agong]
|
|
Jagung
|
||
|
[mamang]
|
|
Mamang
|
||
|
[Meyah]
|
|
Merah
|
||
|
[Emoh]
|
|
Tidak mau
|
||
|
[minyuem]
|
|
Minum
|
||
|
[mamak]
|
|
Ibu
|
||
|
[Abun]
|
|
Sabun
|
||
|
[Apeng]
|
|
Apel
|
||
|
[Atang]
|
|
Bantal
|
||
|
[pegi]
|
[Embek]
|
Pergi
|
||
|
[Ampo]
|
|
Shampo
|
||
|
[Maem]
|
|
Makan
|
||
|
[Imik]
|
[Mimik]
|
Minum
|
||
|
[Akso]
|
|
Bakso
|
||
|
[Mba’]
|
[Mbak]
|
Kakak
|
||
|
[Adang]
|
|
Sandal
|
||
|
[Atu]
|
|
Sepatu
|
||
|
[pelmen]
|
|
Permen
|
||
|
[Eyuk]
|
|
Jeruk
|
||
|
[Ipi]
|
|
Tv
|
||
|
[Ape]
|
|
Hp
|
||
|
[Aki]
|
|
Kaki
|
||
|
2.
|
Selasa, 9 Desember 2014
|
|
|
|
|
[Ipis]
|
[Pipis]
|
Kencing
|
||
|
[ece’]
|
|
Cicak
|
||
|
[Otong]
|
|
Botol
|
||
|
[pen]
|
|
Bolpen
|
||
|
[Aju]
|
|
|||
|
[Ayung]
|
|
Sayur
|
||
|
[Abung]
|
[Mabur]
|
Terbang
|
||
|
[Upu-upu]
|
|
Kupu-kupu
|
||
|
[Moas]
|
[Tumbas]
|
Beli
|
||
|
[Eyes]
|
[Teles]
|
Basah
|
||
|
[Biyu]
|
|
Biru
|
||
|
[Uyong]
|
[Urung]
|
Belum
|
||
|
[Uyung]
|
|
Burung
|
||
|
[uah]
|
|
Buah
|
||
|
[Isang]
|
|
Pisang
|
||
|
[Odok]
|
|
Kodok
|
||
|
[Ayung]
|
|
Payung
|
||
|
[Kebau]
|
|
Kerbau
|
||
|
[Gambang]
|
|
Gambar
|
||
|
[Peda]
|
|
Sepeda
|
||
|
[Engen]
|
|
Pengen
|
||
|
[Opong]
|
[Bopong]
|
Gendong
|
||
|
[Manis]
|
|
Manis
|
||
|
[Panas]
|
|
Panas
|
||
|
[Nakang]
|
|
Nakal
|
||
|
[Telong]
|
|
Telur
|
||
|
[Gula]
|
|
Gula
|
||
|
[Motong]
|
|
Motor
|
||
|
[Udan]
|
[Udan]
|
Hujan
|
||
|
[Nani]
|
|
Nyanyi
|
||
|
[Pedes]
|
|
Pedas
|
||
|
[Nangis]
|
|
Nangis
|
||
|
[Tante]
|
|
Tante
|
||
|
[Buk]
|
|
Ibu
|
||
|
[Pak]
|
|
Bapak
|
||
|
[Embah]
|
[Embah]
|
Mbah
|
||
|
[Pung]
|
[Papung]
|
Mandi
|
||
|
[Doyaemon]
|
|
Doraemon
|
||
|
[Iyung]
|
[Iyung]
|
Sakit
|
||
|
[Mba mi]
|
|
Mbak Umi
|
||
|
[Mba vi]
|
|
Mbak Devi
|
||
|
[Teyas]
|
[Telas]
|
Habis
|
BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan
analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa pemerolehan bahasa pada anak usia 2
tahun 7 bulan sudah memiliki kosakata yang cukup banyak, mempunyai daya tanggap
yang sangat cepat terhadap penguasaan kosakata walaupun masih terdapat banyak kesalahan dalam
pengucapannya namun makna yang disampaikan dapat dipahami oleh orang yang
mengajak atau diajaknya berbicara. Pemerolehan bahasa khususnya pemerolehan
semantik pada anak usia 2 tahun 7 bulan belum memiliki bahasa secara
sempurna walaupun dalam usia tersebut anak sudah mulai dapat berbicara dengan
teman sebayanya ataupun orang dewasa. Pada usia tersebut anak lebih banyak
menggunakan bahasa ibu atau bahasa pertama yang diperoleh seperti bahasa Jawa,
walaupun bahasa tersebut banyak dituturkan dengan pengucapan fonem yang salah.
DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2009. Psikolinguistik: Kajian Teoritik. Jakarta: Rineka Cipta.
Clark
dan Clark. 1977. Psychology And Language. Harcount: Brace Jovanovich,
Inc.
https://www.academia.edu/7491150/BAB_I_PENDAHULUAN_1.diakses tanggal 30 November pukul 08.16
Krisanjaya.
1998. Teori Belajar Bahasa, Pemerolehan Bahasa Pertama. Jakarta. IKIP
Tarigan,
Henry Guntur. 1988. Pengajaran
Pemerolehan Bahasa. Bandung: Angkasa
Lampiran 1

Nama: Muhammad Fajri Novrianta
TTL: Banjarnegara, 11 November 2012

0 komentar:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.