A.
Pendahuluan
1. Latar
belakang
Puisi
pada bagian terpentingnya tidak lain yakni ingin menyampaikan visi dan misi
kemanusiaan yang mampu berpengaruh terhadap moralitas kehidupan. Pada batas
wilayah ini, puisi tidak hanya merupakan keindahan estetika, tetapi juga
menawarkan kandungan falsafah agung mengenai realitas ( al- faruqi,1999:77).
Puisi
terlahir dari kehidupan, dan ada beberapa ruang- ruang tertentu yang hanya bisa
dicermati dan dijangkau oleh puisi- dengan segala kompleksitasnya. puisi dapat
menjadi salah satu media untuk membuka kesadaran manusia mengenai realitas yang
tersembunyi, bahkan sampai menemukan filosofi hidup. Puisi adalah rimba
metafora, sungai simbolisme, perbukitan paradoks, dan kawasan tafsir. Ketika
puisi itu menorehkan diksi yang tak lazim, membuka peluang ketaksaan, pembaca
digerayangi hasrat memahami dengan sebaik- baiknya( Abdul Wachid BS).
Tiap
pengarang mempunyai gaya bahasa sendiri. Hal ini sesuai dengan sifat dan
kegemaran masing- masing pengarang puisi terkesan hanya sebagai kumpulan kata-
kata yang sulit dipahami dalam hal ini,
maka dari itu penulis menghilangkan anggapan yang demikian. Berdasarkan
pernyataan itulah penulis tertarik untuk menulis penelitian terhadap hermeneutika
ta’will, hakekat Adiluhung dan simbol dalam sajak “ Bacalah” karya Abdul Wachid B.S (Kepa- Yang sajak-
sajak 2011-2012).
2. Identifikasi
Masalah
Masalah yang diangkat
dalam sajak “Bacalah” adalah bagian dari kata atau bait nama yang merupakan simbol,
hermeneutika ta’wil, hakekat
Adiluhung. Penulis mengambil konsep Kekaruniaan.
Kata tersebut memiliki arti yang tersirat sehingga perlu adanya pembahasan yang
lebih mendetail.
3.
Rumusan Masalah
a.
Bagaimana hermeneutika ta’wil
dalam sajak “Bacalah” ?
b.
Bagaimanakah hakekat Adiluhung dalam
sajak “Bacalah”?
c.
Bagaimanakah simbol dalam sajak “Bacalah”?
B.
Hermenutika
Ta’will, Konsep Adiluhung dan Simbol
1. Hermenutika
Ta’will
“
Perkataan ta’will berasal dari kata
awwal, pertama atau yang pertama, sebutan yang juga diberikan kepada Sang
Pencipta”( Hadi W.M., 2005:71). Berdasarkan ungkapan itu, Abdul Hadi W.M.
menemukan esensi ta’will untuk
mengacu kepada Yang Pertama (Tuhan) untuk memahami makna terdalam teks. Ta’will menafsirkan symbol dalam
berbagai jenis, baik di alam, dalam realitas sosial, maupun realitas yang transeden.
Pada akhirnya, ta’will lebih
disamakan dengan hermeneutika simbolis atau hermeneutika spiritual (rohani).
Tugas
pemahaman teks terletak dalam menjelaskan “apa maksud sesuatu”, sedangkan soal
benar tidaknya maksud ini ditentukan oleh ilmu pengetahuan yang lebih khusus
dan tinggi seperti filsafat atau agama (Gordin, 2007: 54). Dalam keterkaitan
ini, tugas penta’will yang paling
pokok adalah menerjemahkan makna yang terasa jauh tersebut kemudian baru
mengalihkannya dengan bahasa yang dia kuasai.
Pada tataran ini, membutuhkan pemahaman yang analitik agar penjelasan
menjadi jelas, tentunya dengan merujuk pada konteks dan kontekstualisasi,
seperti filsafat dan agama. Ta’will sebagaimana
asalnya lebih memosisikan agama sebagai bagian dari konteks dan kontekstualisasi.
Kesalahpahaman
interpretasi sering terjadi pada kaum rasional yang memandang dimensi lain
dengan menggunakan pengetahuan konvensional. Secara eksistensi, hal itu
merupakan feomena yang berbeda, dan karenanya untuk memahami pun harus dengan
cara yang berbeda pula. Peran dan fungsi ta’will
sebagai interpretasi sejati melihat adanya “realitas” transeden yang
memiliki ungkapan dan citraan simbolik.
Peranan ta’will membuka ruang lingkup sebagai
bagian dari makna sekaligus menangkap teks sebagai suatu keseluruhan rantai
makna pasial (fragmentaris) dalam analisis. Karena itu, antara pegetahuan dan
keindahan yang terkandung di dalam teks tidak dapat dipisahkan karena keduanya
merupakan koherensi makna. Boleh dikatakan, keduanya memiliki ikatan yang erat.
Hanya saja secara hakekat, di dalam suatu teks sering menampilkan dua keindahan
secara bersamaan, yaitu keindahan luar dan keindahan dalam.
2. Hakekat
adiluhung
Secara
bahasa , adiluhung memiliki persamaan arti dengan kata klasik, luhur mulia, dan
tinggi (Endarmoko, 2006:6). Dalam Kamus
Besar Bahas Indonesia, adiluhung berarti tinggi mutunya; mulia; nilai-
nilai seni budaya yang wajib dipelihara ( Alwi dkk., 2007:8). Luhung sendiri
sama dengan luhur, tinggi; dan mulia. Makna kata luhur adalah cita- cita yang
mulia yang bersedia mengorbankan jiwa dan raga. Adiluhung adalah nilai- nilai
luhur yang mampu memberikan kebijakan agar mengarah kepada kebenaran. Adiluhung
sendiri dapat dikatakan sebagai pandangan hidup yang memiliki kebenaran atas
kehidupan berdasarkan falsafat budaya. Oleh karena itu, adiluhung merupakan
suatu pandangan hidup yang mampu memberikan pencerahan berdasarkan syariat,
yang terus dilestarikan meskipun telah terjadi perubahan ideologi masyarakat.
Dalam
perspektif itu, ada transformasi nilai- nilai agung melalui seni dan budaya
untuk mempercayai keesaan Allah sebagai Tuhan. Wali Sanga dalam menyebarkan
Islam juga tetap menjaga kearifan lokal yang secara esensinya tidak
bertentangan dengan nilai ketauhidan. Melalui cara itulah, Islam di Jawa dapat
diterima dengan baik oleh masyarakat sebagai agama pembawa kebenaran. Hanya
saja, karena pandangan hidup masyarakat sebelumnya bercorak mistik, maka mereka
lebih memilih pandangan Islam yang bercorak tasawuf, yang dirasa selaras dengan
keyakinan sebelumnya (Suwito N.S.,2008:39).
3. Teori
Simbol
Ricoeur mendefinisikan symbol sebagai
struktur penandaan yang di dalamnya ada sebuah makna langsung, pokok atau
literer menunjuk kepada makna tambahan, makna lain yang tidak langsung,
sekunder dan figurative yang dapat dipahami hanya melalui yang pertama.
Pembebasan ekspresi dengan sebuah makna ganda ini mengatakan dengan tepat
wilayah hermeneutika(Bleicher, 2003: 376)
Simbol dalam bahasa inggris, symbol yang
berarti lambang. Simbol adalah lambang yang mewakili nilai- nilai tertentu.
Wujud dari perwakilan ini sesungguhnya bukanlah sebuah kesamaan. Wujud tersebut
lebih merupakan persamaan untuk mengilustrasikan Fenomena,yaitu antara realitas
sebelumnya dengan sesuatu yang digunakan untuk menjelaskan realitas tersebut di
dalam teks. Dari ungkapan itu, diketahui bahwa pada hakekatnya simbol
menerangkan adanya bentuk analogi. Bentuk analogi inilah yang dapat membentuk simbol
untuk mengilustrasikan pemikiran atau realitas imajiner. Karena itu, simbol
sering muncul dalam puisi untuk mewakili ungkapan penyair mengenai fenomena
yang tidak dapat dilihat dengan mata, tapi dirasakan keberadaannya.
Pemakaian
simbol di dalam puisi terjadi karena adanya bahasa kiasan (bentuk analogi,
-pen), seperti metonimi, metafora, ataupun personifikasi (Wachid
B.S.,2002:105).
C.
Pembahasan
1. Kereligiusan
Cinta dalam sajak “Bacalah” dengan hermeneutika ta’will, simbol, dan hakekat Adiluhung
BACALAH
ketika hujan memberi
basah kepada
tanah, rerumputan,
pohon, daun- daun
ketika tanah memberi
pijakan kepada
setiap langkah, setiap
resap kehidupan yang
di tubuhnya menjadi
megah
ketika rerumputan
memberi warna hijau kepada
jiwa kau aku yang galau
ketika pohon- pohon
memberi permohonan kepada
sang empunya kebun
abadi untuk
daun- daun yang memberi
nafas kepada
jiwa- jiwa yang
senantiasa
lahir, tumbuh, bercinta
lalu mati yang tidak
pernah benar- benar mati
ketika kau aku, cinta
sungguh
tidak pernah cuma
menerima
kecuali memberi dan
selalu memberi
dan yang menerima abadi
hanyalah
sang empunya kebun
Yogyakarta,
6 juli 2012
C.1.
Analisis hermeneutika ta’will dalam
sajak “Bacalah”
Dalam
puisi yang berjudul “Bacalah” yang
mempunyai makna perintah terhadap kita untuk
selalu bersyukur dan terus bersyukur . pada penjelasan hermenutika ta’will yang terdapat pada konteks
puisi tersebut terdapat pada teks “sang
empunya kebun” yang berarti Yang Maha Esa.
Ketika tanah memberi
basah kepada
Tanah, rerumputan,
pohon, daun-daun
ketika tanah memberi
pijakan kepada
setiap langkah, setiap
resap kehidupan yang
di tubuhnya menjadi
megah
ketika rerumputan
memberi warna hijau kepada
jiwa kau aku yang galau
ketika pohon- pohon
memberi permohonan kepada
sang empunya kebun
abadi untuk
daun- daun yang memberi
nafas kepada
jiwa- jiwa yang
senantiasa
lahir, tumbuh, bercinta
lalu mati yang tidak
pernah benar- benar mati
Makna
dari bait pertama menggambarkan tentang kebesaran Allah dan nikmat yang
diberikannya kepada makhluk di muka bumi, sang empunya yang berarti kemuliaan
dan kekuasaan. Bait ini menjelaskan Allah menciptakan alam semesta ini,
dan karunianya yang sangat berguna bagi
makhluk di muka bumi.
ketika kau aku, cinta sungguh
tidak pernah cuma
menerima
kecuali memberi dan
selalu memberi
dan yang menerima abadi
hanyalah
sang empunya kebun
makna dari bait kedua ini ialah
ketika kita ingat akan nikmat dan karunia- Nya senantiasalah kita banyak-
banyak bersedekah dan selalu memperbanyak amal baik kita selama kita hidup di
dunia ini.
C.2.
Analisis Simbol
Simbol dalam sajak “Bacalah”.
Simbol yang sangat religious
terdapat pada sajak “Bacalah” tampak pada bait kedua baris ke empat dan lima. Simbol dalam puisi
ini juga berkaitan dengan mikroskomos
dan makrokosmos yang sebagai ungkapan estetik , yang merupakan citraan simbolik
untuk mengenal Tuhan.
“dan
yang menerima abadi hanyalah
“sang empunya kebun
Dalam
kalimat tersebut telah menjelaskan semuanya akan kembali kepada Yang Maha Esa.
C.3.
Hakikat Adiluhung
Konsep karuniaan pada sajak “
Bacalah” dibuktikan dengan kondisi manusia yang senantiasa mensyukuri nikmat –
Nya yang telah diberikan. Hakikat adiluhung terlihat jelas pada bait pertama baris 4- 9 menjelaskan adanya transformasi nilai- nilai agung
sebagai pandangan hidup yang senantiasa mempercayai keesaan Allah sebagai
Tuhan.
D.
simpulan
Dalam pembahasan tersebut dapat
ditarik kesimpulan pada kekaruniaan dari sajak “Bacalah” yang bermakna kita
harus mensyukuri nikmat yang di karuniai-Nya. Dengan demikian adanya ta’will telah memosisikan simbol- simbol
sesuai dengan maknanya secara natural dan universal. Adiluhung sendiri dapat
dikatakan sebagai pandangan hidup yang memiliki kebenaran atas kehidupan
berdasarkan falsafah budaya.Sedangkan simbol ialah sebagai struktur penandaan
yang di dalamnya ada sebuah makna langsung, pokok atau litere menunjuk,
sekunder dan figurative yang dapat dipahami hanya melalui yang pertama.
Pada sajak “Bacalah” mengajak
pembaca untuk melakukan pendekatan terhadap makna – makna yang terurai dalam
sajak tersebut.Dapat disimpulkan sajak “Bacalah” mempengaruhi pembaca serta
menumbuhkan kesadaran lagi terhadap pembaca bagaimana cara kita mensyukuri atas
karunia dari – Nya.
Daftar
Pustaka
Wachid, Abdul. 2012. Kepayang. Yogyakarta :
Penerbit Cinta Buku.
Kurniawan,
Heru. 2011. Mistisisme Cahaya. Purwokerto : STAIN Purwokerto Press.
Hidayat,
Arif.2012. Aplikasi Teori Hermeneutika
dan Wacana Kritis. Purwokerto: STAIN Purwokerto
Wachid,
Abdul.2012. Creative Writing.
Purwokerto : STAIN Purwokerto
Wachid,
Abdul. 2010. Analisis struktural semiotik puisi surealistis religius D.
zawawi Imron. Yogyakarta : Penerbit Cinta buku.
Pradopo,
Rachmad Djoko. 2002. Pengkajian Puisi. Yogyakarta : Gadjah Mada
Universitas Press.
Sayuti, Suminto A. 2002. Berkenalan Dengan Puisi.
Yogyakarta : Gama Media.
A.Teeuw.1984.Sastra dan Ilmu sastra.Bandung:Pustaka Jaya.

0 komentar:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.