Kompleks
Sejarah Makam Kerajaan Mataram Di Kawasan Kota Gede
Sejarah Masjid Besar Mataram Kota Gede tersebut ialah
terbentuknya pada tahun 1856- 1926. Hasono Dulkader juru kunci di makam
tersebut yang berumur 59th beralamatkan Dallem Kota Gede. Beliau
menjadi juru kunci sejak 1999 punya keselit dari Kraton tahun 1934. Dahulunya
makam tersebut adalah suatu bentuk Bumi Hadiah dari padang. Padang yang
mengadakan sayembara, siapa yang mengalahkan Aryo Penangsang, saya hadiahkan
bumi Alas Mentaok, yang aslinya dahulu tempat tersebut ialah Kalas Mentaok. Adapun
yang berhasil dapat memenuhinya ialah Gusti Pemanah. Perang Aryo Penangsangpun
terjadi. Sejarahnya terdapat sungai, dahulu sungai tersebut sangat disukai raja
karena apabila ada yang berhasil menyeberangi sungai tersebut maka akan dapat
sial. Adapun Aryo Penangsang tersebut pergi melewati sungai tersebut
menggunakan kuda betina. Pada ketika sungai tersebut berhasil dilewati akhirnya
terjadi peperangan Aryo Penangsang, dan
Aryo penangsang kena tombak Kiai Pleret di sela ususnya. Siapa menyangka
Aryo Penangsang yang terkenal sakti dan kebal dan punya keris bisa dikalahkan
dan meninggal serta diakhiri oleh Panembahan Senopati. Sungai tersebut terdapat
di Bengawan Sore daerah Solo.
Adapun mengapa dinamakan Batu Gilang di Kraton Mataram
tersebut ialah menurut juru kuncinya “ Batu Gilang itu kursi, dahulunya
merupakan mainannya putra Panembahan Senopati yang bernama Kiai Ageng Ronggo”.
Batu Gilang tersebut ada sekitar 500 tahun yang lalu. Dahulu kala orang-
orang yang berada di kawasan tersebut setelah berhasil dihadiahkan Bumi Hadiah,
pindah ke Pleret. Pleretpun beralih pindah ke Solo. Solo terjadi peperangan di
Yanti dan Panembahan Senopati di makamkan Kota Gede. Adapun alasannya mengapa dalam kawasan Makam
tersebut dilarang bagi wanita untuk mengenakan jilbab ialah aturan dari Kraton
Yogyakarta bukan abdi yang menetapkannnya. Sendang Seliran yang dahulunya
dikenal (Sendang Seliro) yaitu dibuat Panembahan Senopati sebelum meninggal.
Adapun tujuannya adalah Selindang Seliran yang berguna untuk memandikan orang-
orang disekitarnya, dan mendapat berkah atau istilahnya dikenal dengan adanya kepercayaan.
Pada masa Panembahan Senopati sejarah- sejarahnya yang masih tersisa ialah benteng’’ disekitar makam tersebut dan masih
ada sampai sekarang. Setelah Panembahan Senopati, adapun dari turun menurunnya
ialah Mataram 1, Mataram 2 Pangeran Situ rakyat Sultan Hanyo Cokroawati, dan Mataram
3.
Sejarah Masid Besar Mataram Kota Gede yang dahulu dikenal
masjid pertama di Yogya ialah yaitu Langgar. Langgar tempat bersinggahnya para
raja karena dulunya sebelum ada kerajaan dan setelah kerajaan ada berpindah
pusat di tempat tersebut. Adapun yang sering berkunjung ke tempat Langgar
tesebut ialah Kiai Ageng Pemanahan, sesepuh. Dari dahulu sampai sekarang tempat
tersebut merupakan tempat umum yang digunakan masyarakat. Berawal dahulunya
agama Hindu, daerah sekitar masyarakat tersebut, namun adanya politik dari
Sunan Kalijaga yang menyebarkan agama islam di tanah Jawa. Masjid tersebut atau
dahulunya yang bernama Langgar itu terbuat karena berdasarkan adanya pengaruh dari Kiai Ageng Pemanahan, dan Masjid tersebut sudah 2 kali di renovasi, dahulu
gentengnya terbuat dari kayu sedangkan yang menanam pohon beringin disebelah
kanan tersebut ialahSunan Kalijaga sendiri. Sunan Kalijaga diibaratkan sesepuh.

0 komentar:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.