Home » » PEMEROLEHAN SEMANTIK PADA ANAK USIA 2 TAHUN 7 BULAN

PEMEROLEHAN SEMANTIK PADA ANAK USIA 2 TAHUN 7 BULAN

Written By Berbagi ide muda Berkarya on Jan 14, 2015 | 10:18 PM

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Bahasa sebagai alat komunikasi merupakan sarana perumusan maksud, melahirkan perasaan, dan memungkinkan kita menciptakan kegiatan berkomunikasi sesama manusia mengatur berbagai aktivitas kemasyarakatan, merencanakan dan mengarahkan masa depan kita. Bahasa sebagai alat komunikasi diperoleh manusia sejak lahir sampai usia lima tahun, yang dikenal dengan istilah pemerolehan bahasa. Dalam kehidupan setiap orang tentu saja tidak terlepas dari bahasa. Pertama kali seorang anak memperoleh bahasa yang didengarkan langsung dari sang ibu sewaktu anak tersebut terlahir ke dunia ini. Kemudian seiring berjalannya waktu dan seiring pertumbuhan si anak maka ia akan memperoleh bahasa selain bahasa yang diajarkan ibunya itu baik bahasa kedua, ketiga ataupun seterusnya yang disebut dengan akuisisi bahasa (language acquisition) tergantung dengan lingkungan sosial dan tingkat kognitif yang dimiliki oleh orang tersebut melalui proses pembelajaran.
Pemerolehan bahasa merupakan sebuah hal yang sangat menakjubkan terlebih dalam proses pemerolehan bahasa pertama yang dimiliki langsung oleh anak tanpa ada pembelajaran khusus mengenai bahasa tersebut kepada seorang anak (bayi). Seorang bayi tidak hanya merespon ujaran-ujaran yang sering didengarnya dari lingkungan sekitar terlebih adalah ujaran ibunya yang sangat sering di dengar oleh anak tersebut. Dalam proses perkembangan, semua anak manusia yang normal paling sedikit memperoleh satu bahasa alamiah. Dengan perkataan lain setiap anak yang normal atau pertumbuhan yang wajar, memperoleh suatu bahasa yaitu bahasa pertama atau bahasa asli, bahasa ibu dalam tahun-tahun pertama kehidupan didunia.
Pemerolehan bahasa atau akuisisi bahasa adalah proses yang berlangsung di dalam otak anak-anak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya. Pemerolehan bahasa biasanya dibedakan dengan pembelajaran bahasa. Pembelajaran bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seorang kanak-kanak mempelajari bahasa kedua setelah ia memperoleh bahasa pertamanya. Jadi pemerolehan bahasa berkenaan dengan bahasa pertama, sedang pembelajaran bahasa berkenaan dengan bahasa kedua (Chaer, 2003:167).
Pemerolehan bahasa pada anak dipengaruhi oleh interaksi sosial dan perkembangan kognitif anak. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pemerolehan bahasa pada anak yang berusia 2 tahun 7 bulan dengan menggunakan teori pemerolehan semantik. Dalam penelitian ini menggunakan obyek anak laki- laki berusia 2 tahun 7 bulan yang bernama Muhammad Fajri Novrianta.

B.     RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas dapat diperoleh rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Apa sajakah kata-kata yang telah diperoleh oleh seorang anak yang berusia 2 tahun 7 bulan yang diamati selama 2 minggu?
2.      Bagaimanakah makna kata-kata yang diperoleh anak yang berusia 2 tahun 7 bulan berdasarkan analisis pemerolehan semantik?

C.     METODOLOGI PENELITIAN
1.      Data dan Sumber Data Penelitian
Sumber data penelitian ini adalah anak laki- laki usia 2 tahun 7 bulan. Anak tersebut bernama Muhammad Fajri Novrianta. Fajri adalah anak yang berasal dari Desa Serang Banjarnegara. Di rumah Fajri tinggal bersama kedua orang tua, Nenek, dan Kakaknya. Ayahnya bekerja di sebagai sopir, sedangkan Ibunya merupakan ibu rumah tangga. Fajri diasuh oleh ibu, nenek dan kakaknya. Sehingga dalam pemerolehan bahasanya, Fajri mengenal dua bahasa yaitu bahasa Jawa dan bahasa Indonesia.
Data penelitian ini berupa data kebahasaan lisan yang ditulis. Data ini berbentuk wacana interaksional. Wujud data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah wujud verbal atau bentuk bahasa yang digunakan dalam peristiwa tutur di rumah . Data-data tersebut diperoleh dari kegiatan, percakapan formal antara subjek penelitian dan penulis sendiri yang kemudian ditulis dalam catatan harian atau catatan lapangan.
2.      Metode Pengambilan Data
Metode pengambilan data yang digunakan dalam analisis ini yaitu dengan cara mengumpulkan beberapa data yang kemudian dianalisis dan disimpulkan. Pengumpulan data itu berguna sebagai landasan dalam menganalisis pemerolehan bahasa pada anak yang berusia 2 tahun 7  bulan. Selain itu dapat pula dijadikan sebagai dasar dari suatu penelitian yang digunakan untuk menarik kesimpulan.
Metode pengambilan data yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan metode buku harian. Metode buku harian dilakukan dengan mencatat apa saja yang diucapkan oleh anak dalam suatu buku harian. Data dalam buku harian dianalisis untuk melihat pemerolehan semantik bahasa pada anak yang berusia 2 tahun 7 bulan yang bernama Fajri kemudian disimpulkan hasilnya.
Saat penelitian, peneliti mengamati bagaimana bahasa yang yang digunakan oleh anak tersebut untuk berinteraksi dengan orang lain, kemudian menyimak kata yang diucapkan anak tersebut. Setelah menyimaknya kemudian penulis menggunakan metode buku harian untuk menuliskan data yang sudah diperoleh, yang nantinya akan menjadi bahan pokok penelitian.




















BAB II
KAJIAN TEORI

A.    Hakikat Pemerolehan Bahasa Anak
Pemerolehan bahasa atau akuisisi bahasa adalah proses yang berlangsung di dalam otak anak-anak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya. Pemerolehan bahasa biasanya dibedakan dengan pembelajaran bahasa. Pembelajaran bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seorang kanak-kanak mempelajari bahasa kedua setelah ia memperoleh bahasa pertamanya. Jadi pemerolehan bahasa berkenaan dengan bahasa pertama, sedang pembelajaran bahasa berkenaan dengan bahasa kedua (Chaer, 2003:167).
Pemerolehan bahasa anak melibatkan dua keterampilan, yaitu kemampuan untuk menghasilkan tuturan secara spontan, dan kemampuan untuk memahami tuturan orang lain. Jika dikaitkan dengan hal tersebut, maka yang dimaksud dengan pemerolehan bahasa adalah proses pemilikan kemampuan berbahasa, baik berupa pemahaman ataupun pengungkapan secara alami, tanpa melalui kegiatan pembelajaran formal (Tarigan dkk., 1998).
Gracia (dalam Krisanjaya, 1998) mengatakan bahwa pemerolehan bahasa anak dapat dikatakan mempunyai ciri kesinambungan, memiliki suatu rangkaian kesatuan, yang bergerak dari ucapan satu kata sederhana menuju gabungan kata yang lebih rumit (sintaksis). Kalau kita beranggapan bahwa fungsi tangisan sebagai awal dari kompetensi komunikasi, maka ucapan kata tunggal yang biasanya sangat individual dan kadang aneh seperti: “mamam” atau “maem” untuk makan, hal ini menandai tahap pertama perkembangan bahasa formal. Untuk perkembangan berikutnya kemampuan anak akan bergerak ke tahap yang melebihi tahap awal tadi,yaitu anak akan menghadapi tugas-tugas perkembangan yang berkaitan dengan fonologi, morfologi, sintaksis dan semantik.
B.     Tahap Perkembangan Bahasa Anak
Menurut Piaget dan Vygotsy (dalam Tarigan, 1988), tahap-tahap perkembangan bahasa anak adalah sebagai berikut:
1.      Tahap Meraban (Pralinguistik) Pertama(0,0-0,5)
Pada tahap meraban pertama, selama bulan-bulan awal kehidupan, bayi-bayi menangis, mendekut, mendenguk, menjerit, dan tertawa.
2.      Tahap Meraban Kedua (0,5-1,0)
Tahap ini anak mulai aktif artinya tidak sepasif sewaktu ia berada pada tahap meraban pertama. Secara fisik ia sudah dapat melakukan gerakan-gerakan seperti memegang dan mengangkat benda atau menunjuk. Berkomunikasi dengan mereka mulai mengasyikkan karena mereka mulai aktif memulai komunikasi, kita lihat apa saja yang dapat mereka lakukan pada tahap ini. Menurut tarigan (1985) tahap ini disebut juga tahap kata omong kosong, tahap kata tanpa makna. Menurut Tarigan (1985), orang tua harus mengumpan balik auditori untuk memelihara vokalisasi anak, maksudnya adalah agar anak tetap aktif meraban. Sebagai langkah awal latihan ialah mengucapkan kata-kata yang bermakna.
3.      Tahap Linguistik
Jika pada tahap pralinguistik pemerolehan bahasa anak belum menyerupai bahasa orang dewasa maka pada tahap ini anak mulai bisa mengucapkan bahasa yang menyerupai ujaran orang dewasa. Para ahli psikolinguistik membagi tahap ini ke dalam lima tahapan, yaitu:
a)      Tahap I, tahap Holofrastik (Tahap Linguistik pertama, 1,0-2,0)
Pada usia 1-2 tahun masukan kebahasan berupa pengetahuan anak tentang kehidupan di sekitarnya semakin banyak, misal: nama-nama keluarga, binatang, mainan, makanan, kendaran, dan sebagainya. Faktor-faktor masukan inilah yang memungkinkan anak memperoleh semantik (makna kata) dan kemudian secara bertahap dapat mengucapkannya. Tahap ini adalah tahap di mana anak sudah mulai mengucapkan satu kata.  Menurut Tarigan (1985) ucapan-ucapan satu kata pada periode ini disebut holofrase/holofrastik karena anak-anak menyatakan makna keseluruhan frase atau kalimat dalam satu kata yang diucapkannya itu.
b)      Tahap II, kalimat Dua Kata (2,0-3,0)
Kanak-kanak memasuki tahap ini dengan pertama sekali mengucapkan dua holofrase dalam rangakaian yang cepat (Tarigan, 1980). Keterampilan anak pada akhir tahapan ini makin luar biasa. Komunikasi yang ingin ia sampaikan adalah bertanya dan meminta. Kata-kata yang digunakan untuk itu semua sama seperti perkembangan awal yaitu: sana, sini, itu, lihat, mau, dan minta.
Anak terampil melontarkan kombinasi antara informasi lama dan baru. Pada periode ini tampak sekali kreativitas. Keterampilan tersebut muncul pada anak dikarenakan makin bertambahnya pembendaharaan kata yang diperoleh dari lingkungannya dan juga karena perkembangan kognitif serta fungsi biologis pada anak.
c)      Tahap Linguistik III: Pengembangan Tata Bahasa (3,0-4,0)
Tahap ini pada umumnya dialami oleh anak berusia sekitar 2,5 tahun – 5 tahun. Anak mulai sudah dapat bercakap-cakap dengan teman sebaya dan mulai aktif memulai percakapan. Fase sebelumnya sampai tahap perkembangan 2 kata anak lebih banyak bergaul dengan orang tuanya. Sedangkan pada tahap ini pergaulan anak makin luas yang berarti menambah pengetahuan dan menambah perbendaharaan kata.
d)     Tahap Linguistik IV: Tata Bahasa Menjelang Dewasa/Pradewasa (4,0-5,0)
Pada tahap ini anak sudah mulai menerapkan struktur tata bahasa dan kalimat-kalimat yang agak lebih rumit. Kemampuan menghasilkan kalimat-kalimatnya sudah beragam, ada kalimat pernyataan/kalimat berita, kalimat perintah dan kalimat tanya. Kemunculan kalimat-kalimat rumit di atas menandakan adanya peningkatan kemampuan kebebasan anak.
Pada tahap ini anak masih mengalami kesulitan bagaimana memetakan ide ke dalam bahasa.Maksudnya adalah si anak mengalami kesulitan dalam mengungkapkan pikirannya ke dalam kata-kata yang bermakna. Hal ini karena anak memiliki keterbatasan-keterbatasan seperti: penguasaan struktur tata bahasa, kosa kata dan imbuhan.
e)      Tahap Linguistik V : Kompetensi Penuh (5,0-)
Sejak usia 5 tahun pada umumnya anak-anak yang perkembangannya normal telah menguasai elemen-elemen sintaksis bahasa ibunya dan telah memiliki kompetensi (pemahaman dan produktivitas bahasa) secara memadai. Walau demikian, perbendaharaan katanya masih terbatas tetapi terus berkembang/bertambah dengan kecepatan yang mengagumkan.

C.     Pemerolehan Bahasa dalam Bidang Semantik
Kata semantik dalam bahasa indonesia berasal dari bahasa Yunani sema ( kata benda yang berarti “tanda” atau “lambang”. Kata kerjanya adalah semaino yang berarti menandai atau “melambangkan”. Yang dimaksud dengan tanda atau lambang disini sebagai  padanan kata sema itu adalah tanda linguistik (prancis : signe linguistique) seperti yang telah dikemukakan oleh Ferdinand De saussure (1966) (dalam Semantik Bahasa Indonesia, Abdul Chaer: 2) yaitu terdiri dari  komponen yang mengartikan, yang berwujud bentuk-bentuk bunyi bahasa dan komponen yang diartikan  atau makna komponen yang pertama itu. kedua komponen ini adalah merupakan tanda atau lambang sedangkan yang ditandai atau dilambangi adalah sesuatu yang berada di luar bahasa yang lazim disebut referen atau hal yang merujuk.
Selain istilah semantik dalam sejarah linguistik ada pula digunakan istilah lain seperti semiotika, semiologi, semasiologi, sememik dan semik untuk merujuk pada bidang studi yang mempelajari makna atau arti dari suatu tanda atau lambang. Namun istilah semantik lebih umum digunakan dalam studi linguistik karena istilah-istilah yang lainnya itu mempunyai cakupan objek yang lebih luas, yakni mencakup makna tanda atau lambang pada umumnya. Berlainan dengan tataran analisis lainnya, semantik merupakan cabang linguistik yang mempunyai hubungan dengan ilmu-ilmu sosial lain seperti sosiologi dan antropologi bahkan dengan filsafat dan psikologi.
Untuk dapat mangkaji pemerolehan semantik anak, perlu terlebih dahulu memahami apa yang dimaksud dengan makna atau arti itu. Maka dapat dijelaskan berdasarkan yang disebut penanda-penanda semantik. Ini berarti, makna sebuah kata merupakan gabungan dari fitur-fitur semantik ini. (Larson, 1989. Dalam Psikolinguistik, Abdul Chaer: 194-195). Teori dalam pemerolehan bahasa bidang semantik adalah sebagai berikut :
1.      Teori Fitur Semantik
Teori fitur mengatakan bahwa konsep terbentuk dari sekelompok unit yang lebih kecil yang dinamakan fitur. Konsep mengenai objek yang dinamakan kucing, misalnya, mempunyai sekelompok fitur yakni, (a) berkaki empat,(b) bermata dua, (c) bertelinga dua, (d) berhidung satu, (e) berkumis, (f) berbulu, (g) berwarna putih, hitam, coklat dan lainnya.
Anak-anak dapat memahami sebuah makna dari suatu konsep dengan adanya tanda-tanda yang memudahkan ia dalam memahami konsep tersebut. Untuk lebih jelas dapat di contohkan, seekor sapi memiliki tubuh gemuk, berbadan besar, berkaki empat, memiliki dua mata yang besar, bertelinga dua, berwarna kuning dan lainnya. Ketika seorang anak melihat seekor sapi, maka ia memahami bahwa sapi itu seperti ini (tanda yang telah dijelaskan) atau seorang anak mendengar kata “sapi” maka ia akan memahami sebagaimana ciri atau tanda yang pernah ia lihat sebelumnya. Dan bisa juga dicontohkan lagi, ketika anak melihat seekor kerbau ia juga akan mengatakan bahwa itu sapi karena memiliki tanda hampir sama dengan sapi. Beginilah anak-anak memperoleh sebuah makna dari suatu konsep menurut teori fitur ini.
Asumsi-asumsi yang menjadi dasar hipotesis fitur-fitur semantik adalah :
a.       Fitur-fitur makna yang digunakan anak-anak dianggap sama dengan beberapa fitur makna yang digunakan oleh orang dewasa.
b.      Berdasarkan pengalaman anak-anak mengenai dunia dan mengenai bahasa masih sangat terbatas bila dibandingkan dengan pengalaman orang dewasa, maka masa kanak-kanak hanya akan menggunakan dua atau tiga fitur saja untuk sebuah kata sebagai masukan leksikon.
c.       Pemilihan fitur-fitur yang berkaitan ini didasarkan pada pengalaman anak-anak sebelumnya, maka fitur-fitur ini pada umumnya didasarkan pada informasi persepsi atau pengamatan.
Clark (1977) secara umum menyimpulkan perkembangan pemerolehan semantik ini kedalam empat tahap, yaitu :
a.    Tahap penyempitan makna kata
Tahap ini berlangsung antara umur satu sampai satu setengah tahun (1–1,6). Pada tahap ini anak-anak menganggap satu benda tertentu yang dicakup oleh satu makna menjadi nama dari benda itu. Jadi, yang disebut (meong) hanyalah kucing yang dipelihara di rumah saja. Begitu juga (gukguk) hanyalah anjing yang ada dirumah saja, tidak termasuk yang berada di luar rumah si anak.
b.    Tahap Generalisasi berlebihan
Tahap ini berlangsung antara usia satu tahun setengah sampai dua tahun setengah (1,6–2,6). Pada tahap ini anak-anak mulai menggeneralisasikan makna suatu kata secara berlebihan. Jadi, yang dimaksud dengan anjing atau gukguk dan kucing atau meong adalah semua binatang yang berkaki empat, termasuk kambing dan kerbau.
c.    Tahap medan semantik
Tahap ini berlangsung antara usia dua setengah tahun sampai lima tahun (2,6 – 5,0). Pada tahap ini anak-anak mulai mengelompokkan kata-kata yang berkaitan ke dalam satu medan semantik. Pada mulanya proses ini berlangsung jika makna kata-kata yang digeneralisasi secara berlebihan semakin sedikit setelah kata-kata baru untuk benda-benda yang termasuk dalam generalisasi ini dikuasai oleh anak-anak. Umpamanya, kalau pada mulanya kata anjing berlaku untuk semua binatang berkaki empat ; namun, setelah mereka mengenal kata kuda, kambing , dan harimau, maka anjing hanya berlaku untuk anjing saja.
d.   Tahap generalisasi
Tahap ini berlangsung setelah anak-anak berusia lima tahun. Pada tahap ini anak-anak telah mulai mampu mengenal benda-benda yang sama dari sudut persepsi, bahwa benda-benda itu mempunyai fitur-fitur semantik yang sama. Pengenalan ini semakin sempurna jika kanak-kanak semakin bertambah usianya. Jadi, ketika berusia antara 5–7 tahun mereka telah mampu mengenal yang dimaksud dengan heawan, yaitu semua mahluk yang termasuk hewan.
Masa kanak-kanak membutuhkan tahap-tahapan dalam memperoleh makna semantik, dan lingkungan sangat membantu kanak-kanak untuk memperoleh makna tersebut, karena dalam proses pemerolehan itu kanak-kanak menggunakan indranya. Jadi, semakin banyak kanak-kanak mengamati lingkungannya akan sangat membantu sekali dalam memperolah makna kata-kata dari suatu konsep.




















BAB III
PEMBAHASAN
A.    Hasil Analisis
Pada anak usia 2 tahun 7 bulan seperti Fajri ini masuk ke dalam tahap linguistik tiga yang berarti anak sudah mengembangkan bahasa yang ia miliki. Pada tahap linguistik tiga tersebut, anak sudah mampu berbincang dengan teman sebaya bahkan dengan orang dewasa seperti dalam percakapan di atas. Anak juga sudah mulai dapat menyimak televisi dan mulai menyimak percakapan-percakapan di sekitarnya yang didengar. Sehingga terkadang anak sering meniru percakapan-percakapan sekitarnya. Namun dalam mengucapkan kata-kata, Fajri  sering masih mengalami kesulitan dalam mengucapkan.
Tabel 1
Hasil Penelitian Pemerolehan Bahasa Selama 2 Minggu
No
Hari/tanggal/bulan
Semantik
Ujaran bahasa daerah
Ujaran bahasa indonesia
1.






























Selasa, 2 Desember 2014
















[Ajri]

Fajri
[Jaja]

Jajan
[Mobing]

Mobil
[Dede’]
[Dedek]
Adek
[Nat]

Donat
[Empe]

Tempe
[Agong]

Jagung
[mamang]

Mamang
[Meyah]

Merah
[Emoh]

Tidak mau
[minyuem]

Minum
[mamak]

Ibu
[Abun]

Sabun
[Apeng]

Apel
[Atang]

Bantal
[pegi]
[Embek]
Pergi
[Ampo]

Shampo
[Maem]

Makan
[Imik]
[Mimik]
Minum
[Akso] 

Bakso
[Mba’]
[Mbak]
Kakak
[Adang]

Sandal
[Atu]

Sepatu
[pelmen]

Permen
[Eyuk]

Jeruk
[Ipi]

Tv
[Ape]

Hp
[Aki]

Kaki
2.
Selasa, 9 Desember 2014




[Ipis]
[Pipis]
Kencing
[ece’]

Cicak
[Otong]

Botol
[pen]

Bolpen
[Aju]

Baju
[Ayung]

Sayur
[Abung]
[Mabur]
Terbang
[Upu-upu]

Kupu-kupu
[Moas]
[Tumbas]
Beli
[Eyes]
[Teles]
Basah
[Biyu]

Biru
[Uyong]
[Urung]
Belum
[Uyung]

Burung
[uah]

Buah
[Isang]

Pisang
[Odok]

Kodok
[Ayung]

Payung
[Kebau]

Kerbau
[Gambang]

Gambar
[Peda]                                 

Sepeda
[Engen]

Pengen
[Opong]
[Bopong]
Gendong
[Manis]

Manis
[Panas]

Panas
[Nakang]

Nakal
[Telong]

Telur
[Gula]

Gula
[Motong]

Motor
[Udan]
[Udan]
Hujan
[Nani]

Nyanyi
[Pedes]

Pedas
[Nangis]

Nangis
[Tante]

Tante
[Buk]

Ibu
[Pak]

Bapak
[Embah]
[Embah]
Mbah
[Pung]
[Papung]
Mandi
[Doyaemon]

Doraemon
[Iyung]
[Iyung]
Sakit
[Mba mi]

Mbak Umi
[Mba vi]

Mbak Devi
[Teyas]
[Telas]
Habis




BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa pemerolehan bahasa pada anak usia 2 tahun 7 bulan sudah memiliki kosakata yang cukup banyak, mempunyai daya tanggap yang sangat cepat terhadap penguasaan kosakata walaupun masih terdapat banyak kesalahan dalam pengucapannya namun makna yang disampaikan dapat dipahami oleh orang yang mengajak atau diajaknya berbicara. Pemerolehan bahasa khususnya pemerolehan semantik pada anak usia 2 tahun 7 bulan  belum memiliki bahasa secara sempurna walaupun dalam usia tersebut anak sudah mulai dapat berbicara dengan teman sebayanya ataupun orang dewasa. Pada usia tersebut anak lebih banyak menggunakan bahasa ibu atau bahasa pertama yang diperoleh seperti bahasa Jawa, walaupun bahasa tersebut banyak dituturkan dengan pengucapan fonem yang salah.














DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2009. Psikolinguistik: Kajian Teoritik. Jakarta: Rineka Cipta.
Clark dan Clark. 1977. Psychology And Language. Harcount: Brace Jovanovich, Inc.
https://www.academia.edu/7491150/BAB_I_PENDAHULUAN_1.diakses tanggal 30 November pukul 08.16
Krisanjaya. 1998. Teori Belajar Bahasa, Pemerolehan Bahasa Pertama. Jakarta. IKIP
Tarigan, Henry Guntur. 1988. Pengajaran Pemerolehan Bahasa. Bandung: Angkasa

















Lampiran 1

26082012616.jpg
Nama: Muhammad Fajri Novrianta

TTL: Banjarnegara, 11 November 2012

0 komentar:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.