Ajip Rosidi
Masalah Angkatan dan Periodisasi Sejarah
Sastra Indonesia
Dalam
majalah Horison tahun I no. 2,
Agustus 1966, halaman 36-41, H.B Jassin mengumumkan tulisannya berjudul
‘Angkatan 66, Bangkitnya satu Generasi’. Tulisan ini sangat menarik, antara
lain terbukti dengan adanya berbagai reaksi terhadapnya. Baik dalam majalah Horison maupun dalam majalah-majalah dan
suratkabar-suratkabar lain, timbul berbagai reaksi baik yang menyatakan setuju
maupun yang menolak proklamasi Jassin itu.
Dari peristiwa itu nampak bahwa
masalah ‘angkatan’ merupakan masalah yang peka sekali dalam dunia sastra indonesia.
Sekitar tahun 1949 masyarakat sastra
Indonesia pun ramai berpolemik tentang ‘Angkatan Chairil Anwar’ yang kemudian
terkenal dengan nama ‘Angkatan 45’. Beberapa tahun kemudian timbul pula masalah
‘Angkatan sesudah Chairil Anwar’ yang dikenal juga dengan nama ‘Angkatan 50’
dan ‘Angkatan Terbaru.
Prof. Dr A. Teeuw dalam ceramahnya
di Jakarta dan tempat lain tatkala awal tahun 1968 berkunjung ke Indonesia
mengatakan bahwa baginya permasalahan angkatan itu sulit untuk ditanggapi
sekarang karena kita masih terlalu dekat dengan peristiwa-peristiwa yang
bersangkutan, namun dalam bukunya Modern
Indonesia Literature (1967), ia mempergunakan istilah-istilah ‘Angkatan
‘45’ ‘Angkatan ‘66’ dan lain-lainnya juga. Sementara itu sulit pula bagi
seorang penelaah sastra Indonesia untuk menghindarkan diri dari penggunaan
istilah-istilah tersebut! Karena itu meskipun selamanya mengenai persoalan
‘angkatan’ senantiasa timbul berbagai pendapat yang saling bertentangan dan tak
pernah sampai pada suatu kata putus, tetapi sebutan-sebutan itu juga sering
dipergunakan.
Begitu pula akan terjadi dengan
persoalan ‘Angkatan ‘66’. Istilah ini sudah populer yang disusun oleh H.B.
Jassin berjudul Angkatan ‘66’ : Prosa dan
Puisi.
H.B. Jassin
– kritikus sastra Indonesia yang dianggap paling berwewenang dalam masalah
sastra Indonesia. Seperti diketahui Jassin juga termasuk yang pertama-tama
gigih mempertahankan hak hidup ‘Angkatan ‘45’- kurang lebih duapuluh tahun
sebelumnya.
Kalau kita teliti dengan agak
cermat, maka akan kelihatan bahwa keributan sekitar persoalan ‘angkatan’ itu
disebabkan oleh karena senantiasa tidak dijelaskan lebih dahulu apa yang
dimaksud dengan istilah ‘angkatan’ itu, ‘Angkatan’ yaitu terjemahan dari ‘generatie’
adalah masalah yang sesungguhnya seharusnya erat bertalian dan timbul dalam
sejarah sastra, terutama dalam masalah pembabakan waktu atau periodisasi
sejarah sastra.
Jassin meramalkan bahwa “dalam tahun
1980 akan datang lagi satu angkatan baru, tahun 2000 dan seterusnya”.
Apa yang
dapat kita simpulkan dari kutipan-kutipan tersebut?
Pertama:
Jassin nampaknya tidak mau memikul tanggung jawab bahwa dia sendirilah yang
memproklamasikan adanya ‘Angkatan ‘66’.
Kedua:
bagi Jassin soalnya seolah-olah hanya masalah yang disebutnya “cocok dengan
perkembangan manusia secara pribadi.
Ketiga:
kiranya bagi Jassin persoalan tersebut hanyalah masalah pengkotakan
administrasi belaka.
Dalam tulisannya itu Jassin pun ada
pula memberi ciri-ciri ‘Angkatan ‘66’, yaitu antara lain :
a) Konsepsinya
Pancasila.
b) Membawa
kesadaran murni manusia yang bertahun-tahun mengalami kezaliman dan perkosaan
terhadap kebenaran dan rasa keadilan, kesadaran moral dan agama . . . khas pada
hasil-hasil kasusastraan ’66’ ialah protes sosial dan kemudian protes politik.
c) Yang masuk
angkatan ’66’ ialah: “ Mereka yang tatkala tahun 1945 berumur 25 tahun”.
Dalam
membicarakan persoalan ‘angkatan’ dalam sastra kita, sampai sekarang orang
dalam garis-besarnya dapat dibagi menjadi dua golongan.
Yang pertama: Mereka yang
menafsirkan masalah ‘angkatan’ ini secara subyektif dari kedudukannya sebagai
pengarang (approach pengarang) dan
Yang kedua: Mereka yang
melihatnya secara obyektif berdasarkan karya-karya sastra yang nyata.
Persoalan
‘angkatan’ tak kunjung selesai, karena kedua belah pihak itu sering “berdialog”
tanpa menyadari bahwa kata-kata dan istilah-istilah yang mereka pergunakan
meskipun sama bunyi dan ejaannya tetapi lain kandungan artinya.
Dalam
ceramahnya dalam Seminar Sastra Fakultas Sastra Universitas Indonesia tahun
1963 itu, Nugroho Notosusanto mengemukakan periodisasi sejarah sastra Indonesia
sebagai berikut:
“Keseluruhan Sastra Indonesia tetap
dapat dibagi atas dua bagian:
I.
SASTRA MELAYU LAMA
II.
SASTRA INDONESIA MODERN
Sastra
Indonesia modern dapat kita bagi sejarahnya atas dua masa, yakni:
I.
Masa Kebangkitan (kurang lebih 1920-1945)
II.
Masa Perkembangan (1945-sekarang)
Masa
kebangkitan terdiri atas 3 periode :
1. Periode ‘20
2. Periode ‘33
3. Periode ‘42
Sedangkan
Masa Perkembangan kita bagi atas periode :
1. Periode ‘45
2. Periode ‘50
Menurut hemat saya periodisasi ini lebih dapat
diterima daripada semua periodisasi lain yang pernah dicoba orang tentang
sejarah sastra indonesia. Pada garis besarnya saya sendiri menyokong
periodisasi tersebut, tetapi dengan berbagai catatan.
Pertama, menurut
pendapat saya pembagian seluruh sastra indonesia menjadi dua bagian ‘Sastra
Melayu Lama’ dan ‘Sastra Indonesia Modern’ tidaklah tepat. Karena Nugroho
sendiri dalam ceramahnya itu mengemukakan asas nasionalisme sebagai dasar
seluruh periodisasi dalam sejarah sastra Indonesia, maka lebih tepat lagi kalau
untu bagian pertama bukanlah ‘Sastra Melayu Lama’ yang dipergunakannya,
melainkan ‘Sastra Indonesia Klasik’ yang tidak hanya meliputi karya-karya
sastra yang ditulis dalam bahasa(daerah) yang terdapat diseluruh kepulauan
Nusantara, sehingga namanya pun lebih tepat disebut sebagai ‘Sastra Nusantara Klasik’.
Artinya ke dalamnya termasuk sastra Jawa, Sunda, Bali, Makasar, Bugis dan
lain-lain yang Klasik.
Kedua, tahun awal
period berikut setelah period ’45 bukanlah tahun 1950, melainkan tahun 1953.
Mengapa? Karena pada tahun 1950 para pengarang yang kemudian menjadi
tokoh-tokoh period berikutnya itu kebanyakan belum muncul.
Ketiga, antara tahun
1953 sampai sekarang (1968) saya cenderung untuk menempatkan pula satu period
lagi, karena adanya perbedaan-perbedaan yang khas, meskipun secara garis besar
barangkali tidak kelihatan. Yang saya maksud ialah sejak tahun 1961, ketika
sistem demokrasi terpimpin ‘ sudah mulai mencengkramkan kekuasaannya, timbullah
suasana baru dalam kehidupan sastra kita, yaitu semacam semangat perlawanan.
Wellek
menekankan perbedaan antara period-period sastra itu pada adanya perbedaan
norma-norma sastra yang dapat dilihat pada perbedaan stratanya.
Sastra perlawanan ini mendapat
tempat terutama pada majalah Sastra,
Indonesia, Basis dan beberapa buah majalah lain yang satu demi satu
kemudian dilumpuhkan oleh Lekra & co menjelang coup d’etat Gestapu awal
Oktober 1965.
Sejarah Sastra Indonesia dapat
dibagi dalam periodisasi sebagai berikut:
I.
Bagian Pertama: Masa Kelahiran atau Masa
Kebangkitan (awal abad XX sampai tahun 1945).
II.
Bagian Kedua: Masa Perkembangan (sejak 1945
hingga kini).
Yang
kemudian dapat dibagi-bagi pula dalam period-period lagi, yaitu:
I.
Masa Kelahiran menjadi :
1. Period awal
– 1933;
2. Period 1933
– 1942;
3. Period 1942
– 1945;
II.
Masa Perkembangan menjadi :
1. Period 1945
– 1953;
2. Period 1953
– 1961;
3. Period 1961
– sekarang;
Secara garis
besar masing-masing period mempunyai “norma-norma sastra yang khas yang dapat
dilihat pada perbedaan stratanya” (Rene Wellek) serta mempunyai “ bentuk-bentuk
mereaksi tertentu” seperti nampak pada “cara berpikir dan merasa serta cara
mengungkapkan (memberikan bentuk) kepada pikiran dan perasaan tersebut” mempunyai
ciri-ciri yang khas: persoalan-persoalan ‘adat’ yang sedang menghadapi
akulturasi dan dengan demikian menimbulkan berbagai problema bagi kelangsungan
eksistensi masing-masing. Pada period kedua (1933 – 1942) kaki langit telah
menjadi luas menguak: yang menjadi problem pokok adalah mencari tempat di
tengah-tengah pertarungan ‘kebudayaan timur’ dan ‘kebudayaan barat’ dalam
kacamata romantis-idealistis. Period 1942-1945 (zaman pendudukan jepang) :
realitas menyadarkan impian idealistis; karya-karya sastra Zaman Jepang adalah
sastra peralihan dan pelarian, penuh kegelisahan. Period selanjutnya (1945-1953)
adalah period perjuangan dan pernyataan diri di tengah-tengah dunia karena
kemerdekaan yang diproklamasikan menuntut tanggung jawab. Pada period 1953-1961
realitas kehidupan bangsa yang baru
merdeka, yang mencoba mengisinya dengan berbagai kemungkinan, dimana impian tinggi masa revolusi menghadapi
kaum penjajah memberi kepahitan demi kepahitan. Period 1961-1966 adalah period
perlawanan dalam memperjuangkan dan mempertahankan martabat serta kemerdekaan
pribadi manusia. Mulai tahun 1966 nampaknya telah timbul iklim dan suasana baru
pula dalam dunia sastra Indonesia di mana percobaan-percobaan terhadap segala
kemungkinan dalam hal gaya dilakukan secara intensif oleh beberapa pengarang.
Menempatkan Chairil Anwar pada Proporsinya
Chairil
Anwar adalah sastrawan Indonesia yang paling banyak diperingati hari wafatnya.
Di samping itu adalah suatu kenyataan pula, bahwa Chairil Anwar adalah
sastrawan Indonesia yang paling banyak dibahas, dibicarakan, dipersengketakan,
dipuji dan dicaci. Banyak sudah para penelaah sastra indonesia sendiri maupun
orang asing, yang telah menaruh perhatian terhadap sajak-sajaknya, terhadap
peranannya dalam sejarah sastra Indonesia, terhadap jasa-jasa dan terhadap
dosa-dosannya.
Pada
saat-saat dekat sebelum pengkhianatan Gestapu, ketika Lekra (mau) merajai dunia
sastra Indonesia dengan semboyannya “politik sebagai panglima
kesenian-kebudayaan-kesusastraan”, Chairil Anwar sebagai penganut kebebasan
seni para petinggi lekra banyak diganyang dan dicaci maki. Para petinggi Lekra
banyak sekali menaruh perhatian dan membuang tenaga untuk menyingkirkan Chairil
dari dunia sastra Indonesia.
Kenyatan-kenyataan
tersebut mau tidak mau menimbulkan berbagai masalah. Beberapa diantaranya,
antara lain sebagai berikut:
Mengapa
Chairil anwar begitu banyak menarik minat orang? Mengapa ia begitu banyak
menarik minat para sarjan untuk membahasnya? Apa peranannya dalam perkembangan
sastra indonesia? Mengapa ia menimbulkan begitu banyak persengkataan di
kalangan para ahli, sarjan dan peminat sastra Indonesia? Mengapa sebagian
memujinya setinggi langit dan yang lain memakinya sekeji-kejinya pula? Mengapa
orang Lekra keras benar menghantam dan hendak menyingkirkannya?
PERANANNYA DALAM SEJARAH SASTRA INDONESIA
Umumnya, Chairil disebut sbagai
pelopor ‘Angkatan ‘45’ dan jasa-jasanya disebut dalam pembaharuan puisi
Indonesia. Dalam kedudukan dan peranannya itulah Chairil diagung-agungkandan
dipuji-puji orang.
Seperti diketahui Chairil yang
dilahirkan tahun 1922 itu mula muncul dengan sajak-sajaknya pada zaman
pendudukan Jepang. Beberapa sajaknya dimuat dalam penerbitan-penerbitan (resmi)
pemerintah masa itu, tetapi kebanyakan disimpan dalam lipatan kain saja atau
disebarkan kepada kawan-kawannya yang akrab secara terbatas.
Tahun1922, tahun kelahiran Chairil
Anwar adalah tahun penting dalam sejarah kelahiran bahasa dan sastra Indonesia.
Tahun itu adalah tahun terbit kumpulan sajak Indonesia yang pertama buah tangan
Muhammad yamin berjudul Tanah Air dan
tahun terbinya roman Sitti Nurbaya buah
tangan Marah Rusli.
Bahasa Indonesia yang merupakan
penjadian dari bahasa Melayu di lingkungan nasional indonesia, dalam
pertumbuhannya banyak menyerap dari bahasa-bahasa asing dan bahasa-bahasa
daerah. Dalam masa inilah timbulnya sebutan kepada orang macam S. Takdir
Alisjahbana sebagai “Insinyur Bahasa”. Dengan dan dalam bahasa indonesia yang
masih dekat ke dalam bahasa Melayu. Kita menyaksikan bahwa percobaan-percobaan
Amir Hamzah yang banyak menggali dan mengambil dari dalam bahasa dan kekayaan
sastra Melayu Klasik, mendapatkan sukses, terutama justru karena sajak-sajaknya
sendiri banyak bersuasanakan sastra Melayu. Ternyata bahasa Indonesia belum
dibuktikan sanggup menjadi wadah sastra yang dewasa.
Memang sastrawan pun sampai
batas-batastertentu adalah hasil dan atau terpengaruh oleh kondisi lingkungan
kebudayaan, termasuk kondisi bahasanya sendiri. Dengan sajak-sajaknya para
pengarang pujangga baru sesungguhnya memancangkan batu-batu fundasi bangunan
tradisi sastra Indonesia. Baru Chairil anwar dengan sajak-sajaknya membuktikan
sekaligus bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa sastra cukup dewasa dan matang.
Dengan sajak-sajak dan
prosa-prosanya, Chairil membukakan kakilangit-kakilangit baru bagi sastra dalam
bahasa indonesia yang sudah menjadi.
Bahasa sehari-hari dengan imajinasinya yang hidup serta pilihan katanya yang
plastis, dituangkannya menjadi suatu cipta sasta yang melukiskan kehidupan rohaniah
manusia indonesia modern.
Oleh Chairil Anwar dengan demikian
dibuktikan dengan malalui sajak-sajak dan prosa-prosanya, bahwa bahasa
Indonesia sanggup menjadi bahasa sastra untuk mengungkapkan kehidupan dan
penghidupan rohani manusia modern yang se dalam-dalamnya. Sejak Chairil Anwar
bahasa Indonesia masih mengalami pertumbuhan dan perkembangan, penempaan dan
penyigian, tetapi berdasarkan dasar-dasar yang sudah diberikannya.
Di sinilah jasa peranan Chairil yang
belum ada duanya dalam perkembangan sastra Indonesia hingga sekarang, menurut
hemat saya, dan bukan pada aksetuasinya mengutamakan ‘isi’ daripada “bentuk”.
Karena kalua kita teliti dengan cermat akan terbukti bahwa unsur-unsur “bentuk”
justru dalam sajak-sajak Chairil anwar mendapatkan perhatian yang tinggi,
bahkan tinggi sekali.
PERSONIFIKASI MANUSIA INDONESIA
Agaknya
jelas sudah bahwa Chairil adalah seorang manusia individualis anarkhis yang
boleh dikatakan tidak memperdulikan yang lain-lainnya, kecuali kasusastraan
khususnya, kesenian dan kebudayaan umumnya. Bahkan intensitasnya sebagai
sastrawan menimbulkan berbagai macam ketegangan dengan lingkungan hidupnya
sehari-hari, malahan dengan istrinya sendiri. Ia pada zaman itu, di ruang
hidupnya, merupakan ‘binatang jalang’ benar-benar yang tidak punya kumpulan. Ia
“dari kumpulannya terbuang”, tapi sesungguhnya kumpulannya ada, namun tidak
disini. Kira-kira kehidupan kaum bohemia seniman-seniman Eropalah yang menjadi
“kumpulan” yang cocok bagi kehidupan penyair Chairil Anwar ini.
Dalam
lingkungan kasusastraan Chairil Anwar ini adalah orang yang pertama yang
hidupnya semata-mata diabdikan kepada keseian, terutama kasusastraan. Secara
konsekuen ia hanya hidup untuk dan daripada hasil-hasil (honorarium) sastranya
belaka.
Chairil
Anwar memberikan contoh yang sebelumnya tidak pernah dilakukan oleh
sastrawan-sastrawan Indonesia dalam
pengabdiannya terhadap lapangan dan panggilan hidupnya.
Sebagai
orang yang tak suka tanggung-tanggung dalam melakukan sesuatu, Chairil
menimbulkan gelombang reaksi yang mendukung atau menentangnya secara hebat.
Chairil
Anwar yang paham keseniannya banyak berkiblat dan bersumber pada kesenian Eropa
Barat menunjukan adanya pengaruh itu dalam sajak-sajaknya dan prosa-prosanya:
baikpun yang dia coba sembunyikan maupun yang tidak. Dalam sebuah tulisan saya
pernah mengemukakan hal ini, yaitu tentang besarnya pengaruh Eropa dalam alam
pikiran dan sajak-sajak Chairil. Pengaruh mana timbul melalui bacaan- karena
Chairil sepanjang hidupnya tak pernah menginjakan kaki di benua Eropa.
Chairil
Anwar sebenarnya merupakan personifikasi Manusia Indonesia yang kuat hendak
hidup dalam lingkungan dunia. Seperti yang diketahui, konsepsi faham ini
dirumuskan kemudian dalam ‘Surat Kepercayaan Gelanggang’, ‘Gelanggang’ atau
‘Gelanggang Seniman Merdeka adalah kunstkring, lingkungan kesenian, yang
didirikan oleh Chairil beserta kawan-kawannya para sastrawan, para pelukis,
musisi dan lain-lain, Rumusan konsepsi itu sendiri baru dibuat setelah Chairil
meninggal , namun secara konsepsional menunjukan rumusan sikap dan acuan hidup Chairil
sendiri.
TUGU YANG HENDK DISINGKIRKAN
Secara rohaniah kesenian dan
pandangan hidup Chairil Anwar bersumber kepada kebudayaan Eropa Barat Modern:
Ia sesungguhnya orang yang melaksanakan segala teori Sutan Takdir dalam
polemik-polemiknyadimasa sebelum perang. Sementara itu kebudayaan Eropa modern
sendiri dalam perkembangannya menimbulkan pertentangan-pertentangan faham dalam
tubuhnya. Faham komunisma sebagai reaksi kepada dan lahir daripada keadaan
masyarakat Eropa modern yang disebut kapitalistis dan borjuis, masuk pula
kedalam kehidupan bangsa-bangsa di benua-benua lain – termasuk Indonesia.
Chairil Anwar sebagai penyair yang
menganut dan membawa faham individualisma (yang anarkhistis pula) kedalam
kehidupan sastra Indonesia, sejak semula merupakan tokoh yang ditentang oleh para sastrawan Indonesia yang menganut
faham realisma-sosialis.
Tetapi dalam perkembangan sejarah
jadi nampak bahwa Chairil pengaruhnya tidak terbatas hanya kepada formalisma
dalam sastra saja, melainkan juga kepada pandangan hidup para sastrawan
khususnya dan manusia Indonesia umumnya. Pengaruh itulah yang hendak dikikis
oleh kaum komunis melalui lekra, karena pengaruh itu bagi mereka mencerminkan
pandangan hidup “masyarakat borjuis yang dekaden”
Pada masa menjelang Gestapu, ketika
suasana mereka anggap sudah cukup matang untuk melakukan coup d’etat, maka dalam bidang kebudayaan mereka menghantam dan
menghancurkan setiap faham dan orang yang menurut pikiran mereka tidak sefaham
dengan mereka. Maka Chairil Anwar yang sudah terpancang menjadi tugu dalam
kehidupan kasusastraan khususnya dan dalam kehidupan kesenian kebudayaan
Indonesia umumnya, mereka coba hancurkan. Dengan senjata ‘Manipol’ dan
‘revolusi menghaalkan segala’, mereka menganalisa Chairil secara habis-habisan,
mencapnya sebagai penyair kontra revolusi yang a-nasional. Pendeknya image yang sudah terekam tentang Chairil
dalam sanubari masyarakat Indonesia hendak mereka lenyapkan dan mereka ganti
dengan image yang baru: Chairil
sebagai penyair dekaden, anti-Manipol, kontra revolusioner, a-nasional.
Penghancuran image tentang Chairil itu tidak sampai berhasil sama sekali karena coup d’etat yang mereka lakukan gagal.
Chairil
Anwar dan Politik
“kalau sekiranya sekarang Chairil
Anwar masih hidup, menurut perkiraan saudara akan masuk partai manakah dia?”
Karena seperti diketahui sudah,
masa-masa itu para seniman dan budayawan, termasuk para sastrawan, didesa oleh
berbagai fihak dan kekuatan dari segala penjuru untuk segera menentukan sikap.
Dan “menentukan sikap” itu umumnya diartikan harus segera menempatkan diri
dalam salah satu kamar bangunan ‘Nasakom’: nasionaliskah? Agamakah? Atau
komuniskah? Dan itupun harus diartikan pula masuk kedalam salah satu kandang
yang berupa lembaga-lembaga kebudayaan yang bernaung dibawah partai-partai
Nasakom-yaitu partai-partai yang disahkan(artinya diperbolehkan oleh pemerintah
waktu itu). Sebab kalau tidak demikian, yaitu kalau tidak segera masuk kedalam
salah satu kandang yang tersedia akan menjadi sasaran kecurigaan segala fihak,
dan itu bukan tidak mengandung ancaman bahaya bagi kehidupan sehari-hari si
seniman sendiri!.
Sementara itu, pertanyaan bagaimana
kiranya sikap politik Chairil Anwar almarhum dalam situasi kurang 15 tahun
setelah ia meninggal, didorong pula oleh kenyataan yang menarik.
Tentang sikap politik Chairil Anwar
kendatipun Sitor sendiri mengakui bahwa “sajak-sajak ‘Diponegoro’ dan ‘Kepada
Bung Karno’ yang ditulis Chairil justru menjelaskan kemungkinanrevolusi sebagai
dunianya sastra”.
Agaknya patut diingat, bahwa dari
sajak-sajaknya kita dapat melihat Chairil sebagai orang yang menaruh minat yang
besar terhadap masalah-masalah politik. Memang ia tidak pernah menunjukan
dirinya menaruh minat untuk menjadi politikus (politician). Ia sendiri dalam satu suratnya kepada H.B. (Jassin
tahun 1994) telah mengatakan bahwa kesenian dan kasusastraanlah yang menjadi
pilihan hidupnya. Ini telah menegaskan bahwa ia tidak akan memilih hidup
sebagai politikus.
Sajaknya yang berjudul ‘Krawang
Bekasi’ atau lebih terkenal lagi dengan nama ‘kenang, kenanglah kami Sajak
Archilbald MachLeish yang berjudul ‘The Young Dead Soldiers’ itu melukiskan
prajurit-prajurit yang mati muda dalam pertempuran, oleh Chairil diberi warna
lokal dan patriotisma Indonesia, ketika ia memulai sajak yang diumumkan atas
namanya sendiri itu dengan dua baris yang kemudian menjadi terkenal.
“Kami yang kini
terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak
“Merdeka” dan angkat senjata lagi”
dan terlebih-lebih lagi tatkala
Chairil menambahkan baris-baris berikut ini:
“Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskanlah
jiwa kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Sjahrir”
Pendeknya sajak-sajaknya itu
menunjukan bahwa Chairil seorang penyair yang mengerti dan mengerti
masalah-masalah politik. Ia seorang yang tahu hubungan dirinya sebagai anak bangsa
dengan tanah airnya beserta persoalan-persoalan dan masalah-masalah yang
dihadapinya.
Ia seorang yang bebas. Dan hasratnya
akan kemerdekaan itu terpancar dalam hampir setiap baitnya.
In Memoriam :
J.E Tatengkeng (1907-1968)
Bulan Maret 1968, ketika berbicara
dengan saudara H.B Jassin tentang ketakamanan surat-surat yang dikirimkan via
pos, ia menyinggung-nyinggung pertemuanny dengan Tatengkeng di Makasar tatkala
Jassin dalam perjalanannya menuju Gorontalo akhir 1967 singgah disana. Dalam
pertemuan itu Tatengkeng menyampaikan kekesalan hatinya kepada “Ajip yang
setelah meminta izin untuk mencetak buku Rindu
Dendam lantas tak ada kabar beritanya lagi”. Amanat yang disampaikan Jassin
itu membuat saya terperanjat.
J.E. Tatengkeng lahir di Kolongan,
Sangihe, tanggal 19 Oktober 1907, dikenal terutama sebagai seorang penyair yang
menerbitkan kumpulan sajak Rindu Dendam
(1934). Isinya umumya merupakan sajak-sajaknya kerindu-dendaman penyair itu
terhadap Yang satu, Tuhan Yang Maha Esa. Ia seorang penyair yang suka
bersunyi-sunyi dan memproklamasikan.
Dan sebagai seorang penyair yang
seperti Sanoesi Pane tidak henti-hentinya mencari kedamaian dan ketenangan, ia
pun mencoba mencari jawaban atas kegelisahan hatinya itu. “Di mata air, di dasr
kolam”, “dikawan awan kian kemari”, diwarna bunga yang kembang”, dan kepada
“gunung penjaga waktu” serta kepada “bintang lahir semula” pun ia tak
habis-habisnya bertanya. Tatengkeng menemukannya dalam Tuhan.
Tahun limapuluhan awal, saya masih
membaca sajak-sajaknya dalam masalah Zenith,
Indonesia. Tahun limapuluhan pula ia banyak mengumumkan prosa-prosanya,
berupa sketsa dan kisah-kisah yang humoristis mengkritik berbagai segi
kehidupan dan masyarakat Indonesia setelah merdeka.
Yang tidak banyak orang tahu, atau
paling tidak: tak banyak diperhatikan orang, ialah tulisan-tulisannya yang
berupa kritik dan esai yang ditulis umumnya pada masa sebelum perang. Dari
tulisannya itu kemudian terjadi semacam polemik kecil mengenai konsepsi seni
dan fungsi kritik dalam sastra.
Ia seorang yang sederhana,
mengemukakan pendapatnya secara sederhana pula-berlainan dengan kawannya sebaya
S. Takdir Alisyahbana yang gemuruh menggegar-gegar selalu. Ia rasanya langsung
bicara kepada hati, dengan demikian kadang-kadang ia dapat melihat dan
mengemukakan persoalan secara lebih jernih dan lebih terang, dalam sorotan
cahaya yang lebih terang.
Sejak semula Tatengkang sebagai
penulis bukan seorang yang terbilang produktif, tapi sampai dekat akhir
hayatnya ia masih terus setia menulis, baik kreasi berupa sajak-sajaknya dan
kisah-kisah maupun telaah-telaah berupa esai. Sungguh tidak banyak pengarang
kita yang setia menulis terus sampai usia selanjut itu.
Dalam karirnya di luar kasusastraan,
ia pernah aktif dalam pemerintahan Negara Indonesia Timur (NIT) mula-mula
sebagai menteri pengajaran dan kemudian bahkan sebagai perdana menteri (1949).
Kemudian ia menjadi Kepala Inspeksi Daerah Kebudayaan untuk Sulawesi di
Makasar. Ia pun turut mendirikan dan mengajar di Fakultas Sastra Universitas
Hasanuddin di Makasar. Pernah pula duduk
beberapa kali sebagai anggota pengurus pleno Badan Musyawarah Kebudayaan
Nasional (BMKN).
Dan kini ia tiada lagi!
Tatengkeng telah lepas dari kurungan
sekarang, mencari cinta, Kasih dan sayang. Tatengkeng telah menjadi embun yang
setelah memancarkan terang sinar matahari maka ia kini lenyap dipanggil kembali
oleh-Nya.
In Memoriam :
Armijn Pane (1908-1970)
Armijn Pane meninggal dunia!
Pada usia lewat 60 tahun ternyata
Armijn sebagai pengarang masih (akan) bertelur dan mengeram. Ketika ia
meninggal tanggal 16 Februari 1970, usianya sudah menjelang 62 tahun, karena ia
dilahirkan di Muarasipongi, Tapanuli, tanggal 18 Agustus 1908 – setahun kelahiran
dengan S. Takdir Alisyahbana dan lebih tua 3 tahun dari Amir Hamzah
almarhum, yaitu kedua orang kawannya
pendiri majalah Poedjangga Baroe pada
tahun 1933.
Riwayat pekerjaannya menunjukan
kegelisahan itu: ia pernah menjadi wartawan surat kabar Soeara Oemoem di Surabaya (1932), kemudian mingguan peninjuan (1934) dan surat kabar Bintang Timoer (1935) dan menjadi
wartawan freelance pula. Tahun 1933
ia bersama-sama dengan Takdir Alisjahbana dan Amir Hamzah menerbitkan Poedjangga Baroe. Ia pun pernah menjadi pamong
Taman Siswa di berbagai kota di Jawa Timur. Menjelang kedatangan bala tentara
Djepang ia duduk sebagai redaktur Balai Pustaka dan memimpin majalah Pandji Poestaka. Pada zaman Jepang
Armijn bersama dengan abangnya, Sanoesi Pane almarhum bekerja di Kantor Pusat
Kebudayaan (Keimin Bunka Shidoso) dan menjadi kepala bagian Kasusastraan
Indonesia modern.
Sesudah merdeka Armijn aktif daam
lapangan organisasi kebudayaan. Ia pun aktif dalam kongres-kongres kebudayaan
serta pernah menjadi anggota pengurus harian Lembaga Kebudayaan Indonesia (LKI)
yang kemudian menjadi Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional. Ia juga duduk
sebagai pegawai tinggi kementrian P.P & K.(Bagian Bahasa) sampai pensiun.
Armijn terutama terkenal sebagai
pengarang roman Belenggu. Padhal kecuali
roman, ia pun menulis cerita pendek, sajak, drama, esay dan kritik.
Tahun 1969 yang lalu Armijn mendapat
Anugerah Seni dari pemerintah karena karya dan jasanya dalam lapangan sastra.
Mudah-mudahan jasa-jasa Armijn Pane
dalam perjuangan dan pembinaan kebudayaan Indonesia, khususnya kesusastraan
Indonesia, mendapat tempat dan penghargaan yang layak dari bangsanya, bangsa
Indonesia, dan mudah-mudahan pula Allah Swt. Memberinya rahmat akhirat sesuai
dengan amalan hidupnya, mendapat tempat disisi-Nya. Amin !
Segi Lain
Sajak-sajak Taufiq Ismail
Sebagai
penyair Taufiq Ismail tidak bisa dipisahkan dari sajak-sajak demonstrasinya.
Bersama-sama dengan tujuh orang penyair Islam lain, Taufiq menerbitkan
sajak-sajaknya dalam sebuah buku berjudul Manifestasi
(1963).
Dalam sajak-sajak itu kita bukan
hanya menemukan kembali kisah-kisah yang sudah kita kenal dari buku-buku
sejarah dan riwayat. Sajak-sajak itu merupakan manifestasi literer dari
interpretasi si penyair terhadap kisah-kisah sejarah Islam dan riwayat Nabi
Muhammad SAW.
Tetapi bukan hanya pengetahuan akan
sejarah dan riwayat seperti hadith-hadith saja yang diperlukan untuk membaca
sajak-sajak Taufiq ini, melainkan juga pengenalan akan permasalahan kehidupan
agama dan umat islam.
Yang sangat menarik adalah kenyataan
bahwa sajak-sajak tersebut merupakan petanda bahwa sastra (keagamaan) Islam
kita tidak hanya terbatas kepada apa yang oleh Goenawan Muhamad pernah disebut
“agama sebagai latar belakang” saja. Dalam sajak-sajak Taufiq tersebut latar belakang agama menjadi sikap dalam
menghadapi berbagai masalah.
Sajak-sajak Taufiq yang dimuat dalam
Horison itu, lebih representatif
untuk mewakili apa yang disebut ‘puisi Islam dalam sastra Indonesia’.
Nabi
Muhammad bagi Taufiq Ismail bukanlah hanya seorang nabi yang hidup berabad-abad
yang lampau dalam sejarah dan sekarang dimakamkan di Madinah. Bagi Taufiq,
Muhammad adalah Rasulullah yang “dari sela rimbun daun sejarah”. Taufiq
melihatnya sebagai seorang yang sekarang pun akan dapat dia tangkap “bayang-bayang
gamis”nya.
Muhammad bagi Taufiq adalah seorang
panglima yang sehabis perang Badar yang dimenangkannya secara gemilang
“merenung/Dalam kemah”membayangkan perang yang baru lalu :
Dalam sajak ‘Malam Seribu Bulan’
Taufiq mengemukakan suatu interpretasinya sendiri tentang malam lailatulqadr.
Sajak-sajak Taufiq Ismail yang
selama ini lebih dikenal sebagai penyair ‘sajakk-sajak demonstrasi’. Yaitu segi
yang sebenarnya merupakan dasar dan titik tegaknya. Karena sesungguhnya Taufiq
bertindak sebagai demonstran dan menulis sajak-sajak ‘protes sosial dan protes
politik’ pun adalah merupakan sesuatu yang wajar akibat dari kesadarannya
sebagai seorang muslim yang wajib menegakkan yang Hak dan menumpas yang bathal.
Sedikit Catatan Tentang
Pendidikan Apresiasi Sastra
Kehidupan
penerbitan sastra setelah sekian belas tahun ini tak banyak majunya. Pertama,
kehausan akan bacaan meningkat dalam masyarakat kita sebagai hasil dari adanya
pendidikan(sekolah-sekolah). Kedua, kehausan akan bacaan itu dipenuhi oleh
majalah-majalah dan bacaan-bacaan hiburan. Ketiga, bahwa dalam bidang
pengajaran sastra, hasilnya tidak maju, atau bahkan tak mustahil mundur.
Selama sekian belas tahun, jumlah
buku-buku yang dapat dipergunakan di sekolah-sekolah untuk bahan pengajaran
atau pendidikan apresiasi sastra tidaklah bertambah.
Murid-murid yang mmenaruh perhatian
terhadap sastra secara lebih serius biasanya mendapatkan dari bacaan-bacaan di
luar sekolah.
Buku-buku sastra sangat terbatas
sekali dan sejak beberapa belas tahun tak pernah mmendapat tambahan buku baru.
Keadaan seperti yang saya kemukakan itu sangatlah tidak menguntungkan bagi
pengajaran dan pendidikan apresiasi sastra.
MENGAPA TAK ADA BUKU-BUKU PENGAJARAN SASTRA
YANG BAIK?
Apabila kita perhatikan buku-buku
yang dipergunakan sebagai pegangan untuk pengajaran sastra di sekolah-sekolah
menengah, akan segera kitnyaa lihat bahwa buku-buku itu umumnya ditulis oleh
guru yang mungkin tahu tentang metoda paedagogi yang baik tapi tak tahu (banyak)
tentang (ilmu) sastra.
Buku-buku ini biasanya merupakan
campuran dari keterangan-keterangan tentang teori sastra dan tentang sejarah
sastra. Tapi mengapa buku-buku yang sudah ketahuan tidak memuaskan itu masih
juga dijadikan pegangan.
Pertama,
ialah karena tak ada buku yang lain. Kedua,
karena buku-buku itu hanyalah menyesuaikan diri saja dengan kurikulum yang
sedang berlaku.
Laranglah Buku, Jangan Pengarang
Diantara
buku-buku dan pengarang-pengarang yang disarankan untuk mendapat anugerah itu
terdapat Pramoedya Ananta Toer (Bukan
Pasar Malam), Utuy T. Sontani (Manusia
Kota) dan Sitor Sitomorang (Surat
Kertas Hijau). Ternyata Menteri Mashuri menolak saran Panitia tersebut.
Sitor
namanya memang tidak termasuk dalam instruksi ituu, tetapi ia sekarang berada
dalam tahanan konon karena terlibat Gestapu.
Masalah larangan terhadap buku-buku
di Indonesia bahkan di alam Indonesia merdeka sekalipun, bukanlah sesuatu yang
baru.
Pada tahun 1964 terjadi peristiwa
yang unik dalam masalah pelarangan buku Indonesia. Bahwa dengan dilarangnya
Manifes Kebudayaan oleh Soekarno (yang ketika ia menjadi Presiden dan Pemimpin
Besar Revolusi), maka juga buku-buku dan tulisan-tulisan karya para
penandatangan Manifes dilarang dibaca.
Secara yuridis, kalau larangan terhadap
buku Pramoedya Ananta Toer (Hoakiau di
Indonesia) dan Agam Wispi (Matinya
Seorang Petani) dikeluarkan oleh penguasa perang karena keadaan negara
dalam SOB, maka seharusnya larangan terhadap karya-karya para penandatangan
Manifes itupun dikeluarkan oleh Penguasa Perang juga.
Instruksi
Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan Republik Indonesia tentang larangan
mempergunakan buku-buku pelajaran, perpustakaan dan kebudayaan yang dikarang
oleh oknum-oknum dan anggota-anggota Ormas.
Dalam daftar larangan buku-buku dan
pengarang itu termasuk juga Pramoedya Ananta Toer, Utuy T. Sontani, Rifai Apin,
S. Rukiah, Rijono Pratikto dan lain-lainnya – pengarang yang sudah menghasilkan
karya-karya sastra penting sebelum mereka menjadi anggota atau dekat dengan
pihak Lekra.
Dengan melarang karya-karya sastra
yang boleh dikatakan telah menjadi milik bangsa kita dalam bidang rohani, maka
kita telah mempermiskin diri sendiri.
Dengan melarang karya-karya sastra
sipengarang yang sebagai manusia sebenarnya masih dapat berubah (termasuk paham
politik dan pemandangan hidupnya), kita mungkin secara tak langsung telah
memboroskan bakat-bakat terbaik yang kita punyai.
Boen Membahas Atheis
Lebih dari
pada sastrawan, kritikus haruslah seorang yang mengetahui benar tentang soalnya
(sastra) baik secara teknis-teoretis maupun historis, dengan latar belakang
pengetahuan (terutama estetika, sejarah, filsafat, psikologi, sosiologi dan
lain-lain) yang cukup luas.
Hanya H.B. Jassin sajalah yang telah
menunjukan ketekunan dan kesungguhan hatinya mengerjakan lapangan yang tandus
itu.
Dengan latar belakang seperti itu
kita menyambut terbitnya buku Boen S. Oermarjati yang merupakan sebuah kritik
sastra terhadap roman Atheis buah
tangan Achdiat K. Mihardja. Kritik Boen tentang Atheis menunjukan keberanian penulis muda wanita ini untuk keluar
dari kebiasaan dan batas pandangan gurunya sendiri, yaitu H.B. Jassin.
Bahkan dalam kekagumannya terhadap
penulis Atheis, ditengah-tengah
kata-kata pujiannya yang menyanjung, Boen tidaklah kehilangan tempat tegaknya
dengan tajam dianalisisnya kelemahan Achdiat dalam menokohkan Kartini yang
kabur pelukisan wataknya dan keberatan-keberatan psikologis terhadap
perkembangan hubungan Hasan-Kartini. Boen telah mempergunakan berbagai
pengetahuan modern, terutama psikologi dan sosiologi yang telah dijalinnya
dengan baik. Ia telah menyoroti Atheis
dari berbagai segi : teknis, komposisi, filosofis, perwatakan dan lain-lain.
Puisi Indonesia
Dalam Masa Duapuluhan
Dengan didahului dengan sebuah
bahasan yang sangat menarik mengenai ‘Masa mula Sastra Indonesia’ dan di ikuti
oleh ‘ Persoalan Tambahan’ yang secara sepintas-lalu membicarakan roman dan
drama tahun duapuluhan dan ditutup dengan ‘Tinjauan Keluar dan Kesimpulan’.
Untuk itu ia mempergunakan analisa sosiologis dari Boejoeng Saleh Poeradisastra
dalam pidato simposion sastra pertama yang diselenggarakan oleh Fakultas Sastra
UI di Jakarta (tahun 1953).
Fachruddin awal abad ke-20 Dia menyinggung tentang
kemajuan pers yang juga besar jasanya bagi perkembangan sastra, karena “majalah
dan surat kabar sering memuat sajak-sajak dan cerita pendek atau cerita
bersambung”. Fachruddin mengemukakan peranan majalah Jong Sumatera yang pada ahun 1920 memuat sajak-sajak Jamin “yang
dengan girang melihat masa depan bahasa ini yang gemilang”, yaitu kebanyakan
berupa soneta.
Dua Buku Hutagalung
JALAN TAK ADA UJUNG MOCHTAR LUBIS
Roman
Mochtar Lubis yang kedua berjudul Jalan
Tak Ada Ujung pada tahun 1952 mendapat hadiah sastra nasional dari Badan
Musyawarah Kebudayaan Nasional. Roman yang berlatar belakangkan revolusi fisik
Indonesia itu, mencoba menganalisa dan mengikuti liku-liku jiwa seorang guru
bernama Isa yang menjadi pemberani karena ketakutannya tak tertahankan lagi.
Karena tertarik oleh
kenyataa-kenyataan dan pengakuan orang terhadap roman tersebut, maka M.S.
Hutagalung telah mengambil roman itu sebagai objek skripsi kasusastraan.
Tetapi yang terbukti dilakukannya
tidaklah menganalisa tokoh-tokohnya, manusia-manusia dan situasi-situasi yang
dilukiskan Mochtar Lubis dalam romannya itu secara psikologis, filosofis
ataupun sosiologis, melainkan terutama mencari-cari bukti sampai dimana
pengaruh psikologi (ilmu jiwa dalam Freud, Jung dan Adler), pengaruh filsafat
eksistensialisma (Kierkegaard Nietzsche, Heidegger dan Sartre).
Mochtar tidaklah bertolak dari suatu
rangka teori psikoanalisa, dari filsafat eksistensialisma ataupun teori
sosiologi unanimisma ketika menulis romannya itu, melankan berangkat dari
manusia Indonesia yang hidup di sekelilingnya. Mochtar Lubis telah berhasil
melukiskan manusia dalam dan beserta situasinya, atau dengan kata-kata Mochtar
sendiri kepada Hutagalung : “manusia dengan persoalannya, dengan ketakutannya. .
. ”.
Hutagalung sempat menyuguhkan
riwayat hidup para psikolog, para filosof dan para sosiolog terkemuka dengan
pokok-pokok teorinya masing-masing,
Hutagalung dalam mencoba menyoroti Jalan
Tak Ada Ujung secara psikologis, filosofis, dan sosiologis.
TANGGAPAN DUNIA ASRUL SANI
Mulanya saya
mengira bahwa buku yang berjudul Tanggapan
Dunia Asru Sani ini merupakan suatu uraian tentang tanggapa dunianya Asrul
Sani. Sebenarnya buku ini hanya merupakan suatu usah Hutagalung untuk mendekati
(dalam arti menyelami dan menafsirkan) sajak-sajak dan cerita pendek Asrul
Sani.
Dibandingkan dengan bukunya yang
pertama tentang roman Mochtar Lubis itu, buku tentang Asrul Sani ini menunjukan
adanya kemajuan-kemajuan, kendati kita pun menyayangkan bahwa karena metoda
yang dipergunakannya tetap yaitu suatu pendekatan analitik yang bermula dari
batasan-batasan umum yang kemudian diterapkan pada objeknya.
Kalau dalam menganalisa roman Jalan Tak Ada Ujung, Hutagalung dengan aprproach ekstrinsik sastra, maka dala
meneliti sajak dan cerita pendek Asrul, ia melakukan approach instrinsik.
Hutagalung menelitinya melalui
eksistensialisma Sartre dan Marcel, melalui fenomenologi dan lain-lain, tetapi
ketika menyinggung persoalan agama Islam, ia merasa cukup hanya dengan mengutip
Bahrum Rangkuti tentang Iqbal.
Sebuah lampiran dimuatkan pula
sajak-sajak Asrul yang belum dimuat dalam Tiga Menguak Takdir dan Gema Tanah
Air dan sebuah cerpen yang berjudul ‘Museum’. Hal ini tentu akan memudahkan mereka
yang menaruh minat untuk melihat sosok Asrul Sani secara keseluruhan.
Junus Amir Hamzah Tentang
Hamka Sebagai Pengarang Roman
Tokoh Hamka
dalam dunia kasusastraan Indonesia adalah seorang tokoh yang paling banyak
dihebohkan orang, terutama setelah Abdullah S.P mengajukan bukti-bukti yang
mendakwa Tenggelamnya Kapal v/d Wijck
sebagai hasil plagiat. Roman-romannya yang terkenal antara lain Dibawah Lindungan Ka’bah (1938), Merantau ke
Deli (1939), Tuan Direktur (1939), Keadilan Ilahi (1941), Dijemput Mamaknya
(1949), sedangkan kumpulan cerita pendeknya Di Dalam Lembah Kehidupan (1941),
merupakan salah sebuah kumpulan cerita pendek yang pertama dalam sejarah
perkembangan sastra Indonesia. Buku-bukunya tentang agama Islam itulah yang
telah menyebabkan Hamka oleh sebagian kritikus-sastra Indonesia disebut sebagai
‘pujangga Islam’. Masalah-masalah roman Hamka adalah masalah adat, percintaan
yang tak sampai, rumah tangga yang hancur dan semacamnya – dan Islam hanyalah
menjadi latar belakang belaka.
Buku Junus Amir Hamzah tentang
Hamka, yang berjudul Hamka Sebagai
Pengarang Roman, sangat menarik hati. Karena Junus mengikuti istilah dan
definisi Jasssin maka ia hanya menemukan dua buah ‘roman’ buah tangan Hamka,
yaitu Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal v/d Wijck.
Junus memulainya dengan membahas
pandangan Hamka dari segi ajaran tentang takdir menurut konsepsi Islam.
Penelaahan Junus terasa agak kurang sistimatiknya, karena dalam bab-bab yang
sudah diberi judul yang menunjukan objek garapan khusus, sering menyeleweng
membicarakan yang bukan-bukan. Junus merasa leluasa saja untuk membahas tentang
pengaruh Muhammad Abduh terhadap Hamka, tentang pandangan Hamka mengenai
kebudayaan Indonesia baru dan perbandingan antara Di Bawah Lindungan Ka’bah dengan Tenggelamnya Kapal v/d Wijck.
Lampu Merah Buat Jassin
AMIR HAMZAH RAJA PENYAIR PUJANGGA BARU
H.B Jassin
Ia seorang kritikus dan Sarjana Sastra yang terkenal tekun dan sebagai salah
satu hasil ketekunannya itu. Baru-baru ini kita menrima sebuah bukunya yang
baru berjudul Amir Hamzah Raja Penyair
Pujangga Baru (Jakarta, 1962).
Jassin menyertakan suatu daftar
karya almarhum secara kronologis, sebuah bibliografia dan didahului dengan
sebuah pengantar.
Jassin melukiskan Amir Hamzah
sebagai seorang penyair dan manusia yang tidak kunjung dewasa. Dalam
menyelidiki apakah sebabnya Amir Hamzah sampai mendapat tempat terhormat di
lingkungan pujangga baru, Jassin sampai pada kesimpulan sebab-musababnya :
“Oleh variasi yang besar dalam jumlah suku kata Amir melepaskan diri dari irama
syair yang monoton dan dapat semuanya memberi bentuk yang sesuai dengan alun
jiwanya.
PUJANGGA BARU PROSA DAN PUISI
Buku Pujangga Baru Prosa dan Puisi yang
disusun oleh H.B. Jassin adalah sebuah bungarampai (antologia) dari para
pengarang dan penyair yang oleh penyusunnya digolongkan kedalam apa yang
dinamakan ‘Angkatan Pujangga Baru’. ‘Angkatan Pujangga Baru’ biasanya
ditempatkan sebagai angkatan kedua, yaitu setelah ‘Angkatan Duapuluhan’. Tidak
sedikit pula para sastrawan yang menolak atau tidak mau dimasukan kedalam suatu
angkatan.
Lingkungan pujangga baru memang ada,
terutama di sekitar majalah Poedjangga
Baroe. Teruna yang diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1941 digolongkan
juga kedalam ‘Angkatan Pujangga Baru’.
ANGKATAN ’66 PROSA DAN PUISI
Zaman Jepang
adalah zaman di mana kehidupan bahasa dan dengan demikian kehidupan
kesusastraan Indonesia berkembang secara pesat, tetapi selama tiga setengah
tahun hanya beberapa buku saja yang terbit. Kehidupan manusia Indonesia pada
masa itu berada pada suatu taraf dimana buku merupakan suatu barang mewah yang
tak terjangkau oleh daya belinya.
Angkatan 66 disusun H.B. Jassin
untuk melengkapi ketiga antologinya yang terdahulu.
Terhadap judul Angkatan 66 untuk
suatu bungarampai prosa dan puisi yang tidak mempergunakan ukuran semangat
Angkatan ’66 secara konsekuen itu, telah timbul reaksi pula, antara lain dari
Taufiq Ismail dan Arief Budiman. Mereka menyatakan keberatan kalau nama
‘Angkatan ‘66’ itu dipergunakan untuk suatu bungarampai yang didalamnya
dimuatkan juga karangan-karangan para pengikut Soekarno yang menjadi dedengkot
Orde Lama, padahal itulah yang menjadi sasaran pendobrakan Angkatan ‘66’.
Arief Budiman dalam resensinya
menyambut bungarampai telah pula menyinggung soal judul ‘Angkatan ‘66’ yang
secara tak konsekuen dipergunakan Jassin.
Saya sendiri berpendapat bahwa
Angkatan 66 Prosa dan puisi kalau diukur oleh maksud penyusunnya sendiri
seperti yang dikemukakan Jassin dalam ‘ kata pengantarnya’ (untuk
memperkenalkan pengarang-pengarang dan hasil-hasil kesusastraan sesudah tahun
55-an’) tidaklah dapat disebut representatif.
Kenyataan bahwa Angkatan 66 sebagai
bungarampai tidaklah representatif mewakili masanya, menimbulkan pertanyaan
pula tentang Gema Tanah Air dan bungairampai-bungarampai lain yang disusun oleh
H.B. Jassin. Apakah semua bungarampai itu benar-benar representatif ataukah
seperti Angkatan 66 pula.
Jassin Cari Mujtahid
Ketemu Gambar Burak
Berkata
Jassin dalam alenia pertama tulisannya itu : “ada konsensus umum pada umat
islam, bahwa segala makhluk yang bernyawa tidak boleh dirupakan. Perkataan
Jassin ini mengejutkan sekali.
Maka mengerti jugalah kita mengapa
Jassin tak menemukan apa yang dicarinya. Dalam buku A. Hassan itu sedikitnya
Jassin akan menemukan 19 (sembilan belas) buah hadis yang berkenaan dengan
shurah, yaitu gambar, patung, arca dan lain-lain.
(5). Ada
pula segolongan yang menganggap bahwa gambar dan patung yang diharamkan itu
hanyalah yang disembah orang atau yang dikuatirkan akan dijadikan sembahan.
Agaknya kedalam golongan kelima
inilah Jassin dapat digolongkan atau menggolongkan dirinya – seperti juga A.
Hassan sendiri yang dalam tuliannya itu menunjukan kecenderungannya kepada
golongan terakhir.
Sesungguhnya tak ada jaminan bahwa
kalau kelak para seniman mengikuti anjuran Jassin melukiskan wajah Nabi
Muhammad SAW lantas tidak akan terjadi penyembahan atau pemberhalaan kepada
gambar tersebut.
Perlu Peningkatan
Penelitian Sastra Indonesia
Lelakon
Raden Beij Soerio Retno, yang sangat menarik dari sekumpulan itu adalah bahwa
semuanya ditulis dalam bahasa Melayu yang terkenal dengan nama Melayu Cina.
Boleh dikatakan penerbitan bahasa
Melayu dalam dasawarsa terakhir abad yang lalu, sedikit sekali mendapat
perhatian para penelaah sastra Indonesia.
Barangkali hal itu disebabkan karena
biasanya para penelaah sastra indonesia di Indonesia hanya mengikuti apa sudah
dirintis oleh para sarjana Belanda saja.
Agaknya semangat untuk sendiri
melakukan penelaahan diluar hal-hal yang sudah secara resmi disinggung orang,
masih sedikit sekali terdapat di kalangan para sarjana kita. Seperti pernah
dikemukakan oleh Roestam Effendi, memang bahasa Melayu yang dipopulerkan oleh
orang-orang Belanda seperti van Ophuysen merupakan jenis bahasa Melayu yang
baru.
Sampai sekarang penelaahan sastra
dengan memperhatikan latar belakang kehidupan sosialnya, boleh dikatakan
sedikit sekali dilakukan orang di Indonesia. Sastra Indonesia dianggap oleh
kebanyakan para penelaah sastra sebagai suatu yang terlepas dari kehidupan
sosial, padahal kelahiran sastra bahasa Indonesia adalah hasil proses
perkembangan sosialnya, yaitu sebagai akibat logis dari suatu peristiwa besar
dalam kehidupan manusia Indonesia secara keseluruhan setelah bertemu dan
berkonfrontasi dengan kehidupan kebudayaan Eropa.
Padahal hanya dengan melihat latar
belakang sosialnya sajalah kita akan memahami juga misalnya mengapa
bentuk-bentuk sastra yang banyak ditulis dalam bahasa Melayu Rendah dan
terbitan Balai Pustaka terutama berbentuk roman, sajak, drama – bentuk-bentuk
sastra yang sebelumnya tidak dikenal dalam kehidupan sastra masyarakat
Indonesia lama.

0 komentar:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.