BAB I
(PENDAHULUAN)
- AKHLAQ
Secara
etimologis , “akhlaq” berasal dari kata (bahasa Arab) akhlaq yang merupakan bentuk jamak
atau dari kata khuluq yang berarti budi
pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabiat.
Berakar dari kata khaliq (Pencipta) ,
makhluq (yang diciptakan) dan khalq (penciptaan) .
Dari
pengertian etimologis ini, akhlaq bukan saja merupakan tata aturan atau norma
perilaku yang mengatur hubungan antar sesame manusia, tetapi juga norma yang
mengatur hubungan antar sesama manusia dengan Tuhan dan bahkan alam semesta
sekalipun .
Secara
terminologis ishtilahan (menurut
istilah) ada beberapa pengertian, antara lain:
1. Imam
al- Ghazali: "Akhlaq adalah sifat yang meresap dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan- perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa
memerlukan dan pertimbangan."
2. Ibrahim
Anis: "Akhlaq
adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengannya lahirlah
bermacam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan
pertimbangan."
3. Abdul
Karim Zaidan: “(Akhlaq) adalah nilai-nilai dan
sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengan sorotan dan timbangannya seseorang
dapat menilai perbuatannya baik atau buruk, untuk kemudian memilih melakukan
atau meninggalkannya .
Ketiga definisi yang dikutip di
atas sepakat menyatakan bahwa Akhlaq atau khuluq
itu adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia, sehingga dia akan muncul
secara spontan bilamana diperlukan, tanpa memerlukan pemikiran atau
pertimbangan lebih dahulu, serta tidak
memerlukan oemikiran atau pertimbangan lebih dahulu, serta tidak memerlukan dorongan dari luar. Disamping istilah akhlaq, juga dikenal istilah etika dan moral. Ketiga istilah itu
sama-sama menentukan nilai baik dan buruk sikap dan perbuatan manusia.
Perbedaannya terletak pada standar masing- masing. Bagi akhlaq standarnya
adalah Al- Qur’an dan Sunnah; bagi etika standarnya pertimbangan akal pikiran;
dan bagi moral standarnya adat kebiasaan yang umum berlaku di masyarakat.
B. SUMBER AKHLAQ
Yang
dimaksud dengan sumber akhlaq adalah yang menjadi ukuran baik dan buruk, atau
mulia dan tercela. Sebagaimana keseluruhan ajaran Islam, sumber akhlaq adalah
al-Qur'an dan Sunnah. Bukan akal pikiran
atau pandangan masyarakat sebagaimana pada konsep etika dan moral. Dan pula
karena baik atau buruk dengan sendirinya sebagaimana pandangan Mu’tazilah.
C. RUANG
LINGKUP AKHLAQ
Muhammad
‘Abdulllah Draz dalam bukunya Dustur
al-Akhlaq fi’al-Islam membagi
ruang lingkup akhlaq kepada
lima bagian
:
1. Akhlaq Pribadi . Terdiri dari : a) yang
diperintahkan, b)
yang dilarang. c) yang dibolehkan, d) akhlaq dalam keadaan darurat
2. Akhlaq
Berkeluarga . Terdiri dari : a) kewajiban timbal balik orangtua dan anak, b)
kewajiban suami isteri, c) kewajiban terhadap karib kerabat
3. Akhlaq Bermasyarakat. Terdiri dari : a)
yang dilarang, b)yang diperintahkan, c) yang diperintahkan, c) kaedah-kaedah
adab.
4. Akhlaq
Bernegara. Terdiri dari a) hubungan antara pemimpin dan rakyat, b) hubungan
luar negeri
5. Akhlaq
Beragama. Yaitu kewajiban terhadap Allah SWT.
D.
KEDUDUKAN DAN KEISTIMEWAAN AKHLAQ DALAM ISLAM
Dalam keseluruhan ajaran Islam Akhlaq menempati kedudukan yang istimewa
dan sangat penting dalam Islam. Di
antaranya:
a.Rasullah saw menempatkan
penyempurnaan akhlaq yang mulia sebagai misi pokok Risalah Islam
.Beliau Bersabda :
("Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia."(HR.
Baihaqi)
b. Akhlaq
merupakan salah satu ajaran pokok agama Islam.
(“ Ya Rasulullah, apakah agama itu? Beliau menjawab:
(Agama adalah) Akhlaq yang baik.”
c. Akhlaq yang baik akan memberatkan timbangan
kebaikan seseorang nanti pada hari kiamat. Rasulullah saw bersabda:
("Tidak ada sesuatu yang lebih berat di dalam timbangan (kebaikan)
seorang hamba mukmin pada Hari Kiamat
dari pada akhlaq yang baik.") (HR Tirmidzi)
d. Rasulullah saw menjadikan
buruknya Akhlaq
seseorang sebagai ukuran kualitas imannya.
("Orang
mukmin yang paling sempurna adalah yang paling
baik akhlaqnya." (HR.
Tirmidzi)
e.
Islam menjadikan akhlaq
yang baik sebagai bukti dan buah
dari ibadah kepada Allah
SWT.
("…dan dirikanlah shalat,
sesungguhnya shalat itu mencegah (prbuatan-perbuatan) keji dan munkar." (QSAL-'Ankabut 29: 45)
f.
Nabi Muhammad saw selalu berdoa agar Allah SWT membaikkan akhlaq beliau. Salah satu doa beliau adalah:
“(Ya Allah) tunjukilah aku(jalan menuju) akhlaq yang baik,
karena sesungguhnya tidak ada yang dapat memberi petunjuk( menuju jalan) yang
lebih baik selain Engkau. Hindarkanlah aku dari akhlaq yang buruk, karena
sesungguhnya tidak ada yang dapat menghindarkan aku dari akhlaq yang buruk
kecuali Engkau.” (HR.Muslim)
E. CIRI- CIRI AKHLAQ DALAM ISLAM
Di
samping kedudukan dan keistimewaan akhlaq yang sudah diuraikan fasal sebelumnya
maka akhlaq dalam Islam paling kurang juga memiliki lima cirri-ciri khas yaitu
1. Akhlaq Rabbani: Ajaran yang bersumbet dari wahyu
Illahi yang termaktub dalam Al-Qur’an dan Sunnah
2. Akhlaq Manusiawi : Ajaran akhlaq dalam Islam sejalan dan memenuhi tuntunan
Fitrah manusia
3. Akhlaq Universal : Ajaran akhlaq dalam Islam sesuai dengan kemanusiaan yang
universal dan mencakup
segala spek kehidupan manusia
baik yang dimensinya vertikal maupun horisontal
4. Akhlaq Keseimbangan : Ajaran akhlaq dalam Islam berada ditengah
antara hati nurani dan akal
5. Akhlaq Realistik : Ajaran akhlaq dalam Islam memperhatikan
kenyataan hidup manusia.
BAB II
(AKHLAQ TERHADAP ALLAH SWT)
A.
TAKWA
Definisi
taqwa yang paling popular adalah “memelihara diri dari siksaan Allah dengan
mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya."
‘Afif ‘Abd Al-Fattah Thabbarah mendefinisikan
taqwa dengan :
“Seseorang memelihara dirinya dari
segala sesuatu yang mengundang kemarahan Tuhannya dan dari segala suatu yang
mendatangkan mudharat, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang-orang lain “
Buah
dari Taqwa
Seseorang
yang bertaqwa kepada Allah SWT akan memetik buahnya, biak di dunia maupun
akhirat. Buah itu antara lain:
1.Mendapatkan sikap "furqan", sekap tegas
membadakan anatara yang hak dan batil, benar dan salah, halal dan haram serta terpuji dan tercela.
"Hai orang-orang yang beriman,
jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu
"furqan" dan menghapuskan segala kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu.
Dan Allah mempunyai karunia yang besar." (QS. Al-Anfal: 29)
2.Mendapatkan
limpahan berkah
dari langit dan bumi
"Jikalau sekiranya penduduk
negeri- negeri
beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari
langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka kami
siksa mereka disebabkan perbuatannya (QS.
Al-A'raf 7:
96)
3.Mendapatkan jalan keluar dari
kesulitan
"Barang siapa yang bertaqwa
kepada Allah, niscaya Dia akan membuatkan baginya jalan keluar." (QS.
At-Thalaq 65; 2)
4.Mendapatkan rezeki tanpa diduga-duga
"…Dan Dia akan memberinya
rezki dari arah yang tiada disangka-sangka"(QS At-Thalaq 65: 3)
5. Mendapatkan kemudahan dalam
urusannya
"Dan barangsiapa yang bertaqwa
kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya kebudahan dala
urusannya." ( QS. At-Thalaq65: 4)
B.
CINTA
DAN RIDHA
Cinta
adalah kesadaran diri, perasaan jiwa dan dorongan hati yang menyebabkan
seseorang hatiya kepada apa yang
dicintainya dengan penuh semangat dan rasa kasih sayang.
Dalam
hal ini Allah SWT berfirman :
“Adapun orang-irang yang beriman
amat sangat cintanya kepada Allah “ (QS
Al Baqarah 2: 165)
C.
IKHLAS
Secara
etimologis, kata ikhlas berasal dari (bahasa Arab) akhlasha-ikhlash
yang berarti membersihkan, menjernihkan, atau memurnikan. Secara terminologis,
ikhlash adalah beramal semata-mata mengharapkan ridha Allah SWT. Dalam bahasa populernya ikhlas adalah berbuat tanpa pamrih;
hanya semata mata mengahrapkan ridha Allah SWT.
Tiga Unsur Keikhlasan
- Niat
yang Ikhlash (ikhlashun- niyah). Semua perbuatan
yang dilakukan seorang muslim haruslah dilandasi niat yang ikhlash,
semata-mata mengharap ridha Allah SWT.
"Sesunggguhnya setiap amal
perbuatan tergantung kepada apa yang diniatkan….."
(HR.
Bukhari dan Muslim)
- Beramal
dengan sebaik-baiknya (itqanul-'amal).
Seorang muslim yang telah niat dengan ikhlas untuk melakukan suatu
perbuatan, harus membuktikannya dengan melakukan sebaik-baiknya.
Mengerjakan sesuatu seenaknya, asal-asalan, tanpa memerhatikan kualitas
kerja bertentangan dengan dasar keikhlasan.
"Sesungguhnya Allah SWT
menyukai, apabila seseorang beramal, dia melakukannya dengan
sebaik-baiknya." (HR. Baihaqi)
- Memanfaatkan
hasil usaha dengan tepat (jaudatul-ada').
Hasil yang diperoleh seorang
muslim haruslah dimanfaatkan untuk kepentingan-kepaentingan yang diridhai Allah
SWT.
"Katakanlah:
"Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah,
Tuhan semesta alam." (QS. Al-An'am 6:
162)
"Sesungguhnya orang-orang
munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila
mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Merka bermaksud riya
dihadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit
sekali." (QS. An-Nisa/4: 142)
"Hai orang-orang beriman,
janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan
menyakiti (perasaan penerimanya) seperti orang yang menafkahkan hartanya karena
riya kepada manusia dan dia beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka
perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian
hujan itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah).
Mereka tidak menguasai sesuatu apapun dari apa yang mereka usahakan. Dan Allah
tidak memberi member petunjuk orang-orang kafir ."
(QS.
Al-Baqarah/2: 264)
D. KHAUF DAN RAJA
Sepasang
sikap batin yang harus dimiliki secara seimbang oleh setiap Muslim. Bila salah
satu dominan dari yang lainnya akan melahirkan pribadi yang tidak seimbang.
Khauf
adalah kegalauan hati membayangkan sesuatu yang tidak disukai yang akan
menimpanya, atau membayangkan hilangnya sesuatu yang disukanya (faza’al-qalb
min makruh yanaluh au min mahbub yafutuh).
“
Sesungguhnya aku orang yang paling mengenal Allah di antara kalian, dan aku
pulalah yang paling takut di antara kalian kepada-Nya.” (HR.Tirmidzi)
Selanjutnya, menurut Sayyid Sabiq, ada dua dampak positif
dari khauf:
1.
Melahirkan
keberanian menyatakan kebenaran dan memberantas kemungkaran secara tegas tanpa
ada rasa takut pada makhluk yang menghambatnya.
2.
Menyadarkan
manusia untuk tidak meneruskan kemaksiatan yang telah dilakukannya dan
menjauhkannya dari segala macam bentuk kefasikan dan hal-hal yang diharamkan
oleh ALLAH SWT
Raja’
Ra’ja atau harapa adalah memautkan hati kepada sesuatu
yang disukai pada masa yang akan datang.
“Sesungguhnya
orang- orang yang beriman, orang- orang yang berhijrah dan berjihad di jalan
Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Pengampun Lagi Maha
Penyayang.” (QS.AL-Baqarah 2: 218)
E.
TAWAKKAL
Secara
terminologis, taqwa adalah membebaskan hati dari ketergantungan kepada selain
Allah dan menyerahkan keputusan segala
sesuatu kepada-Nya.
"Dan kepunyaan Allah lah apa
yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya
lah semua urusan dikembalikan, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah
kepada-Nya. Dan sekali-sekali
Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan." (QS. Hud/11: 123)
"…Dan hanya kepada Allah
hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriiiman." (QS Al
Maidah 5:23)
Tawakkal dan Ikhtiar
Tawakkal
kepada Allah harus berdasarkan kerja keras dan usaha maksimal (ikhtiar).
Berpangkutangan, menunggu nasib bertentangan dengan hakekat tawakkal.
Contoh:
Suatu
ketika pada masa Rasulullah SAW ada seorang badui yang membiarkan untanya tidak
diikat. Menurutnya itulah perujudan dari twakkal. Rasulpun menegurnya:
"Ikat dan tawakkallah! (HR. Tirmidzi. Ibnu khuzaimah, dan
Thabrani)
“ Hai orang- orang beriman, bersiap siagalah kamu dan
majulah (ke medan pertempuran) berkelompok kelompok, atau majulah bersama-
sama.” (QS.An-Nisa 4:71)
Hikmah Tawakkal
Sikap
tawakkal melahirkan ketenangan batin. Jika seseorang telah menyusun suatu
rencana secara matang, melaksanakannya dengan sungguh-sungguh dan disiplinn
tinggi, kemudian menyerahkannya kepada Allah, maka jika ternyata hasilnya belum
seperti yang diharapkan insyaallah dia akan menghadapinya dengan sabar.
Demikian juga sebaliknya jika berhasil, dia akan bersyukur. Sikap tawakkal
melahirkan percaya diri dan optimisme. Keyakinan bahwa ikhtiar ( kerja keras
dan usaha maksimal) merupakan kewajiban manusia, sedangkan hasilnya ada di
tangan Allah menumbuhkan sikap percaya diri dan optimism menghadapi segala
kemungkinan.
Orang
yang bertawakkal akan dilindungi oleh Allah SWT.
"…Dan barangsiapa yang
bertawakkal kepada Allah nicaya Allah mencukupkan (keperluan)nya." (QS. At-Thalaq/65: 3)
F.
SYUKUR
Syukur ialah memuji si pemberi nikmat atas kebaikan yang
telah dilakukannya. Syukurnya seorang hamba berkisar atas tiga hal, yang
apabila ketiganya tidak berkumpul, maka tidaklah dinamakan bersyukur, yaitu:
mengakui nikmat dalam batin, membicarakannya secara lahir, dan menjadikannya
sebagai sarana untuk taat kepada Allah. Menurut bahasa, syukur
berasal dari kata Arab syakara yang berarti: berterimakasih, memuji.
Menurut
istilah syukur ialah memuji sipemberi nikmat atas kebaikan yang telah
dilakukannya.
Tiga Dimensi Syukur
Syukur
harus melibatkan tiga dimensi yaitu hati, lisan dan jawarih (anggota badan)
Keutamaan Syukur
Bersyukur
pada hakekatnya untuk kepentingan manusia sendiri
"Dan
ingatlah, tatkala Tuhanmu memklumkan: “Sesungguhnya
jika kamu bersyukur pasti Kami
akan menambah (nikmat)kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku),maka
sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih." (QS.
Ibrahim/14: 7)
G. MURAQABAH
Secara
etimologis, muraqabah berasal darr raqaba yang berarti menjaga, mengawal, menanti dan mengamati.
Secara
terminologis muraqabah adalah kesadaran seorang muslim bahwa dia selalu dalam
pengawasan Allah SWT.
"Dan pada sisi Allah-lah
kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri,
Dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun
pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya, dan ditak jatuh sebutir biji pun
dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan
tertulis dalam kitab yang nyata (lauh mahfuzh). QS. Al-An'am/6; 59)
"… Sesungguhnya Allah selalu
menjaga dan mengawasi kamu. (QS.
An-Nisa/4: 1)
"… Dan Allah Maha Mengawasi
segala sesuatu. (QS. Al-Ahzab/33: 52)
H. TAUBAT
Kata
taubat berasal dari kata taba
yang berarti kembali. Di dalam bahasa Arab terdapat kata lain yang searti
dengan taba, yakni anaba. Orang yang bertaubat kepada Allah berarti kembali
dari segala yang tidak diridhai Allah kepada yang diridhai-Nya.
"Dan bertaubatlah kamu
sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QSAn-Nur/24: 31)
"Hai orang-orang yang
beriiman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang benar-benar,
mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu, dan memasukkan
kamu ke dalam sorga yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai…" (QSAt-Tahrim/66:
8)
"Setiap manusia (dapat
berbuat) salah. Dan sebaik-baik orang bersalah adalah yang bertaubat." (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim).
Lima Dimensi Taubat
a. Menyadari
kesalahan.
b. Menyesali
kesalahan.
c. Memohon
Ampun kepada Allah.
d. Bertekan
untuk dtidak mengulangi kesalahan.
e. Mengubur
kesalahan dengan amal shaleh.
BAB III
(AKHLAQ TERHADAP RASULULLAH SAW)
A. MENCINTAI DAN MEMULIAKAN RASUL
Setiap orang yang
mengaku beriman kepada Allah SWT tentulah harus beriman bahwa Muhammad saw
adalah Nabi dan Rasulullah yang terakhir, penutup sekalian nabi dan rasul;
tidak ada lagi nabi, apalagi rasul sesudah beliau (QS. Al-Ahzab 33:40). Beliau diutus oleh Allah SWT untuk seluruh
umat manusia sampai hari Kiamat nanti (QS.Saba
34:28). Kedatangan beliau
sebagai utusan Allah merupakan rahmat bagi alam semesta (QS. Al-Anbiya 21: 107)
"Tidak
beriman salah seorang di antara kalian sebelum aku lebih dicintai dari pada
dirinya dan semua manusia." (HR.
Bukhari, Muslim , dan Nasa'i)
"Katakanlah: "Jika
bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, sanak-saudara, harta
kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang yang kamu khawatiri kerugiannya,
dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu
sukai, adalah lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di
jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan
Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik." (Q.S. At-Taubah/9: 24)
B.
MENGIKUTI
DAN MENAATI RASUL
" Dan kami tidak mengutus
seorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizing Allah…
(QS.
An-Nisa/4: 64)
"Apa yang diberikan Rasul
padamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah;
dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras
hukuman-Nya." (QS. Al-Hasyr/59: 7)
“Shalatlah
kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat.” (HR. Bukhari)
"Aku tinggalkan kepada kamu
sekalian dua hal, kamu sekalian tidak akan sesat selamanya jika berpegang teguh
dengannya, yaitu Kitab Allah dan Sunnahku." (HR.Hakim)
C.
MENGUCAPKAN SHALAWAT DAN SALAM
"Sesungguhnya Allah dan
Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang beriman
bershalawatlah kamu kepada Untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan
kepadanya." (QS. Al-Ahzab/33; 56)
Perintah
untuk bershalawat dan salam kepada nabi Muhammad saw dalam ayat di atas diawali oleh Allah SWT
dengan pernyataan bahwa Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat kepada beliau.
Hal itu di samping menunjukan betapa mulia dan terhormatnya kedudukan beliau
disisi Allah SWT, juga menunjukan betapa pentingnya perintah bershalawat dan salam itu kita lakukan.
Pengertian kata "shalawat''
merupakan bentuk jamak dari "shalah" yang berarti: "do'a,"
"istighfar," dan "rahmah." Berdasar kan makna-makna yang
tersebut, maka shalawat dari Allah SWT. bagi Nabinya, berarti memberinya
rahmat; shalawat para Malaikat berarti istighfar (permohonan maaf); dan
shalawat dari orang mukmin atas nabi berarti do'a dan penghormatan.
Selain do'a dan penghormatan bagi Nabi,
kebaikan shalawat juga akan kembali kepada yang mengucapkan.
"Sesungguhnya orang yang
paling utama kepadaku nanti pada Hari Kiamat adalah orang yang paling banyak
bershalawat kepadaku." (HR.
Tirmidzi)
"Yang benar-benar orang pelit
adalah orang yang ketika namaku disebut di dekatnya dia tidak mengucapkan
shalawat kepadaku." (HR Tirimizi
dan Ahmad)
Waktu
dan Teks Shalawat
dan Salam
- Teks salam;
"Semoga kesalamatan bagi engkau,
wahai Nabi, serta rahmat dan berkah Allah."
- Teks Shalawat;
"Ya Allah limpahkanlah
rahmat-Mu kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah
melimpahkannya kepada Ibrahim dan keluarganya. Dan berkahilah Muhammad dan
keluarganaya sebagaimana Engkau telah melimpahkannya kepada Ibrahim dan
keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha mulia”.
Contoh
teks yang dibacaTatkala
mendengar nama Nabi disebut adalah:
"Semoga Allah memberikan
shalawat dan salam kepada beliau."
Atau
"Ya Allah berilah shalawat dan
salam kepada beliau."
BAB IV
(AKHLAQ PRIBADI)
A. SHIDIQ
Shidiq
(ash-shidqu) artinya benar atau jujur, antonim dusta/bohong (al-kidzbu). Seorang Muslim dituntut selalu berada dalam keadaan
benar lahir batin; Benar hati (shidq al-qalb), benar perkataan (shidq al-
hadits) dan benar perbuatan (shidq al-amal). Antara hati dan perkataan harus
sama, tidak boleh berbeda, apalagi antara perkataan dan perbuatan.
Rasulullah
SAW. bersabda:
" Kamu sekalian harus bersikap
jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke sorga.
Seseorang yang selalu jujur dan mencari kejujuran akan ditulis oleh Allah
sebagai yang jujur (shiddiq). Dan jauhilah sifat bahong, karena kebohongan
membawa kepada kejahatan dan kelahatan membawa ke neraka. Orang yang selalu
bohong dan mencari-cari kebohongan akan ditulis oleh Allah sebagai sebagai
pembohong (kadzdzab). (HR. Bukhari)
1. Bentuk-bentuk
shidiq:
a. Benar dalam perkataan (shidqul-hadits)
"Tanda-tanda orang munafiq ada
tiga: jika berbicara, dusta; jika berjanji ingkar, dan jika diberi kepercayaan,
berkhianat." (HR. Muttafaqun
'Alaih)
b. Benar Pergaulan (shidqu-l mu'amalah)
Seorang Muslim akan selalu bermu’amalah dengan benar;
tidak menipu, tidak khianat dan tidak memalsu, sekalipun kepada non muslim.
c. Benar Kemauan (shidqul-'azm)
Sebelum
melakukan suatu tindakan, seorang mukmin mempertimbangkannya lebih dahulu,
baik-buruknya, manfaat –madharatnya.
Apabila sudah yakin, dia akan melaksanakannya tanpa ragu-ragu. Apabila
yakin dan bermanfaaat.
d.
Benar
Janji (shidqul-wa'd)
“Barang siapa yang berkata kepada anak kecil, mari
kemari, saya beri korma ini. Kemudian dia tidak memberinya, maka dia telah
membohongi anak itu”, (HR.Ahmad)
e.
Benar Kenyataan(sidq al-hal)
Seorang Muslim akan menampilkan
dirinya sesuai dengan keadaan yang
sebenarnya. Dia tidak akan menipu
kenyataan,tidak mencari nama, tidak dibuat-buat, dan jauh
dari kepalsuan.
BENTUK BENTUK
KEBOHONGAN
a.Khianat
b.Mungkir janji
c.Kesaksian palsu
d.Fitnah
e.Gunjingan (ghibah)
B. AMANAH
Amanah
artinya dipercaya, seakar
dengan kata iman. Sifat amanah memang lahir dari kekuatan iman. Semakin menipis
kemiskinan seseorang semakin pudar pula sifat amanah pada dirinya. Antara
keduanya terdapat kaitan yang sangat erat sekali. Rasulullah saw bersabda:
"Tidak (sempurna) iman
seseorang yang tidak amanah (tidak bisa dipercaya), dan tidak (sempurna) agama
seseorang yang tidak menunaikan janji." (HR Ahmad)
Amanah dalam pengertian secara sempit adalah memelihara titipan dan
mengembalikannya kepada pemiliknya dalam bentuk semula. Pengertiannya secara luas meliputi antara
lain: menyimpan rahasia, melaksanakan tugas yang diberikan. Tugas dan kewajiban
Allah kepada manusia oleh Al-Qur'an disebut amanah, bahkan merupakan amanah
yang paling berat. Makhluk-makhluk Allah seperti langit, bumi, matahari,
gunung, lautan dan pohon tidak sanggup memikul amanah Allah. Karena kelebihan
yang telah dikarunikan Allah kepada manusia berupa akal fikiran, perasaan dan
kehendak, maka sanggup memikul amanah tersebut.
"Sesungguhnya Kami telah
mengemukakan amanah langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk
memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah itu
oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. (QS. AL-Ahzab/33:72)
Bentu-bentuk Amanah
- Memelihara Titipan
dan Mengembalikannya seperti semula
Apabila seorang muslim dititipi orang lain
maka dia harus menjaga barang titipan tersebut dengan baik dan mengembalikan
kepada yang punya dalam keadaan
utuh
seperti semula.
"Sesungguhnya Allah menyuruh
kamu untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya." (QS. An-Nisa/4: 58)
- Menjaga Rahasia
Seorang
muslim wajib menjaga rahasia, apakah rahasia pribadi, keluarga, perusahaan,
organisasi, atau lebih-lebih rahasia negara. Dia memeliharanya agar tidak jatuh
ke tangan orang yan tidak berhak mengetahhuinya.
"Apabila seseorang membicaraka
sesuatu kepada orang lain (sambil) menoleh kiri-kanan maka itulah amanah (yang
harus dijaga) (HR.
Abu Daud)
"Sesungguhnya amanah yang
paling besar di sisi Allah pada hari kiamat ialah mnyebarkan rahasia isterinya,
misalnya seorang laki-laki bersetubuh
dengan isterinya, kemudian ia membicarakan kepada orang lain tentang rahasia
isterinya. (HR. Muslim)
- Tidak
Menyalahgunakan jabatan
Jabatan adalah amanah yang wajib dijaga. Segala
bentuk penyalahgunaan amanah baik untuk kepentingan pribadi, keluarga, family,
atau kelompoknya termasuk perbuatan melanggar amanah.
"Barang siapa yang kami pakai untuk suatu
pekerjaan (diangkat sebagai karyawan) dan kami beri upah menurut semestinya,
maka apa yang ia ambil lebih dari yang semestinya, maka itu namanya ghulul
(korupsi)." HR. Abu Daud).
Rasulullah
SAW nenyalahkan tindakan Ibnu Lutbiyah yang mengambil hadiah yang diterimanya
saat menjalankan tugas mengumpulkan zakat.
"…Dengan wewenang yang
diberikan Allah kepadaku, aku mengankat seseorang diantara kalian untuk
melaksanakan suatu tugas, dia datang melapor: 'ini untuk engkau dan ini untukku
sebagai hadiah." Jika ia duduk saja di rumah bapak ibunya, apakah hadia
itu datang sendiri kepadanya, kalau barang itu memang sebagai hadiah? Demi
Allah seseorang tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya, melainkan ia
menghadap Allah nanti pada hari kiamat dengan membawa beban yang berat dari
benda itu… (HR. Muttafaq 'Alaih)
- Menunaikan Kewajiban
Dengan
Baik
Allah SWT memikulkan ke atas pundak manusia tugas- tugas
yang wajib dia laksanakan, baik dalam hubungannya dengan Allah SWT maupun
dengan sesama manusia dan makhluk lainnya. Semua amanah dan tugas
dijalankan dengan sebaik-baiknya
karena dia harus mempertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT. Semuanya akan
dihitung dan beri balasannya.
“Barangsiapa
yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihatnya. Dan
barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun niscaya dia kan
melihatnya (QS. Zilzalah 99:7-8)
- Memelihara Semua Nikmat yang Diberikan Allah
Semua nikmat yang diberikan oleh Allah kepada umat
manusia adalah amanah yang harus dijaga dan dimanfaatkan dengan baik. Umur,
kesehatan, harta benda, ilmu da lain- lain sebagainya, termasuk anak- anak,
adalah amanah yang wajib dipelihara dan dipertanggungjawabkan. Harta benda
misalnya harus kita pergunakan untuk mencari keridhaan Allah, baik untuk
memenuhi kebutuhan sendiri, keluarga maupun untuk kepentingan umat.
C.ISTIQAMAH
Menurut
asal usul kata, istiqamah berasal dari istaqama-yastaqimu
yang artinya tegak lurus. Menurut istilah akhlaq, istiqamah adalah sikap teguh
dalam mempertahankan keimanan dan keislaman sekalipun menghadapi berbagai macam
tantangan dan godaan.
Perintah
untuk beristiqamah dinyatakan
di dalam Al-Qur'an dan Sunnah. Allah
berfirman:
"Maka beristiqamahlah kamu
pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan juga orang yang
telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia
Maha melihat apa yang kamu kerjakan.
(QS. Hud/11: 112)
"Katakanlah: "Bahwasanya
aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu
adalah Tuhan yang Maha Esa. Maka istiqamahlah menuju kapada-Nya dan mohonlah
ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang
menyekutukannya. (Q.S.
Fushilat/41: 6)
Nabi
bersabda:
"Katakanlah: Saya beriman
kepada Allah, kemudian istiqamahlah! (HR. Muslim)
Ujian Keimanan
Uji keimanan itu tidak selamanya dalam bentuk yang tidak
menyenangkan, tapi juga dalam bentuk yang menyenangkan. Keberhasilan bisnis
juga ujian seperti kebrangkutannya.
"Apakah manusia mengira bahwa
mereka dibiarkan saja mengatakan: "Kami telah beriman", padahal mereka tidak diuji?"
(QS. Al-Ankabut/29: 4)
Buah dari Istiqamah
Di
antara buah dari istiqamah disebutkan dalam surat Fushilat/41: 30-32:
"Sesungguhnya orang-orang yang
mengatakan; "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka istiqamah, maka
malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu
merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan
memperoleh sorga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.
(30)
"Kamilah
Pelinduung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu
memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh pula apa yang kamu minta."
(31)
"Sebagai hidangan (bagimu)
dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(32)
Dalam
empat ayat diatas dijelaskan bahwa orang yang beristiqamah dijauhkan oleh Allah
dari rasa takut dan sedih. Tentu rasa takut dan sedih ayat di atas adalah rasa
takut dan sedih yang tidak pada tempatnya, atau takut dan sedih yang negatif.
Misalnya takut menyatakan kebenaran, takut menghadapi masa depan, takut
mengalami kegagalan. Ketakutan seperti itu akan menghambat kemajuan dan bahkan
menyebabkan kemunduran. Seorang tidak akan dapat berbuat apa- apa apabila
selalu dipenuhi rasa takut.
D.
IFFAH
Secara
etimologis, iffah berasal dari bahasa Arab 'iffah yang berarti "kesucian
tubuh."
Secara
terminologis, iffah adalah memelihara kehormatan diri dari segala hal yang akan
merendahkannya. Nilai dan wibawa
seseorang tidaklah ditentukan oleh kekayaan dan jabatannya, dan tidak pula
ditentukan oleh bentuk rupanya, tetapi ditentukan oleh kehormatan dirinya.
Bentuk-bentuk 'Iffah
- Menjaga
kehormatan diri dalam hal seksual antara lain dengan menjaga penglihatan,
pakaian, dan pergaulan; tidak mengunjungi tempat-tempat hiburan yang ada
kemaksiatannya; tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat
menghantarkannya kepada perzinaan.
"Katakanlah kepada orang
laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara
kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi getahui apa ynag mereka
perbuata. Katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman hendaklah mereka
menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya…(QS.
An-Nur/24: 30-32)
- Untuk menjaga kehormatan diri dalam hubungannya
dengan masalah harta, Islam mengajarkan, terutama bagi orang miskin untuk
tidak menadahkan tangan meminta-minta.
- Untuk menjaga kehormatan diri dalam hubungannya
dengan kepercayaan orang lain kepada dirinya, seseorang harus betul- betul
menjauhi segala macam bentuk ketidakjujuran.
E.
MUJAHADAH
Mujahadah
berasal dari bahasa Arab yang artinya mencurahkan segala kemampuan
(jahada-yujahidu-mujahadah-jihad).
Dalam konteks akhlaq, mujahadah diartikan
sebagai mencurahkan segala kemampuan untuk melepaskan diri dari segala hal-hal
yang menghambat pendekatan diri kepada Allah SWT, baik yang bersifat internal,
maupun eksternal.
Hambatan
internal bersumber dari jiwa yang mendorong kepada keburukan (nafsu ammarah
bis-su'). Sedangkan hambatan eksternal
datang dari syaitan, orang munafiq, orang kafir, dan para pelaku kemaksiatan dan kemungkaran.
Untuk mengatasi dan melawan semua hambatan tersebut
diperlukan kemauan keras dan perjuangan yang sungguh- sungguh.
"Dan orang-orang yang
mujahadah/berjuang untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami
tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar
beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-'Ankabut/29: 69)
Objek Mujahadah
Objek
mujahadah antara lain:
1.Jiwa
yang selalu mendorong kepada keburukan.
2.Hawa nafsu yang tidak terkendali
3.Godaan
Syaithan
4.Kecintaan
kepada kehidupan dunia yang berlebihan.
5.Gangguan
orang kafir dan musyrik.
6. Para pelaku kemaksiatan dan kemunkaran, termasuk dari
orang- orang yang mengaku beriman sendiri, yang tidak hanya merugikan mereka
sendiri, tapi juga merugikan masyarakat.
F.
SYAJA'AH
Menurut
bahasa, syaja'ah berati "keberanian"
Keberanin
merupakan sifat hati yang mantap dan percaya diri dalam menghadapi bahaya,
kesulitan dan sebagainya. Keberanian yang dimaksud berlandaskan kebenaran dan pertimbangan yang
masak.
Bentuk-bentuk
Keberanian antara lain:
1.Keberanian
menhadapi musuh dalam peperangan (jihad fi sabilillah)
"Hai oranr-orang yang beriman,
apabila kamu bertemu dengan oranr-orang kafir yang sedang menyerangmu, maka
janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barang siapa yang membelakangi
mereka (mundur) di waktu itu- kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau
hendak menggabungkan diri dengan pasukan lain- maka sesungguhnya orang itu
kembali dengan membawa keurkaan dari Allah, tempatnya ialah neraka jahanam. Dan
itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. (QS. Al-Anfal: 15-16)
2.Keberanian
menyatakan kebenaran sekalian di depan penguasa yang zalim.
" Jihad yang paling utama adalah
memperjuangkan keadilan di depan penguasa yang zalim.
(HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
3. Keberanian
untuk mengendalikan diri ketika marah sekalipun dia mampu melampiaskannya.
" Bukanlah yang dinamakan
pemberani itu yang kuat secara fisik, melainkan sesungguh nya pemberani itu
yang sanggup mengendalikan diri waktu marah. (HR. Muttafaq 'Alaih)
Sumber Keberanian
1.Rasa
takut kepada Allah:
2.Lebih
mencintai akhirat dari pada dunia:
3.Tidak
takut mati:
4.Tidak
Ragu-ragu
5.Menomorsatukan kekuatan materi:
6.Tawakkal dan yakin adanya pertolongan
Allah:
7. Hasil pendidikan
G.
TAWADHU'
Di
dalam bahasa Indonesia, tawadhu' berarti rendah hati (bukan rendah diri), lawan
kata sombong. Orang yang tawadhu' tidak menganggap dirinya lebih (hebat, kaya,
pandai, elok dan sebagainya) dari orang lain, meskipun kenyataannya bisa
demikian.
Rendah
hati bersumber dari kesadaran bahwa apa yang ada pada dirinya, harta, kekayaan,
ilmu, kedudukan dan lainnya berasal dari Allah.Orang yang sombong merasa
dirinya lebih dari orang lain secara berlebihan. Boleh jadi kenyataannya
tidaklah demikian. Orang yang rendah diri adalah orang yang kehilangan
kepercayaan kepada diri sendiri, menganggap dirinya rendah dibanding orang
lain.
Takabur
atau sombong
Takabbur
berasal dari bahasa Arab yang berarti: "kesombongan, keangkuhan"
Takabbur
atau sombong ialah sikap menganggap diri lebih dan memandang remeh orang
lain.
Orang
yang sombong akan menolak kebaikan atau kebenaran yang datang dari orang lain
yang dianggapnya rendah.
Nabi
bersabda:
"Sombong itu menolak
kebenaran, dan melecehkan orang lain." (HR. Muslim)
"Tidak masuk sorga orang yang
di dalam hatinya ada sifat sombong." (HR. Mslim)
H. MALU
Malu adalah sifat atau perasaan yang menimbulkan
keengganan melakukan sesuatu yang rendah atau tidak baik. Orang yang memiliki
rasa malu, apabila melakukan sesuatu yang tidak patut, rendah atau tidak baik
dia akan terlihat gugup, atau mukanya merah.
“ sesungguhnya semua agama itu mempunyai
akhlaq, dan akhlaq Islam itu adalah sifat mau.”(HR.Malik)
I.
SABAR
Kata
sabar berasal dari bahasa Arab "shabr" yang artinya "menahan dan
mengekang". Menurut istlah, sabar
berarti menehan diri dari segala sesuatau yang tidak disukai karena meng harap
ridha Allah. Sabar tidak hanya terhadap hal-hal yang sering disebut musibah,
seperti sakit, kematian, kemiskinan, dan sebagainya, tetapi juga terhadap
hal-hal yang sering dipandang sebagai nikmat, seperti harta kekayaan, kedudukan
dan sebagainya.
Macam-macam sabar
1. Sabar menerima cobaan hidup
2. Sabar menahan hawa nahsu
3. Sabar dalam taat kepada Allah SWT
4. Sabar dalam berdakwah
5. Sabar dalam perang
6. Sabar dalam pergaulan
J. PEMAAF
Kata
"maaf " berasal dari bahasa Arab " 'afwun " yang berarti
"kelebihan atau berlebih."
Misalnya kata 'afwun dalam Surat Al-Baqarah ayat 219:
"Dan mereka bertanya kepadamu
apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " yang lebih dari keperluan."…
(QS. Al-Baqarah/2: 219)
Pemaaf
adalah sikap suka memberi maaf terhadap kesalahan orang lain tanpa ada
sedikitpun rasa benci dan keinginan untuk membalas.
Islam mengajarkan kepada kita untuk dapat memaafkan
kesalahan orang lain tanpa harus menunggu permohonan maaf dari yang bersalah.
Menurut M.Quraish Shihab, tidak ditemukan satu ayatpun yang menganjurkan untuk
meminta maaf, tetapi yang ada adalah perintah untuk memberi maaf.
BAB V
(AKHLAQ DALAM KELUARGA)
- BIRRUL WALIDAIN
Kata
"birr" berarti"kebajikan", dan "al-walidain"
artinya "dua-orang tua atau ibu bapak."
Berbakti
kepada ibu bapak menempati kedudukan istimewa dalam ajaran Islam. Terdapat ayat-aya Al-Qur'an dan hadis yang
menjelaskan haltersebut, antara lain:
"Sembahlah Allah dan janganlah
kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua
orang ibu-bapa, …" (QS. An-Nisa/4: 36)
"Diriwayatkan dari Abi 'Abdirrahman Abdullah
bin Mas'ud ra, dia berkata: "Aku bertanya kepada Nabi saw: Apa amalan yang
paling disukai oleh Allah SWT? Beliau menjawab; "Shalat tepat pada
waktunya." Aku bertanya lagi; Kemudia apa? Beliau menjawab: "Birrul
walidain." Kemudian aku bertanya lagi: seterunya apa lagi? Beliau
menjawab: "jihad fi sabililah."
(HR. Muttfaq 'alaih)
Bentuk-bentuk Birrul walidain
antara lain:
1. Mengikuti keinginan dan saran orang tua
yang tidak bettentangan dengan ajaran Islam. (QS. Luqman/31: 15)
" Dan jika keduanya memaksamu
untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang
itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia
dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya
kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu
kerjakan."
2. Menghormati dan memuliakan dua orang
tua dengan penuh kasih saying. (QS. Luqman/31: 14)
3. Membantu dua orang tua secara fisik dan
meteriil.
4. Mendo'akan mereka.
5. Apabila
mereka telah meninggal:
a. Menyegerakan pemakaman jenazahnya.
b. Melunasi hutanh-hutangnya.
c. Melaksanakan wasiatnya..
d. Melestarikan silaturahmi yang telah
dibangun mereka.
e. Menghormati sahabat-sahabatnya.
f. Mendoakan mereka.
"Ya Rasulallah, adakah sesuatu
keebaikan yang masih dapat saya kerjakan untuk ibu bapak saya setelah keduanya
meninggal dunia? Rasulullah menjawab: "Ada, yaitu: Menshalatkan
jenazahnya, memintakan ampun baginya, menunaikan janjinya, meneruskan
silaturahimnya dan memuliakan sahabatnya." ( HR ABU DAUD)
'Uququl walidain
Durhaka
kepada dua orang tua merupakan salah satu dosa besar setelah menyekutukan Allah
"Dosa-dosa besar adalah:
mempersekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh orang, dan
sumpah palsu." (HR. Bukhari)
B.
Hak,
Kewajiban dan Kasih Sayang Suami Isteri
1. Hak saling menikmati hubungan dengan
baik termasuk hubungan seksual.
2. Hak saling mewarisi. Suami wewarisi
isteri, dan isteri mewarisi suami. Hubungan saling mewaris hanya berlaku dalam
perkawinan yang sah.
3. Hak nasab anak yang dilahirkan dalam
perkawinan adalah anak berdua.
Kewajiban suami Kepada Isteri
1. Nafkah
2. Bergaul dengan isteri dengan cara yang
baik (ihsanul-mu'asyarah).
3. Membimbing dan mendidik keagamaan
isteri. Seorang suami adalah pemimpin rumah tangga. Ia bertanggung jawab di
hadapan Allah untuk mendidik dan mengajar isterinya agar menjadi wanita yang
shalihah.
Kewajiban Isteri kepada Suami
1. Patuh kepada suami selama tidak dibawa
kepada kemaksiatan.
2. Bergaul dengan suami dengan cara yang
baik (makruf).
3. Menjaga dirinya, dan harta suaminya
jika suami tidak berada di rumah.
- KASIH SAYANG DAN TANGGUNG
JAWAB ORANG TUA TERHADAP ANAK
Anak
adalah amanah Allah yang harus dipertanggungjawabkan setiap orang, tempat
mencurahkan kasih-sayang, dan tabungan akhirat. Oleh sebab itu dia berkewajiban
untuk membesarkan, memelihara, merawat, dan mendidik putra-purinya dengan
sebaik-baiknya.
Hubungan orang tuan dan anak secara garis
besar dapat diklasifikasi kedalam tiga hal pokok:
1. Hubungan
Tanggung Jawab
2. Hubungan
Kasih Sayang
3. Hubungan
Masa Depan
Anak Dalam Al-Qur'an
1. Anak
Sebagai Perhiasan hidup Dunia
2. Anak
Sebagai Ujian
3. Anak
sebagai Musush
4. Anak
sebagai Cahaya Mata (qurrata a'yun)
C. SILATURRAHIM
DENGAN KARIB KERABAT
Silaturahim
berasal dari bahasa Arab shillah yang berarti "hubungan, jalinan,"
dan rahim yang artinya "peranakan". Dalam bahasa Indonesi,
silaturahim, atau silaturahmi, berarti menjalin tali persaudaraan.Keluaga dalam
konsep Islam adalah, extended family yang tidak hanya terdiri dari suami,
isteri, dan anak(nuclear family/keluarga inti), tapi juga mencakup ke atas:
kakek dan nenek, ke bawah: cucu-cicit, ke samping kakak, adik, keponakan,
sepupu dan sebagainya.
Bentuk-bentuk Silaturrahim
1. Berbuat baik (ihsan) terutama
memberikan bantuan materiil untuk memenuhi kebutuhan hidup.
2. Memelihara dan meningkatkan kasih
sayang, saling hormat dan menghormati, kunjung-mengunjungi, membantu dan kerjasama.
BAB VI
(AKHLAQ BERMASYARAKAT)
- BERTAMU DAN
MENERIMA TAMU
Bertamu
Islam
mengajarkan agar sebelum bertamu atau memasuki rumah seseorang, terlebih dahulu
meminta izin dan mengucapkan salam kepada penghuninya.
"Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan
memberi salam kepada penghuninya. yang demikian itu lebih baik bagimu, agar
kamu (selalu) ingat." (QS. An-Nur/24: 27)
Jika
sang penghuni sedang tidak di rumah, atau tidak bersedia menerima tamu, maka
tamu tidak diperbolehkan mendesak, atau memaksakan keinginannya untuk bertamu.
"jika kamu tidak menemui
seorangpun didalamnya, Maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin.
dan jika dikatakan kepadamu: "Kembali (saja)lah, Maka hendaklah kamu
kembali. itu bersih bagimu dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan." QS.
An-Nur/24: 28)
Menerima Tamu
Menerima
dan memuliakan tamu dalam Islam dipandang sebagai perbuatan mulia, dan
dianjurkan. Oleh Nabi Muhammad SAW
memuliakan tamu dijadikan salah satu tugas seorang mukmin.
"Barang sapa yang beriman
kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Barang siapa
yang beriman kepada Allad dan Hari akhir hendaklah ia memuliakan tetangganya.
Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia
memuliakan tamunya.
(Hr. bukhari dan Muslim)
- HUBUNGAN BAIK
DENGAN TETANGGA
Tetangga
adalah pihak terdekat setelah anggota keluarga sendiri. Merekalah yang
diharapkan lebih dahulu memberpertolongan atau bantuan ketika memerlukan.
Misalnya ketika kita mengadakan hajatan, atau menitipkan rumah.
- HUBUNGAN BAIK
DENGAN MASYARAKAT
Kewajiban
Sosial Sesama Muslim:
"Kewajiban seorang Muslim atas
Muslim lainnya ada lima: menjawab salam, mengunjungi orang sakit, mengiring
jenazah, memenuhi uundangan, dan menjawab orang yang bersin."
(HR. Khamsah)
1. Mengucapkan dan menjawab salam.
2. Mengunjungi orang sakit.
3. Mengiring jenazah.
4. Menjawab/mengabulkan undangan.
5. Menyahut orang yang bersin.
D.
Pergaulan Muda- Mudi
Dalam
pergaulan sehari- hari ditengah- tengah masyarakat, terutama antar muda- mudi,
ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian khusus di samping ketentuan umum
tentang hubungan bermasyarakat yang lainnya yaitu tentang mengucapkan dan
menjawab salam, bejabatan tangan dan khalwah. Pembahasan tentang pergaulan
muda- mui dalam fasal ini penulis fokuskan pada tiga hal tersebut.
Mengucapkan dan Menjawab Salam
“
Kamu tidaklah akan masuk sorga sebelum beriman, dan tidak akan beriman sebelum
berkasih sayang. Maukah kamu aku tunjukkan suatu amalan yang akan dapat memupuk
rasa kasih sayang sesamamu? Yaitu senantiasalah mengucapkan salam sesamamu.” (HR.Muslim)
BAB VII
(AKHLAQ BERNEGARA)
A.
MUSYAWARAH
Secara
etimologis, musyawarah (musyawarah) berasal
dari kata syawara yang pada mulanya
bermakna mengeluarkan madu dari sarang lebah. Makna ini kemudian berkembang
sehingga mencakup segala sesuatu yang dapat diambil atau dikeluarkan dari yang
lain termasuk pendapat.
Arti penting musyawarah
Musyawarah
atau syura adalah sesuatu yang sangat penting guna meciptakan peraturan di
dalam masyarakat mana pun. Setiap Negara maju yang menginginkan keamanan,
ketentraman, kebahagiaan, dan kesuksesan bagi rakyatnya, tetap memegang prinsip
musyawarah ini .
Lapangan musyawarah
Berbeda
dengan teori demokrasi pada umumnya, di mana segala sesuatu bisa dan harus
dimusyawarahkan supaya terwujud kehendak mayoritas dalam rangka menegakkan
kedaulatan rakyat, maka Islam memberikan batasan hal-hal apa saja yang boleh
dimusyawarahkan.
Tatacara Musyawarah
Tentang
tata cara musyawarah serta keharusan mengikuti tatacara itu, tidak ada nash
Al-Qur’an dan Sunnah yang menerangkannya. Juga
tidak ada nash yang mengharuskan ditetapkannya jumlah anggota majelis
permusyawaratan dan cara menghadirkan para anggota.
Beberapa sikap Musyawarah
1. Lemah lembut
2. Pema’af
3.Mohon Ampunan Allah SWT
B.
MENEGAKAN
BADAN
Keadilan dalam segala hal :
1. Adil terhadap diri sendiri
2. Adil terhadap isteri dan anak
3. Adil dalam mendamaikan
perselisihan
4. Adil dalam berkata
5. Adil terhadap musuh sekalipun
C. AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR
Secara
harfiah amar ma’ruf dnahi munkar berarti menyuruh kepada yang ma’ruf dan
mencegah dari yang munkar.
Munkar
secara etimologis berarti yang dikenal , sebaliknya munkar adalah sesuatu yang
tidak dikenal. Terlihat dari dua definisi di atas , bahwa yang menjadi ukuran
ma’ruf atau munkarnya sesuatu ada dua, yaitu agama dan akal sehat atau hati
nurani.
Perintah dan kedudukan Amar Ma’ruf
dan Nahi Munkar
Amar
ma’ruf nahi munkar adalah kewajiban orang-orang yang beriman , baik secara
individual dan kolektif. Allah SWT berfirman ;
“Dan hendaklah ada diantar kamu
segolongan umat yang menyeru lepada kebajikan , dan menyuruh kepada yang ma’ruf
dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung”
(QS Ali Imran 3:104)
- HUBUNGAN PEMIMPIN DAN YANG DIPIMPIN
Al-Qur’an
menjelaskan bahwa Allah SWT adalah pemimpin orang-orang yang beriman :
“Allah pemimpin orang-orang yang
beriman ; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya . Dan
orang-orang yang kafir , pemimpin –pemimpin mereka adalah thagut, yang
mengeluarkan mereka dari cahaya
kegelapan . Mereka itu adalah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya
(QS Al- Baqarah 2;257)
KRITERIA PEMIMPIN
1.
Beriman Kepada Allah SWT
2.
Mendirikan Shalat
3.Membayar
zakat
4.
Selalu tunduk patuh kepada Allah SWT
Kepatuhan
Kepada Pemimpin
Kepemimpinan Allah SWT dan Rasul-Nya adalah kepemimpinan
yang mutlak diikuti dan dipatuhi. Sedangkan kepemimpinan orang- orang yang
beriman adalah kepemimpinan yang nisbi(relatif), kepatuhan kepadanya tergantung
dengan paling kurang dua faktor: faktor kualitas dan integritas pemimpin itu
sendiri, faktor arah dan corak kepemimpinannya.
Persaudaraan
antara Pemimpin dan yang Dipimpin
Sekalipun
dalam struktur bernegara ada hirarki kepemimpinan yang mengharuskan umat atau
rakyat patuh pada pemimpinnya, tetapi dalam pergaulan sehari- hari hubungan
antara pemimpin dan yang dipimpin tetaplah dilandaskan kepada prinsip- prinsip
ukhuwah islamiyah, bukan prinsip atasan dengan bawahan, atau majikan dengan
buruh, tetapi prinsip sahabat dengan sahabat. Demikianlah yang dicontohkan oleh
Rasulullah saw.

0 komentar:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.