A. PEMBAHASAN
Sejarah
Tradisi Nadran Masyarakat Cirebon
Nadran adalah perayaan masyarakat
(pesta rakyat) di daerah pesisir kota Cirebon yang berlangsung setiap tahunnya
sebagai ucapan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
segala rezeki yang telah diberikan. Nadran sebenarnya merupakan suatu tradisi
hasil akulturasi budaya Islam dan Hindu yang diwariskan sejak ratusan tahun
secara turun menurun. Kata Nadran sendiri menurut sebagian nelayan Cirebon,
berasal dari kata Nazar yang mempunyai arti dalam agama Islam ; pemenuhan
janji. Adapun inti upacara Nadran adalah mempersembahkan sesajen (yang
merupakan ritual dalam agama Hindu untuk menghormati roh leluhur) kepada
penguasa laut agar diberi limpahan hasil laut, dan merupakan ritual tolak bala
(keselamatan).
Dalam upacara Nadran juga dilakukan
permohonan agar diberi keselamatan dalam melaut, serta tangkapan hasil laut
mereka melimpah di tahun mendatang. Upacara Nadran dilakukan masyarakat nelayan
Cirebon satu tahun sekali yang waktunya jatuh antara bulan Juli sampai agustus.
Tradisi ini memiliki landasan filosofis yang berakar dari keyakinan keagamaan
dan nilai-nilai budaya lokal. Nilai-nilai filosofis yang menarik untuk
dipelajari antara lain solidaritas, etis, estetis, kultural dan reliius,
tradisi Nadran dapat meningkatkan persaudaran antar warga desa yang selama ini
dikenal memiliki watak dan karakter yang keras.
Berdasarkan buku penelitian Dr.
Heriyani Agustina, Kepel Press-2009 diceritakan tentang buku “Negara Kertabumi”
karya Pangeran Wangsakerta dengan sumber cerita dari Kartani (Penasehat Budaya
Cirebon) disebutkan bahwa asal-usul pelaksanaan budaya Nadran adalah berawal
pada tahun 410 M, dimana Raja Purnawarman, raja ketiga Kerajaan Tarumanegara
yang terletak di dekat sungai Citarum yang mengalir dari Bandung ke Indramayu,
memerintahkan Raja Indraprahasta Prabu Santanu ( yang sekarang Kec. Talun, Kab.
Cirebon) untuk memperdalam atau memperbaiki tanggul, yang bertujuan untuk
menduplikat Sungai Gangga di India. Agar tanggul sungai lebih kuat, dibuatlah
prasastinya tangan sang Prabu Purnawarman yang sekarang belum ditemukan, serta
sang Prabu memberikan hadiah-hadiah untuk Brahmana 500 ekor sapi,
pakaian-pakaian dan satu ekor gajah untuk Raja Indraprahasta (Prabu Santanu).
Duplikat Sungai Gangga tersebut untuk keperluan mandi suci. Sungai yang
dimaksud adalah sungai Gangganadi dan muaranya di sebut Subanadi (muara adalah
perbatasan antara sungai dan laut). Sungai tersebut sekarang adalah sungai
Kriyan, terletak di belakang Keraton Kasepuhan Kota Cirebon. Mandi suci di
sungai Gangganadi dilakukan setahun sekali, sebagai acara ritual untuk
menghilangkan kesialan dan sebagai sarana mempersatukan rakyat dan pemujaan
kepada sang pencipta.( Sumber Kartani dan Kaenudin)
Sebetulnya tradisi Nadran bukanlah
tradisi asli daerah Cirebon apalagi masyarakat Desa Mertasinga, karena tradisi
ini banyak juga ditemukan dibeberapa daerah lain dengan nama yang berbeda,
seperti di Jawa Tengah dikenal dengan tradisi Labuhan, karena ada beberapa
kepercayaan bahwa apabila mereka tidak melakukan sedekah ini, mereka
berkeyakinan bahwa Dewa Baruna akan murka dan segera mengirim bencana melalui
dewa petir, Dewa Halilintar dan Dewa Angin yang mengakibatkan nelayan tidak
dapat melaut. Akhirnya tidak dapat mencari ikan sebagai sumber kehidupan utama.
Penggunaan daging kerbau sebagai persembahan dan bukanya daging sapi,
dikarenakan daging kerbau lebih banyak, juga ada kemungkinan sapi merupakan
hewan yang dianggap suci dalam agama Hindu, sehingga harus dipelihara dan tidak
boleh dibunuh. Selain itu juga sapi dianggap jelmaan dari dewa.
Selain melarung ritual lainnya
adalah pembacaan mantra-mantra sambil membakar dupa atau kemenyan yang
bertujuan memohon keselamatan kepada para Dewa Laut. Mantra juga berfungsi
untuk memanggil arwah para leluhur yang telah ikut menjaga keselamatan mereka
dalam mencari rejeki di laut. Kesan magis pada asap dupa dan kemenyan bertujuan
untuk ketenangan sekaligus permohonan kehadirat Yang Maha Kuasa, agar
permohonan mereka lebih cepat sampai ke hadapan Tuhan serta cepat dikabulkan
segala permohonan atau permintaannya.
Dalam rangkaian tradisi Nadran juga
di tampilkan hiburan Wayang yang merupakan kesenian dari Hinduisme dan
animisme, yang dapat diperankan seperti tokoh Mahabarata dan Ramayana. Pertunjukan
lain dari wayang yang sangat kental dengan Hinduisme dan animismenya adalah
wayang dengan lakon Wudug Basuh, yang menceritkan tentang pencarian Tirta
Amerta (air kehidupan) oleh para Dewa, dengan cara mengaduk air laut
menggunakan ekor naga Basuki. Tirta Amerta diperlukan untuk mengurapi para Dewa
agar mereka terhindar dari kematian, tapi mereka tidak dapat terhindar dari
sakit. Oleh karena itu, masing-masing-masing dewa diberi tempat dikayangan
Suralaya. Namun demikian ada kelanjutannya, air laut yang diaduk oleh para dewa
tersebut mengakibatkan mahluk laut terganggu, lalu bermuculan ke daratan sambil
membawah wabah penyakit wudug, budug (bisul), penyakit-penyakit lainnya. untuk
mengatasi wabah ini para Dewa meminta bantuan pada Sanghiyang Baruna untuk
menentramkan mahluk laut supaya tidak mengganggu penghuni daratan. Sangyang
Baruna melantunkan jampa mantra di baskom air kembang, lalu air kembang yang
telah diberi mantra disiramkan pada layar perahu nelayan. Meskipun Nadran
bernuansa magis dan animisme, masyarakat primitif pada waktu itu telaah
memiliki kesadaran mistik terhadap keberadaan penguasa alam semesta, disertai
rasa terima kasih dan bermohon kepada Yang Maha Kuasa suapaya diberi kebaikan
dan keselamatan.
B. ANALISIS FUNGSI FOLKORE
Sebagai sistem proyeksi (projective system),
yakni sebagai alat pencermin angan-angan suatu kolektif. Terkait dengan fungsi
folkor tersebut, nadran mempunyai suatu keinginan atau angan-angan yang tentu
yang sangat diharapkan oleh kolektif masyarakat daerah pesisir cirebon untuk
mampu mereka wujudkan. Tentu fungsi ini mampu dan masih ada hingga zaman modern
ini, tidak hanya pada masa lampau masyarakat ini.
Sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan
lembaga-lembaga kebudayaan. Nadran ini juga membenarkan sekaligus
mengesahkan pranata dan lembaga kebudayaan yang terdapat pada kebudayaan
tersebut. Setiap kebudayaan tentu mempunyai pranata sosial seperti kerja sama,
gotong royong, dan saling membantu antar rakyatnya. Termasuk di kebudayaan
Cirebon ini. Dalam tradisi tersebut,
Dalam profesi pelaksanaannya biasanya diawali dengan pemotongan kepala
kerbau dan pemotongan kepala kerbau dan pemotongan nasi tumpeng yang disiapkan
dalam sebuah dongdong atau miniatur kapal nelayan. Kepala kerbau tersebut
dibalut dengan kain putih dan kemudian bersama dengan perangkat. Sesajen
lainnya dilarang ke tengah laut lepas untuk ditenggelamkan.
Sementara nasi tumpeng dan lauk pauk
lainnya dibagikan kepada anggota masyarakat sekitarnya, yang biasa disebut
dengan bancaan atau berkah. Umumnya upacara ini disertai dengan penyajian
tari-tari an, pergelaran wayang kulit,
mantra, doa-doa. Sesajen yang diberikan oleh masyarakat disebut ancak, yang
berupa anjungan berbentuk replika perahu
yang berisi kepala kerbau, kembang tujuh rupa, buah-buahan, makanan khas dan
lain sebagainya. Sebelum dilepaskan kelaut, ancak diarak terlebih dahulu
mengelilingi tempat-tempat yang telah ditentukan sambil diiringi dengan
berbagai suguhan seni tradisional, seperti tarling, genjring, bouroq,
barongsai, telik sandi, jangkungan ataupun seni kontemporer (drumband).
Pembacaan mantra dilakukan oleh seorang tokoh spiritual nelayan yang
dilanjutkan dengan mengusung dongdong menuju lautan. Puncak prosesi berlangsung
saat dongdong yang berisi sesaji diceburkan ke laut. Puluhan kapal langsung
berebut mendekati sesaji tersebut. Mereka percaya berbagai sesaji yang menempel
pada kapal mereka akan mendatangkan berkah bagi tangkapan selanjutnya. Selesai
prosesi petarungan dan berebut sesaji, para nelayan ini kembali dengan harapan
baru, mereka yakin hasil tangkapan ikan semakin meningkat setelah ruwatan
selesai dilakukan
C. PENUTUP
Kesimpulan
Dari
pembahasan di atas kita dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Budaya Nadran adalah pesta perayaan masyarakat
di daerah pesisir kota Cirebon yang berlangsung secara turun-temurun setiap
tahunnya sebagai ucapan syukur dan terima kasih terhadap Tuhan Yang Maha Esa
yang telah melimpahkan rezeki berupa kekayaan laut yang melimpah kepada para
nelayan dan dilakukan dengan cara saling bergotong royong dan bahu membahu
antar nelayan.
2. Budaya Nadran sangat berpengaruh terhadap
potensi wisata yang berdampak pada peningkatan kondisi ekonomi masyarakat
pesisir yang umumnya rendah dan anggapan bahwa
profesi nelayan sudah menjadi amanat dari nenek moyang.
3. Nadran pada saat ini seolah telah
kehilangan ruhnya, karena tidak lagi terlihat sebagai upaya pelestarian
tradisi, namun lebih ke arah hiburan semata bagi masyarakat, ini terlihat dari
banyaknya masyarakat yang telah mulai meninggalkan pesan-pesan moral yang ada.
4. Dalam prosesi pelaksanaannya Nadran
biasanya diawali dengan pemotongan kepala kerbau dan pemotongan nasi tumpeng
dalam sebuah miniatur kapal yang akan
dilarung di tengah laut dan ditenggelamkan.
D.DAFTAR PUSTAKA
Agustina,
Heriyani, 2009, Nilai-nilai Filosofi
Tradisi Nadran Masyarakat Nelayan Cirebon, Realisasinya Bagi Pengembangan
Budaya Kelautan, Kepel Press, Yogyakarta.
Atifin, Zaenal,
2007. Tradisi Nadran Nelayan, http.www. indosiar.com. diakses pada 18 Desember 2011.
Tim Wacana
Nusantara, 2010, Nadran Interaksi Budaya Pesisir antara Manusia, Alam dan Sang
Pencipta, http://id_wikipedia.org/wiki/Tim (19 Desember 2011).
Yusuf, Indra,
2007. Tradisi Nadran Potensi Wisata Pesisir, http.www.wikipedia.com. diakses
pada 18 Desember 2011.
http://soetirman.blogspot.com/2010/07/sejarah-perkembangan-tradisi-nadran-di.html.

0 komentar:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.