Mahasiswa
Penggiat Sastra
“Rangga? Bangun-bangun sudah siang”
“Apa sich brow, masih pagi juga”
“Byurrrr,cusssss air membasahi seluruh kasurnya”
“Waa kamu Kupal, Ciaat plaakk”
“arrggh gebrak”
Seperti kakak dan adik yang selalu bersama- sama berada
antara suka dan duka. Sesudah perselisihan terjadi kedua sahabat tersebut
melanjutkan untuk pergi kuliah dengan berjalan kaki. Terasa dekat mereka sampai
di kampus tersebut karena jarak tempuh hanya menyisakkan waktu 10 menit saja. Suasana
langit yang menyapa pagi itu membuat hati dan pikiran yang jernih mendukung
mereka dalam semangat belajar. Rangga dengan gaya style rambut miring mowhak,
celana panjang jeans yang tidak terlalu
ketat karena dikampus tersebut sesuai dengan syariah islam maka sikappun harus
dijaga, dan tidak lupa wajahnya yang manis seperti lautan yang berombak. Begitu
dengan Kupal sahabat akrabnya, gaya berpakaian seperti karyawan- karyawan
kantor, kumis yang tebal, dan tampaknya kedua sahabat tersebut sering menirukan
layaknya gaya seorang sastrawan.
“pagi yang cerah ya brow” ujar Rangga
“iya, lihat saja brow embun saja masih ada”
“dan kiranya langit sangat bersahabat hari ini” ujar
Kupal
“Iya brow, sekiranya- dilantai berapa kita kuliah kajian
puisi ini? Ujar Rangga”
“ itu dekat Mading, luruss... belok kanan? Ujar Kupal”
“ waa itu maa toilet, waa dasar kupal ?”
Sesampainya dikelas mereka juga tidak bisa duduk
berjauhan, Pagi itu dosen menjelaskan tentang bagaimana kelebihan sastrawan,
Dosen yang selalu mengajar tapi berbicara tentang sebuah curhatan seperti
itulah sekiranya. Dosen ini tergolong keren bagi Rangga, Kupal maupun teman-
teman satu kelasnya karena kuliah yang santai tapi ilmunya pasti. Panggilan
kerennya bagi anak-anak sekelasnya Rangga, yakni Ayah Achid.
“Ayah- ayah ! mw tanya: ujar Rangga”
“iya mas Rangga, silahkan ? Ujar dosen Kajian Puisi”
“Ayah menyampaikan
bahwa sastrawan tersebut mempunyai kelebihan, Naa apa kelebihannya sastrawan tersebut yah ?”
“sastrawan tersebut mempunyai kelebihan yaitu
berimajinasi dan seorang penyair harus menyampaikan sesuatu pada semestinya
bukan seadanya, kiranya seperti itulah mas Rangga” ujar Dosen Kajian Puisi.
“Ehmm, Ayah mau tanya Bagaimana menjadi seorang penyair ?
ujar Kupal”
“Penyair harus mempunyai kepribadian yang kuat, yaitu
syarat mutlaknya dengan adanya jatuh cinta. Bagaimana seorang penyair
menciptakan kegelisahan yang muncul dalam dirinya, karena dengan kegelisahan
bahwa pikiran imajinasi- imajinasi kita hidup, ujar Ayah Achid”
Sewaktu masih dalam pelajaran, Rangga mendapat sms dari
seseorang yang pernah dia sukai dan kebetulan setelah semalaman dia sms sama gebetannya
tidak sempat membalas. Mata kuliah Kajian Puisi baru saja selesai, kedua
sahabat tersebut menghampiri temannya yang bernama Tiyo.
“Brow, mau kemana kamu ini? ujar Rangga”
“Iya brow, mw kemana? Bagaimana dengan buku kesusateraan
sudah dapat belum? ujar Kupal”
“santai brow dengan gaya sok cueknya, ujar Tiyo”
“ayo kita makan dulu ujar Tiyo”
“Oke, bayarin ya haha ujar Rangga”
“yaaa katanya habis mudik, bagaimana? ujar Kupal”
“emangnya rumahku gudang duit, ujar Tiyo”
“kamukan bisa ambil dirumah tetangga, mumpung masih gag
kelihatan hahaha ujar kupal”
“kupal- kupal? Kumis aja ditebalin ujar Tiyo”
“hahahahaha” ujar Tiyo & Rangga”
Saat sedang makan diwarung tempat langganan biasa yang
lebih akrab disapa Warung Makan Rahayu, Ranggapun beraksi, dengan gaya kemeja
yang selalu dibuka rambut yang selalu disisir kesamping dan dengan tatapan mata
lentiknya. Kupal juga tidak mau mengalah dengan pake kemeja yang selalu
diiringin jaket, kumisnya yang tebal dan wajah yang tebar mempesona. Sesosok
perempuan hadir disaat mereka tengah asyik makan, perempuan yang memakai hijab pink,
kisaran setinggi 170cm, wajah yang memancarkan rona- rona kehidupan,
tubuh yang sexi memancarkan keindahan, senyum yang membuat lelaki mana saja
bisa tergoda bahkan tatapan matanya mampu merobohkan semangat seseorang yang
sedang jatuh cinta.
“Ehmm,,Ehmmm ujar Rangga”
“hei-hei tak koplak loe, matanya? Ngeliatin siapa?”
“ayo? Target lagi ini, ujar Tiyo”
“Hemm e nggakyo, aku lagi lihatin mahasiswi melintasi
jalan itu, ujar Rangga”
“Sekalian gebetin jugatu, dasar playboy cap kapak, ujar
Kupal”
“Edann, terserah yang penting gue nggak playboy men,
sorry- sorry ! ujar Rangga”
Rangga tetap saja memperhatikan perempuan tersebut, dari
siang sore hingga senja menutupi awan dilangit biru. Tiada yang berbeda dua
sahabat yang selalu pergi bareng- bareng dan pulang kuliahnya juga bareng,
meskipun hanya ber jalan kaki namun semangatnya bagaikan air yang selalu
mengalir hingga ke tempat- tempat yang tak bisa dijangkau. Malam tiba, Rangga
membuka laptopnya dengan searching di web yang tidak begitu asing dikalangan
anak muda yakni Facebook dan dicari perempuan yang dia taksir tersebut.
Ranggapun berhasil mendapatkan fb perempuan yang dia kagumi tersebut, langsung
di chatnya.
“Halo, ujar Rangga”
“Hai,ujar si Perempuan yang Rangga taksir”
“Kuliah dimana mbak?, ujar Rangga”
“kuliah di UAD mas, hehehe. Mas sendiri kuliah dimana?”.Ujar
Perempuan yang Rangga taksir.
“waa sama dong mbak, saya PBSI mbak cantik? Ujar Rangga”
“beneran, mas semester berapa, kog sama? Jangan gomballa
aku jadi malu mas hehehe, ujar Perempuan yang Rangga taksir”
“Semester 4, kamu semester berapa ? ujar Rangga”
“Kakak kelasku dong berartinya heehhe, aku semester 2 mas
hehhee, ujar Perempuan yang Rangga taksir”
“Iya, berarti panggil adeg ini dong? Ujar Rangga”
“iya boleh juga,wkkwkk :P
ujar Perempuan yang Rangga taksir”
Beberapa waktu kemudian Rangga berhasil mendapatkan no hp
perempuan yang Dia taksir tersebut. Komunikasi sering terjalan sering kali satu
sama lain bercerita tentang pelajaran kuliah baik pelajaran sastra, maupun
pelajaran yang lainnya. Rangga yang mempunyai hobi menulis sajak dan membaca
sajak tersebut hal ini baru dialaminya semenjak duduk dibangku perkuliahan.
Kata-kata puitis mengalir layaknya bunga mawar yang selalu dirawat. Rangga
sering juga sharing-sharing ilmu baik kepada temannya, temen akrabnya Kupal
karena sama- sama mencintai dunia sastra dan tidak lupa Rangga juga sering
konsultasi sama dosennya. Mencintai dunia sastra bukan berarti kita terfokus
hanya pada satu pelajaran itu- itu saja, dan jangan kita jadikan apresiasi
sastra itu sebagai suatu kesombongan.
“Brow, Bangun- bangun ! uda siang, ujar Kupal”
“Iya brow, dengan suara yang agak melas ujar Rangga”
Setiap hari kedua sahabat akrab tersebut pergi kuliah
bersama- sama, sudah 3 semester mereka lalui bersama- sama. Hari itu sore
menutupi senja Rangga dan Sahabat akrabnya baru pulang dari kuliah tidak
sengaja pertemuan yang semestinya tidak terjadi pada Rangga. Sesosok perempuan
yang sedang Dia taksir bersalaman dengan seorang lelaki layaknya sepasang
burung yang saling berkejaran diantara hati yang terpisah. Hatinya merintis
kesakitan, Ranggapun tidak mampu berkata- kata apalagi dia menyangka bagaimana
mungkin seorang lelaki seperti diriku ini bisa ditolak begitu saja. Aku bisa
membuat dia bahagia, akanku lukiskan wajahnya di dinding kamarku bahkan di
dalam hatiku sendiri, akanku tulis sajak sebanyak banyaknya buatmu, dan aku
mengira dengan penampilanku seperti seorang sastrawan akan membuatmu lumpuh.
Sore berganti senja itu, sahabat akrabnya selalu menasehati Rangga dan
merekapun melanjutkan perjalanan untuk pulang ke kos. Rangga menyadari setelah
kejadian tersebut, bahwa harus lebih banyak bersabar, menjadikan sesuatu dengan
semestinya bukan sebagai kesombongan.

0 komentar:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.