A. PENDAHULUAN
Mengenal tradisi dan kebudayaan masyarakat Melayu
merupakan salah satu hal yang pantas ditiru bagi masyarakat Indonesia. Adanya
kekejaman yang tidak seharusnya terjadi pada anak- anak dibawah usia. Akan
tetapi, sebagian dari mereka tetap menentang bahkan banyak dari mereka yang
babak belur ditindas oleh Belanda. Gambaran umumnya mengenai masyarakat Melayu
pada zaman Van Holden, masyarakat yang dambil haknya untuk melakukan sesuatu
yang bermanfaat bagi dirinya, pemberontak hanya ingin masyarakat melakukan
sesuatu untuk kejayaan dan kemakmurannya. Pemberontakan Belanda yang sangat
kejam, bahkan tidak segan- segan masyarakat Melayu disiksa bahkan sampai
meninggal dunia. Pada masa Distric
Beherdeer (hari lahirnya Ratu Belanda), masyarakat Melayu tidak berhak
menang dalam kompetisi apapun karena berhujung penindasan bahkan dibuang ke
pulau- pulau terpencil lainnya di wilayah pulau Belitong. Penulis mengangkat
tema analisis Folklore “nilai- nilai
pendidikan dalam novel sebelas Patriot” menceritakan kembali perjuangan
seseorang dalam dunia sepak bola Indonesia PSSI, semangat dan juangnya demi
menggapai sesuatu sangat baik untuk diambil nilai- nilai pendidikan dalam
sebuah kajian novel ini.
- Pembahasan
Sinopsis Novel Sebelas Patriot
Novel
yang mengisahkan tentang perjuangan seorang ayah dimasa penjajahan Belanda. Sebelas Patriot yang berarti menceritakan tentang perjuangan sebelas pemain dimasa
penjajahan Belanda.
Cerita ini mengisahkan bagaimana kisah pemain bola dimasa penjajahan Belanda. Pada masa penjajahan Belanda di pulau terpencil yaitu pulau
Belitong menceritakan kenangan pahit yang dialami masyarakat Melayu. Tangsi yang merupakan tempat
penindasan Belanda,
apabila ada masyarakat Melayu
yang tidak menghormati Belanda
dimasa itu maka langsung ditindas di tangsi tersebut. Tangsi dibangun oleh Van Holden. Tempat tersebut menjadi
tempat yang terpahit yang dialami masyarakat Melayu. Apabila memperingati hari
lahirnya Ratu
Belanda maka sering diadakan turnament
olahraga, namun masyarakat Melayu
yang menjadi penindasannya. Masyarakat melayu tidak diperbolehkan menang dalam
perlombaan olahraga tersebut. Apabila ada yang menjuarainya maka akan ditindas
ditangsi dengan keadaaan pulang babak belur. Pada suatu ketika hari lahirnya Ratu Belanda tahun selanjutnya yang kedua, Van Holden mendengar bahwa ada tiga saudara
yang hebat dalam dunia persepakbolaan.
Pada
dahulunya pada masa penjajahan anak- anak yang dibawah umur sengaja dipaksa
penjajah untuk menggantikan ayahnya untuk bekerja di parit tambang. Van Holden terpana menyaksikan anak- anak
muda tersebut bermain. Sebelumnya di kompetisi sepak bola memperingati hari lahir Ratu Belanda kembali berakhir seperti yang
sudah- sudah dengan kemenangan tim Belanda.
Pada pertandingan selanjutnya, tiga saudara tersebut dilarang tampil. Posisi
yang dulu dikenal dengan tim parit yang telah berada di ambang kemenangan
kompetisi menjadi kritis. Dalam sebuah pertandingan tersebut mereka nekat
tampil. Mereka tak menghiraukan bahaya yang bahkan dapat mengancam jiwa. Mereka
tak dapat menahan diri untuk tidak bermain sepak bola, karena sepak bola adalah
kegembiraan mereka satu- satunya, karena mereka tahu bahwa sepak bola berarti
bagi rakyat jelata yang mendukung mereka. Lapangan bola adalah medan
pertempuran untuk melawan penjajah. Tim kuli parit tambang menang dengan gol
yang diciptakan si saudara tengah, namun tetap saja kekejaman Belanda menindas mereka semua karena
sudah menganggap menjatuhkan harga diri belanda.
Setelah mengetahui cerita tentang ayahnya
dimasa pada waktu penjajahan belanda dulu dalam menjuarai piala Distric beherdeer , tekad anak yang
bernama Ikal
ini ingin mewujudkan cita- cita ayahnya dalam dunia sepak bola. Berbagai usaha
demi menjadi sayap kiri dalam pemain bola serta melakukan tendangan dengan kaki
kiri. Ikal mempunyai tekad yang kuat
untuk melanjutkan impiannya menjadi pemain PSSI. Ia sedih karena setiap kali
menonton PSSI di layar TV hitam putih dikampung halamannya sesekali dia
memperhatikan ayahnya. Kaki kiri ayahnya seakan ingin menendang, seakan ingin
bermain dalam PSSI tersebut namun apa daya akibat kekejaman penindasan Belanda, tempurung lutut kaki kirinya
dihancurkan oleh Belanda.
Ikal telah menjadi pemain bola dikampung halamannya dengan pelatih Toharun.
Ikal, Mahar maupun
teman- temannya beberapa kali menang dalam pertandingan bola dikampung
halamannya.
Tidak
disangka Ikal
tersebut berhasil terpilih menjadi pemaian junior kabupaten. Dua langkah lagi
baginya untuk ingin menjadi pemain junior PSSI. Akan tetapi Ikal gagal dalam mewujudkan keinginan
ayahnya. Setelah mendengar cerita dari ayahnya sehabis menonton Indonesia vs Korea, Ikal bertanya kepada ayahnya apakah ada
club favorit lain
selain PSSI ternyata ada yaitu Real Madrid. Pemain kesukaaannya tersebut ialah
Luis Figo. Setelah Ikal selesai SMA dan merantau serta berhasil mendapatkan
beasiswa kuliah di Universitas Sarbonne, Prancis. Menjelang musim panas,
rencana Ikal
bersama sepupunya yang bernama Arai untuk backpacking merambah Eropa dan
Afrika kian menggebu. Salah satu tujuaannya ialah Madrid, demi ayahnya. Ikal
berjanji akan memebelikan kaus bertuliskan Luis Figo di toko resmi Real Madrid,
di markas besar klub itu di stadion Santiago
Bernabeu. Ia pun sengaja merahasiakan hal tersebut dari ayahnya, karena
baginya merupakan sebuah kejutan,pasti nanti manis rasanya. Setelah Ikal berhasil ditempat tersebut, dan dia terpana karena melihat kaus Luis Figo beserta tanda tangan aslinya.
Adriana penjual kaus ditempat tersebut memberikan senyuman sapa kepada Ikal, dan dia mengetahui bahwa pasti anak
yang berbau jalanan, bau matahari,dan bau melarat tersebut pasti sangat
memerlukan kaus tersebut. Adriana tersebut menyebutkan harga baju tersebut dua
ratus lima puluh
euro. Akan tetapi disaku Ikalpun hanya terdapat uang enam puluh euro. Dari Santiago
Bernabeu, Ikal
bergegas menuju stasiun kereta terdekat dan meluncur ke Barcelona. Di Barcelona
Ikal segera ke Placa de Catalunya.tempat
tersebut merupakan sudah menjadi semacam kiblat bagi para backpacker. Apapun
yang terjadi Ikal harus mendapatkan kaus tersebut dan dengan segala usaha dan
jerih payahnya Ikal
berhasil mendapatkan kaus Luis Figo tersebut.
C.
Analisis Fungsi Folklore
Sebagai sistem proyeksi, alat pencermin angan- angan
kolektif,
Seorang anak yang bernama Ikal berusaha mewujudkan
keinginan Ayahnya menjadi Pemain PSSI, dia berusaha semampunya meskipun tidak
berhasil menjadi pemain PSSI. Ikal juga mampu mewujudkan keinginan ayahnya
untuk bisa mengenakan Kaus Luis Figo beserta tanda tangan aslinya. Sebelas
pemain bola mempunyai angan- angan yang
sangat diharapkan oleh kolektif masyarakat daerah masyarakat melayu pulau
Belitong, sama halnya dengan Ikal yang bertekad kembali bersama anak- anak
seusianya mewujudkan angan- angan kolektif masayarakat Melayu.
Alat pendidikan untuk anak
Tokoh sang anak yang bernama Ikal ingin mengembalikan
kebahagiaan Ayahnya dengan menjadi pemain sepak bola. Perjuangan seorang Ayah
dan ia tidak mampu menceritakan kekejamannya di masa Penjajahan Belanda kepada
anak-anaknya. Fungsi Folklore mencerminkan bagaimana seseorang dewasa mengerti
akan kepribadian sang anak. Pada masyarakat Melayu di pulau Belitong, adanya
kerja sistem rodi. Anak- anak yang masih kecil di paksa Belanda di seret ke
Parit Tambang untuk bekerja menggantikan ayah mereka. Nilai pendidikan yang terkandung, bagaiamana peran sang anak juga
mampu turut ikut serta dalam meringankan beban kedua orang tua mereka walaupun
kekejaman dari Belanda tidak seharusnya kita tiru.
Nilai
pendidikan dalam sisi negatif,
orang Melayu di paksa memeriahkan hari kelahiran Ratu dari bangsa yang terang-
terangan bolong menindas mereka. Dalam hal ini fungsi Folklore yang terjadi
bagaiamana fungsi pendidikan buat anak yaitu mereka diajak mengetahui bagaimana
kekejaman- kekejaman yang terjadi pada masa penjajahan. Adapun contoh yang lain
seperti dibangunnya tangsi, di tangsi para ekstremis dibedil tanpa ampun atau
disiksa hanya karena sebuah kejadian sepele yang dianggap menganggu wibawa
kolonial.
Adapun
fungsi Folklore berkaitan dengan nilai pendidikan, hal yang tidak baik apabila diterapkan dalam psikologi
perkembangan terutama terhadap perkembangan anak, contoh Belanda, memerintahkan
pribumi untuk berkelahi sesama mereka dalam pertandingan gulat.
Nilai
pendidikan yang tersampaikan,
terdapatnya jiwa semangat patriot dan nasionalisme contoh, Komentar pelatih
toharun( pelatih Toharun merupakan pelatih tim kesebelasan kuli parit tambang)
setiap kali menonton sepak bola di Balai Desa selalu mengajak penonton untuk
menyanyikan lagu Indonesia Raya.
D.
PENUTUP
Kesimpulan
Novel Sebelas Patriot menceritakan tentang keikhlasan
cinta Ikal dan Ayahnya, kemudian antara mereka dan sepak bola. Kisah tragis di
masyarakat Melayu karena sepak bola menjadi lambang pemberontakan demi
kemerdekaan. Menjadi penggila bola berarti menjadi bagian dari keajaiban
peradaban manusia. Nilai pendidikan yang terkandung dalam novel Sebelas Patriot ini mengajak seluruh
rakyat Indonesia pencinta PSSI untuk menyebut diri mereka sebagai Patriot PSSI.
Pengorbanan seorang anak demi kebahagiaan Ayahnya rela melakukan usaha kerja
keras demi menggapai sesuatu dan demi kecintaannya terhadap sepak bola di tanah
air tercinta.
DAFTAR
PUSTAKA
Hirata, Andrea.2011.Sebelas
Patriot. Yogyakarta:PT Bentang Pustaka

0 komentar:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.