Home » » ANALISIS FOLKLOR “ASAL MULA PULAU BELITUNG”

ANALISIS FOLKLOR “ASAL MULA PULAU BELITUNG”

Written By Berbagi ide muda Berkarya on Apr 15, 2014 | 1:21 AM

A.    Pendahuluan
Latar belakang
Berbagai fungsi foklor dalam kebudayaan daerah masing- masing tentulah  mempunyai ragam yang berbeda- beda. Foklor adalah pengindonesiaan dari kata Inggris Folklore yang berasal dari dua kata yaitu Folk dan Lore. Folk sama artinya dengan kolektif (collectivity). Menurut Dunles adalah sekelompok orang yang memiliki cirri- cirri pengenal fisik, sosial dan kebudayaan, sehingga dapat dibedakan dari kelompok lainnya. Ciri-ciri pengenal fisik itu antara lain dapat berwujud: warna kulit yang sama, bentuk rambut yang sama, mata pencaharian yang sama, bahasa yang sama, taraf pendidikan yang sama, dan agama yang sama.
 Istilah folklore ke dalam dunia ilmu pengetahuan oleh William John Thoms, seorang ahli kebudayaan antik (antiquarian) inggris. Antiqiues timbul di Inggris pada masa kebangkitan romantisme dan nasionalisme abad ke- 19 yang pada masa itu kebudayaan rakyat jelata, yang dianggap hampir punah, sangat disanjung- sanjung. Istilah folklore dalam kosakata bahasa Inggris belum ada istilah kebudayaan pada umumnya, sehingga ada kemungkinan istilah batu folklore dapat digunakan orang untuk menyatakan kebudayaan pada umumnya.
Adapun untuk dapat membedakan dengan kebudayaan pada umumnya, folklore mempunyai beberapa ciri- ciri pengenal seperti(1)penyebaran dan pewarisannya bersifat lisan; (2)bersifat tradisional; (3) ada dalam versi- versi bahkan varian yang berbeda;(4)bersifat anonym; (5) biasanya mempunyai bentuk berumus; (6) mempunyai kegunaan dalam kehidupan bersama kolektifnya;(7) bersifat pralogis;(8) milik bersama(kolektif); (9) pada umumnya bersifat polos dan lugu ;(10) bagian dari yang disebut foklor itu dapat berupa ujaran rakyat, ungkapan tradisional, teka- teki, cerita prosa seperti mitos, legenda, dan dongeng(termasuk anekdot atau lelucon), nyanyian rakyat, teater rakyat, permainan rakyat, kepercayaan dan keyakinan rakyat, arsitektur rakyat, seni rupa dan seni lukis rakyat, musik rakyat, dan sebagainya.
Menurut Dundes (Danandjaja.1998;53) folk adalah kelompok orang yang memiliki ciri- ciri pengenal fisik, social, dan kebudayaan, sehingga dapat dibedakan dari kelompok yang lainnya. Ciri fisik, antara lain berwujud warna kulit. Ciri lain yang tidak kalah pentingnya adalah mereka memiliki tradisi tertentu yan telah turun- menurun. Tradisi inilah yang sering dinamakan lore. Tradisi semacam ini yyang dikenal dengan budaya lisan atau tradisi lisan. Tradisi tersebut telah turun- temurun, sehingga menjadi sebuah adat yang memiliki legitimitasi tertentu bagi pendukungnya. Foklore adalah milik kolektif kebidayaan.
Menurut Bascom (Sudikan, 2001:100) ada beberapa fungsi folklore bagi pendukungnya, yaitu: (a) sebagai system proyeksi, (b) sebagai alat pengesahan kebudayaan, (c) sebagai alat pendidikan, dan (d) sebagai alat pemaksaan pemberlakuan norma- norma. Adapun menurut Alan Dundes menambahkan fungsi lain, yaitu: (a) untuk mempertebal perasaan solidaritas kolektif, (b) sebagai alat pembenaran suatu masyarakat, (c) memberikan arahan keapda masyarakat agar dapat mencela orang lain, (d) sebagai alat memprotes keadilan, (e) sebagai alat yang menyenangkan dan memberi hiburan.
Berjelaskan dari fungsi tersebut berarti folklore dapat memuat aneka ragam fungsi, seperti fungsi cultural, hukum, politik, dan keindahan. Fungsi- fungsi tersebut tentu saja bisa berubah dan atau berkembang dalam kehidupan pemili folklore. Untuk menggali fungsi- fungsi ini, peneliti juga dapat memanfaatkan teori analisis fungsionalisme dan atau fungsionalisme structural. Menurut pendapat beberapa para ahli yang sudah dijelaskan,pendapat mereka tentang foklor tidak bisa dijabarkan lebih lanjut dalam konteks kebdayaan. Akan tetapi alangkah lebih baiknya pendapat para ahli yang sudah dijelaskan diatas dijabarkan lebih lanjut dengan menggunkan bahasa yang mudah dipahami.
           Adapun bentuk- bentuk folklore, menurut Jan Harold Brunvand dalam Danandjaja (2002) seorag ahli folklore AS, folklore dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok besar berdasrkan tipenya:
 (1) Foklor lisan (verbal folklore)
(2)Fokor sebagian lisan (partly verbal folklore)
            (3)Foklor bukan lisan (non verbal folklore).
Faktor lisan bentuknya murni lisan. Bentuk- bentuk (genre) folklore yang termasuk pada kelompok ini antara lain : (1) bahasa rakyat (folk speech) seperti logat, julukan, pangkat tradisional, dan title kebangsawanan;(2) ungkapan tradisional, seperti peribahasa, pepatah, dan pomeo; (3) pertanyaaan tradisional, seperti tea- teki; (4) puisi rakyat, seperti pantun, gurindam, dan syair: (5) cerita prosa rakyat, seperti itos, legenda, dan dongeng; dan (6) nyanyian rakyat. (kentongan tanda bahaya di Jawa atau bunyi gendang untuk mengirim berita seperti yang dilakukan d Afrika), dan musik rakyat.
              Factor sebagian lisan, folklore yang bentuknya merupakan campuran unsure lisan dan unsure bukan lisan. Kepercayaan rakyat misalnya, yang oleh orang” modern” seringkali disebut takhyul itu, terdiri dari pernyataan yang bersifat lisan ditambah dengan gerak isyarat yang dianggap mempunyai makna gaib, seperti tanda salib bagi orang Kristen Katolik yang dianggap dapat melindungi seseorang dari gannguan hantu, atau ditanbah dengn benda material yang dianggap berkhasiat untuk melindungi diri atau dapat membawa rezeki, seperti batu- batu permata tertentu. Bentuk – bentuk foklor yang tergolong dalm kelompok besar ini, selain kepercayaan rakyat, adalah permanan rakyat, teater rakyat, tari rakyat, adat- istiadat, upacara, pesta rakyat, dan lain- lain.
Ketiga, folklor bukan lisan, disebut juga artefak (artifact), yaitu; (a). Arsitektur bangunan rumah tradisional, seperti joglo (Jawa), gadang (Minangkabau), betang (Kalimantan) dan lain sebagainya; (b). Seni kerajinan tangan tradisional; (c). Pakaian tradisional; (d). Obat tradisional; (e). Alat-alat musik tradisional; (f). Peralatan dan senjata tradisional; (g). Makanan dan minuman khas/tradisional daerah.
  Keberadaan fungsi foklor dalam kebudayaan dimasyarakat ialah sangat penting karena mempunyai tujuan sebagai alat pengesahan pranata atau lembaga kebudayaan, alat pemaksa dan pengawas agar norma masyarakat dipenuhi anggota kolektifnya, sebagai pendidikan untuk anak, maupun system proyeksi. Adapun setiap daerah mempunyai kebudayaan tersendiri yang berbeda,ada yang unik dan sebagainya. Dalam penulisan penelitian ini megupas lagi atau mendokumentasikan dari cerita dimana seorang peneliti tersebut dilahirkan ditempat kelahirannya tercinta, pulau Belitung.




b. Pembahasan (I)
ringkasan cerita
Folklor “Asal Usul Pulau Belitung”
Pada zaman dahulu, di Pulau Bali memerintahlah seorang raja yang adil dan bijaksana. Karena bijaksana dan adilnya, sang Raja sangat disegani dan disayangi rakyatnya. Dikisahkan sang Raja ini mempunyai seorang putri yang cantik jelita. Kecantikannya terkenal hingga ke berbagai pelosok. Hingga setelah menginjak dewasa, banyak pemuda daerah lain hendak melamarnya untuk dijadikan istri. Suatu hari di antara para pemuda yang datang melamar itu terdapatlah seorang putra mahkota. Namun apa hendak dikata, lamaran itu ditolak putri sang Putri, sehingga Baginda merasa heran. Begitulah yang terjadi hingga lamaran tujuh putra mahkota kerajaan lain selalu ditolak sang putri.
Karena penolakan tersebut selalu terjadi berulang-ulang, Baginda pun bermusyawarah dengan permaisuri. Mencari tahu apa yang membuat sang putri menolak setiap lamaran pemuda yang ingin menjadikannya sebagai istri. Akhirnya, sepakatlah mereka berdua untuk memanggil sang putri dan menanyakan langsung kepadanya.
Pada satu saat permasisuri pun memiliki kesempatan yang tepat untuk memanggil putrinya dan menanyakan latar belakang tingkah lakunya.
Ditanya demikian sang putri sempat terdiam sesaat. Akhirnya dengan berat hati, sedih bercampur malu sang putri pun menerangkan sikapnya. “Bukanlah ananda tidak mau menerima lamaran itu. Tapi, merasa malu dengan penyakit yang sedang ananda derita ini,” jawab sang Putri. “Penyakit apakah yang sedang Ananda derita?” tanya sang Permaisuri lagi.
Ditanya demikian sang putri kembali terdiam. Dia tak berani menatap ibunya.
Sang Permaisuri pun segera mendekati sang Putri dan memeluk putri kesayangannya itu. Dalam pelukan permaisuri, sambil terisak, sang Putri pun menceritakan ihwal penyakit yang sedang ia derita. Ia menderita penyakit kelamin.
Mendengar jawaban itu, permaisuri pun mengerti dan merasa sedih dengan nasib putrinya itu dan menyampaikannya kepada baginda. Mendengar berita itu baginda sangat bingung. Ia tak tahu harus berbuat apa. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk membuat sayembara. Dipanggilnya hulubalang istana.
“Hai hulubalang, buatlah sebuah pengumuman ke seluruh negeri ini. Barang siapa dapat menyembuhkan sang putri, sebagai hadiah akan dinikahkan dengan putriku,” perintah Baginda.
Disebarkanlah pengumuman itu ke seluruh negeri. Banyak orang yang datang untuk mencoba menyembuhkan sang putri. Namun, setelah berbagai ikhtiar dilakukan, tak satu pun yang berhasil. Putuslah harapan baginda terhadap kesembuhan putrinya.
Karena tak berhasil, baginda pun memilih menempuh jalan lain. Mengasingkan sang putri ke sebuah semenanjung, di sebelah utara Pulau Bali. Setelah segala sesuatu disiapkan, diantar baginda dan permaisuri beserta pembantu-pembantu istana yang telah ditentukan, sang putri berangkat ke tempat pengasingannya. Sesampai di tempat yang dituju, di tengah hutan, sang putri ditinggal sendiri.
Kemudian, setelah memohon kepada dewata bagi perlindungan anaknya, dengan sedih baginda pun meninggalkan tempat tersebut.
Sebetulnya di hutan itu sang putri tak sendiri. Ia ditemani seekor anjing, bernama Tumang. Sesekali waktu datang beberapa orang pembantu istana datang melihat keadaannya sambil membawakan segala keperluan hidup.
Suatu hari, ketika sang putri sedang buang air kecil, dilihat oleh Tumang, anjing peliharaannya itu. Lalu, Tumang pun menjilati air kencing sang putri, juga sisa-sisa air kencing yang melekat di kemaluan sang putri. Sang putri pun membiarkannya. Kejadian seperti itu berlangsung hampir setiap kali sang putri kencing dan cukup lama. Satu keanehan terjadi. Penyakit yang diderita sang putri berangsur sembuh.
Sudah menjadi hukum alam bahwa, manusia adalah makhluk yang lemah. Begitu juga dengan sang putri. Sebagai seorang gadis remaja, ia juga mendambakan kehangatan kasih mesra seorang kekasih. Karena tanpa pengawasan, ditambah lagi asmara yang sedang menggelora, maka perbuatan dengan anjingnya itu berubah sebagai pelampiasan nafsunya yang sedang menggelora. Hari berganti pekan, pekan berganti bulan, kebiasaan sang putri berujung menjadi hubungan kelamin antara kedua makhluk berlainan jenis dan keturunan itu, hingga akhirnya sang putri pun mengandung.
Ketika rombongan dari istana datang meninjau, kelihatanlah bahwa keadaan putri telah berubah dari biasanya. Melihat keadaan itu, pemimpin rombongan menanyakan kejadian sebenarnya yang dialami sang putri. Setelah didesak, sang putri pun berterus terang dan menceritakan apa yang telah dilakukannya dengan si Tumang.
Begitu kembali ke istana, kabar buruk itu pun langsung disampaikan pemimpin rombongan kepada baginda dan permaisuri. Begitu mendengar kabar tersebut, bukan main murkanya baginda. Ingin rasanya ia segera menyudahi putrinya itu.
Setelah beberapa hari berfikir, baginda mendapat cara untuk menyelesaikan persoalan yang menimpa putrinya tersebut. Pada suatu malam, baginda mensucikan diri dan memohon kepada dewata agar putrinya dihukum dengan jalan menghancurkan tempat yang dihuni putrinya berhubung tempat tersebut telah menjadi kotor, sehingga akan mencemarkan nama baik baginda.
Dengan kehendak dewata, beberapa hari kemudian turun hujan sangat deras disertai angin ribut yang sangat besar. Sekejap kemudian putuslah bagian semenanjung utara Pulau Bali yang ditempati sang putri diasingkan, lalu hanyut terapung-apung dibawa gelombang ke utara.
ADALAH Datu’ Malim Angin dan Datu’ Langgar Tuban, yang sedang memancing ikan menggunakan perahu sampan. Tengah asyik memancing, mereka berdua dikejutkan pemandangan aneh. Tak jauh dari tempat mereka memancing nampak sebuah pulau hanyut melintas terbawa arus laut.
Dalam keheranan, Datu’ Malim Angin segera mengayuh sampannya dan mengejar pulau hanyut tersebut. Begitu berhasil mencapai salah satu bagian pulau tersebut, Datu’ Malim Angin segera naik ke daratan dan mengikatkan tali sauh pada potongan sebatang pohon (konon kabarnya pohon mali berduri, red.). Setelah mengikatkan tali sauh di potongan pohon tersebut, Datu’ Malim Angin segera menancapkannya pada sebuah gunung dan melemparkan jangkarnya ke laut. Seketika pulau hanyut itu pun berhenti. Namun, karena baru terikat pada satu tiang, pulau itu terus berputar.
Melihat pulau tersebut masih terus berputar-putar, Datu’ Malim Angin pun berlari ke arah berlawan dari kayu pertama tadi. Pada sebuah gunung Datu’ Malim Angin berhenti dan mematahkan sebatang pohon baru’ (pohon waru, red.), lalu menancapkannya pada puncak gunung dimana ia tadi berhenti. Setelah itu barulah pulau hanyut tersebut berhenti berputar.
Secara turun temurun cerita pulau Bali yang Terpotong ini berkembang secara lisan di masyarakat. Lama kelamaan penyebutannya berubah menjadi Belitong.
Konon, gunung tempat pertama Datu’ Malim Angin menambatkan tali sauhnya dikenal dengan Gunung Baginde, terletak di Kampung Padang Kandis, Membalong. Gunung ini, oleh mereka yang percaya, dikenal sebagai pancang Selatan Pulau Belitung. Dan, juga menurut mereka yang percaya, sampai sekarang Datu’ Malim Angin masih ‘mendiami’ / menguasai gunung tersebut. Sedang gunung kedua, adalah Gunung Burung Mandi. ( http://resourceful-parenting.blogspot.com/2012/07/kisah-cindre-laras-cerita-rakyat-dari.html
Sumber: disajikan dari beberapa sumber

Pembahasan (II)
Analisis fungsi foklor Jan Harold Brunvand
Penganalisisan cerita rakyat asal mula pulau Belitug ini, dapat pula ditentukan oleh teori fungsi foklor milik Jan Harold Brunvand. Karena teori fungsi folklore milik Jan Harold Brunvand ini telah dipakai oleh banyak pihak yang akan menganlisis sebuah structural karya sastra baik dalam segi kebudayaan, ungkapan makna yang tersampaikan, bahasa. Teori yang digunakan Jan Harold Brunvand ini bersamaan apa yang diharapkan oleh penulis, Karea penulis sendiri ingin mencari tahu kebenaran realita dari cerita rakyat asal usul kelahirannya.
            Foklor sebagai lisan (partly verbal folklore)
Cerita rakyat pulau Belitong ini, banyak mengandung unsure lisan yang langsung tersampaikan ke masyarakat. Adapun demikian, cerita tersebut bisa terdengar berawal dari satu orang berbicara menyebar ke yang lain.Adanya kepercayaan dari masyarakat itu sendiri atas apa kejadian asal usul Pulau Belitung. Masih terdapatnya adat istiadat seperti maras setaun atau selamat kampong, dan pesta rakyat seperti mengadakan lomba perahu .
            Floklor bukan lisan (non verbal folklore)
Dalam folklore ini, kebudayaan di masyarakat pulau Belitung, kurang sedikitnya yang mengenal sesuatu kebudayaan itu bukan secara lisan. Adapun yang menjadi cirri khas cara penyampaian kebudayaan bentuknya bukan lisan menggunakan musik melayu itu sendiri.




PENUTUPAN
Kesimpulan
Makalah ini dapat mengambil kesimpulan bahwa teori fungsi folklor milik Jan Harold Brunvand dapat diterakan pada cerita rakyat ini untuk dapat mengetahui kebudayaan yang disampaikan secara lisan(partly verbal folklore),misalnya meyakini bahwa asal usul suatu kejadan tersebut terjadi benar- benar ada. Kehidupan masyarakat di Pulau Belitung pada intinya mengutmakan kebudayaan dengan menyampaikan sesuatu secara lisan. Ada teknik cara penyampaian tidak secara lisan namun kurang lebihnya sedikit yang menggunakan. Diharapkan penganalisisan makalah ini tepat setidaknya mendekati kebenaran yang sesuai kebudayaan yang dimilikinya.


0 komentar:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.