Home » » ANALISIS FUNGSI FOLKLORE NILAI PENDIDIKAN DALAM NOVEL SEBELAS PATRIOT “ANDREA HIRATA”

ANALISIS FUNGSI FOLKLORE NILAI PENDIDIKAN DALAM NOVEL SEBELAS PATRIOT “ANDREA HIRATA”

Written By Berbagi ide muda Berkarya on Jul 4, 2014 | 11:42 PM

A.     PENDAHULUAN
Mengenal tradisi dan kebudayaan masyarakat Melayu merupakan salah satu hal yang pantas ditiru bagi masyarakat Indonesia. Adanya kekejaman yang tidak seharusnya terjadi pada anak- anak dibawah usia. Akan tetapi, sebagian dari mereka tetap menentang bahkan banyak dari mereka yang babak belur ditindas oleh Belanda. Gambaran umumnya mengenai masyarakat Melayu pada zaman Van Holden, masyarakat yang dambil haknya untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya, pemberontak hanya ingin masyarakat melakukan sesuatu untuk kejayaan dan kemakmurannya. Pemberontakan Belanda yang sangat kejam, bahkan tidak segan- segan masyarakat Melayu disiksa bahkan sampai meninggal dunia. Pada masa Distric Beherdeer (hari lahirnya Ratu Belanda), masyarakat Melayu tidak berhak menang dalam kompetisi apapun karena berhujung penindasan bahkan dibuang ke pulau- pulau terpencil lainnya di wilayah pulau Belitong. Penulis mengangkat tema analisis Folklore “nilai- nilai pendidikan dalam novel sebelas Patriot” menceritakan kembali perjuangan seseorang dalam dunia sepak bola Indonesia PSSI, semangat dan juangnya demi menggapai sesuatu sangat baik untuk diambil nilai- nilai pendidikan dalam sebuah kajian novel ini.










  1. Pembahasan
Sinopsis Novel Sebelas Patriot
Novel yang mengisahkan tentang perjuangan seorang ayah dimasa penjajahan Belanda. Sebelas Patriot yang berarti menceritakan  tentang perjuangan sebelas pemain dimasa penjajahan Belanda. Cerita ini mengisahkan bagaimana kisah pemain bola dimasa penjajahan Belanda. Pada masa penjajahan Belanda di pulau terpencil yaitu pulau Belitong menceritakan kenangan pahit yang dialami masyarakat Melayu. Tangsi yang merupakan tempat penindasan Belanda, apabila ada masyarakat Melayu yang tidak menghormati Belanda dimasa itu maka langsung ditindas di tangsi tersebut. Tangsi dibangun oleh Van Holden. Tempat tersebut menjadi tempat yang terpahit yang dialami masyarakat Melayu. Apabila memperingati hari lahirnya Ratu Belanda maka sering diadakan turnament olahraga, namun masyarakat Melayu yang menjadi penindasannya. Masyarakat melayu tidak diperbolehkan menang dalam perlombaan olahraga tersebut. Apabila ada yang menjuarainya maka akan ditindas ditangsi dengan keadaaan pulang babak belur. Pada suatu ketika hari lahirnya Ratu Belanda tahun selanjutnya yang kedua, Van Holden mendengar bahwa ada tiga saudara yang hebat dalam dunia persepakbolaan.
Pada dahulunya pada masa penjajahan anak- anak yang dibawah umur sengaja dipaksa penjajah untuk menggantikan ayahnya untuk bekerja di parit tambang. Van Holden terpana menyaksikan anak- anak muda tersebut bermain. Sebelumnya di kompetisi sepak bola  memperingati hari lahir Ratu Belanda kembali berakhir seperti yang sudah- sudah dengan kemenangan tim Belanda. Pada pertandingan selanjutnya, tiga saudara tersebut dilarang tampil. Posisi yang dulu dikenal dengan tim parit yang telah berada di ambang kemenangan kompetisi menjadi kritis. Dalam sebuah pertandingan tersebut mereka nekat tampil. Mereka tak menghiraukan bahaya yang bahkan dapat mengancam jiwa. Mereka tak dapat menahan diri untuk tidak bermain sepak bola, karena sepak bola adalah kegembiraan mereka satu- satunya, karena mereka tahu bahwa sepak bola berarti bagi rakyat jelata yang mendukung mereka. Lapangan bola adalah medan pertempuran untuk melawan penjajah. Tim kuli parit tambang menang dengan gol yang diciptakan si saudara tengah, namun tetap saja kekejaman Belanda menindas mereka semua karena sudah menganggap menjatuhkan harga diri belanda. 
 Setelah mengetahui cerita tentang ayahnya dimasa pada waktu penjajahan belanda dulu dalam menjuarai piala Distric beherdeer , tekad anak yang bernama Ikal ini ingin mewujudkan cita- cita ayahnya dalam dunia sepak bola. Berbagai usaha demi menjadi sayap kiri dalam pemain bola serta melakukan tendangan dengan kaki kiri. Ikal mempunyai tekad yang  kuat untuk melanjutkan impiannya menjadi pemain PSSI. Ia sedih karena setiap kali menonton PSSI di layar TV hitam putih dikampung halamannya sesekali dia memperhatikan ayahnya. Kaki kiri ayahnya seakan ingin menendang, seakan ingin bermain dalam PSSI tersebut namun apa daya akibat kekejaman penindasan Belanda, tempurung lutut kaki kirinya dihancurkan oleh Belanda. Ikal telah menjadi pemain bola dikampung halamannya dengan pelatih Toharun. Ikal, Mahar maupun teman- temannya beberapa kali menang dalam pertandingan bola dikampung halamannya.
Tidak disangka Ikal tersebut berhasil terpilih menjadi pemaian junior kabupaten. Dua langkah lagi baginya untuk ingin menjadi pemain junior PSSI. Akan tetapi Ikal gagal dalam mewujudkan keinginan ayahnya. Setelah mendengar cerita dari ayahnya sehabis menonton Indonesia vs Korea, Ikal bertanya kepada ayahnya apakah ada club favorit lain selain PSSI ternyata ada yaitu Real Madrid. Pemain kesukaaannya tersebut ialah Luis Figo. Setelah Ikal selesai SMA dan merantau serta berhasil mendapatkan beasiswa kuliah di Universitas Sarbonne, Prancis. Menjelang musim panas, rencana Ikal bersama sepupunya yang bernama Arai untuk backpacking merambah Eropa dan Afrika kian menggebu. Salah satu tujuaannya ialah Madrid, demi ayahnya. Ikal berjanji akan memebelikan kaus bertuliskan Luis Figo di toko resmi Real Madrid, di markas besar klub itu di stadion Santiago Bernabeu. Ia pun sengaja merahasiakan hal tersebut dari ayahnya, karena baginya merupakan sebuah kejutan,pasti nanti manis rasanya. Setelah Ikal berhasil ditempat tersebut, dan dia terpana karena melihat kaus Luis Figo beserta tanda tangan aslinya. Adriana penjual kaus ditempat tersebut memberikan senyuman sapa kepada Ikal, dan dia mengetahui bahwa pasti anak yang berbau jalanan, bau matahari,dan bau melarat tersebut pasti sangat memerlukan kaus tersebut. Adriana tersebut menyebutkan harga baju tersebut dua ratus lima puluh euro. Akan tetapi disaku Ikalpun hanya terdapat uang enam puluh euro.  Dari Santiago Bernabeu, Ikal bergegas menuju stasiun kereta terdekat dan meluncur ke Barcelona. Di Barcelona Ikal segera ke Placa de Catalunya.tempat tersebut merupakan sudah menjadi semacam kiblat bagi para backpacker. Apapun yang terjadi Ikal harus mendapatkan kaus tersebut dan dengan segala usaha dan jerih payahnya Ikal berhasil mendapatkan kaus Luis Figo tersebut.

C. Analisis Fungsi Folklore
Sebagai sistem proyeksi, alat pencermin angan- angan kolektif,
Seorang anak yang bernama Ikal berusaha mewujudkan keinginan Ayahnya menjadi Pemain PSSI, dia berusaha semampunya meskipun tidak berhasil menjadi pemain PSSI. Ikal juga mampu mewujudkan keinginan ayahnya untuk bisa mengenakan Kaus Luis Figo beserta tanda tangan aslinya. Sebelas pemain bola mempunyai  angan- angan yang sangat diharapkan oleh kolektif masyarakat daerah masyarakat melayu pulau Belitong, sama halnya dengan Ikal yang bertekad kembali bersama anak- anak seusianya mewujudkan angan- angan kolektif masayarakat Melayu.

Alat pendidikan untuk anak
Tokoh sang anak yang bernama Ikal ingin mengembalikan kebahagiaan Ayahnya dengan menjadi pemain sepak bola. Perjuangan seorang Ayah dan ia tidak mampu menceritakan kekejamannya di masa Penjajahan Belanda kepada anak-anaknya. Fungsi Folklore mencerminkan bagaimana seseorang dewasa mengerti akan kepribadian sang anak. Pada masyarakat Melayu di pulau Belitong, adanya kerja sistem rodi. Anak- anak yang masih kecil di paksa Belanda di seret ke Parit Tambang untuk bekerja menggantikan ayah mereka. Nilai pendidikan yang terkandung, bagaiamana peran sang anak juga mampu turut ikut serta dalam meringankan beban kedua orang tua mereka walaupun kekejaman dari Belanda tidak seharusnya kita tiru.
Nilai pendidikan dalam sisi negatif, orang Melayu di paksa memeriahkan hari kelahiran Ratu dari bangsa yang terang- terangan bolong menindas mereka. Dalam hal ini fungsi Folklore yang terjadi bagaiamana fungsi pendidikan buat anak yaitu mereka diajak mengetahui bagaimana kekejaman- kekejaman yang terjadi pada masa penjajahan. Adapun contoh yang lain seperti dibangunnya tangsi, di tangsi para ekstremis dibedil tanpa ampun atau disiksa hanya karena sebuah kejadian sepele yang dianggap menganggu wibawa kolonial.
Adapun fungsi Folklore berkaitan dengan nilai pendidikan, hal yang tidak baik apabila diterapkan dalam psikologi perkembangan terutama terhadap perkembangan anak, contoh Belanda, memerintahkan pribumi untuk berkelahi sesama mereka dalam pertandingan gulat.
Nilai pendidikan yang tersampaikan, terdapatnya jiwa semangat patriot dan nasionalisme contoh, Komentar pelatih toharun( pelatih Toharun merupakan pelatih tim kesebelasan kuli parit tambang) setiap kali menonton sepak bola di Balai Desa selalu mengajak penonton untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya.














D. PENUTUP
Kesimpulan
Novel Sebelas Patriot menceritakan tentang keikhlasan cinta Ikal dan Ayahnya, kemudian antara mereka dan sepak bola. Kisah tragis di masyarakat Melayu karena sepak bola menjadi lambang pemberontakan demi kemerdekaan. Menjadi penggila bola berarti menjadi bagian dari keajaiban peradaban manusia. Nilai pendidikan yang terkandung dalam novel Sebelas Patriot ini mengajak seluruh rakyat Indonesia pencinta PSSI untuk menyebut diri mereka sebagai Patriot PSSI. Pengorbanan seorang anak demi kebahagiaan Ayahnya rela melakukan usaha kerja keras demi menggapai sesuatu dan demi kecintaannya terhadap sepak bola di tanah air tercinta.













DAFTAR PUSTAKA

Hirata, Andrea.2011.Sebelas Patriot. Yogyakarta:PT Bentang Pustaka










0 komentar:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.