Home » » IKHTISAR SEJARAH SASTRA INDONESIA

IKHTISAR SEJARAH SASTRA INDONESIA

Written By Berbagi ide muda Berkarya on Feb 28, 2014 | 7:53 AM



Ajip Rosidi

Masalah Angkatan dan Periodisasi Sejarah Sastra Indonesia
Dalam majalah Horison tahun I no. 2, Agustus 1966, halaman 36-41, H.B Jassin mengumumkan tulisannya berjudul ‘Angkatan 66, Bangkitnya satu Generasi’. Tulisan ini sangat menarik, antara lain terbukti dengan adanya berbagai reaksi terhadapnya. Baik dalam majalah Horison maupun dalam majalah-majalah dan suratkabar-suratkabar lain, timbul berbagai reaksi baik yang menyatakan setuju maupun yang menolak proklamasi Jassin itu.
            Dari peristiwa itu nampak bahwa masalah ‘angkatan’ merupakan masalah yang peka sekali dalam dunia sastra indonesia.
            Sekitar tahun 1949 masyarakat sastra Indonesia pun ramai berpolemik tentang ‘Angkatan Chairil Anwar’ yang kemudian terkenal dengan nama ‘Angkatan 45’. Beberapa tahun kemudian timbul pula masalah ‘Angkatan sesudah Chairil Anwar’ yang dikenal juga dengan nama ‘Angkatan 50’ dan ‘Angkatan Terbaru.
            Prof. Dr A. Teeuw dalam ceramahnya di Jakarta dan tempat lain tatkala awal tahun 1968 berkunjung ke Indonesia mengatakan bahwa baginya permasalahan angkatan itu sulit untuk ditanggapi sekarang karena kita masih terlalu dekat dengan peristiwa-peristiwa yang bersangkutan, namun dalam bukunya Modern Indonesia Literature (1967), ia mempergunakan istilah-istilah ‘Angkatan ‘45’ ‘Angkatan ‘66’ dan lain-lainnya juga. Sementara itu sulit pula bagi seorang penelaah sastra Indonesia untuk menghindarkan diri dari penggunaan istilah-istilah tersebut! Karena itu meskipun selamanya mengenai persoalan ‘angkatan’ senantiasa timbul berbagai pendapat yang saling bertentangan dan tak pernah sampai pada suatu kata putus, tetapi sebutan-sebutan itu juga sering dipergunakan.
            Begitu pula akan terjadi dengan persoalan ‘Angkatan ‘66’. Istilah ini sudah populer yang disusun oleh H.B. Jassin berjudul Angkatan ‘66’ : Prosa dan Puisi.
H.B. Jassin – kritikus sastra Indonesia yang dianggap paling berwewenang dalam masalah sastra Indonesia. Seperti diketahui Jassin juga termasuk yang pertama-tama gigih mempertahankan hak hidup ‘Angkatan ‘45’- kurang lebih duapuluh tahun sebelumnya.
            Kalau kita teliti dengan agak cermat, maka akan kelihatan bahwa keributan sekitar persoalan ‘angkatan’ itu disebabkan oleh karena senantiasa tidak dijelaskan lebih dahulu apa yang dimaksud dengan istilah ‘angkatan’ itu, ‘Angkatan’ yaitu terjemahan dari ‘generatie’ adalah masalah yang sesungguhnya seharusnya erat bertalian dan timbul dalam sejarah sastra, terutama dalam masalah pembabakan waktu atau periodisasi sejarah sastra.
            Jassin meramalkan bahwa “dalam tahun 1980 akan datang lagi satu angkatan baru, tahun 2000 dan seterusnya”.
Apa yang dapat kita simpulkan dari kutipan-kutipan tersebut?
            Pertama: Jassin nampaknya tidak mau memikul tanggung jawab bahwa dia sendirilah yang memproklamasikan adanya ‘Angkatan ‘66’.
            Kedua: bagi Jassin soalnya seolah-olah hanya masalah yang disebutnya “cocok dengan perkembangan manusia secara pribadi.
            Ketiga: kiranya bagi Jassin persoalan tersebut hanyalah masalah pengkotakan administrasi belaka.

            Dalam tulisannya itu Jassin pun ada pula memberi ciri-ciri ‘Angkatan ‘66’, yaitu antara lain :
a)     Konsepsinya Pancasila.
b)     Membawa kesadaran murni manusia yang bertahun-tahun mengalami kezaliman dan perkosaan terhadap kebenaran dan rasa keadilan, kesadaran moral dan agama . . . khas pada hasil-hasil kasusastraan ’66’ ialah protes sosial dan kemudian protes politik.
c)      Yang masuk angkatan ’66’ ialah: “ Mereka yang tatkala tahun 1945 berumur 25 tahun”.

            Dalam membicarakan persoalan ‘angkatan’ dalam sastra kita, sampai sekarang orang dalam garis-besarnya dapat dibagi menjadi dua golongan.
Yang pertama: Mereka yang menafsirkan masalah ‘angkatan’ ini secara subyektif dari kedudukannya sebagai pengarang (approach pengarang) dan
Yang kedua: Mereka yang melihatnya secara obyektif berdasarkan karya-karya sastra yang nyata.
Persoalan ‘angkatan’ tak kunjung selesai, karena kedua belah pihak itu sering “berdialog” tanpa menyadari bahwa kata-kata dan istilah-istilah yang mereka pergunakan meskipun sama bunyi dan ejaannya tetapi lain kandungan artinya.
Dalam ceramahnya dalam Seminar Sastra Fakultas Sastra Universitas Indonesia tahun 1963 itu, Nugroho Notosusanto mengemukakan periodisasi sejarah sastra Indonesia sebagai berikut:
            “Keseluruhan Sastra Indonesia tetap dapat dibagi atas dua bagian:
I.                    SASTRA MELAYU LAMA
II.                  SASTRA INDONESIA MODERN
Sastra Indonesia modern dapat kita bagi sejarahnya atas dua masa, yakni:
I.                    Masa Kebangkitan (kurang lebih 1920-1945)
II.                  Masa Perkembangan (1945-sekarang)
Masa kebangkitan terdiri atas 3 periode :
1.      Periode ‘20
2.      Periode ‘33
3.      Periode ‘42
Sedangkan Masa Perkembangan kita bagi atas periode :
1.      Periode ‘45
2.      Periode ‘50

Menurut  hemat saya periodisasi ini lebih dapat diterima daripada semua periodisasi lain yang pernah dicoba orang tentang sejarah sastra indonesia. Pada garis besarnya saya sendiri menyokong periodisasi tersebut, tetapi dengan berbagai catatan.
Pertama, menurut pendapat saya pembagian seluruh sastra indonesia menjadi dua bagian ‘Sastra Melayu Lama’ dan ‘Sastra Indonesia Modern’ tidaklah tepat. Karena Nugroho sendiri dalam ceramahnya itu mengemukakan asas nasionalisme sebagai dasar seluruh periodisasi dalam sejarah sastra Indonesia, maka lebih tepat lagi kalau untu bagian pertama bukanlah ‘Sastra Melayu Lama’ yang dipergunakannya, melainkan ‘Sastra Indonesia Klasik’ yang tidak hanya meliputi karya-karya sastra yang ditulis dalam bahasa(daerah) yang terdapat diseluruh kepulauan Nusantara, sehingga namanya pun lebih tepat disebut sebagai ‘Sastra Nusantara Klasik’. Artinya ke dalamnya termasuk sastra Jawa, Sunda, Bali, Makasar, Bugis dan lain-lain yang Klasik.
Kedua, tahun awal period berikut setelah period ’45 bukanlah tahun 1950, melainkan tahun 1953. Mengapa? Karena pada tahun 1950 para pengarang yang kemudian menjadi tokoh-tokoh period berikutnya itu kebanyakan belum muncul.
Ketiga, antara tahun 1953 sampai sekarang (1968) saya cenderung untuk menempatkan pula satu period lagi, karena adanya perbedaan-perbedaan yang khas, meskipun secara garis besar barangkali tidak kelihatan. Yang saya maksud ialah sejak tahun 1961, ketika sistem demokrasi terpimpin ‘ sudah mulai mencengkramkan kekuasaannya, timbullah suasana baru dalam kehidupan sastra kita, yaitu semacam semangat perlawanan.
Wellek menekankan perbedaan antara period-period sastra itu pada adanya perbedaan norma-norma sastra yang dapat dilihat pada perbedaan stratanya.
            Sastra perlawanan ini mendapat tempat terutama pada majalah Sastra, Indonesia, Basis dan beberapa buah majalah lain yang satu demi satu kemudian dilumpuhkan oleh Lekra & co menjelang coup d’etat Gestapu awal Oktober 1965.
            Sejarah Sastra Indonesia dapat dibagi dalam periodisasi sebagai berikut:
I.                    Bagian Pertama: Masa Kelahiran atau Masa Kebangkitan (awal abad XX sampai tahun 1945).
II.                  Bagian Kedua: Masa Perkembangan (sejak 1945 hingga kini).
Yang kemudian dapat dibagi-bagi pula dalam period-period lagi, yaitu:
I.                    Masa Kelahiran menjadi :
1.      Period awal – 1933;
2.      Period 1933 – 1942;
3.      Period 1942 – 1945;
II.                  Masa Perkembangan menjadi :
1.      Period 1945 – 1953;
2.      Period 1953 – 1961;
3.      Period 1961 – sekarang;

Secara garis besar masing-masing period mempunyai “norma-norma sastra yang khas yang dapat dilihat pada perbedaan stratanya” (Rene Wellek) serta mempunyai “ bentuk-bentuk mereaksi tertentu” seperti nampak pada “cara berpikir dan merasa serta cara mengungkapkan (memberikan bentuk) kepada pikiran dan perasaan tersebut” mempunyai ciri-ciri yang khas: persoalan-persoalan ‘adat’ yang sedang menghadapi akulturasi dan dengan demikian menimbulkan berbagai problema bagi kelangsungan eksistensi masing-masing. Pada period kedua (1933 – 1942) kaki langit telah menjadi luas menguak: yang menjadi problem pokok adalah mencari tempat di tengah-tengah pertarungan ‘kebudayaan timur’ dan ‘kebudayaan barat’ dalam kacamata romantis-idealistis. Period 1942-1945 (zaman pendudukan jepang) : realitas menyadarkan impian idealistis; karya-karya sastra Zaman Jepang adalah sastra peralihan dan pelarian, penuh kegelisahan. Period selanjutnya (1945-1953) adalah period perjuangan dan pernyataan diri di tengah-tengah dunia karena kemerdekaan yang diproklamasikan menuntut tanggung jawab. Pada period 1953-1961 realitas kehidupan  bangsa yang baru merdeka, yang mencoba mengisinya dengan berbagai kemungkinan,  dimana impian tinggi masa revolusi menghadapi kaum penjajah memberi kepahitan demi kepahitan. Period 1961-1966 adalah period perlawanan dalam memperjuangkan dan mempertahankan martabat serta kemerdekaan pribadi manusia. Mulai tahun 1966 nampaknya telah timbul iklim dan suasana baru pula dalam dunia sastra Indonesia di mana percobaan-percobaan terhadap segala kemungkinan dalam hal gaya dilakukan secara intensif oleh beberapa pengarang.

Menempatkan Chairil Anwar pada Proporsinya
Chairil Anwar adalah sastrawan Indonesia yang paling banyak diperingati hari wafatnya. Di samping itu adalah suatu kenyataan pula, bahwa Chairil Anwar adalah sastrawan Indonesia yang paling banyak dibahas, dibicarakan, dipersengketakan, dipuji dan dicaci. Banyak sudah para penelaah sastra indonesia sendiri maupun orang asing, yang telah menaruh perhatian terhadap sajak-sajaknya, terhadap peranannya dalam sejarah sastra Indonesia, terhadap jasa-jasa dan terhadap dosa-dosannya.
Pada saat-saat dekat sebelum pengkhianatan Gestapu, ketika Lekra (mau) merajai dunia sastra Indonesia dengan semboyannya “politik sebagai panglima kesenian-kebudayaan-kesusastraan”, Chairil Anwar sebagai penganut kebebasan seni para petinggi lekra banyak diganyang dan dicaci maki. Para petinggi Lekra banyak sekali menaruh perhatian dan membuang tenaga untuk menyingkirkan Chairil dari dunia sastra Indonesia.
Kenyatan-kenyataan tersebut mau tidak mau menimbulkan berbagai masalah. Beberapa diantaranya, antara lain sebagai berikut:
Mengapa Chairil anwar begitu banyak menarik minat orang? Mengapa ia begitu banyak menarik minat para sarjan untuk membahasnya? Apa peranannya dalam perkembangan sastra indonesia? Mengapa ia menimbulkan begitu banyak persengkataan di kalangan para ahli, sarjan dan peminat sastra Indonesia? Mengapa sebagian memujinya setinggi langit dan yang lain memakinya sekeji-kejinya pula? Mengapa orang Lekra keras benar menghantam dan hendak menyingkirkannya?

PERANANNYA DALAM SEJARAH SASTRA INDONESIA
            Umumnya, Chairil disebut sbagai pelopor ‘Angkatan ‘45’ dan jasa-jasanya disebut dalam pembaharuan puisi Indonesia. Dalam kedudukan dan peranannya itulah Chairil diagung-agungkandan dipuji-puji orang.
            Seperti diketahui Chairil yang dilahirkan tahun 1922 itu mula muncul dengan sajak-sajaknya pada zaman pendudukan Jepang. Beberapa sajaknya dimuat dalam penerbitan-penerbitan (resmi) pemerintah masa itu, tetapi kebanyakan disimpan dalam lipatan kain saja atau disebarkan kepada kawan-kawannya yang akrab secara terbatas.
            Tahun1922, tahun kelahiran Chairil Anwar adalah tahun penting dalam sejarah kelahiran bahasa dan sastra Indonesia. Tahun itu adalah tahun terbit kumpulan sajak Indonesia yang pertama buah tangan Muhammad yamin berjudul Tanah Air dan tahun terbinya roman Sitti Nurbaya buah tangan Marah Rusli.
            Bahasa Indonesia yang merupakan penjadian dari bahasa Melayu di lingkungan nasional indonesia, dalam pertumbuhannya banyak menyerap dari bahasa-bahasa asing dan bahasa-bahasa daerah. Dalam masa inilah timbulnya sebutan kepada orang macam S. Takdir Alisjahbana sebagai “Insinyur Bahasa”. Dengan dan dalam bahasa indonesia yang masih dekat ke dalam bahasa Melayu. Kita menyaksikan bahwa percobaan-percobaan Amir Hamzah yang banyak menggali dan mengambil dari dalam bahasa dan kekayaan sastra Melayu Klasik, mendapatkan sukses, terutama justru karena sajak-sajaknya sendiri banyak bersuasanakan sastra Melayu. Ternyata bahasa Indonesia belum dibuktikan sanggup menjadi wadah sastra yang dewasa.
            Memang sastrawan pun sampai batas-batastertentu adalah hasil dan atau terpengaruh oleh kondisi lingkungan kebudayaan, termasuk kondisi bahasanya sendiri. Dengan sajak-sajaknya para pengarang pujangga baru sesungguhnya memancangkan batu-batu fundasi bangunan tradisi sastra Indonesia. Baru Chairil anwar dengan sajak-sajaknya membuktikan sekaligus bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa sastra cukup dewasa dan matang.
            Dengan sajak-sajak dan prosa-prosanya, Chairil membukakan kakilangit-kakilangit baru bagi sastra dalam bahasa indonesia yang sudah menjadi. Bahasa sehari-hari dengan imajinasinya yang hidup serta pilihan katanya yang plastis, dituangkannya menjadi suatu cipta sasta yang melukiskan kehidupan rohaniah manusia indonesia modern.
            Oleh Chairil Anwar dengan demikian dibuktikan dengan malalui sajak-sajak dan prosa-prosanya, bahwa bahasa Indonesia sanggup menjadi bahasa sastra untuk mengungkapkan kehidupan dan penghidupan rohani manusia modern yang se dalam-dalamnya. Sejak Chairil Anwar bahasa Indonesia masih mengalami pertumbuhan dan perkembangan, penempaan dan penyigian, tetapi berdasarkan dasar-dasar yang sudah diberikannya.
            Di sinilah jasa peranan Chairil yang belum ada duanya dalam perkembangan sastra Indonesia hingga sekarang, menurut hemat saya, dan bukan pada aksetuasinya mengutamakan ‘isi’ daripada “bentuk”. Karena kalua kita teliti dengan cermat akan terbukti bahwa unsur-unsur “bentuk” justru dalam sajak-sajak Chairil anwar mendapatkan perhatian yang tinggi, bahkan tinggi sekali.

PERSONIFIKASI MANUSIA INDONESIA
Agaknya jelas sudah bahwa Chairil adalah seorang manusia individualis anarkhis yang boleh dikatakan tidak memperdulikan yang lain-lainnya, kecuali kasusastraan khususnya, kesenian dan kebudayaan umumnya. Bahkan intensitasnya sebagai sastrawan menimbulkan berbagai macam ketegangan dengan lingkungan hidupnya sehari-hari, malahan dengan istrinya sendiri. Ia pada zaman itu, di ruang hidupnya, merupakan ‘binatang jalang’ benar-benar yang tidak punya kumpulan. Ia “dari kumpulannya terbuang”, tapi sesungguhnya kumpulannya ada, namun tidak disini. Kira-kira kehidupan kaum bohemia seniman-seniman Eropalah yang menjadi “kumpulan” yang cocok bagi kehidupan penyair Chairil Anwar ini.
Dalam lingkungan kasusastraan Chairil Anwar ini adalah orang yang pertama yang hidupnya semata-mata diabdikan kepada keseian, terutama kasusastraan. Secara konsekuen ia hanya hidup untuk dan daripada hasil-hasil (honorarium) sastranya belaka.
Chairil Anwar memberikan contoh yang sebelumnya tidak pernah dilakukan oleh sastrawan-sastrawan Indonesia  dalam pengabdiannya terhadap lapangan dan panggilan hidupnya.
Sebagai orang yang tak suka tanggung-tanggung dalam melakukan sesuatu, Chairil menimbulkan gelombang reaksi yang mendukung atau menentangnya secara hebat.
Chairil Anwar yang paham keseniannya banyak berkiblat dan bersumber pada kesenian Eropa Barat menunjukan adanya pengaruh itu dalam sajak-sajaknya dan prosa-prosanya: baikpun yang dia coba sembunyikan maupun yang tidak. Dalam sebuah tulisan saya pernah mengemukakan hal ini, yaitu tentang besarnya pengaruh Eropa dalam alam pikiran dan sajak-sajak Chairil. Pengaruh mana timbul melalui bacaan- karena Chairil sepanjang hidupnya tak pernah menginjakan kaki di benua Eropa.
Chairil Anwar sebenarnya merupakan personifikasi Manusia Indonesia yang kuat hendak hidup dalam lingkungan dunia. Seperti yang diketahui, konsepsi faham ini dirumuskan kemudian dalam ‘Surat Kepercayaan Gelanggang’, ‘Gelanggang’ atau ‘Gelanggang Seniman Merdeka adalah kunstkring, lingkungan kesenian, yang didirikan oleh Chairil beserta kawan-kawannya para sastrawan, para pelukis, musisi dan lain-lain, Rumusan konsepsi itu sendiri baru dibuat setelah Chairil meninggal , namun secara konsepsional menunjukan rumusan sikap dan acuan hidup Chairil sendiri.

TUGU YANG HENDK DISINGKIRKAN
            Secara rohaniah kesenian dan pandangan hidup Chairil Anwar bersumber kepada kebudayaan Eropa Barat Modern: Ia sesungguhnya orang yang melaksanakan segala teori Sutan Takdir dalam polemik-polemiknyadimasa sebelum perang. Sementara itu kebudayaan Eropa modern sendiri dalam perkembangannya menimbulkan pertentangan-pertentangan faham dalam tubuhnya. Faham komunisma sebagai reaksi kepada dan lahir daripada keadaan masyarakat Eropa modern yang disebut kapitalistis dan borjuis, masuk pula kedalam kehidupan bangsa-bangsa di benua-benua lain – termasuk Indonesia.
            Chairil Anwar sebagai penyair yang menganut dan membawa faham individualisma (yang anarkhistis pula) kedalam kehidupan sastra Indonesia, sejak semula merupakan tokoh yang ditentang  oleh para sastrawan Indonesia yang menganut faham realisma-sosialis.
            Tetapi dalam perkembangan sejarah jadi nampak bahwa Chairil pengaruhnya tidak terbatas hanya kepada formalisma dalam sastra saja, melainkan juga kepada pandangan hidup para sastrawan khususnya dan manusia Indonesia umumnya. Pengaruh itulah yang hendak dikikis oleh kaum komunis melalui lekra, karena pengaruh itu bagi mereka mencerminkan pandangan hidup “masyarakat borjuis yang dekaden”
            Pada masa menjelang Gestapu, ketika suasana mereka anggap sudah cukup matang untuk melakukan coup d’etat, maka dalam bidang kebudayaan mereka menghantam dan menghancurkan setiap faham dan orang yang menurut pikiran mereka tidak sefaham dengan mereka. Maka Chairil Anwar yang sudah terpancang menjadi tugu dalam kehidupan kasusastraan khususnya dan dalam kehidupan kesenian kebudayaan Indonesia umumnya, mereka coba hancurkan. Dengan senjata ‘Manipol’ dan ‘revolusi menghaalkan segala’, mereka menganalisa Chairil secara habis-habisan, mencapnya sebagai penyair kontra revolusi yang a-nasional. Pendeknya image yang sudah terekam tentang Chairil dalam sanubari masyarakat Indonesia hendak mereka lenyapkan dan mereka ganti dengan image yang baru: Chairil sebagai penyair dekaden, anti-Manipol, kontra revolusioner, a-nasional.
            Penghancuran image tentang Chairil itu tidak sampai berhasil sama sekali karena coup d’etat yang mereka lakukan gagal.


Chairil Anwar dan Politik
            “kalau sekiranya sekarang Chairil Anwar masih hidup, menurut perkiraan saudara akan masuk partai manakah dia?”
            Karena seperti diketahui sudah, masa-masa itu para seniman dan budayawan, termasuk para sastrawan, didesa oleh berbagai fihak dan kekuatan dari segala penjuru untuk segera menentukan sikap. Dan “menentukan sikap” itu umumnya diartikan harus segera menempatkan diri dalam salah satu kamar bangunan ‘Nasakom’: nasionaliskah? Agamakah? Atau komuniskah? Dan itupun harus diartikan pula masuk kedalam salah satu kandang yang berupa lembaga-lembaga kebudayaan yang bernaung dibawah partai-partai Nasakom-yaitu partai-partai yang disahkan(artinya diperbolehkan oleh pemerintah waktu itu). Sebab kalau tidak demikian, yaitu kalau tidak segera masuk kedalam salah satu kandang yang tersedia akan menjadi sasaran kecurigaan segala fihak, dan itu bukan tidak mengandung ancaman bahaya bagi kehidupan sehari-hari si seniman sendiri!.
            Sementara itu, pertanyaan bagaimana kiranya sikap politik Chairil Anwar almarhum dalam situasi kurang 15 tahun setelah ia meninggal, didorong pula oleh kenyataan yang menarik.
            Tentang sikap politik Chairil Anwar kendatipun Sitor sendiri mengakui bahwa “sajak-sajak ‘Diponegoro’ dan ‘Kepada Bung Karno’ yang ditulis Chairil justru menjelaskan kemungkinanrevolusi sebagai dunianya sastra”.
            Agaknya patut diingat, bahwa dari sajak-sajaknya kita dapat melihat Chairil sebagai orang yang menaruh minat yang besar terhadap masalah-masalah politik. Memang ia tidak pernah menunjukan dirinya menaruh minat untuk menjadi politikus (politician). Ia sendiri dalam satu suratnya kepada H.B. (Jassin tahun 1994) telah mengatakan bahwa kesenian dan kasusastraanlah yang menjadi pilihan hidupnya. Ini telah menegaskan bahwa ia tidak akan memilih hidup sebagai politikus.
            Sajaknya yang berjudul ‘Krawang Bekasi’ atau lebih terkenal lagi dengan nama ‘kenang, kenanglah kami Sajak Archilbald MachLeish yang berjudul ‘The Young Dead Soldiers’ itu melukiskan prajurit-prajurit yang mati muda dalam pertempuran, oleh Chairil diberi warna lokal dan patriotisma Indonesia, ketika ia memulai sajak yang diumumkan atas namanya sendiri itu dengan dua baris yang kemudian menjadi terkenal.
                        “Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
                        tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi”
            dan terlebih-lebih lagi tatkala Chairil menambahkan baris-baris berikut ini:
                        “Kenang, kenanglah kami
                        Teruskan, teruskanlah jiwa kami
                        Menjaga Bung Karno
                        Menjaga Bung Hatta
                        Menjaga Bung Sjahrir”
            Pendeknya sajak-sajaknya itu menunjukan bahwa Chairil seorang penyair yang mengerti dan mengerti masalah-masalah politik. Ia seorang yang tahu hubungan dirinya sebagai anak bangsa dengan tanah airnya beserta persoalan-persoalan dan masalah-masalah yang dihadapinya.
            Ia seorang yang bebas. Dan hasratnya akan kemerdekaan itu terpancar dalam hampir setiap baitnya.

In Memoriam :
J.E Tatengkeng (1907-1968)

            Bulan Maret 1968, ketika berbicara dengan saudara H.B Jassin tentang ketakamanan surat-surat yang dikirimkan via pos, ia menyinggung-nyinggung pertemuanny dengan Tatengkeng di Makasar tatkala Jassin dalam perjalanannya menuju Gorontalo akhir 1967 singgah disana. Dalam pertemuan itu Tatengkeng menyampaikan kekesalan hatinya kepada “Ajip yang setelah meminta izin untuk mencetak buku Rindu Dendam lantas tak ada kabar beritanya lagi”. Amanat yang disampaikan Jassin itu membuat saya terperanjat.
            J.E. Tatengkeng lahir di Kolongan, Sangihe, tanggal 19 Oktober 1907, dikenal terutama sebagai seorang penyair yang menerbitkan kumpulan sajak Rindu Dendam (1934). Isinya umumya merupakan sajak-sajaknya kerindu-dendaman penyair itu terhadap Yang satu, Tuhan Yang Maha Esa. Ia seorang penyair yang suka bersunyi-sunyi dan memproklamasikan.
            Dan sebagai seorang penyair yang seperti Sanoesi Pane tidak henti-hentinya mencari kedamaian dan ketenangan, ia pun mencoba mencari jawaban atas kegelisahan hatinya itu. “Di mata air, di dasr kolam”, “dikawan awan kian kemari”, diwarna bunga yang kembang”, dan kepada “gunung penjaga waktu” serta kepada “bintang lahir semula” pun ia tak habis-habisnya bertanya. Tatengkeng menemukannya dalam Tuhan.
            Tahun limapuluhan awal, saya masih membaca sajak-sajaknya dalam masalah Zenith, Indonesia. Tahun limapuluhan pula ia banyak mengumumkan prosa-prosanya, berupa sketsa dan kisah-kisah yang humoristis mengkritik berbagai segi kehidupan dan masyarakat Indonesia setelah merdeka.
            Yang tidak banyak orang tahu, atau paling tidak: tak banyak diperhatikan orang, ialah tulisan-tulisannya yang berupa kritik dan esai yang ditulis umumnya pada masa sebelum perang. Dari tulisannya itu kemudian terjadi semacam polemik kecil mengenai konsepsi seni dan fungsi kritik dalam sastra.
            Ia seorang yang sederhana, mengemukakan pendapatnya secara sederhana pula-berlainan dengan kawannya sebaya S. Takdir Alisyahbana yang gemuruh menggegar-gegar selalu. Ia rasanya langsung bicara kepada hati, dengan demikian kadang-kadang ia dapat melihat dan mengemukakan persoalan secara lebih jernih dan lebih terang, dalam sorotan cahaya yang lebih terang.
            Sejak semula Tatengkang sebagai penulis bukan seorang yang terbilang produktif, tapi sampai dekat akhir hayatnya ia masih terus setia menulis, baik kreasi berupa sajak-sajaknya dan kisah-kisah maupun telaah-telaah berupa esai. Sungguh tidak banyak pengarang kita yang setia menulis terus sampai usia selanjut itu.
            Dalam karirnya di luar kasusastraan, ia pernah aktif dalam pemerintahan Negara Indonesia Timur (NIT) mula-mula sebagai menteri pengajaran dan kemudian bahkan sebagai perdana menteri (1949). Kemudian ia menjadi Kepala Inspeksi Daerah Kebudayaan untuk Sulawesi di Makasar. Ia pun turut mendirikan dan mengajar di Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin  di Makasar. Pernah pula duduk beberapa kali sebagai anggota pengurus pleno Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN).
            Dan kini ia tiada lagi!
            Tatengkeng telah lepas dari kurungan sekarang, mencari cinta, Kasih dan sayang. Tatengkeng telah menjadi embun yang setelah memancarkan terang sinar matahari maka ia kini lenyap dipanggil kembali oleh-Nya.

In Memoriam :
Armijn Pane (1908-1970)

Armijn Pane meninggal dunia!
            Pada usia lewat 60 tahun ternyata Armijn sebagai pengarang masih (akan) bertelur dan mengeram. Ketika ia meninggal tanggal 16 Februari 1970, usianya sudah menjelang 62 tahun, karena ia dilahirkan di Muarasipongi, Tapanuli, tanggal 18 Agustus 1908 – setahun kelahiran dengan S. Takdir Alisyahbana dan lebih tua 3 tahun dari Amir Hamzah almarhum,  yaitu kedua orang kawannya pendiri majalah Poedjangga Baroe pada tahun 1933.
            Riwayat pekerjaannya menunjukan kegelisahan itu: ia pernah menjadi wartawan surat kabar Soeara Oemoem di Surabaya (1932), kemudian mingguan peninjuan (1934) dan surat kabar Bintang Timoer (1935) dan menjadi wartawan freelance pula. Tahun 1933 ia bersama-sama dengan Takdir Alisjahbana dan Amir Hamzah menerbitkan Poedjangga Baroe. Ia pun pernah menjadi pamong Taman Siswa di berbagai kota di Jawa Timur. Menjelang kedatangan bala tentara Djepang ia duduk sebagai redaktur Balai Pustaka dan memimpin majalah Pandji Poestaka. Pada zaman Jepang Armijn bersama dengan abangnya, Sanoesi Pane almarhum bekerja di Kantor Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidoso) dan menjadi kepala bagian Kasusastraan Indonesia modern.
            Sesudah merdeka Armijn aktif daam lapangan organisasi kebudayaan. Ia pun aktif dalam kongres-kongres kebudayaan serta pernah menjadi anggota pengurus harian Lembaga Kebudayaan Indonesia (LKI) yang kemudian menjadi Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional. Ia juga duduk sebagai pegawai tinggi kementrian P.P & K.(Bagian Bahasa) sampai pensiun.
            Armijn terutama terkenal sebagai pengarang roman Belenggu. Padhal kecuali roman, ia pun menulis cerita pendek, sajak, drama, esay dan kritik.
            Tahun 1969 yang lalu Armijn mendapat Anugerah Seni dari pemerintah karena karya dan jasanya dalam lapangan sastra.
            Mudah-mudahan jasa-jasa Armijn Pane dalam perjuangan dan pembinaan kebudayaan Indonesia, khususnya kesusastraan Indonesia, mendapat tempat dan penghargaan yang layak dari bangsanya, bangsa Indonesia, dan mudah-mudahan pula Allah Swt. Memberinya rahmat akhirat sesuai dengan amalan hidupnya, mendapat tempat disisi-Nya. Amin !





Segi Lain
Sajak-sajak Taufiq Ismail

Sebagai penyair Taufiq Ismail tidak bisa dipisahkan dari sajak-sajak demonstrasinya. Bersama-sama dengan tujuh orang penyair Islam lain, Taufiq menerbitkan sajak-sajaknya dalam sebuah buku berjudul Manifestasi (1963).
            Dalam sajak-sajak itu kita bukan hanya menemukan kembali kisah-kisah yang sudah kita kenal dari buku-buku sejarah dan riwayat. Sajak-sajak itu merupakan manifestasi literer dari interpretasi si penyair terhadap kisah-kisah sejarah Islam dan riwayat Nabi Muhammad SAW.
            Tetapi bukan hanya pengetahuan akan sejarah dan riwayat seperti hadith-hadith saja yang diperlukan untuk membaca sajak-sajak Taufiq ini, melainkan juga pengenalan akan permasalahan kehidupan agama dan umat islam.
            Yang sangat menarik adalah kenyataan bahwa sajak-sajak tersebut merupakan petanda bahwa sastra (keagamaan) Islam kita tidak hanya terbatas kepada apa yang oleh Goenawan Muhamad pernah disebut “agama sebagai latar belakang” saja. Dalam sajak-sajak Taufiq tersebut  latar belakang agama menjadi sikap dalam menghadapi berbagai masalah.
            Sajak-sajak Taufiq yang dimuat dalam Horison itu, lebih representatif untuk mewakili apa yang disebut ‘puisi Islam dalam sastra Indonesia’.
Nabi Muhammad bagi Taufiq Ismail bukanlah hanya seorang nabi yang hidup berabad-abad yang lampau dalam sejarah dan sekarang dimakamkan di Madinah. Bagi Taufiq, Muhammad adalah Rasulullah yang “dari sela rimbun daun sejarah”. Taufiq melihatnya sebagai seorang yang sekarang pun akan dapat dia tangkap “bayang-bayang gamis”nya.
            Muhammad bagi Taufiq adalah seorang panglima yang sehabis perang Badar yang dimenangkannya secara gemilang “merenung/Dalam kemah”membayangkan perang yang baru lalu :
            Dalam sajak ‘Malam Seribu Bulan’ Taufiq mengemukakan suatu interpretasinya sendiri tentang malam lailatulqadr.
            Sajak-sajak Taufiq Ismail yang selama ini lebih dikenal sebagai penyair ‘sajakk-sajak demonstrasi’. Yaitu segi yang sebenarnya merupakan dasar dan titik tegaknya. Karena sesungguhnya Taufiq bertindak sebagai demonstran dan menulis sajak-sajak ‘protes sosial dan protes politik’ pun adalah merupakan sesuatu yang wajar akibat dari kesadarannya sebagai seorang muslim yang wajib menegakkan yang Hak dan menumpas yang bathal.


Sedikit Catatan Tentang
Pendidikan Apresiasi Sastra

Kehidupan penerbitan sastra setelah sekian belas tahun ini tak banyak majunya. Pertama, kehausan akan bacaan meningkat dalam masyarakat kita sebagai hasil dari adanya pendidikan(sekolah-sekolah). Kedua, kehausan akan bacaan itu dipenuhi oleh majalah-majalah dan bacaan-bacaan hiburan. Ketiga, bahwa dalam bidang pengajaran sastra, hasilnya tidak maju, atau bahkan tak mustahil mundur.
            Selama sekian belas tahun, jumlah buku-buku yang dapat dipergunakan di sekolah-sekolah untuk bahan pengajaran atau pendidikan apresiasi sastra tidaklah bertambah.
            Murid-murid yang mmenaruh perhatian terhadap sastra secara lebih serius biasanya mendapatkan dari bacaan-bacaan di luar sekolah.
            Buku-buku sastra sangat terbatas sekali dan sejak beberapa belas tahun tak pernah mmendapat tambahan buku baru. Keadaan seperti yang saya kemukakan itu sangatlah tidak menguntungkan bagi pengajaran dan pendidikan apresiasi sastra.
MENGAPA TAK ADA BUKU-BUKU PENGAJARAN SASTRA YANG BAIK?
            Apabila kita perhatikan buku-buku yang dipergunakan sebagai pegangan untuk pengajaran sastra di sekolah-sekolah menengah, akan segera kitnyaa lihat bahwa buku-buku itu umumnya ditulis oleh guru yang mungkin tahu tentang metoda paedagogi yang baik tapi tak tahu (banyak) tentang (ilmu) sastra.
            Buku-buku ini biasanya merupakan campuran dari keterangan-keterangan tentang teori sastra dan tentang sejarah sastra. Tapi mengapa buku-buku yang sudah ketahuan tidak memuaskan itu masih juga dijadikan pegangan.
            Pertama, ialah karena tak ada buku yang lain. Kedua, karena buku-buku itu hanyalah menyesuaikan diri saja dengan kurikulum yang sedang berlaku.

Laranglah Buku, Jangan Pengarang

Diantara buku-buku dan pengarang-pengarang yang disarankan untuk mendapat anugerah itu terdapat Pramoedya Ananta Toer (Bukan Pasar Malam), Utuy T. Sontani (Manusia Kota) dan Sitor Sitomorang (Surat Kertas Hijau). Ternyata Menteri Mashuri menolak saran Panitia tersebut.
Sitor namanya memang tidak termasuk dalam instruksi ituu, tetapi ia sekarang berada dalam tahanan konon karena terlibat Gestapu.
            Masalah larangan terhadap buku-buku di Indonesia bahkan di alam Indonesia merdeka sekalipun, bukanlah sesuatu yang baru.
            Pada tahun 1964 terjadi peristiwa yang unik dalam masalah pelarangan buku Indonesia. Bahwa dengan dilarangnya Manifes Kebudayaan oleh Soekarno (yang ketika ia menjadi Presiden dan Pemimpin Besar Revolusi), maka juga buku-buku dan tulisan-tulisan karya para penandatangan Manifes dilarang dibaca.
            Secara yuridis, kalau larangan terhadap buku Pramoedya Ananta Toer (Hoakiau di Indonesia) dan Agam Wispi (Matinya Seorang Petani) dikeluarkan oleh penguasa perang karena keadaan negara dalam SOB, maka seharusnya larangan terhadap karya-karya para penandatangan Manifes itupun dikeluarkan oleh Penguasa Perang juga.
Instruksi Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan Republik Indonesia tentang larangan mempergunakan buku-buku pelajaran, perpustakaan dan kebudayaan yang dikarang oleh oknum-oknum dan anggota-anggota Ormas.
            Dalam daftar larangan buku-buku dan pengarang itu termasuk juga Pramoedya Ananta Toer, Utuy T. Sontani, Rifai Apin, S. Rukiah, Rijono Pratikto dan lain-lainnya – pengarang yang sudah menghasilkan karya-karya sastra penting sebelum mereka menjadi anggota atau dekat dengan pihak Lekra.
            Dengan melarang karya-karya sastra yang boleh dikatakan telah menjadi milik bangsa kita dalam bidang rohani, maka kita telah mempermiskin diri sendiri.
            Dengan melarang karya-karya sastra sipengarang yang sebagai manusia sebenarnya masih dapat berubah (termasuk paham politik dan pemandangan hidupnya), kita mungkin secara tak langsung telah memboroskan bakat-bakat terbaik yang kita punyai.

Boen Membahas Atheis

Lebih dari pada sastrawan, kritikus haruslah seorang yang mengetahui benar tentang soalnya (sastra) baik secara teknis-teoretis maupun historis, dengan latar belakang pengetahuan (terutama estetika, sejarah, filsafat, psikologi, sosiologi dan lain-lain) yang cukup luas.
            Hanya H.B. Jassin sajalah yang telah menunjukan ketekunan dan kesungguhan hatinya mengerjakan lapangan yang tandus itu.
            Dengan latar belakang seperti itu kita menyambut terbitnya buku Boen S. Oermarjati yang merupakan sebuah kritik sastra terhadap roman Atheis buah tangan Achdiat K. Mihardja. Kritik Boen tentang Atheis menunjukan keberanian penulis muda wanita ini untuk keluar dari kebiasaan dan batas pandangan gurunya sendiri, yaitu H.B. Jassin.
            Bahkan dalam kekagumannya terhadap penulis Atheis, ditengah-tengah kata-kata pujiannya yang menyanjung, Boen tidaklah kehilangan tempat tegaknya dengan tajam dianalisisnya kelemahan Achdiat dalam menokohkan Kartini yang kabur pelukisan wataknya dan keberatan-keberatan psikologis terhadap perkembangan hubungan Hasan-Kartini. Boen telah mempergunakan berbagai pengetahuan modern, terutama psikologi dan sosiologi yang telah dijalinnya dengan baik. Ia telah menyoroti Atheis dari berbagai segi : teknis, komposisi, filosofis, perwatakan dan lain-lain.

Puisi Indonesia
Dalam Masa Duapuluhan

            Dengan didahului dengan sebuah bahasan yang sangat menarik mengenai ‘Masa mula Sastra Indonesia’ dan di ikuti oleh ‘ Persoalan Tambahan’ yang secara sepintas-lalu membicarakan roman dan drama tahun duapuluhan dan ditutup dengan ‘Tinjauan Keluar dan Kesimpulan’. Untuk itu ia mempergunakan analisa sosiologis dari Boejoeng Saleh Poeradisastra dalam pidato simposion sastra pertama yang diselenggarakan oleh Fakultas Sastra UI di Jakarta (tahun 1953).
            Fachruddin  awal abad ke-20 Dia menyinggung tentang kemajuan pers yang juga besar jasanya bagi perkembangan sastra, karena “majalah dan surat kabar sering memuat sajak-sajak dan cerita pendek atau cerita bersambung”. Fachruddin mengemukakan peranan majalah Jong Sumatera yang pada ahun 1920 memuat sajak-sajak Jamin “yang dengan girang melihat masa depan bahasa ini yang gemilang”, yaitu kebanyakan berupa soneta.

Dua Buku Hutagalung
           
JALAN TAK ADA UJUNG MOCHTAR LUBIS
Roman Mochtar Lubis yang kedua berjudul Jalan Tak Ada Ujung pada tahun 1952 mendapat hadiah sastra nasional dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional. Roman yang berlatar belakangkan revolusi fisik Indonesia itu, mencoba menganalisa dan mengikuti liku-liku jiwa seorang guru bernama Isa yang menjadi pemberani karena ketakutannya tak tertahankan lagi.
            Karena tertarik oleh kenyataa-kenyataan dan pengakuan orang terhadap roman tersebut, maka M.S. Hutagalung telah mengambil roman itu sebagai objek skripsi kasusastraan.
            Tetapi yang terbukti dilakukannya tidaklah menganalisa tokoh-tokohnya, manusia-manusia dan situasi-situasi yang dilukiskan Mochtar Lubis dalam romannya itu secara psikologis, filosofis ataupun sosiologis, melainkan terutama mencari-cari bukti sampai dimana pengaruh psikologi (ilmu jiwa dalam Freud, Jung dan Adler), pengaruh filsafat eksistensialisma (Kierkegaard Nietzsche, Heidegger dan Sartre).
            Mochtar tidaklah bertolak dari suatu rangka teori psikoanalisa, dari filsafat eksistensialisma ataupun teori sosiologi unanimisma ketika menulis romannya itu, melankan berangkat dari manusia Indonesia yang hidup di sekelilingnya. Mochtar Lubis telah berhasil melukiskan manusia dalam dan beserta situasinya, atau dengan kata-kata Mochtar sendiri kepada Hutagalung : “manusia dengan persoalannya, dengan ketakutannya. . . ”.
            Hutagalung sempat menyuguhkan riwayat hidup para psikolog, para filosof dan para sosiolog terkemuka dengan pokok-pokok teorinya masing-masing,  Hutagalung dalam mencoba menyoroti Jalan Tak Ada Ujung secara psikologis, filosofis, dan sosiologis.
TANGGAPAN DUNIA ASRUL SANI
Mulanya saya mengira bahwa buku yang berjudul Tanggapan Dunia Asru Sani ini merupakan suatu uraian tentang tanggapa dunianya Asrul Sani. Sebenarnya buku ini hanya merupakan suatu usah Hutagalung untuk mendekati (dalam arti menyelami dan menafsirkan) sajak-sajak dan cerita pendek Asrul Sani.
            Dibandingkan dengan bukunya yang pertama tentang roman Mochtar Lubis itu, buku tentang Asrul Sani ini menunjukan adanya kemajuan-kemajuan, kendati kita pun menyayangkan bahwa karena metoda yang dipergunakannya tetap yaitu suatu pendekatan analitik yang bermula dari batasan-batasan umum yang kemudian diterapkan pada objeknya.
            Kalau dalam menganalisa roman Jalan Tak Ada Ujung, Hutagalung dengan aprproach ekstrinsik sastra, maka dala meneliti sajak dan cerita pendek Asrul, ia melakukan approach instrinsik.
            Hutagalung menelitinya melalui eksistensialisma Sartre dan Marcel, melalui fenomenologi dan lain-lain, tetapi ketika menyinggung persoalan agama Islam, ia merasa cukup hanya dengan mengutip Bahrum Rangkuti tentang Iqbal.
            Sebuah lampiran dimuatkan pula sajak-sajak Asrul yang belum dimuat dalam Tiga Menguak Takdir dan Gema Tanah Air dan sebuah cerpen yang berjudul ‘Museum’. Hal ini tentu akan memudahkan mereka yang menaruh minat untuk melihat sosok Asrul Sani secara keseluruhan.




Junus Amir Hamzah Tentang
Hamka Sebagai Pengarang Roman

Tokoh Hamka dalam dunia kasusastraan Indonesia adalah seorang tokoh yang paling banyak dihebohkan orang, terutama setelah Abdullah S.P mengajukan bukti-bukti yang mendakwa Tenggelamnya Kapal v/d Wijck sebagai hasil plagiat. Roman-romannya yang terkenal antara lain Dibawah Lindungan Ka’bah (1938), Merantau ke Deli (1939), Tuan Direktur (1939), Keadilan Ilahi (1941), Dijemput Mamaknya (1949), sedangkan kumpulan cerita pendeknya Di Dalam Lembah Kehidupan (1941), merupakan salah sebuah kumpulan cerita pendek yang pertama dalam sejarah perkembangan sastra Indonesia. Buku-bukunya tentang agama Islam itulah yang telah menyebabkan Hamka oleh sebagian kritikus-sastra Indonesia disebut sebagai ‘pujangga Islam’. Masalah-masalah roman Hamka adalah masalah adat, percintaan yang tak sampai, rumah tangga yang hancur dan semacamnya – dan Islam hanyalah menjadi latar belakang belaka.
            Buku Junus Amir Hamzah tentang Hamka, yang berjudul Hamka Sebagai Pengarang Roman, sangat menarik hati. Karena Junus mengikuti istilah dan definisi Jasssin maka ia hanya menemukan dua buah ‘roman’ buah tangan Hamka, yaitu Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal v/d Wijck.
            Junus memulainya dengan membahas pandangan Hamka dari segi ajaran tentang takdir menurut konsepsi Islam. Penelaahan Junus terasa agak kurang sistimatiknya, karena dalam bab-bab yang sudah diberi judul yang menunjukan objek garapan khusus, sering menyeleweng membicarakan yang bukan-bukan. Junus merasa leluasa saja untuk membahas tentang pengaruh Muhammad Abduh terhadap Hamka, tentang pandangan Hamka mengenai kebudayaan Indonesia baru dan perbandingan antara Di Bawah Lindungan Ka’bah dengan Tenggelamnya Kapal v/d Wijck.


Lampu Merah Buat Jassin

AMIR HAMZAH RAJA PENYAIR PUJANGGA BARU
H.B Jassin Ia seorang kritikus dan Sarjana Sastra yang terkenal tekun dan sebagai salah satu hasil ketekunannya itu. Baru-baru ini kita menrima sebuah bukunya yang baru berjudul Amir Hamzah Raja Penyair Pujangga Baru (Jakarta, 1962).
            Jassin menyertakan suatu daftar karya almarhum secara kronologis, sebuah bibliografia dan didahului dengan sebuah pengantar.
            Jassin melukiskan Amir Hamzah sebagai seorang penyair dan manusia yang tidak kunjung dewasa. Dalam menyelidiki apakah sebabnya Amir Hamzah sampai mendapat tempat terhormat di lingkungan pujangga baru, Jassin sampai pada kesimpulan sebab-musababnya : “Oleh variasi yang besar dalam jumlah suku kata Amir melepaskan diri dari irama syair yang monoton dan dapat semuanya memberi bentuk yang sesuai dengan alun jiwanya.


PUJANGGA BARU PROSA DAN PUISI
Buku Pujangga Baru Prosa dan Puisi yang disusun oleh H.B. Jassin adalah sebuah bungarampai (antologia) dari para pengarang dan penyair yang oleh penyusunnya digolongkan kedalam apa yang dinamakan ‘Angkatan Pujangga Baru’. ‘Angkatan Pujangga Baru’ biasanya ditempatkan sebagai angkatan kedua, yaitu setelah ‘Angkatan Duapuluhan’. Tidak sedikit pula para sastrawan yang menolak atau tidak mau dimasukan kedalam suatu angkatan.
            Lingkungan pujangga baru memang ada, terutama di sekitar majalah Poedjangga Baroe.  Teruna yang diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1941 digolongkan juga kedalam ‘Angkatan Pujangga Baru’.

ANGKATAN ’66 PROSA DAN PUISI
Zaman Jepang adalah zaman di mana kehidupan bahasa dan dengan demikian kehidupan kesusastraan Indonesia berkembang secara pesat, tetapi selama tiga setengah tahun hanya beberapa buku saja yang terbit. Kehidupan manusia Indonesia pada masa itu berada pada suatu taraf dimana buku merupakan suatu barang mewah yang tak terjangkau oleh daya belinya.
            Angkatan 66 disusun H.B. Jassin untuk melengkapi ketiga antologinya yang terdahulu.
            Terhadap judul Angkatan 66 untuk suatu bungarampai prosa dan puisi yang tidak mempergunakan ukuran semangat Angkatan ’66 secara konsekuen itu, telah timbul reaksi pula, antara lain dari Taufiq Ismail dan Arief Budiman. Mereka menyatakan keberatan kalau nama ‘Angkatan ‘66’ itu dipergunakan untuk suatu bungarampai yang didalamnya dimuatkan juga karangan-karangan para pengikut Soekarno yang menjadi dedengkot Orde Lama, padahal itulah yang menjadi sasaran pendobrakan Angkatan ‘66’.
            Arief Budiman dalam resensinya menyambut bungarampai telah pula menyinggung soal judul ‘Angkatan ‘66’ yang secara tak konsekuen dipergunakan Jassin.
            Saya sendiri berpendapat bahwa Angkatan 66 Prosa dan puisi kalau diukur oleh maksud penyusunnya sendiri seperti yang dikemukakan Jassin dalam ‘ kata pengantarnya’ (untuk memperkenalkan pengarang-pengarang dan hasil-hasil kesusastraan sesudah tahun 55-an’) tidaklah dapat disebut representatif.
            Kenyataan bahwa Angkatan 66 sebagai bungarampai tidaklah representatif mewakili masanya, menimbulkan pertanyaan pula tentang Gema Tanah Air dan bungairampai-bungarampai lain yang disusun oleh H.B. Jassin. Apakah semua bungarampai itu benar-benar representatif ataukah seperti Angkatan 66 pula.


Jassin Cari Mujtahid
Ketemu Gambar Burak

Berkata Jassin dalam alenia pertama tulisannya itu : “ada konsensus umum pada umat islam, bahwa segala makhluk yang bernyawa tidak boleh dirupakan. Perkataan Jassin ini mengejutkan sekali.
            Maka mengerti jugalah kita mengapa Jassin tak menemukan apa yang dicarinya. Dalam buku A. Hassan itu sedikitnya Jassin akan menemukan 19 (sembilan belas) buah hadis yang berkenaan dengan shurah, yaitu gambar, patung, arca dan lain-lain.
(5). Ada pula segolongan yang menganggap bahwa gambar dan patung yang diharamkan itu hanyalah yang disembah orang atau yang dikuatirkan akan dijadikan sembahan.
            Agaknya kedalam golongan kelima inilah Jassin dapat digolongkan atau menggolongkan dirinya – seperti juga A. Hassan sendiri yang dalam tuliannya itu menunjukan kecenderungannya kepada golongan terakhir.
            Sesungguhnya tak ada jaminan bahwa kalau kelak para seniman mengikuti anjuran Jassin melukiskan wajah Nabi Muhammad SAW lantas tidak akan terjadi penyembahan atau pemberhalaan kepada gambar tersebut.





Perlu Peningkatan
Penelitian Sastra Indonesia

Lelakon Raden Beij Soerio Retno, yang sangat menarik dari sekumpulan itu adalah bahwa semuanya ditulis dalam bahasa Melayu yang terkenal dengan nama Melayu Cina.
            Boleh dikatakan penerbitan bahasa Melayu dalam dasawarsa terakhir abad yang lalu, sedikit sekali mendapat perhatian para penelaah sastra Indonesia.
            Barangkali hal itu disebabkan karena biasanya para penelaah sastra indonesia di Indonesia hanya mengikuti apa sudah dirintis oleh para sarjana Belanda saja.
            Agaknya semangat untuk sendiri melakukan penelaahan diluar hal-hal yang sudah secara resmi disinggung orang, masih sedikit sekali terdapat di kalangan para sarjana kita. Seperti pernah dikemukakan oleh Roestam Effendi, memang bahasa Melayu yang dipopulerkan oleh orang-orang Belanda seperti van Ophuysen merupakan jenis bahasa Melayu yang baru.
            Sampai sekarang penelaahan sastra dengan memperhatikan latar belakang kehidupan sosialnya, boleh dikatakan sedikit sekali dilakukan orang di Indonesia. Sastra Indonesia dianggap oleh kebanyakan para penelaah sastra sebagai suatu yang terlepas dari kehidupan sosial, padahal kelahiran sastra bahasa Indonesia adalah hasil proses perkembangan sosialnya, yaitu sebagai akibat logis dari suatu peristiwa besar dalam kehidupan manusia Indonesia secara keseluruhan setelah bertemu dan berkonfrontasi dengan kehidupan kebudayaan Eropa.
            Padahal hanya dengan melihat latar belakang sosialnya sajalah kita akan memahami juga misalnya mengapa bentuk-bentuk sastra yang banyak ditulis dalam bahasa Melayu Rendah dan terbitan Balai Pustaka terutama berbentuk roman, sajak, drama – bentuk-bentuk sastra yang sebelumnya tidak dikenal dalam kehidupan sastra masyarakat Indonesia lama.




           

0 komentar:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.