Home » » PENDEKATAN HERMENEUTIKA TA’WILL DAN KONSEP ADILUHUNG DALAM SAJAK “BACALAH” KARYA ABDUL WACHID B.S. MAKALAH Tugas ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Apresiasi Puisi (Dosen Pengampu : Abdul Wachid B.S)

PENDEKATAN HERMENEUTIKA TA’WILL DAN KONSEP ADILUHUNG DALAM SAJAK “BACALAH” KARYA ABDUL WACHID B.S. MAKALAH Tugas ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Apresiasi Puisi (Dosen Pengampu : Abdul Wachid B.S)

Written By Berbagi ide muda Berkarya on Jan 30, 2014 | 8:24 AM



A.    Pendahuluan
1.      Latar belakang
Puisi pada bagian terpentingnya tidak lain yakni ingin menyampaikan visi dan misi kemanusiaan yang mampu berpengaruh terhadap moralitas kehidupan. Pada batas wilayah ini, puisi tidak hanya merupakan keindahan estetika, tetapi juga menawarkan kandungan falsafah agung mengenai realitas ( al- faruqi,1999:77).
Puisi terlahir dari kehidupan, dan ada beberapa ruang- ruang tertentu yang hanya bisa dicermati dan dijangkau oleh puisi- dengan segala kompleksitasnya. puisi dapat menjadi salah satu media untuk membuka kesadaran manusia mengenai realitas yang tersembunyi, bahkan sampai menemukan filosofi hidup. Puisi adalah rimba metafora, sungai simbolisme, perbukitan paradoks, dan kawasan tafsir. Ketika puisi itu menorehkan diksi yang tak lazim, membuka peluang ketaksaan, pembaca digerayangi hasrat memahami dengan sebaik- baiknya( Abdul Wachid BS).
Tiap pengarang mempunyai gaya bahasa sendiri. Hal ini sesuai dengan sifat dan kegemaran masing- masing pengarang puisi terkesan hanya sebagai kumpulan kata- kata yang sulit dipahami dalam  hal ini, maka dari itu penulis menghilangkan anggapan yang demikian. Berdasarkan pernyataan itulah penulis tertarik untuk menulis penelitian terhadap hermeneutika ta’will, hakekat Adiluhung  dan simbol dalam sajak “ Bacalah”  karya Abdul Wachid B.S (Kepa- Yang sajak- sajak 2011-2012).
2.      Identifikasi Masalah
Masalah yang diangkat dalam sajak “Bacalah” adalah bagian dari kata atau bait nama yang merupakan simbol, hermeneutika ta’wil, hakekat Adiluhung. Penulis mengambil konsep Kekaruniaan. Kata tersebut memiliki arti yang tersirat sehingga perlu adanya pembahasan yang lebih mendetail.
3.      Rumusan Masalah
a.    Bagaimana hermeneutika ta’wil  dalam sajak “Bacalah” ?
b.   Bagaimanakah hakekat Adiluhung dalam sajak “Bacalah”?
c.    Bagaimanakah simbol  dalam sajak “Bacalah”?



B.     Hermenutika Ta’will, Konsep Adiluhung dan Simbol
1.      Hermenutika Ta’will
“ Perkataan ta’will berasal dari kata awwal, pertama atau yang pertama, sebutan yang juga diberikan kepada Sang Pencipta”( Hadi W.M., 2005:71). Berdasarkan ungkapan itu, Abdul Hadi W.M. menemukan esensi ta’will untuk mengacu kepada Yang Pertama (Tuhan) untuk memahami makna terdalam teks. Ta’will menafsirkan symbol dalam berbagai jenis, baik di alam, dalam realitas sosial, maupun realitas yang transeden. Pada akhirnya, ta’will lebih disamakan dengan hermeneutika simbolis atau hermeneutika spiritual (rohani).
Tugas pemahaman teks terletak dalam menjelaskan “apa maksud sesuatu”, sedangkan soal benar tidaknya maksud ini ditentukan oleh ilmu pengetahuan yang lebih khusus dan tinggi seperti filsafat atau agama (Gordin, 2007: 54). Dalam keterkaitan ini, tugas penta’will yang paling pokok adalah menerjemahkan makna yang terasa jauh tersebut kemudian baru mengalihkannya dengan bahasa yang dia kuasai.  Pada tataran ini, membutuhkan pemahaman yang analitik agar penjelasan menjadi jelas, tentunya dengan merujuk pada konteks dan kontekstualisasi, seperti filsafat dan agama. Ta’will sebagaimana asalnya lebih memosisikan agama sebagai bagian dari konteks dan kontekstualisasi.
Kesalahpahaman interpretasi sering terjadi pada kaum rasional yang memandang dimensi lain dengan menggunakan pengetahuan konvensional. Secara eksistensi, hal itu merupakan feomena yang berbeda, dan karenanya untuk memahami pun harus dengan cara yang berbeda pula. Peran dan fungsi ta’will sebagai interpretasi sejati melihat adanya “realitas” transeden yang memiliki ungkapan dan citraan simbolik.
Peranan ta’will membuka ruang lingkup sebagai bagian dari makna sekaligus menangkap teks sebagai suatu keseluruhan rantai makna pasial (fragmentaris) dalam analisis. Karena itu, antara pegetahuan dan keindahan yang terkandung di dalam teks tidak dapat dipisahkan karena keduanya merupakan koherensi makna. Boleh dikatakan, keduanya memiliki ikatan yang erat. Hanya saja secara hakekat, di dalam suatu teks sering menampilkan dua keindahan secara bersamaan, yaitu keindahan luar dan keindahan dalam.
2.      Hakekat adiluhung
Secara bahasa , adiluhung memiliki persamaan arti dengan kata klasik, luhur mulia, dan tinggi (Endarmoko, 2006:6). Dalam Kamus Besar Bahas Indonesia, adiluhung berarti tinggi mutunya; mulia; nilai- nilai seni budaya yang wajib dipelihara ( Alwi dkk., 2007:8). Luhung sendiri sama dengan luhur, tinggi; dan mulia. Makna kata luhur adalah cita- cita yang mulia yang bersedia mengorbankan jiwa dan raga. Adiluhung adalah nilai- nilai luhur yang mampu memberikan kebijakan agar mengarah kepada kebenaran. Adiluhung sendiri dapat dikatakan sebagai pandangan hidup yang memiliki kebenaran atas kehidupan berdasarkan falsafat budaya. Oleh karena itu, adiluhung merupakan suatu pandangan hidup yang mampu memberikan pencerahan berdasarkan syariat, yang terus dilestarikan meskipun telah terjadi perubahan ideologi masyarakat.
Dalam perspektif itu, ada transformasi nilai- nilai agung melalui seni dan budaya untuk mempercayai keesaan Allah sebagai Tuhan. Wali Sanga dalam menyebarkan Islam juga tetap menjaga kearifan lokal yang secara esensinya tidak bertentangan dengan nilai ketauhidan. Melalui cara itulah, Islam di Jawa dapat diterima dengan baik oleh masyarakat sebagai agama pembawa kebenaran. Hanya saja, karena pandangan hidup masyarakat sebelumnya bercorak mistik, maka mereka lebih memilih pandangan Islam yang bercorak tasawuf, yang dirasa selaras dengan keyakinan sebelumnya (Suwito N.S.,2008:39).
3.      Teori Simbol
Ricoeur mendefinisikan symbol sebagai struktur penandaan yang di dalamnya ada sebuah makna langsung, pokok atau literer menunjuk kepada makna tambahan, makna lain yang tidak langsung, sekunder dan figurative yang dapat dipahami hanya melalui yang pertama. Pembebasan ekspresi dengan sebuah makna ganda ini mengatakan dengan tepat wilayah hermeneutika(Bleicher, 2003: 376)
Simbol dalam bahasa inggris, symbol yang berarti lambang. Simbol adalah lambang yang mewakili nilai- nilai tertentu. Wujud dari perwakilan ini sesungguhnya bukanlah sebuah kesamaan. Wujud tersebut lebih merupakan persamaan untuk mengilustrasikan Fenomena,yaitu antara realitas sebelumnya dengan sesuatu yang digunakan untuk menjelaskan realitas tersebut di dalam teks. Dari ungkapan itu, diketahui bahwa pada hakekatnya simbol menerangkan adanya bentuk analogi. Bentuk analogi inilah yang dapat membentuk simbol untuk mengilustrasikan pemikiran atau realitas imajiner. Karena itu, simbol sering muncul dalam puisi untuk mewakili ungkapan penyair mengenai fenomena yang tidak dapat dilihat dengan mata, tapi dirasakan keberadaannya.
Pemakaian simbol di dalam puisi terjadi karena adanya bahasa kiasan (bentuk analogi, -pen), seperti metonimi, metafora, ataupun personifikasi (Wachid B.S.,2002:105).
C. Pembahasan
1. Kereligiusan Cinta dalam sajak “Bacalah” dengan hermeneutika ta’will, simbol, dan hakekat Adiluhung

BACALAH


ketika hujan memberi basah kepada
tanah, rerumputan, pohon, daun- daun
ketika tanah memberi pijakan kepada
setiap langkah, setiap resap kehidupan yang
di tubuhnya menjadi megah
ketika rerumputan memberi warna hijau kepada
jiwa kau aku yang galau
ketika pohon- pohon memberi permohonan kepada
sang empunya kebun abadi untuk
daun- daun yang memberi nafas kepada
jiwa- jiwa yang senantiasa
lahir, tumbuh, bercinta
lalu mati yang tidak pernah benar- benar mati


ketika kau aku, cinta sungguh
tidak pernah cuma menerima
kecuali memberi dan selalu memberi
dan yang menerima abadi hanyalah
sang empunya kebun
Yogyakarta, 6 juli 2012
C.1. Analisis hermeneutika ta’will dalam sajak “Bacalah”
Dalam puisi yang berjudul  “Bacalah” yang mempunyai makna perintah terhadap kita untuk  selalu bersyukur dan terus bersyukur . pada penjelasan hermenutika ta’will yang terdapat pada konteks puisi tersebut  terdapat pada teks “sang empunya kebun” yang berarti Yang Maha Esa.
Ketika tanah memberi basah kepada
Tanah, rerumputan, pohon, daun-daun
ketika tanah memberi pijakan kepada
setiap langkah, setiap resap kehidupan yang
di tubuhnya menjadi megah
ketika rerumputan memberi warna hijau kepada
jiwa kau aku yang galau
ketika pohon- pohon memberi permohonan kepada
sang empunya kebun abadi untuk
daun- daun yang memberi nafas kepada
jiwa- jiwa yang senantiasa
lahir, tumbuh, bercinta
lalu mati yang tidak pernah benar- benar mati     
Makna dari bait pertama menggambarkan tentang kebesaran Allah dan nikmat yang diberikannya kepada makhluk di muka bumi, sang empunya yang berarti kemuliaan dan kekuasaan. Bait ini menjelaskan Allah menciptakan alam semesta ini, dan  karunianya yang sangat berguna bagi makhluk di muka bumi.
ketika kau aku, cinta sungguh
tidak pernah cuma menerima
kecuali memberi dan selalu memberi
dan yang menerima abadi hanyalah
sang empunya kebun
            makna dari bait kedua ini ialah ketika kita ingat akan nikmat dan karunia- Nya senantiasalah kita banyak- banyak bersedekah dan selalu memperbanyak amal baik kita selama kita hidup di dunia ini.
C.2. Analisis Simbol
            Simbol dalam sajak “Bacalah”.
            Simbol yang sangat religious terdapat pada sajak “Bacalah” tampak pada bait kedua  baris ke empat dan lima. Simbol dalam puisi ini juga berkaitan dengan  mikroskomos dan makrokosmos yang sebagai ungkapan estetik , yang merupakan citraan simbolik untuk mengenal Tuhan.
            “dan yang menerima abadi hanyalah
            “sang empunya kebun
Dalam kalimat tersebut telah menjelaskan semuanya akan kembali kepada Yang Maha Esa.
C.3. Hakikat Adiluhung
            Konsep karuniaan pada sajak “ Bacalah” dibuktikan dengan kondisi manusia yang senantiasa mensyukuri nikmat – Nya yang telah diberikan. Hakikat adiluhung terlihat jelas pada  bait pertama baris 4- 9 menjelaskan  adanya transformasi nilai- nilai agung sebagai pandangan hidup yang senantiasa mempercayai keesaan Allah sebagai Tuhan.
D.    simpulan
            Dalam pembahasan tersebut dapat ditarik kesimpulan pada kekaruniaan dari sajak “Bacalah” yang bermakna kita harus mensyukuri nikmat yang di karuniai-Nya. Dengan demikian adanya ta’will telah memosisikan simbol- simbol sesuai dengan maknanya secara natural dan universal. Adiluhung sendiri dapat dikatakan sebagai pandangan hidup yang memiliki kebenaran atas kehidupan berdasarkan falsafah budaya.Sedangkan simbol ialah sebagai struktur penandaan yang di dalamnya ada sebuah makna langsung, pokok atau litere menunjuk, sekunder dan figurative yang dapat dipahami hanya melalui yang pertama.
            Pada sajak “Bacalah” mengajak pembaca untuk melakukan pendekatan terhadap makna – makna yang terurai dalam sajak tersebut.Dapat disimpulkan sajak “Bacalah” mempengaruhi pembaca serta menumbuhkan kesadaran lagi terhadap pembaca bagaimana cara kita mensyukuri atas karunia dari – Nya.







                                                Daftar Pustaka
Wachid, Abdul. 2012. Kepayang. Yogyakarta : Penerbit Cinta Buku.
Kurniawan, Heru. 2011. Mistisisme Cahaya. Purwokerto : STAIN Purwokerto Press.
Hidayat, Arif.2012. Aplikasi Teori Hermeneutika dan Wacana Kritis. Purwokerto: STAIN Purwokerto
Wachid, Abdul.2012. Creative Writing. Purwokerto : STAIN Purwokerto
Wachid, Abdul. 2010. Analisis struktural semiotik puisi surealistis religius D. zawawi Imron. Yogyakarta : Penerbit Cinta buku.
Pradopo, Rachmad Djoko. 2002. Pengkajian Puisi. Yogyakarta : Gadjah Mada Universitas Press.
Sayuti, Suminto A. 2002. Berkenalan Dengan Puisi. Yogyakarta : Gama Media.
A.Teeuw.1984.Sastra dan Ilmu sastra.Bandung:Pustaka Jaya.






0 komentar:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.