Home » » RANGKUMAN BUKU KULIAH AKHLAQ

RANGKUMAN BUKU KULIAH AKHLAQ

Written By Berbagi ide muda Berkarya on Jul 4, 2014 | 11:35 PM


BAB I
(PENDAHULUAN)
  1. AKHLAQ
Secara etimologis , “akhlaq”  berasal dari kata (bahasa Arab) akhlaq yang merupakan bentuk jamak atau  dari kata khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabiat. Berakar dari kata khaliq (Pencipta) , makhluq (yang diciptakan) dan khalq (penciptaan) .
Dari pengertian etimologis ini, akhlaq bukan saja merupakan tata aturan atau norma perilaku yang mengatur hubungan antar sesame manusia, tetapi juga norma yang mengatur hubungan antar sesama manusia dengan Tuhan dan bahkan alam semesta sekalipun .
Secara terminologis ishtilahan (menurut istilah) ada beberapa pengertian, antara lain:
1.         Imam al- Ghazali:  "Akhlaq adalah sifat yang meresap dalam jiwa yang menimbulkan  perbuatan- perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan dan pertimbangan."
2.         Ibrahim Anis: "Akhlaq adalah sifat yang tertanam  dalam jiwa, yang dengannya lahirlah bermacam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan."
3.         Abdul Karim Zaidan: “(Akhlaq) adalah nilai-nilai dan sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengan sorotan dan timbangannya seseorang dapat menilai perbuatannya baik atau buruk, untuk kemudian memilih melakukan atau meninggalkannya .
             Ketiga definisi yang dikutip di atas sepakat menyatakan bahwa Akhlaq atau khuluq itu adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia, sehingga dia akan muncul secara spontan bilamana diperlukan, tanpa memerlukan pemikiran atau pertimbangan lebih dahulu, serta  tidak memerlukan oemikiran atau pertimbangan lebih dahulu,  serta tidak memerlukan dorongan dari luar. Disamping istilah akhlaq, juga dikenal istilah etika dan moral. Ketiga istilah itu sama-sama menentukan nilai baik dan buruk sikap dan perbuatan manusia. Perbedaannya terletak pada standar masing- masing. Bagi akhlaq standarnya adalah Al- Qur’an dan Sunnah; bagi etika standarnya pertimbangan akal pikiran; dan bagi moral standarnya adat kebiasaan yang umum berlaku di masyarakat.
B.   SUMBER AKHLAQ
Yang dimaksud dengan sumber akhlaq adalah yang menjadi ukuran baik dan buruk, atau mulia dan tercela. Sebagaimana keseluruhan ajaran Islam, sumber akhlaq adalah al-Qur'an dan Sunnah. Bukan akal pikiran  atau pandangan masyarakat sebagaimana pada konsep etika dan moral. Dan pula karena baik atau buruk dengan sendirinya sebagaimana pandangan Mu’tazilah.
C.     RUANG LINGKUP AKHLAQ
Muhammad ‘Abdulllah Draz dalam bukunya Dustur al-Akhlaq fi’al-Islam membagi ruang lingkup akhlaq kepada lima bagian :
1. Akhlaq Pribadi . Terdiri dari : a) yang diperintahkan, b) yang dilarang. c) yang dibolehkan, d) akhlaq dalam keadaan darurat
2.  Akhlaq Berkeluarga . Terdiri dari : a) kewajiban timbal balik orangtua dan anak, b) kewajiban suami isteri, c) kewajiban terhadap karib kerabat
3. Akhlaq Bermasyarakat. Terdiri dari : a) yang dilarang, b)yang diperintahkan, c) yang diperintahkan, c) kaedah-kaedah adab.
4.  Akhlaq Bernegara. Terdiri dari a) hubungan antara pemimpin dan rakyat, b) hubungan luar negeri
5.  Akhlaq Beragama. Yaitu kewajiban terhadap Allah SWT.
D. KEDUDUKAN DAN KEISTIMEWAAN AKHLAQ DALAM ISLAM
Dalam keseluruhan ajaran Islam Akhlaq menempati kedudukan yang istimewa dan sangat penting dalam Islam.  Di antaranya:
a.Rasullah saw menempatkan penyempurnaan akhlaq yang mulia sebagai misi pokok Risalah Islam .Beliau Bersabda :
  ("Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia."(HR. Baihaqi)
b. Akhlaq merupakan salah satu ajaran pokok agama Islam.
(“ Ya Rasulullah, apakah agama itu? Beliau menjawab: (Agama adalah) Akhlaq yang baik.”
c. Akhlaq yang baik akan memberatkan timbangan kebaikan seseorang nanti pada hari kiamat. Rasulullah saw bersabda:
  ("Tidak ada sesuatu yang lebih berat di dalam timbangan (kebaikan) seorang  hamba mukmin pada Hari Kiamat dari pada akhlaq yang baik.")  (HR Tirmidzi)
d. Rasulullah saw menjadikan buruknya Akhlaq seseorang sebagai ukuran kualitas imannya.
 ("Orang mukmin yang paling sempurna adalah yang paling  baik akhlaqnya." (HR. Tirmidzi)
e. Islam menjadikan akhlaq yang baik sebagai bukti dan buah dari  ibadah kepada Allah SWT.
("…dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah (prbuatan-perbuatan) keji dan munkar." (QSAL-'Ankabut 29: 45)
f. Nabi Muhammad saw selalu berdoa agar Allah SWT membaikkan akhlaq beliau. Salah satu doa beliau adalah:
“(Ya Allah) tunjukilah aku(jalan menuju) akhlaq yang baik, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat memberi petunjuk( menuju jalan) yang lebih baik selain Engkau. Hindarkanlah aku dari akhlaq yang buruk, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat menghindarkan aku dari akhlaq yang buruk kecuali Engkau.” (HR.Muslim)
E.   CIRI- CIRI AKHLAQ DALAM ISLAM
Di samping kedudukan dan keistimewaan akhlaq yang sudah diuraikan fasal sebelumnya maka akhlaq dalam Islam paling kurang juga memiliki lima cirri-ciri khas yaitu
1. Akhlaq Rabbani: Ajaran yang bersumbet dari wahyu Illahi yang termaktub dalam Al-Qur’an dan Sunnah
2. Akhlaq Manusiawi : Ajaran akhlaq dalam Islam sejalan dan memenuhi tuntunan Fitrah manusia
3. Akhlaq Universal : Ajaran akhlaq dalam Islam sesuai dengan kemanusiaan yang universal dan  mencakup segala spek kehidupan manusia baik yang dimensinya vertikal maupun horisontal
4. Akhlaq Keseimbangan : Ajaran akhlaq dalam Islam berada ditengah antara hati nurani dan akal
5. Akhlaq Realistik : Ajaran akhlaq dalam Islam memperhatikan kenyataan hidup manusia.

BAB II
(AKHLAQ TERHADAP ALLAH SWT)
A.     TAKWA
Definisi taqwa yang paling popular adalah “memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya."
Afif Abd Al-Fattah Thabbarah mendefinisikan taqwa dengan :
“Seseorang memelihara dirinya dari segala sesuatu yang mengundang kemarahan Tuhannya dan dari segala suatu yang mendatangkan mudharat, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang-orang lain “
Buah dari Taqwa
            Seseorang yang bertaqwa kepada Allah SWT akan memetik buahnya, biak di dunia maupun akhirat. Buah itu antara lain:
1.Mendapatkan sikap "furqan", sekap tegas membadakan anatara yang hak dan batil, benar dan salah, halal dan haram serta terpuji dan tercela.
"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu "furqan" dan menghapuskan segala kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar." (QS. Al-Anfal: 29)
2.Mendapatkan limpahan berkah dari langit dan bumi
"Jikalau sekiranya penduduk negeri- negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (QS. Al-A'raf 7: 96)
3.Mendapatkan jalan keluar dari kesulitan
"Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan membuatkan baginya jalan keluar." (QS.  At-Thalaq 65; 2)
4.Mendapatkan rezeki tanpa diduga-duga
"…Dan Dia akan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangka"(QS At-Thalaq 65: 3)
5. Mendapatkan kemudahan dalam urusannya
"Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya kebudahan dala urusannya." ( QS. At-Thalaq65: 4)
B.     CINTA DAN RIDHA
Cinta adalah kesadaran diri, perasaan jiwa dan dorongan hati yang menyebabkan seseorang hatiya kepada apa yang dicintainya dengan penuh semangat dan rasa kasih sayang.
Dalam hal ini Allah SWT berfirman :
“Adapun orang-irang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah “ (QS Al Baqarah 2: 165)


C.      IKHLAS
Secara etimologis, kata ikhlas berasal dari (bahasa Arab) akhlasha-ikhlash yang berarti membersihkan, menjernihkan, atau memurnikan. Secara terminologis, ikhlash adalah beramal semata-mata mengharapkan ridha Allah SWT. Dalam bahasa populernya ikhlas adalah berbuat tanpa pamrih; hanya semata mata mengahrapkan ridha Allah SWT.
Tiga Unsur Keikhlasan
  1. Niat yang Ikhlash (ikhlashun- niyah). Semua perbuatan yang dilakukan seorang muslim haruslah dilandasi niat yang ikhlash, semata-mata mengharap ridha Allah SWT.
"Sesunggguhnya setiap amal perbuatan tergantung kepada apa yang diniatkan….."
(HR. Bukhari dan Muslim)
  1. Beramal dengan sebaik-baiknya (itqanul-'amal). Seorang muslim yang telah niat dengan ikhlas untuk melakukan suatu perbuatan, harus membuktikannya dengan melakukan sebaik-baiknya. Mengerjakan sesuatu seenaknya, asal-asalan, tanpa memerhatikan kualitas kerja bertentangan dengan dasar keikhlasan.
"Sesungguhnya Allah SWT menyukai, apabila seseorang beramal, dia melakukannya dengan sebaik-baiknya." (HR. Baihaqi)
  1. Memanfaatkan hasil usaha dengan tepat (jaudatul-ada').
Hasil yang diperoleh seorang muslim haruslah dimanfaatkan untuk kepentingan-kepaentingan yang diridhai Allah SWT.
"Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam." (QS. Al-An'am 6: 162)
"Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Merka bermaksud riya dihadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali." (QS. An-Nisa/4: 142)
"Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerimanya) seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian hujan itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu apapun dari apa yang mereka usahakan. Dan Allah tidak memberi member petunjuk orang-orang kafir ." (QS.  Al-Baqarah/2: 264)
D. KHAUF DAN RAJA
Sepasang sikap batin yang harus dimiliki secara seimbang oleh setiap Muslim. Bila salah satu dominan dari yang lainnya akan melahirkan pribadi yang tidak seimbang.
Khauf adalah kegalauan hati membayangkan sesuatu yang tidak disukai yang akan menimpanya, atau membayangkan hilangnya sesuatu yang disukanya (faza’al-qalb min makruh yanaluh au min mahbub yafutuh).
“ Sesungguhnya aku orang yang paling mengenal Allah di antara kalian, dan aku pulalah yang paling takut di antara kalian kepada-Nya.” (HR.Tirmidzi)
Selanjutnya, menurut Sayyid Sabiq, ada dua dampak positif dari khauf:
1.                           Melahirkan keberanian menyatakan kebenaran dan memberantas kemungkaran secara tegas tanpa ada rasa takut pada makhluk yang menghambatnya.
2.                           Menyadarkan manusia untuk tidak meneruskan kemaksiatan yang telah dilakukannya dan menjauhkannya dari segala macam bentuk kefasikan dan hal-hal yang diharamkan oleh ALLAH SWT
Raja’
Ra’ja atau harapa adalah memautkan hati kepada sesuatu yang disukai pada masa yang akan datang.
“Sesungguhnya orang- orang yang beriman, orang- orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Pengampun Lagi Maha Penyayang.” (QS.AL-Baqarah 2: 218)
E. TAWAKKAL
Secara terminologis, taqwa adalah membebaskan hati dari ketergantungan kepada selain Allah dan menyerahkan  keputusan segala sesuatu kepada-Nya.
"Dan kepunyaan Allah lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya  lah semua urusan dikembalikan, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-sekali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan." (QS. Hud/11: 123)
"…Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriiiman."  (QS Al Maidah 5:23)
Tawakkal dan Ikhtiar
Tawakkal kepada Allah harus berdasarkan kerja keras dan usaha maksimal (ikhtiar). Berpangkutangan, menunggu nasib bertentangan dengan hakekat tawakkal.
Contoh:
Suatu ketika pada masa Rasulullah SAW ada seorang badui yang membiarkan untanya tidak diikat. Menurutnya itulah perujudan dari twakkal.  Rasulpun menegurnya:
"Ikat dan tawakkallah! (HR. Tirmidzi. Ibnu khuzaimah, dan Thabrani)
“ Hai orang- orang beriman, bersiap siagalah kamu dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok kelompok, atau majulah bersama- sama.” (QS.An-Nisa 4:71)
Hikmah Tawakkal
Sikap tawakkal melahirkan ketenangan batin. Jika seseorang telah menyusun suatu rencana secara matang, melaksanakannya dengan sungguh-sungguh dan disiplinn tinggi, kemudian menyerahkannya kepada Allah, maka jika ternyata hasilnya belum seperti yang diharapkan insyaallah dia akan menghadapinya dengan sabar. Demikian juga sebaliknya jika berhasil, dia akan bersyukur. Sikap tawakkal melahirkan percaya diri dan optimisme. Keyakinan bahwa ikhtiar ( kerja keras dan usaha maksimal) merupakan kewajiban manusia, sedangkan hasilnya ada di tangan Allah menumbuhkan sikap percaya diri dan optimism menghadapi segala kemungkinan.
Orang yang bertawakkal akan dilindungi oleh Allah SWT.
"…Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah nicaya Allah mencukupkan (keperluan)nya." (QS. At-Thalaq/65: 3)
F.         SYUKUR
Syukur ialah memuji si pemberi nikmat atas kebaikan yang telah dilakukannya. Syukurnya seorang hamba berkisar atas tiga hal, yang apabila ketiganya tidak berkumpul, maka tidaklah dinamakan bersyukur, yaitu: mengakui nikmat dalam batin, membicarakannya secara lahir, dan menjadikannya sebagai sarana untuk taat kepada Allah. Menurut bahasa, syukur berasal dari kata Arab syakara yang berarti: berterimakasih, memuji.
Menurut istilah syukur ialah memuji sipemberi nikmat atas kebaikan yang telah dilakukannya.
Tiga Dimensi Syukur
Syukur harus melibatkan tiga dimensi yaitu hati, lisan dan jawarih (anggota badan)
Keutamaan Syukur
Bersyukur pada hakekatnya untuk kepentingan manusia sendiri
"Dan ingatlah, tatkala Tuhanmu memklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat)kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku),maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim/14: 7)



G.  MURAQABAH
Secara etimologis, muraqabah berasal darr raqaba yang berarti menjaga, mengawal, menanti dan mengamati.
Secara terminologis muraqabah adalah kesadaran seorang muslim bahwa dia selalu dalam pengawasan Allah SWT.
"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, Dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya, dan ditak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (lauh mahfuzh). QS. Al-An'am/6; 59)
"… Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. An-Nisa/4: 1)
"… Dan Allah Maha Mengawasi segala sesuatu. (QS. Al-Ahzab/33: 52)
H.        TAUBAT
Kata taubat berasal dari kata taba yang berarti kembali. Di dalam bahasa Arab terdapat kata lain yang searti dengan taba, yakni anaba. Orang yang bertaubat kepada Allah berarti kembali dari segala yang tidak diridhai Allah kepada yang diridhai-Nya.
"Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QSAn-Nur/24: 31)
"Hai orang-orang yang beriiman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang benar-benar, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu, dan memasukkan kamu ke dalam sorga yang mengalir di bawahnya  sungai-sungai…" (QSAt-Tahrim/66: 8)
"Setiap manusia (dapat berbuat) salah. Dan sebaik-baik orang bersalah adalah yang bertaubat." (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim).


Lima Dimensi Taubat
a. Menyadari kesalahan.
b. Menyesali kesalahan.
c. Memohon Ampun kepada Allah.
d. Bertekan untuk dtidak mengulangi kesalahan.
e. Mengubur kesalahan dengan amal shaleh.















BAB III
(AKHLAQ TERHADAP RASULULLAH SAW)
A.     MENCINTAI DAN MEMULIAKAN RASUL
Setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah SWT tentulah harus beriman bahwa Muhammad saw adalah Nabi dan Rasulullah yang terakhir, penutup sekalian nabi dan rasul; tidak ada lagi nabi, apalagi rasul sesudah beliau (QS. Al-Ahzab 33:40). Beliau diutus oleh Allah SWT untuk seluruh umat manusia sampai hari Kiamat nanti (QS.Saba 34:28). Kedatangan beliau sebagai utusan Allah merupakan rahmat bagi alam semesta (QS. Al-Anbiya 21: 107)
"Tidak beriman salah seorang di antara kalian sebelum aku lebih dicintai dari pada dirinya dan semua manusia." (HR. Bukhari, Muslim , dan Nasa'i)
              "Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, sanak-saudara, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang  kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik." (Q.S. At-Taubah/9: 24)
B.     MENGIKUTI DAN MENAATI RASUL
" Dan kami tidak mengutus seorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizing Allah
(QS. An-Nisa/4: 64)
"Apa yang diberikan Rasul padamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya." (QS. Al-Hasyr/59: 7)
“Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat.” (HR. Bukhari)
"Aku tinggalkan kepada kamu sekalian dua hal, kamu sekalian tidak akan sesat selamanya jika berpegang teguh dengannya, yaitu Kitab Allah dan Sunnahku." (HR.Hakim)
C.      MENGUCAPKAN SHALAWAT DAN SALAM
"Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang beriman bershalawatlah kamu kepada Untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab/33; 56)
Perintah untuk bershalawat dan salam kepada nabi Muhammad saw  dalam ayat di atas diawali oleh Allah SWT dengan pernyataan bahwa Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat kepada beliau. Hal itu di samping menunjukan betapa mulia dan terhormatnya kedudukan beliau disisi Allah SWT, juga menunjukan betapa pentingnya perintah bershalawat  dan salam itu kita lakukan.
Pengertian kata "shalawat'' merupakan bentuk jamak dari "shalah" yang berarti: "do'a," "istighfar," dan "rahmah." Berdasar kan makna-makna yang tersebut, maka shalawat dari Allah SWT. bagi Nabinya, berarti memberinya rahmat; shalawat para Malaikat berarti istighfar (permohonan maaf); dan shalawat dari orang mukmin atas nabi berarti do'a dan penghormatan.
 Selain do'a dan penghormatan bagi Nabi, kebaikan shalawat juga akan kembali kepada yang mengucapkan.
"Sesungguhnya orang yang paling utama kepadaku nanti pada Hari Kiamat adalah orang yang paling banyak bershalawat kepadaku." (HR. Tirmidzi)
"Yang benar-benar orang pelit adalah orang yang ketika namaku disebut di dekatnya dia tidak mengucapkan shalawat kepadaku." (HR Tirimizi dan Ahmad)
Waktu dan Teks Shalawat dan Salam
  1. Teks salam;
"Semoga kesalamatan bagi engkau, wahai Nabi, serta rahmat dan berkah Allah."
  1. Teks Shalawat;
"Ya Allah limpahkanlah rahmat-Mu kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah melimpahkannya kepada Ibrahim dan keluarganya. Dan berkahilah Muhammad dan keluarganaya sebagaimana Engkau telah melimpahkannya kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha mulia”.
Contoh teks yang dibacaTatkala mendengar nama Nabi disebut adalah:
"Semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepada beliau."
Atau
"Ya Allah berilah shalawat dan salam kepada beliau."

BAB IV
(AKHLAQ PRIBADI)
A.  SHIDIQ
Shidiq (ash-shidqu) artinya benar atau jujur, antonim dusta/bohong (al-kidzbu). Seorang Muslim dituntut selalu berada dalam keadaan benar lahir batin; Benar hati (shidq al-qalb), benar perkataan (shidq al- hadits) dan benar perbuatan (shidq al-amal). Antara hati dan perkataan harus sama, tidak boleh berbeda, apalagi antara perkataan dan perbuatan.
Rasulullah SAW. bersabda:
" Kamu sekalian harus bersikap jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke sorga. Seseorang yang selalu jujur dan mencari kejujuran akan ditulis oleh Allah sebagai yang jujur (shiddiq). Dan jauhilah sifat bahong, karena kebohongan membawa kepada kejahatan dan kelahatan membawa ke neraka. Orang yang selalu bohong dan mencari-cari kebohongan akan ditulis oleh Allah sebagai sebagai pembohong (kadzdzab). (HR. Bukhari)
1. Bentuk-bentuk shidiq:
a. Benar dalam perkataan (shidqul-hadits)
"Tanda-tanda orang munafiq ada tiga: jika berbicara, dusta; jika berjanji ingkar, dan jika diberi kepercayaan, berkhianat." (HR. Muttafaqun 'Alaih)
b. Benar Pergaulan (shidqu-l mu'amalah)
Seorang Muslim akan selalu bermu’amalah dengan benar; tidak menipu, tidak khianat dan tidak memalsu, sekalipun kepada non muslim.
      c. Benar Kemauan (shidqul-'azm)
Sebelum melakukan suatu tindakan, seorang mukmin mempertimbangkannya lebih dahulu, baik-buruknya, manfaat –madharatnya.  Apabila sudah yakin, dia akan melaksanakannya tanpa ragu-ragu. Apabila yakin dan bermanfaaat.
d.      Benar Janji (shidqul-wa'd)
“Barang siapa yang berkata kepada anak kecil, mari kemari, saya beri korma ini. Kemudian dia tidak memberinya, maka dia telah membohongi anak itu”, (HR.Ahmad)
e.            Benar Kenyataan(sidq al-hal)
Seorang Muslim akan menampilkan dirinya  sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Dia tidak akan menipu kenyataan,tidak mencari nama, tidak dibuat-buat, dan jauh dari kepalsuan.

BENTUK BENTUK KEBOHONGAN
a.Khianat
b.Mungkir janji
c.Kesaksian palsu
d.Fitnah
e.Gunjingan (ghibah)

B.
AMANAH
Amanah artinya dipercaya, seakar dengan kata iman. Sifat amanah memang lahir dari kekuatan iman. Semakin menipis kemiskinan seseorang semakin pudar pula sifat amanah pada dirinya. Antara keduanya terdapat kaitan yang sangat erat sekali. Rasulullah saw bersabda:
"Tidak (sempurna) iman seseorang yang tidak amanah (tidak bisa dipercaya), dan tidak (sempurna) agama seseorang yang tidak menunaikan janji." (HR Ahmad)
            Amanah dalam pengertian  secara sempit adalah memelihara titipan dan mengembalikannya kepada pemiliknya dalam bentuk semula. Pengertiannya secara luas meliputi antara lain: menyimpan rahasia, melaksanakan tugas yang diberikan. Tugas dan kewajiban Allah kepada manusia oleh Al-Qur'an disebut amanah, bahkan merupakan amanah yang paling berat. Makhluk-makhluk Allah seperti langit, bumi, matahari, gunung, lautan dan pohon tidak sanggup memikul amanah Allah. Karena kelebihan yang telah dikarunikan Allah kepada manusia berupa akal fikiran, perasaan dan kehendak, maka sanggup memikul amanah tersebut.
"Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. (QS. AL-Ahzab/33:72)

Bentu-bentuk Amanah
  1. Memelihara Titipan dan Mengembalikannya seperti semula
Apabila seorang muslim dititipi orang lain maka dia harus menjaga barang titipan tersebut dengan baik dan mengembalikan kepada yang punya dalam keadaan utuh seperti semula.
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya." (QS. An-Nisa/4: 58)

  1. Menjaga Rahasia
Seorang muslim wajib menjaga rahasia, apakah rahasia pribadi, keluarga, perusahaan, organisasi, atau lebih-lebih rahasia negara. Dia memeliharanya agar tidak jatuh ke tangan orang yan tidak berhak mengetahhuinya.
"Apabila seseorang membicaraka sesuatu kepada orang lain (sambil) menoleh kiri-kanan maka itulah amanah (yang harus dijaga) (HR. Abu Daud)
"Sesungguhnya amanah yang paling besar di sisi Allah pada hari kiamat ialah mnyebarkan rahasia isterinya, misalnya  seorang laki-laki bersetubuh dengan isterinya, kemudian ia membicarakan kepada orang lain tentang rahasia isterinya. (HR. Muslim)
  1. Tidak Menyalahgunakan jabatan
Jabatan adalah amanah yang wajib dijaga. Segala bentuk penyalahgunaan amanah baik untuk kepentingan pribadi, keluarga, family, atau kelompoknya termasuk perbuatan melanggar amanah.
"Barang siapa yang kami pakai untuk suatu pekerjaan (diangkat sebagai karyawan) dan kami beri upah menurut semestinya, maka apa yang ia ambil lebih dari yang semestinya, maka itu namanya ghulul (korupsi)." HR. Abu Daud).
Rasulullah SAW nenyalahkan tindakan Ibnu Lutbiyah yang mengambil hadiah yang diterimanya saat menjalankan tugas mengumpulkan zakat.
"…Dengan wewenang yang diberikan Allah kepadaku, aku mengankat seseorang diantara kalian untuk melaksanakan suatu tugas, dia datang melapor: 'ini untuk engkau dan ini untukku sebagai hadiah." Jika ia duduk saja di rumah bapak ibunya, apakah hadia itu datang sendiri kepadanya, kalau barang itu memang sebagai hadiah? Demi Allah seseorang tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya, melainkan ia menghadap Allah nanti pada hari kiamat dengan membawa beban yang berat dari benda itu (HR. Muttafaq 'Alaih)


  1. Menunaikan Kewajiban Dengan Baik
Allah SWT memikulkan ke atas pundak manusia tugas- tugas yang wajib dia laksanakan, baik dalam hubungannya dengan Allah SWT maupun dengan sesama manusia dan makhluk lainnya. Semua amanah dan tugas dijalankan dengan sebaik-baiknya karena dia harus mempertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT. Semuanya akan dihitung dan beri balasannya.
            “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihatnya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun niscaya dia kan melihatnya (QS. Zilzalah 99:7-8)
  1. Memelihara Semua Nikmat yang Diberikan Allah
Semua nikmat yang diberikan oleh Allah kepada umat manusia adalah amanah yang harus dijaga dan dimanfaatkan dengan baik. Umur, kesehatan, harta benda, ilmu da lain- lain sebagainya, termasuk anak- anak, adalah amanah yang wajib dipelihara dan dipertanggungjawabkan. Harta benda misalnya harus kita pergunakan untuk mencari keridhaan Allah, baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri, keluarga maupun untuk kepentingan umat.
C.ISTIQAMAH
Menurut asal usul kata, istiqamah berasal dari istaqama-yastaqimu yang artinya tegak lurus. Menurut istilah akhlaq, istiqamah adalah sikap teguh dalam mempertahankan keimanan dan keislaman sekalipun menghadapi berbagai macam tantangan dan godaan.
Perintah untuk beristiqamah dinyatakan di dalam Al-Qur'an dan Sunnah. Allah berfirman:
"Maka beristiqamahlah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan juga orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Hud/11: 112)
"Katakanlah: "Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa. Maka istiqamahlah menuju kapada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menyekutukannya. (Q.S. Fushilat/41: 6) 
Nabi bersabda:
"Katakanlah: Saya beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah! (HR. Muslim)
Ujian Keimanan
Uji keimanan itu tidak selamanya dalam bentuk yang tidak menyenangkan, tapi juga dalam bentuk yang menyenangkan. Keberhasilan bisnis juga ujian seperti kebrangkutannya.
"Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan: "Kami telah beriman",  padahal mereka tidak diuji?" (QS. Al-Ankabut/29: 4)
Buah dari Istiqamah
Di antara buah dari istiqamah disebutkan dalam surat Fushilat/41: 30-32:
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan; "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan memperoleh sorga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. (30)
"Kamilah Pelinduung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh pula apa yang kamu minta." (31)
"Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (32)
            Dalam empat ayat diatas dijelaskan bahwa orang yang beristiqamah dijauhkan oleh Allah dari rasa takut dan sedih. Tentu rasa takut dan sedih ayat di atas adalah rasa takut dan sedih yang tidak pada tempatnya, atau takut dan sedih yang negatif. Misalnya takut menyatakan kebenaran, takut menghadapi masa depan, takut mengalami kegagalan. Ketakutan seperti itu akan menghambat kemajuan dan bahkan menyebabkan kemunduran. Seorang tidak akan dapat berbuat apa- apa apabila selalu dipenuhi rasa takut.
D.    IFFAH
Secara etimologis, iffah berasal dari bahasa Arab 'iffah yang berarti "kesucian tubuh."
Secara terminologis, iffah adalah memelihara kehormatan diri dari segala hal yang akan merendahkannya. Nilai dan wibawa seseorang tidaklah ditentukan oleh kekayaan dan jabatannya, dan tidak pula ditentukan oleh bentuk rupanya, tetapi ditentukan oleh kehormatan dirinya.
Bentuk-bentuk 'Iffah
  1. Menjaga kehormatan diri dalam hal seksual antara lain dengan menjaga penglihatan, pakaian, dan pergaulan; tidak mengunjungi tempat-tempat hiburan yang ada kemaksiatannya; tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat menghantarkannya kepada perzinaan.
"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi getahui apa ynag mereka perbuata. Katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya…(QS. An-Nur/24: 30-32)
  1. Untuk menjaga kehormatan diri dalam hubungannya dengan masalah harta, Islam mengajarkan, terutama bagi orang miskin untuk tidak menadahkan tangan meminta-minta.
  2. Untuk menjaga kehormatan diri dalam hubungannya dengan kepercayaan orang lain kepada dirinya, seseorang harus betul- betul menjauhi segala macam bentuk ketidakjujuran.
E.     MUJAHADAH
Mujahadah berasal dari bahasa Arab yang artinya mencurahkan segala kemampuan (jahada-yujahidu-mujahadah-jihad).
Dalam konteks akhlaq, mujahadah diartikan sebagai mencurahkan segala kemampuan untuk melepaskan diri dari segala hal-hal yang menghambat pendekatan diri kepada Allah SWT, baik yang bersifat internal, maupun eksternal.
Hambatan internal bersumber dari jiwa yang mendorong kepada keburukan (nafsu ammarah bis-su').  Sedangkan hambatan eksternal datang dari syaitan, orang munafiq, orang kafir, dan para pelaku kemaksiatan dan kemungkaran.
Untuk mengatasi dan melawan semua hambatan tersebut diperlukan kemauan keras dan perjuangan yang sungguh- sungguh.
"Dan orang-orang yang mujahadah/berjuang untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-'Ankabut/29: 69)
Objek Mujahadah
Objek mujahadah antara lain:
1.Jiwa yang selalu mendorong kepada keburukan.
2.Hawa nafsu yang tidak terkendali
3.Godaan Syaithan
4.Kecintaan kepada kehidupan dunia yang berlebihan.
5.Gangguan orang kafir dan musyrik.
6. Para pelaku kemaksiatan dan kemunkaran, termasuk dari orang- orang yang mengaku beriman sendiri, yang tidak hanya merugikan mereka sendiri, tapi juga merugikan masyarakat.

F.   SYAJA'AH
Menurut bahasa, syaja'ah berati "keberanian"
Keberanin merupakan sifat hati yang mantap dan percaya diri dalam menghadapi bahaya, kesulitan dan sebagainya. Keberanian yang dimaksud  berlandaskan kebenaran dan pertimbangan yang masak.
Bentuk-bentuk Keberanian antara lain:
1.Keberanian menhadapi musuh dalam peperangan (jihad fi sabilillah)
"Hai oranr-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan oranr-orang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barang siapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu- kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan lain- maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa keurkaan dari Allah, tempatnya ialah neraka jahanam. Dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. (QS. Al-Anfal: 15-16)
2.Keberanian menyatakan kebenaran sekalian di depan penguasa yang zalim.
 " Jihad yang paling utama adalah memperjuangkan keadilan di depan penguasa                       yang zalim. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
3.      Keberanian untuk mengendalikan diri ketika marah sekalipun dia mampu melampiaskannya.
" Bukanlah yang dinamakan pemberani itu yang kuat secara fisik, melainkan sesungguh nya pemberani itu yang sanggup mengendalikan diri waktu marah. (HR. Muttafaq 'Alaih)
Sumber Keberanian
1.Rasa takut kepada Allah:
2.Lebih mencintai akhirat dari pada dunia:
3.Tidak takut mati:
4.Tidak Ragu-ragu
5.Menomorsatukan kekuatan materi:
6.Tawakkal dan yakin adanya pertolongan Allah:
7. Hasil pendidikan

G.    TAWADHU'
Di dalam bahasa Indonesia, tawadhu' berarti rendah hati (bukan rendah diri), lawan kata sombong. Orang yang tawadhu' tidak menganggap dirinya lebih (hebat, kaya, pandai, elok dan sebagainya) dari orang lain, meskipun kenyataannya bisa demikian. 
Rendah hati bersumber dari kesadaran bahwa apa yang ada pada dirinya, harta, kekayaan, ilmu, kedudukan dan lainnya berasal dari Allah.Orang yang sombong merasa dirinya lebih dari orang lain secara berlebihan. Boleh jadi kenyataannya tidaklah demikian. Orang yang rendah diri adalah orang yang kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri, menganggap dirinya rendah dibanding orang lain.
Takabur atau sombong
Takabbur berasal dari bahasa Arab yang berarti: "kesombongan, keangkuhan"
Takabbur atau sombong ialah sikap menganggap diri lebih dan memandang remeh orang lain. 
Orang yang sombong akan menolak kebaikan atau kebenaran yang datang dari orang lain yang dianggapnya rendah.
Nabi bersabda:
"Sombong itu menolak kebenaran, dan melecehkan orang lain." (HR. Muslim)
"Tidak masuk sorga orang yang di dalam hatinya ada sifat sombong." (HR. Mslim)
H. MALU
Malu adalah sifat atau perasaan yang menimbulkan keengganan melakukan sesuatu yang rendah atau tidak baik. Orang yang memiliki rasa malu, apabila melakukan sesuatu yang tidak patut, rendah atau tidak baik dia akan terlihat gugup, atau mukanya merah.
            “ sesungguhnya semua agama itu mempunyai akhlaq, dan akhlaq Islam itu adalah sifat mau.”(HR.Malik)

I.       SABAR
Kata sabar berasal dari bahasa Arab "shabr" yang artinya "menahan dan mengekang".  Menurut istlah, sabar berarti menehan diri dari segala sesuatau yang tidak disukai karena meng harap ridha Allah. Sabar tidak hanya terhadap hal-hal yang sering disebut musibah, seperti sakit, kematian, kemiskinan, dan sebagainya, tetapi juga terhadap hal-hal yang sering dipandang sebagai nikmat, seperti harta kekayaan, kedudukan dan sebagainya.
Macam-macam sabar
1. Sabar menerima cobaan hidup
2. Sabar menahan hawa nahsu
3. Sabar dalam taat kepada Allah SWT
4. Sabar dalam berdakwah
5. Sabar dalam perang
6. Sabar dalam pergaulan
J. PEMAAF
Kata "maaf " berasal dari bahasa Arab " 'afwun " yang berarti "kelebihan atau berlebih."  Misalnya kata 'afwun dalam Surat Al-Baqarah ayat 219:
"Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " yang lebih dari keperluan."… (QS. Al-Baqarah/2: 219)
            Pemaaf adalah sikap suka memberi maaf terhadap kesalahan orang lain tanpa ada sedikitpun rasa benci dan keinginan untuk membalas.
Islam mengajarkan kepada kita untuk dapat memaafkan kesalahan orang lain tanpa harus menunggu permohonan maaf dari yang bersalah. Menurut M.Quraish Shihab, tidak ditemukan satu ayatpun yang menganjurkan untuk meminta maaf, tetapi yang ada adalah perintah untuk memberi maaf.
BAB V
(AKHLAQ DALAM KELUARGA)


  1. BIRRUL WALIDAIN
Kata "birr" berarti"kebajikan", dan "al-walidain" artinya "dua-orang tua atau ibu bapak."
Berbakti kepada ibu bapak menempati kedudukan istimewa dalam ajaran Islam.  Terdapat ayat-aya Al-Qur'an dan hadis yang menjelaskan haltersebut, antara lain:
"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, …" (QS. An-Nisa/4: 36)
"Diriwayatkan dari Abi 'Abdirrahman Abdullah bin Mas'ud ra, dia berkata: "Aku bertanya kepada Nabi saw: Apa amalan yang paling disukai oleh Allah SWT? Beliau menjawab; "Shalat tepat pada waktunya." Aku bertanya lagi; Kemudia apa? Beliau menjawab: "Birrul walidain." Kemudian aku bertanya lagi: seterunya apa lagi? Beliau menjawab: "jihad fi sabililah." (HR. Muttfaq 'alaih)
Bentuk-bentuk Birrul walidain antara lain:
1.         Mengikuti keinginan dan saran orang tua yang tidak bettentangan dengan ajaran Islam. (QS. Luqman/31: 15)
" Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan."
2.         Menghormati dan memuliakan dua orang tua dengan penuh kasih saying. (QS. Luqman/31: 14)
3.         Membantu dua orang tua secara fisik dan meteriil.
4.         Mendo'akan mereka.
5.         Apabila mereka telah meninggal:
a.         Menyegerakan pemakaman jenazahnya.
b.         Melunasi hutanh-hutangnya.
c.         Melaksanakan wasiatnya..
d.         Melestarikan silaturahmi yang telah dibangun mereka.
e.         Menghormati sahabat-sahabatnya.
f.          Mendoakan mereka.

"Ya Rasulallah, adakah sesuatu keebaikan yang masih dapat saya kerjakan untuk ibu bapak saya setelah keduanya meninggal dunia? Rasulullah menjawab: "Ada, yaitu: Menshalatkan jenazahnya, memintakan ampun baginya, menunaikan janjinya, meneruskan silaturahimnya dan memuliakan sahabatnya."  ( HR ABU DAUD)
'Uququl walidain
Durhaka kepada dua orang tua merupakan salah satu dosa besar setelah menyekutukan Allah
"Dosa-dosa besar adalah: mempersekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh orang, dan sumpah palsu." (HR. Bukhari)

B. Hak, Kewajiban dan Kasih Sayang Suami Isteri
1.         Hak saling menikmati hubungan dengan baik termasuk hubungan seksual.
2.         Hak saling mewarisi. Suami wewarisi isteri, dan isteri mewarisi suami. Hubungan saling mewaris hanya berlaku dalam perkawinan yang sah.
3.         Hak nasab anak yang dilahirkan dalam perkawinan adalah anak berdua.
Kewajiban suami Kepada Isteri
1.         Nafkah
2.         Bergaul dengan isteri dengan cara yang baik (ihsanul-mu'asyarah).
3.         Membimbing dan mendidik keagamaan isteri. Seorang suami adalah pemimpin rumah tangga. Ia bertanggung jawab di hadapan Allah untuk mendidik dan mengajar isterinya agar menjadi wanita yang shalihah.
Kewajiban Isteri kepada Suami
1.         Patuh kepada suami selama tidak dibawa kepada kemaksiatan.
2.         Bergaul dengan suami dengan cara yang baik (makruf).
3.         Menjaga dirinya, dan harta suaminya jika suami tidak berada di rumah.

  1. KASIH SAYANG DAN TANGGUNG JAWAB ORANG TUA TERHADAP ANAK
Anak adalah amanah Allah yang harus dipertanggungjawabkan setiap orang, tempat mencurahkan kasih-sayang, dan tabungan akhirat. Oleh sebab itu dia berkewajiban untuk membesarkan, memelihara, merawat, dan mendidik putra-purinya dengan sebaik-baiknya.
 Hubungan orang tuan dan anak secara garis besar dapat diklasifikasi kedalam tiga hal pokok:
1.         Hubungan Tanggung Jawab
2.         Hubungan Kasih Sayang
3.         Hubungan Masa Depan
Anak Dalam Al-Qur'an
1.         Anak Sebagai Perhiasan hidup Dunia
2.         Anak Sebagai Ujian
3.         Anak sebagai Musush
4.         Anak sebagai Cahaya Mata (qurrata a'yun)
C. SILATURRAHIM DENGAN KARIB KERABAT
Silaturahim berasal dari bahasa Arab shillah yang berarti "hubungan, jalinan," dan rahim yang artinya "peranakan". Dalam bahasa Indonesi, silaturahim, atau silaturahmi, berarti menjalin tali persaudaraan.Keluaga dalam konsep Islam adalah, extended family yang tidak hanya terdiri dari suami, isteri, dan anak(nuclear family/keluarga inti), tapi juga mencakup ke atas: kakek dan nenek, ke bawah: cucu-cicit, ke samping kakak, adik, keponakan, sepupu dan sebagainya.
Bentuk-bentuk Silaturrahim
1.         Berbuat baik (ihsan) terutama memberikan bantuan materiil untuk memenuhi kebutuhan hidup.
2.         Memelihara dan meningkatkan kasih sayang, saling hormat dan menghormati, kunjung-mengunjungi, membantu dan kerjasama.
BAB VI
(AKHLAQ BERMASYARAKAT)

  1. BERTAMU DAN MENERIMA TAMU
Bertamu
Islam mengajarkan agar sebelum bertamu atau memasuki rumah seseorang, terlebih dahulu meminta izin dan mengucapkan salam kepada penghuninya.
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat." (QS. An-Nur/24: 27)
Jika sang penghuni sedang tidak di rumah, atau tidak bersedia menerima tamu, maka tamu tidak diperbolehkan mendesak, atau memaksakan keinginannya untuk bertamu.
"jika kamu tidak menemui seorangpun didalamnya, Maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. dan jika dikatakan kepadamu: "Kembali (saja)lah, Maka hendaklah kamu kembali. itu bersih bagimu dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan." QS. An-Nur/24: 28)
Menerima Tamu
Menerima dan memuliakan tamu dalam Islam dipandang sebagai perbuatan mulia, dan dianjurkan.  Oleh Nabi Muhammad SAW memuliakan tamu dijadikan salah satu tugas seorang mukmin.
"Barang sapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Barang siapa yang beriman kepada Allad dan Hari akhir hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya. (Hr. bukhari dan Muslim)
  1. HUBUNGAN BAIK DENGAN TETANGGA
Tetangga adalah pihak terdekat setelah anggota keluarga sendiri. Merekalah yang diharapkan lebih dahulu memberpertolongan atau bantuan ketika memerlukan. Misalnya ketika kita mengadakan hajatan, atau menitipkan rumah.
  1. HUBUNGAN BAIK DENGAN MASYARAKAT
Kewajiban Sosial Sesama Muslim:
"Kewajiban seorang Muslim atas Muslim lainnya ada lima: menjawab salam, mengunjungi orang sakit, mengiring jenazah, memenuhi uundangan, dan menjawab orang yang bersin." (HR. Khamsah)
1.         Mengucapkan dan menjawab salam.
2.         Mengunjungi orang sakit.
3.         Mengiring jenazah.
4.         Menjawab/mengabulkan undangan.
5.         Menyahut  orang yang bersin.
D. Pergaulan Muda- Mudi
            Dalam pergaulan sehari- hari ditengah- tengah masyarakat, terutama antar muda- mudi, ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian khusus di samping ketentuan umum tentang hubungan bermasyarakat yang lainnya yaitu tentang mengucapkan dan menjawab salam, bejabatan tangan dan khalwah. Pembahasan tentang pergaulan muda- mui dalam fasal ini penulis fokuskan pada tiga hal tersebut.
Mengucapkan dan Menjawab Salam
“ Kamu tidaklah akan masuk sorga sebelum beriman, dan tidak akan beriman sebelum berkasih sayang. Maukah kamu aku tunjukkan suatu amalan yang akan dapat memupuk rasa kasih sayang sesamamu? Yaitu senantiasalah mengucapkan salam sesamamu.” (HR.Muslim)
BAB VII
(AKHLAQ BERNEGARA)

A.     MUSYAWARAH
Secara etimologis, musyawarah (musyawarah) berasal dari kata syawara yang pada mulanya bermakna mengeluarkan madu dari sarang lebah. Makna ini kemudian berkembang sehingga mencakup segala sesuatu yang dapat diambil atau dikeluarkan dari yang lain termasuk pendapat.
Arti penting musyawarah
Musyawarah atau syura adalah sesuatu yang sangat penting guna meciptakan peraturan di dalam masyarakat mana pun. Setiap Negara maju yang menginginkan keamanan, ketentraman, kebahagiaan, dan kesuksesan bagi rakyatnya, tetap memegang prinsip musyawarah ini .
Lapangan musyawarah
Berbeda dengan teori demokrasi pada umumnya, di mana segala sesuatu bisa dan harus dimusyawarahkan supaya terwujud kehendak mayoritas dalam rangka menegakkan kedaulatan rakyat, maka Islam memberikan batasan hal-hal apa saja yang boleh dimusyawarahkan.
Tatacara Musyawarah
Tentang tata cara musyawarah serta keharusan mengikuti tatacara itu, tidak ada nash Al-Qur’an dan Sunnah yang menerangkannya. Juga  tidak ada nash yang mengharuskan ditetapkannya jumlah anggota majelis permusyawaratan dan cara menghadirkan para anggota.
Beberapa sikap Musyawarah
1. Lemah lembut
2. Pema’af
3.Mohon Ampunan Allah SWT

B.     MENEGAKAN BADAN

Keadilan dalam segala hal  :

1. Adil terhadap diri sendiri
2. Adil terhadap isteri dan anak
3. Adil dalam mendamaikan perselisihan
4. Adil dalam berkata
5. Adil terhadap musuh sekalipun
C. AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR
Secara harfiah amar ma’ruf dnahi munkar berarti menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.
Munkar secara etimologis berarti yang dikenal , sebaliknya munkar adalah sesuatu yang tidak dikenal. Terlihat dari dua definisi di atas , bahwa yang menjadi ukuran ma’ruf atau munkarnya sesuatu ada dua, yaitu agama dan akal sehat atau hati nurani.
Perintah dan kedudukan Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar
Amar ma’ruf nahi munkar adalah kewajiban orang-orang yang beriman , baik secara individual dan kolektif. Allah SWT berfirman ;
“Dan hendaklah ada diantar kamu segolongan umat yang menyeru lepada kebajikan , dan menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung(QS Ali Imran 3:104)
  1. HUBUNGAN  PEMIMPIN DAN YANG DIPIMPIN
Al-Qur’an menjelaskan bahwa Allah SWT adalah pemimpin orang-orang yang beriman :
“Allah pemimpin orang-orang yang beriman ; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya . Dan orang-orang yang kafir , pemimpin –pemimpin mereka adalah thagut, yang mengeluarkan mereka  dari cahaya kegelapan . Mereka itu adalah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya (QS Al- Baqarah 2;257)
KRITERIA PEMIMPIN
1. Beriman Kepada Allah SWT
2. Mendirikan Shalat
3.Membayar zakat
4. Selalu tunduk patuh kepada Allah SWT

Kepatuhan Kepada Pemimpin
Kepemimpinan Allah SWT dan Rasul-Nya adalah kepemimpinan yang mutlak diikuti dan dipatuhi. Sedangkan kepemimpinan orang- orang yang beriman adalah kepemimpinan yang nisbi(relatif), kepatuhan kepadanya tergantung dengan paling kurang dua faktor: faktor kualitas dan integritas pemimpin itu sendiri, faktor arah dan corak kepemimpinannya.
Persaudaraan antara Pemimpin dan yang Dipimpin
            Sekalipun dalam struktur bernegara ada hirarki kepemimpinan yang mengharuskan umat atau rakyat patuh pada pemimpinnya, tetapi dalam pergaulan sehari- hari hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin tetaplah dilandaskan kepada prinsip- prinsip ukhuwah islamiyah, bukan prinsip atasan dengan bawahan, atau majikan dengan buruh, tetapi prinsip sahabat dengan sahabat. Demikianlah yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.




0 komentar:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.