Written By Berbagi ide muda Berkarya on Jul 14, 2013 | 7:43 PM



NAMA: ANGGA APRINASTA PUTRA
NM: 12003179
KELAS : PBSI C
MATA KULIAH : SEJARAH SASTRA







RINGKASAN SEJARAH SASTRA INDONESIA MODERN KARYA Prof.Drs.H.Sarwadi

(2) Masa Permulaan Sastra Indonesia Modern
1.      Arti modern
Kata modern pada sastra Indonesia modern dipergunakan tidak dalam pertentangan dengan kata klasik. Bahkan sebenarnya, istilah sastra Indonesia klasik sebagai pertentangan dengan sastra Indonesia modern tidak ada. Kata modern dipergunakansekadar menunjukkan betapa intensifnya pengaruh Barat pada perkembangan dan kehidupan kesusastraan pada masa itu. Sebelum berkembangnya sastra Indonesia modern kita mengenal sastra Melayu atau sering disebut juga sastra Melayu lama/klasik untuk membedakan dengan sastra Melayu modern yang berkembang di Malaysia.
2.      Pengertian Sastra Indonesia
Ada beberapa pendapat mengenai apa yang disebut sastra Indonesia. Ada yang berpendapat bahwa suatu karya sastra dapat dinamakan dan digolongkan ke dalam pengertian kesusastraan Indonesia apabila:
(1)  Ditulis buat pertama kalinya dalam bahasa Indonesia:
(2)  Masalah- masalah yang dikemukakan di dalamnya haruslah masalah – masalah Indonesia.
(3)  Pengarangnya haruslah bangsa Indonesia (Soemawidagdo, 1996:62)
Berdasarkan pendapat di atas, pengertian sastra Indonesia mencakup  tiga unsur persyaratan, yaitu bahasa, masalah yang dipersoalkan, dan pengarangnya.
Permulaan Sastra Indonesia Modern
                Seperti halnya dengan masalah pengertian sastra Indonesia, masalah permulaan sastra Indonesia modern ini pun menimbulkan beberapa macam pendapat. Dalam garis besarnya ada 4 macam pendapat, yaitu:
1.       Slametmuljana (1953:17) dalam sebuah artikelnya yang berjudul “Ke Mana Arah Perkembagan Puisi Indonesia?” berpendapat bahwa sastra Indonesia yang resmi haruslah dimulai dari tahun 1945. Pengertian tentang sastra Indonesia tidak dapat dipisahkan dari Indonesia sebagai nama suatu negara. Negara Republik Indonesia baru ada sejak diumumkannya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945 dan baru pada tahun itu pulalah bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa resmi negara Republik muljana dengan tegas  berpendapat bahwa berbicara tentang Indonesia sebagai suatu istilah dewasa ini tidak dapat terlepas dari masalah politik. Sastra  suatu bangsa tidak mesti dimulai dari saat bangsa itu memperoleh kemerdekaannya. Disamping itu, tampaknya Slametmuljana mencampuradukkan pengertian bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, dan kemudian mengaitkan kehidupan sastra Indonesia dengan saat ditetapkannya bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi. Padahal, kenyataannya bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional sudah berkembang sebelum proklamasi Kemerdekaan.
2.       Umar junas di dalam karangannya yang berjudul “Istiah dan Masa Waktu Sastra Melayu dan Sastra Indonesia” yang termuat dalam majalah Medan Ilmu Pengetahuan 1/3 Juli 1960 berpendapat bahwa sastra Indonesia baru mulai berkembang pada sekitar 28 Oktober 1928, yaitu saat diikrarkannya Tri Sumpah Pemuda. Sebagai seorang linguis Umar Junus beranggapan bahwa sastra terikat erat sekali dengan bahasa. Tidak ada bahasa maka sastra pun tidak akan ada juga. Oleh karena itu, kriteria penamaan suatu hasil sastra, harus terutama berdasarkan media bahasa yang dipergunakan. Suatu hasil sastra disebut sastra X karena bahasa yang dipergunakan ialah bahasa X. Berdasarkan pemikiran tersebut, perkembangan sastra Indonesia dimulai sejak adanya bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.
3.       Nugroho Notosusanto, seorang sarjana Ilmu Sejarah, berpendapat bahwa berbicara tentang sastra Indonesia, bukan berarti berbicara tentang bahasa Indonesia, melainkan  prinsip kebangsaan. Kapankah kesadaran kebangsaan bangsa  Indonesia mulai bangkit ?
Karena kita telah menetapkan tanggal 20 Mei 1908 sebagai Hari Kebangkitan Nasional maka berarti bahwa setiap kegiatan bangsa Indonesia sejak saat itu sudah didorong oleh aspirasi nasional. Sastra Indonesia sebagai bagian kebudayaan bangsa Indonesia, seharusnya sudah pula memancarkan unsur kebangsaan itu. Dengan demikian, sastra Indonesia sebagai sastra Nasional Indonesia sudah berkembang sejak permulaan abad ke-20. Terhadap  pendapat Nugroho Notosusanto tersebut ada satu keberatan. Meskipun dasar pikirannya benar, pendapat itu tidak berlandaskan hasil- hasil sastra yang konkret. Pada permulaaan abad ke- 20 kita belum dapat menunjukkan karangan- karangan yang dapat dipandang sebagai hasil sastra yang bernilai atau bercorak nasional. Kecuali itu, teori yang dikemukakan oleh Nugroho Notosusanto tersebut ternyata  tidak sesuai dengan periodisasi yang dibuatnya. Nugroho Notosusanto dalam periodesisasinya memulai perkembangan sastra Indonesia modern pada tahun 20-an, bukan pada permulaan abad ke-20.
4.       Pendapat yang terakhir menyatakan bahwa sastra Indonesia modern mulai berkembang sekitar tahun 20-an. Mereka yang berpendapat demikian itu antara lain: Fachrudin Ambo Enre, Ajip Rosidi, H.B. Jassin, dan A.Teeuw. Alasan yang mereka kemukakan tidak sama, tetapi pada dasarnya menyangkut dua hal, yaitu :
a.       Media Bahasa yang Dipergunakan
Meskipun bahasa Indonesia itu secara formal diakui sebagai bahasa persatuan pada tahun 1928, realitasnya bahasa tersebut pasti sudah berkembang pada tahun- tahun sebelumnya. Tahun 1928 adalah sekadar tahun peresmiannya saja atau tahun pemandiannya ( menurut istilah A.Fokker) menjadi bahasa nasional. Kenyataan kehadirannya harus kita cari beberapa tahun sebelumnya. Apabila kita perhatikan buku- buku hasil sastra Balai Pustaka sekitar tahun 20-an, misalnya novel Azab , dan Sengsara, Siti Nurbaya dan juga puisi- puisi Moh.Yamin, Sanusi Pane, dan Rustam Effendi, yang termuat dalam majalah Yong Sumatra, majalah Timbul, nyatalah bahwa bahasa yang dipergunakan dalam karangan- karangan tersebut tidak jauh berbda dengan bahasa yang kemudian diresmikan menjadi bahasa persatuan pada tahun 1928. Berdasarkan kenyataan itu, kita beralasan untuk mengatakan bahwa bahasa Indonesia sudah ada sekitar tahun 20-an.
b.       Corak Isi yang Terdapat di Dalamnya
Corak isi karya sastra sudah mencerminkan sikap watak bangsa Indonesia, artinya mengandung unsur kebangsaan. Pada bagian depan sudah dikemukakan, bahwa hasil- hasil sastra pada sekitar tahun 20-an sudah mengandung unsur kebangsaan. Terlebih apabila kita perhatikan hasil sastra di luar Balai Pustaka, unsur itu amat jelas. Tanah Air kumpulan puisi Moh. Yamin temanya ialah kecintaan penyair pada tanah air dan bangsanya yang pada waktu itu hidup dalam penjajahan.

(3)PERIODISASI SEJARAH SASTRA INDONESIA MODERN
Masalah Periodisasi
Ada beberapa macam periodisasi yang pernah dikemukakan orang, yang satu berbeda dengan yang lain. Pangkal perbedaan itu terutama ialah:
1.       Tidak adanya kesamaan istilah yang dipergunakan. Istilah- istilah yang biasa dipakai misalnya angkatan, periode,dan generasi:
2.       Tidak adanya kesamaan pengertian terhadap istilah- istilah tersebut. Tentang apa yang disebut angkatan, banyak perbedaan pendapat. Rumusan Pramudya Ananta Tur berbeda dengan rumusan Asrul Sani, berbeda pula dengan rumusan Rachmat Djoko Pradopo, Ajip Rosidi, dan sebagainya:
3.       Tidak adanya kesamaan nama yang dipergunakan untuk menyebut suatu angkatan atau suatu periode. Ada yang memakai angka tahun, ada yang memakai nama badan penerbit, nama majalah, nama buku, dan sebagainya:
4.       Tidak adanya kesamaan sistem yang dipergunakan. Ada yang menunjuk satu angka tahun, misalnya Angkatan 20, dan ada pula yang menunjuk satu angka tahun, misalnya Angkatan tahun 20, dan ada pula yang menunjuk jangka waktu dari dua angka tahun, misalnya periode tahun’20 hingga tahun ’30.
     Masalah periodisasi memang merupakan masalah yang banyak menarik perhatian orang. Bukan hanya para penelaah sastra saja yang berbicara tentang itu, melainkan juga para sastrawan ikut melibatkan diri. Sebenarnya, masalah periodisasi itu tidak begitu penting bagi para sastrawan. Bahkan, ada beberapa pengarang yang tidak mau dirinya dimasukkan kedalam  salah satu angkatan karena mungkin dipandang akan membatasi dan mempersempit kebebasan daya kreativitasnya.
     Walaupun demikian, periodisasi sejarah sastra Indonesia modern itu perlu, terutama bagi para penelaah sastra dan bagi dunia pendidikan dan pengajaran.
     Dengan periodisasi itu kita akan dapat dengan mudah mengetahui tahap- tahap perkembangan sastra Indonesia dengan corak dan aliran yang mungkin ada pada tiap tahap perkembangan itu.






  Adapun beberapa periodisasi yang pernah dikemukakan orang lain ialah:
1.       Periodisasi Bujung Saleh
2.       Periodisasi H.B.Jassin
1.       Sebelum tahun 20-an
2.       Antara tahun 20-an hingga tahun ‘33
3.       Tahun 1933 hingga Mei 1942
4.       Mei 1942 hingga sekarang



I.                    Sastra Melayu Lama
II.                  Sastra Indonesia Modern
1.       Angkatan 20
2.       Angkatan 33 atau pujangga Baru
3.       Angkatan 45 mulai sejak 1942
4.       Angkatan 66 mulai kira-kira tahun 1955

3.       Periodisasi Nugroho Notosusanto
4.       Periodisasi Ajip Rosidi
I.                    Sastra Melayu Lama

II.                  Sastra Indonesia Modern         A. Masa Kebangkitan

1.       Periode ‘20
2.       Periode ‘33
3.       Periode ‘42

A.      Masa Perkembangan
1.       Periode ‘45
2.       Periode ‘50


I.                    Sastra Nusantara Klasik (Sastra dari berbagai bahasa daerah di Nusantara )
II.                  Sastra Indonesia Modern
A.      Masa Kelahiran (Masa Kebangkitan)
1.       Periode awal – 1993
2.       Periode 1993- 1942
3.       Periode 1942- 1945

B.      Masa Perkembangan
1.       Periode 1945- 1953
2.       Periode 1953- 1961
3.       Periode 1961-sekarang

Dari ikhtisar 4 macam periodisasi di atas,  nyatalah bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan yang prinsip antara periodisasi yang satu dengan yang lain. Kesemuanya memulai perkembangan sastra Indonesia modern sejak tahun 20-an. Kesemuanya menempatkan tahun ’30, tahun ’45, dan tahun ’66 sebagai tonggak- tonggak penting dalam perkembangan sastra. Perbedaan hanya berkisar pada masalah istilah dan masalah peranan tahun 1942 dan tahun 1950 di dalam perkembangan sastra Indonesia.
Periodisasi Sastra Indonesia Modern
                Di dalam masyasrakat khususnya masyarakat sastra, istilah angkatan dan periode amat banyak digunakan. Akan tetapi, pengertian kedua istilah itu sering dicampuradukkan. Untuk keseragaman periodisasi kiranya kedua istilah tersebut perlu diperjelas perbedaan pengertiannya.
                Periode adalah sekadar kesatuan waktu dalam perkembangan sastra yang dikuasai oleh suatu sistem norma tertentu atau kesatuan waktu yang memiliki sifat dan cara pengucapan yang khas yang berbeda dengan masa sebelumya.
                Angkatan adalah sekelompok pengarang yang memiliki kesamaan konsepsi atau kesamaan ide yang hendak dilaksanakan dan diperjuangkan. Di dalam angkatan ada satu cita- cita yang menghikmati atau melandasi penciptaan, meskipun tidak disajikan secara formal dalam suatu manifestasi atau dalam suatu rumusan.
                Sekelompok pengarang pada masa Balai Pustaka dapat dipandang sebagai suatu angkatan karena mereka pada hakikatnya tergerak oleh satu cita- cita, yaitu hendak memberikan pendidikan budi pekerti dan mencerdaskan kehidupan bangsanya melalui bacaan. Angkatan Pujangga baru memiliki kesamaan cita-cita yang hendak diperjuangkan, yaitu membentuk kebudayaan baru, kebudayaan persatuan kebangsaan Indonesia. Angkatan 45 memiliki konsepsi humanisme universal dan menuju ke arah pembentukan kebudayaan universal dan menuju ke arah pembentukan kebudayaan universal seperti yang tercantum dalam Surat Kepercayaan Gelanggang. Angkatan 66 mempunyai konsepsi pemurnian pelaksanaan Pancasila dan melaksanakan ide yang terkandung dalam Manifes Kebudayaan.
                Dalam suatu periode mungkin timbul suatu angkatan, tetapi suatu periode tidak harus melahirkan suatu angkatan, tetapi suatu periode tidak harus melahirkan suatu angkatan. Istilah angkatan lebih menuntut sifat gerak dan dinamika dari pada istilah periode.
(4)ANGKATAN BALAI PUSTAKA
A.     Balai Pustaka sebagai Badan Penerbit
Angkatan Balai Pustaka lazim disebut juga Angkatan 20 atau Angkatan Siti Nurbaya. Menyamakan Angkatan Balai Pustaka dengan Angkatan 20 sebenarnya tidak tepat karena kegiatan sastra Indonesia sekitar tahun 1920 tidak semata- mata terbatas pada kegiatan Balai Pustaka. Penamaan Angkatan Siti Nurbaya pun kami rasa tidak tepat sebab penamaan itu hanya berdasarkan nama novel yang paling populer pada masa itu dalam arti paling banyak dibaca orang, bukan berdasarkan nilai sastra novel itu. Dalam hal nilai, orang memandang Salah Asuhan lebih tinggi dari pada Siti Nurbaya.
Nama Balai Pustaka menunjuk dua pengertian: (1) sebagai nama badan penerbit dan (2) sebagai nama suatu angkatan dalam sastra Indonesia. Kedua pengertian itu berhubungan erat. Balai Pustaka sebagai badan penerbit hingga kini masih ada, meskipun status dan fungsinya berbeda sama sekali dengan dahulu. Badan tersebut sekarang ada dalam lingkungan Depdiknas.
Balai Pustaka sebagai angkatan tidak terlepas dari riwayat pendirian Balai Pustaka.” Pada akhir abad ke -19 pemerintah Belanda banyak membuka sekolah untuk bumiputra” dengan maksud: (1) mendidik pegawai- pegawai rendah yang dibutuhkan oleh pemerintah dan (2) agar politik pengajaran tetap dikuasai oleh pemerintah.Akan tetapi, ternyata sekolah- sekolah tersebut makin luas sehingga banyak bangsa kita yang pandai membaca dan menulis. Pemerintah khawatir terhadap kegemaran membaca di kalangan rakyat. Untuk memenuhi hasrat membaca itu dengan keputusan no 12. Tanggal 14 September 1908 oleh pemerintah dibentuklah suatu komisi yang diberi bernama Commissie voor de Inlandsche School en Volkslectuur ( Komisi untuk Bacaan Rakyat di Sekolah- Sekolah Bumiputra) di bawah pimpinan G.A.J.Hazeu. Komisi ini makin lama makin luas dan makin bertambah kegiatannya; sehingga pada tahun 1917 diubah menjadi suatu badan penerbit yang diberi nama Balai Pustaka. Pimpinan badan penerbit tersebut berturut – turut yaitu D.A. Rinkes, G.W.J. Drewes, dan K.A.h. Hidding.
Adapun tujuan pemerintah Belanda mendirikan Balai Pustaka itu antara lain sebagai berikut.
1.       Agar kehausan membaca di kalangan rakyat bisa dicukupi dengan buku- buku yang diterbitkan sendiri sehingga tidak akan membahayakan ketertiban dan keamanan negeri. Pemerintah khawatir apabila rakyat memperoleh dan membaca buku- buku dari luar, hal itu pasti akan membahayakan kedudukannya. Oleh karena itu, pemerintah membuat peraturan yang keras terhadap impor buku.
2.       Dengan menerbitkan sendiri buku- buku bacaan itu, pemerintah bermaksud secara tidak langsung memasukkan unsur- unsur penjajahan melalui bacaan. Hal ini tampak pada banyaknya cerita kepahlawanan yang disaring ke dalam bahasa Indonesia dan juga adanya karangan- karangan, yang baik cerita maupun gambarannya dapat memberikan kesan buruk terhadap bangsa Indonesia, dan sebalikya memberikan kesan baik terhadap usaha – usaha pemerintah Belanda Indonesia.
3.       Seakan- akan sebagai  balas jasa atau sekadar untuk memberi hati kepada rakyat dalam hubungannya dengan politik etis pemerintah pada masa itu.
B.     Pengaruh Balai Pustaka terhadap Perkembangan Sastra Indonesia
Balai Pustaka didirikan oleh pemerintah Belanda sama sekali tidak disertai maksud agar badan tersebut memberikan dorongan terhadap perkembangan sastra Indonesia. Tujuan yang pokok ialah memberikan konsumsi berupa bacaan pada rakyat yang isinya cocok dengan politik pemerintah kolonial. Akan tetapi, kita tahu bahwa badan penerbit merupakan suatu faktor yang penting bagi perkembangan sastra, di samping faktor pengarang sebagai pencipta dan masyarakat sebagai pembaca atau penikmat. Oleh karena itu, didirikannya Balai Pustaka oleh Belanda dalam hal- hal tertentu memberikan manfaat kepada rakyat dan juga kepada perkembangan sastra Indonesia.
C.      Karakterisasi Sastra Balai Pustaka
Perkembangan sastra tidak terlepas dari perkembangan masyarakat. Segala sesuatu yang hidup dan berkembang dalam masyarakat sebagian besar tercermin dalam hasil- hasil sastra zamannya. Sastra Balai Pustaka tumbuh dan berkembang sekitar tahun 20-an. Sikap hidup dan cita- cita masyarakat, adat- istiadat dan tumbuhnya pergolakan tentang pandangan hidup menjadi pokok- pokok persoalan penciptaan sastra pada masa itu. Karakterisasi sastra suatu periode pada umumnya dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu:
Berdasarkan uraian di atas, karakterisasi atau sifat- sifat khas sastra Balai Pustaka dapat dituturkan secara rinci sebagai berikut di bawah ini.
1.       Sebagian besar sastra Balai Pustaka mengambil tema pokok masalah kawin paksa. Masyarakat beranggapan terutama kaum tua bahwa perkawinan adalah urusan orang tua. Pihak orang tua mempunyai kekuasaan mutlak dalam menentukan jodoh terhadap anaknya, dan hal ini dipandangnya sebagai adat yang takkan lapuk oleh hujan. Adapun motif kawin paksa itu bermacam- macam:
a.       Karena pandangan adat bahwa perkawinan cross cousin (antara saudara sepupu) sebagai perkawinan yang ideal. Kecenderungan ini misalnya terdapat pada novel Salah Asuhan.
b.       Karena masalah harta kekayaan, misalnya sebagai penebus utang (Siti Nurbaya) atau untuk mendapatkan menantu yang kaya (Azab dan Sengsara).
c.            Karena masalah kedudukan dan keturunan. Banyak orang tua yang mencita –citakan anak gadisnya agar memperoleh jodoh keturunan bangsawan atau keturunan sayid; sebab keduanya dipandang keduanya memiliki kedudukan terhormat dalam masyarakat ( Si Cebol Rindukan Bulan).
2.         Latar belakang sosial sastra Balai Pustaka umumnya berupa pertentangan paham antara kaum tua dengan kaum muda. Kaum tua yang hendak mempertahankan adat versus kaum muda yang hendak menyesuaikan adat dengan kemajuan zaman. Pertentangan itu bukan hanya dalam hal memilih jodoh, melainkan juga dalam masalah perkawinan pada umumnya, masalah penddikan, dan lain- lain. Sikap penulis dalam hal ini bermacam- macam:
a.       Ada kecenderungan simpati kepada yang lama. Yang baru tidak semuanya baik( Salah Asuhan, Si Cebol Rindukan Bulan);
b.       Ada kecenderungan simpati kepada yang baru. Kaum muda memperoleh kemenangan (Pertemuan Jodoh, Asmara jaya, Darah Muda);
c.       Bersikap tengah (Siti Nurbaya).
3.       Unsur nasionalitas pada sastra Balai Pustaka belum jelas benar, meskipun tidak berarti bahwa unsur itu tidak ada sama sekali. Hal ini sudah ditegaskan di depan mengingat kedudukan Balai Pustaka sebagai badan penerbit resmi pemerintah. Pelaku- pelaku novel Balai Pustaka umumnya masih mencerminkan kehidupan tokoh yang berasal dari daerah- daerah.
4.       Peristiwa- peristiwa yang diceritakan sesuai dengan realitas kehidupan dalam masyarakat, tidak lagi berhubungan dengan kehidupan raja- raja, dewa, atau kejadian- kejadian yang tidak masuk akal seperti halnya dalam cerita- cerita lama. Karena ceritanya sebagian besar berhubungan dengan lapisan masyarakat kaum tengahan maka sastra Balai Pustaka sering disebut juga sebagai sastra borjuis.
5.       Analisis psikologis pelaku- pelakunya belum dilukiskan secara mendalam. Yang mengarah pada usaha ini ialah novel Katak Hendak Jadi Lembu karangan Nur Sutan Iskandar.
6.       Sastra Balai Pustaka merupakan sastra bertendens dan bersifat didaktis. Hal ini sudah sewajarnya mengingat persyaratan yang sudah ditentukan oleh pimpinan Balai Pustaka. Ada tendens yang bersifat politis, antara lain berusaha menanmkan jiwa pegawai yang taat dan patuh kepada pemerintah, misalnya secara tersirat tampak pada novel Siti Nurbaya, dan ada pula tendens didaktis, yaitu usaha membentuk budi pekerti pada pembacanya. Tendens didaktis ini menonjol sekali pada hasil sastra Balai Pustaka sehingga ditnjau secara literer menimbulkan kelemahan- kelemahan karya sastra itu, misalnya:
a.       Pengarang sering keluar dari jalan cerita untuk memberikan nasihat kepada pembaca;
b.       Jalan cerita sering menjadi tidak wajar dan tidak logis, misalnya sesorang yang sudah menghadapi sakaratul maut masih sanggup berwasiat dengan lancar dan panjang lebar;
c.       Watak para pelaku umumnya hanya terbagi menjadi dua, yaitu hitam- putih atau buruk – baik, tanpa mengenal variasi;
d.       Lukisan kehidupan pelaku sering kurang wajar sebagai tokoh yang berpribadi, hanya sekadar mengabdi pada tendens yang sudah ditentukan.
7.    Bahasa sastra Balai Pustaka adalah bahasa Indonesia pada masa permulaan perkembangan yang pada masa itu disebut bahasa Melayu Umum. Karena anggota, pimpinan, dan para pengarang sebagian besar berasal dari daerah Sumatra Barat maka pengaruh pada bahasa sastra Balai Pustaka terutama dari bahasa Minangkabau. Dari bahasa- bahasa daerah lain dan juga dari bahasa asing belum terasa sekali pengaruhnya.
8.    Genre(jenis) sastra hasil Balai Pustaka terutama berbentuk novel, sedangkan puisinya masih berupa pantun dan syair. Hal ini disebabkan novel mungkin dipandang bentuk yang paling tepat untuk menjalinkan unsur- unsur didaktis.
D.     Tiga Pengarang Balai Pustaka yang Penting
Tiga pengarang Balai Pustaka yang penting ialah Nur Sutan Iskandar, Abdul Muis, dan Marah Rusli. Nur Sutan Iskandar penting karena ia mempunyai pengaruh yang besar terhadap hampir sebagian besar hasil sastra Balai Pustaka. Ia mula- mula sebagai korektor, kemudia sebagai redaktur, dan akhirnya sebagai kepala redaktur badan tersebut. Abdul Muis penting karena novelnya  Salah Asuhan dipandang sebagai yang paling menonjol nilai sastranya, baik dari segi bahasa maupun dari segi pengolahan ceritanya. Marah Rusli penting juga kedudukannya pada masa itu karena novelnya Siti Nurbaya merupakan hasil sastra yang paling banyak dibaca orang. Novel Salah Asuhan dan Siti Nurbaya sering disebut orang sebagai puncak- puncak sastra Balai Pustaka.
Berikut ini kami sebutkan beberapa hal secara ringkas tentang pengarang- pengarang tersebut.
1.      Nur sutan Iskandar
Pengarang  ini memiliki keistimewaan dibandingkan dengan yang lain.
a.       Ia seorang pengarang Balai Pustaka yang paling produktif.
b.       Karangan yang dihasilkan beraneka ragam:
1). Berbentuk novel sejarah, novel psikologi, novel adat, dan lain- lain;
2). Ada karangan asli, saduran, dan terjemahan;
3). Ada yang berisi pengetahuan umum, cerita anak- anak, riwayat hidup, dan catata harian.
c.Seorang pengarang yang tetap menghasilkan pada hampir setiap tahap dalam perkembangan sastra.
d.     Seorang pengarang yang berhasil mencapai kemajuan terutama dari kemampuannya belajar sendiri.
          Karena banyaknya karangan yang telah dihasilkan maka dibawah ini akan disebutkan sebagian saja, diantaranya yaitu:
1).    Karangan asli:
          - Salah pilih (dikarang dengan nama samaran Nursinah tahun 1928)
          - Karena Mentua (1932)
          - Hulubalang Raja (novel sejarah yang oleh Teeuw dipandang yang terbaik)
          - Katak Hendak Jadi Lembu
          - Neraka Dunia (1937)
          - Cinta Tanah Air (novel yang terbit pada zaman Jepang tahun 1944)
          - Mutiara (1946)
          - Cobaan (1947)
          - Cinta dan Kewajiban (dikarang bersama dengan L. Wairata)
2).    Karangan terjemahan:
          - Anjing Setan – A. Canon Doyle
          - Gudang Intan Nabi Sulaiman – Rider Haggard
          - Kasih Beramuk dalam Hati – Beatrice Harradan
          - Tiga Panglima Perang – Alexander Dumas
          - Graaf de Monte Cristo – Alexander Dumas
          - Iman dan Pengasihan – H. Sienkiewick
          - Sepanjang garis Kehidupan – R. Casimir

3).    Karangan saduran:
          - Pengajaran di Sweden – Jan Ligthart
          - Pengalaman Masa Kecil – Jan Ligthart
          - Pelik- Pelik Pendidikan – Jan Ligthart
          - Si Bakhil – Moliere Lavare
          - Abunawas
          - Janger Bali
          - Korban karena Percintaan
          - Apa Dayaku karena Aku Perempuan
          - Dewi Rimba
4).  Catatan harian:
          Ujian Masa (21-7 -1947 s.d. 1-4-1948)
          Kami berpendapat bahwa Katak HendakJadi Lembu merupakan novel Nur Sutan Iskandar yang berhasil. Dalam novel itu dilukiskan betapa perangai seorang pegawai berpangkat kecil berbuat hendak menyamai kehidupan orang yang berpenghasilan banyak. Suria seorang menteri kabupaten pangkat dibawah camat, hidupnya bermegah- megah seperti kehidupan priyayi yang besar gajinya. Akhirnya, semuanya menjadi korban dan hidup dalam penderitaan. Dialog dalam novel tersebut terasa hidup, dan tampaknya kekuatan bahasa Nur Sutan Iskandar terletak pada penggunaan dialog dari pada gaya penuturan.
          Di dalam karangan – karangannya pengaruh bahasa Minangkabau lebih terasa dibandingkan dengan karangan Marah Rusli dan Abdul Muis, walaupun dalam karangan- karangannya kemudian pengaruh juga berasal dari bahasa Jawa, dialek Jakarta, dan lain- lain. Hal- hal ini tampak, misalnya pada novel Cobaan, yang dipandang oleh Teeuw sebagai novel yang tidak berhasil, mirip- mirip novel picisan.
          Dua novel sejarah Nur Sutan Iskandar ialah Hulubalang Raja dan Mutiara. Hulubalang Raja mengisahkan hubungan antara Minangkabau dengan Belanda pada abad ke- 17, sedangkan Mutiara mengisahkan perang gerilya bangsa Aceh melawan Belanda tahun 1903. Hulubalang Raja sering dianggap orang sebagai novel sejarah Nur Iskandar yang paling berhasil, walaupun menurut kami penceritaannya kurang menarik, terlebih pada bagian- bagian permulaan. Di dalam melukiskan sesuatu terasa amat teliti sampai pada soal- soal yang kecil.
2.      Abdul Mui       
Abdul Muis terkenal karena novel Salah Asuhan yang terbit tahun 1928. Dalam novel itu dilukiskan bahwa perkawinan campuran antarbangsa lebih banyak membawa kesulitan daripada kebahagiaan. Hanafi, anak Minangkabau yang sejak kecil mendapat pendidikan dan hidup dalam pergaulan Belanda rela mengorbankan bangsa dan ‘’ payung’’-nya demi cintanya kepada Corrie du Bussee, seorang gadis keturunan Eropa. Ayah Corrie orang perancis, sedangkan  ibunya orang Melayu dan sudah lama meninggal. Pada mulanya Corrie menolak cinta Hanafi sebab teringat pada nasihat ayahnya, bahwa kawin campuran itu (Timur dan Barat) akan memburukkan kehidupan rumah tangga.Sesudah ayahnya meninggal, akhirnya dengan melalui berbagai kesulitan dilangsungkan juga perkawinan antara keduanya dengan dihadiri oleh dua orang saksi saja. Dua tahun mereka hidup berumah tangga yang tersisih dari lingkungan masyarakat dan keluarga kedua belah pihak. Karena tidak ada keselarasan kehidupan rumah tangga mereka, akhirnya perpisahan tidak dapat lagi dielakkan.
          Salah Asuhan merupakan novel yang menarik sekali, dalam beberapa hal lebih berhasil daripada Siti Nurbaya. Bahasanya lancar dan pengaruh bahasa Minang tidak menganggu jalan cerita. Masalah kawin paksa tidak jadi tema pokok cerita, terasa sekadar sebagai latar belakang  cerita belaka. Hidup kejiwaan dalam pelaku- pelakunya dilukiskan secara teliti. Oleh karena itu, Salah Asuhan ada yang menyebutnya sebagai novel psikologis. Memang ada juga peristiwa peristiwa dalam cerita itu yang terasa dibuat- buat, tidak wajar, seperti peristiwa Hanafi digigit anjing gila, peristiwa pertemuan Corrie dengan Hanafi di Betawi (Jakarta) pada saat sepedanya tertumbuk sepeda orang lain, dan sebagainya.
          Novel Abdul Muis yang kedua ialah Pertemuan Jodoh (1993). Dibandingkan dengan novelnya yang pertama, Pertemuan Jodoh kurang berhasil. Hal yang menarik dalam novel ini ialah dipergunakannya bahasa dialek dalam dialog pelaku – pelakunya. Plot ceritanya mengambil pola cerita cerita Panji: dua muda- mudi (Suparta dan Ratna) berkenalan # berkasih- kasihan# timbul kesulitan dan rintangan – rintangan# akhirnya bertemu kembali# happy ending.
          Dalam novel tersebut terasa adanya kritik terhadap unsur- unsur feodalisme yang menghambat kemajuan.
          Karangan Abdul Muis yang lain berupa novel sejarah, yaitu Surapati (1950) dan Robert Anak Surapati (1953).
          Karangan terjemahannya ialah Sebatang Kara (Hector Mallot) dan Tom Sawyer (Mark twain).
          Memang Abdul Muis sebagai penulis tidak banyak menghasilkan karangan. Akan tetapi, dengan novelnya Salah Asuhan ia termasuk pengarang Balai Pustaka yang penting. Di samping seorang pengarang, Abdul Muis bergerak juga di lapangan politik dan jurnalistik. Oleh pemerintah ia ditetapkan sebagai seorang pejuang Perintis Kemerdekaan.
3.Marah Rusli
          Marah Rusli lahir di Padang tahun 1889 dan meninggal pada 17 januari 1968. Ia seorang keturunan bangsawan kota Padang. Ia sekolah di kedokteran hewan di Bogor dan kemudian kawin dengan seorang gadis Sunda tanpa persetujuan keluarganya. Karena perkawinannya itu, ia tersisih dari ikatan keluarga di kampungnya.
Hasil karangannya:
1.       Siti Nurbaya, terbit tahun 1922 dengan subjudul Kasih Tak Sampai
2.       Anak dan Kemenakan (1956)
3.       Memang jodoh, yaitu sebuah novel yang bersifat autobiografis yang khsus dihadiahkan kepada ketiga anknya (Drg.S.Rusli,Brigjen R. Rusli, dan Nani Rusli ). Naskah novel tersebut tebalnya 316 halaman ukuran ½ folio tik rapat. Mungkin karena pertimbangan tertentu maka oleh keluarganya sampai sekarang belum diterbitkan. Selain sebagai pengarang, Marah Rusli bergerak juga di lapangan seni musik dan olahraga.
Diantara hasil karangannya, Siti Nurbaya merupakan novel Marah Rusli yang paling terkenal. Bahkan, pada zaman Belanda buku itu dicantumkan juga sebagai buku pelajaran di AMS Yogya. Novel itu melukiskan cinta kasih tak sampai antara Siti Nurbaya dengan Syamsul Bahri disebabkan perbuatan busuk Datuk Maringgih. Siti Nurbaya akhirnya harus kawin dengan Datuk Maringgih semata- mata sebagai  “ pembayar utang” orang tuanya yang telah lama jatuh miskin dan banyak utang akibat akal licik yang sengaja dipasang oleh Datuk Maringgih.
Meskipun terdapat beberapa kelemahan terlebih apabila dilihat dari situasi masa sekarang, terbitnya novel Siti Nurbaya di pandang sebagai novel perintis sastra Indonesia modern.
Bila dibandingkan dengan karangan- karangan Nur Sutan Iskandar dan Abdul Muis, terdapat beberapa perbedaan sebagai berikut.
1)     Di dalam karangannya Marah Rusli sering melukiskan sesuatu sampai pada hal yang sekecil- kecilnya, lebih – lebih dalam melukiskan alam tempat tinggalnya. Kebiasaan ini pada karangan Abdul Muis tidak kita dapati.
2)     Karena dorongan hendak memberi nasihat. Marah Rusli sering keluar dari jalan cerita dan muncul perannya sebagai “pemberi fatwa” kepada pembaca. Akibatnya, jalan cerita menjadi terganggu. Sikap semacam ini juga terasa pada karangan N.Sutan Iskandar, sedangkan karangan Abdul Muis lebih wajar.
3)     Bahasa Marah Rusli lebih bersifat Melayu dibandingkan dengan bahasa N.Sutan Iskandar dan Abdul Muis. Akan tetapi, dibandingkan dengan pengarang- pengarang Minangkabau yang lain, bahasa Marah Rusli tidak seberapa banyak memakai pepatah, petitih, dan peribahasa.
E.      Pengarang- Pengarang Balai Pustaka yang Lain
1.      Aman Datuk Majoindo
Aman terkenal sebagai pengarang cerita anak- anak. Ia memimpin rubrik cerita anak- anak pada majalah Panji Pustaka. Buku karangannya tentang cerita anak- anak yaitu:
1)     Si Dul Anak Betawi. Buku ini menarik perhatian karena lukisannya yang hidup dan lucu yang diselingi dialek Betawi.
2)     Anak Desa. Buku ini pada cetakan diganti judulnya dengan Cita- Cita Mustafa. Isi ceritanya melukiskan kehidupan anak gembala di Bukit Barisan, Sumatera Barat.
2.      Muhammad Kasim 
Pengarang cerita anak – anak yang lain ialah M. Kasim karangannya yang pernah mendapat hadiah Balai Pustaka tahun 1924 berjudul Pemandangan Dunia Anak- Anak. Dalam karangan itu dituliskan dengan tepat dan hidup betapa pengarai dan tingkah laku seorang anak, bagaimana Samin membujuk minta makanan adiknya, bagaimana ia bertengkar , dan sebagainya.
M. Kasim terkenal sebagai seorang pengarang cerita- cerita lucu, disamping pengarang lucu
 Yang lain, seperti Suman Hasibuan dan Aman Datuk Majoindo.
             Cerita- cerita pendek M. Kasim yang pernah dimuat dalam  majalah Panji Pustaka antara tahun 1931 s.d tahun 1935 kemudian dibukukan dan diberi nama Teman Duduk. Karangan M.Kasim yang lan ialah Muda Taruna,  dan Niki Bahtera.


3.       Tulis Sutan Sati
Ia pernah juga bekerja pada Balai Pustaka. Bahasa Tulis Sutan Sati amat terpengaruh bahasa Minangkabau dan penuh dengan bahasa klise yang berupa peribahasa dan pepatah. Ceritanya sebagian besar juga berhubungan dengan perikehidupan masyarakat Minang.
Karangannya yang berbentuk novel:
(1)  Tidak membalas Guna (1932)
(2)  Memutuskan Pertalian (1932)
(3)  Sengsara Membawa Nikmat(1928)
Cerita lama yang disadur dalam bentuk syair:
(1)  Siti Marhumah yang Saleh
(2)  Syair Rosina

Sementara itu, hikayat lama yang dituliskan kembali dalam bentuk prosa liris ialah Sabai nan Aluih.
4.       Selasih dan Sa’adah Alim
Keduanya pengarang wanita. Selasih sering memakai nama samaran (pseudonim) Seleguri atau Sariamin. Ia seorang pengarang wanita yang lahir tahun 1909. Karangannya yang berbentuk novel ialah:
(1)  Kalau Tak Untung (1933)
(2)  Pengaruh Keadaan (1973)
Selain sebagai pengarang novel, Selasih banyak juga menulis puisi, antara lain dimuat dalam majalah Panji Pustaka dan Pujangga Baru.
Sa’adah Alim menulis sebuah sandiwara yang berjudul Pembalasannya (1941) dan kumpulan cerpen yang berjudul Taman Penghibur Hati (1941).  Karangan terjemahannya berjudul Angin Timur Angin Barat dari karangan Pearl S.Buck, pengarang wanita berkebangsaan Amerika.
5.       Merari Siregar
Merari Siregar sebenarnya dapat dikatakan sebagai pengarang novel Balai Pustaka yang pertama. Bukunya yang berjudul Azab dan Sengsara, mengisahkan nasib seseorang gadis bernama Mariamin yang tidak berhasil kawin dengan pemuda yang dicintainya, yaitu saudara sepupunya sendiri yang bernama Aminuddin.
Walaupun persoalan yang dilukiskan dalam novel tersebut mengenai kehidupan masyarakat modern, gaya ceritanya masih terasa terpengaruh hikayat lama. Novel Azab dan Sengsara menggunakan subjudul Kisah Kehidupan Seorang Anak Gadis.
(5)SASTRA PERIODE TAHUN ’20 DI LUAR BALAI PUSTAKA
A.     Karangan – Karangan yang Bertendens Politik
Sastra pada sekitar tahun 1920 tidak terbatas hanya pada kegiatan dan usaha Balai Pustaka saja. Diluar itu, juga diusahakan penerbitan majalah dan buku- buku yang isinya banyak yang bersifat sastra. Ada dua golongan penerbitan pada masa itu:
(1)  Penerbitan karangan- karangan  yang bertendens politik dan
(2)  Penerbitan karangan- karangan yang lebih bersifat sastra.
Pembedaan di atas sebenarnya  tidak mutlak sebab karangan- karangan yang bersifat sastra tidak berarti semuanya  bersih dari nafas politik. Masalahnya bergantung pada kadar dan pengolahannya dalam wujud karya sastra.
Karangan- karangan yang bertendens politik pada masa itu sering disebut sebagai  “bacaan liar” . Beberapa pengarang “bacaan liar” itu antara lain ialah:
1.      Marco Kartodikromo
Karangannya yang terkenal:
(1)  Student Hijo (1919)
(2)  Rasa Merdeka atau disebut juga Hikayat Sujanmo (1924)
Karangan yang lain:
(3)  Mata Gelap (1914)
(4)  Syair Rempah- Rempah (1919)
Karena karangan- karangan itu, Marco Kartodikromo berulang – ulang dijatuhi hukuman oleh pemerintah Belanda dan kemudian dibuang ke Digul  Atas, Irian Jaya. Oleh golongan komunis di Indonesia ia dipandang sebagai pelopor sastra Indonesia modern karena isi karangan- karangannya dinilai mengandung kritik terhadap feodalisme dan kolonialisme. Soal nilai sastranya bukan masalah yang penting sebab goongan ini semboyan “politik adalah panglima”, artinya segala sesuatu mesti mengabdi untuk kepentingan politik, termasuk kegiatan di bidang sastra.

2.      Semaun
Karangannya berupa sebuah novel yang berjudul Hikayat Kadirun (1924). Novel tersebut sesudah terbit segera dilarang beredar oleh pemerintah. Semaun termasuk seoran pemimpin Partai Komunis Indonesia pada saat itu sehingga bagi golongan ini ia pun dipandang sebagai tokoh pengarang yang pentig.
Partai Komunis Indonesia (PKI) sudah dibubarkan oleh Pemerintah Republik Indonesia dan dinyatakan sebagai partai terlarang sejak tahun 1966 dengan Tap MPRS No. XVII th.1966.
Buku – buku kedua “pengarang liar” tersebut sukar diperoleh sehingga secara pasti sukar berbicara tentang niai sastranya. Akan tetapi, suatu karangan yang lebih mengutamakan  tendens , terlebih tendens politik, lazimnya nilai sastranya menjadi kurang atau dikorbankan.
B.     Sastra Pra- Pujangga Baru
Didepan sudah disebutkan, bahwa di samping “bacaan liar” , di luar Balai Pustaka berkembang pula penerbitan karangan- karangan yang lebih bersifat sastra. Kegiatan sastra ini lazim disebut sastra Pra- Pujangga Baru sebab pengarang – pengarang golongan ini kemudian dikenal juga sebagai pengarang Pujangga Baru. Hasil karangan mereka pada sekitar tahun 1920 dapat dipandang sebagai sastra Pra – Pujangga Baru. Beberapa pengarang Pra- Pujangga Baru yang kami maksudkan ialah:
1.       Moh. Yamin
Ia adalah tokoh pejuang bangsa dan pejuang bahasa Majalah Yong Sumatra yang pada dasarnya merupakan majalah berbahasa Belanda banyak diisi oleh Yamin dengan karangan- karangan berbahasa Indonesia. Karangan – karangan Yamin dalam majalah tersebut selama masa dua tahun, yaitu tahun 1920- 1921, sudah dikumpulkan oleh Amrin Pane dan diterbitkan  dengan judul Sanjak- Sanjak Masa Muda Mr. Moh. Yamin.
 Sembilan belas dari 21 puisi dalam kumpulan itu berupa soneta, sedangkan yang lain berjudul  “Tanah Air” berbentuk 9, 9, 9 dan yang berjudul  “ Bahasa , Bangsa “ berbentuk 4,3,5,6,6.
2.      Rustam Effendi
Jika Marah Rusli dan Abdul Muis dikenal sebagai perintis sastra Indonesia modern dibidang penulisan novel, Yamin dan Rustam Effendi adalah pembuka sejarah baru dalam bentuk puisi.
Karangan Rustam Effendi yang sudah dibukukan ada dua yaitu Bebasari dan Percikan Permenungan , keduanya merupakan  “Pasangan yang sejoli”  karena kedua buku itu dikarang dalam saat dan suasana yng bersamaan.
3.      Sanusi Pane
Penggemar bentuk soneta dalam sastra Indonesia selain Moh. Yamin dan Rustam Effendi, terutama adalah Sanusi Pane. Kumpulan puisinya berjudul Puspa Mega yang seluruhnya terdiri atas 34 puisi, hanya satu yang tidak berbentuk soneta.
Sanusi Pane sudah banyak menulis pada tahun dua puluhan. Beberapa karagannya dimuat dalam Majalah Yong Sumatra dan Majalah Timbul, dua majalah yang pada dasarnya memuat karangan- karangan dalam bahasa Belanda. Dramanya yang berjudul Airlangga (1928) dan Eenzame Garuda vlucht (1929) pertama kali  dimuat dalam majalah Timbul.
Puisi Sanusi Pane pada permulaanya  tidak banyak berbeda dengan puisi Moh. Yamin. Bentuk sonetanya hampir semuanya tersusun atas dua kuartren dan dua terzina.
Dalam perkembangannnya kemudian Sanusi Pane merupakan tokoh penting Angkatan Pujangga Baru, tokoh ketiga sesudah Sultan Takdir Alisjahbana dan Amir Hamzah. Oleh karena itu, pada tempatnya bila tokoh ini diuraikan lebih lanjut pada pembicaraan tentang pengarang- pengarang Pujangga Baru.
(6)PERIODE TAHUN ’30 ANGKATAN PUJANGGA BARU
A.     Majalah Pujangga Baru
Nama Pujangga Baru mempunyai dua pengertian, yang satu dengan yang lain erat hubungannya. Dua pengertian itu ialah:
(1)  Pujangga Baru sebagai nama majalah dan
(2)  Sebagai nama angkatan dalam Sastra Indonesia.
Pujangga Baru sebagai nama majalah mengalami dua periode penerbitan, yaitu Pujangga Baru sebelum perang( Juli- 1933- Maret 1942) dan sesudah perang (Maret 1948- Maret 1953). Dua periode penerbitan majalah itu masing- masing mempunyai kedudukan yang berbeda dalam perkembangan sastra Indonesia. Majalah Pujangga Baru sesudah perang tidak penting lagi artinya sebagai pembawa kehidupan sastra, walaupun tenaga pengasuhnya ditambah.
Majalah Pujangga Baru sebelum bersifat homogen, artinya pembawa semangat dari satu cita- cita, sedangkan sesudah peran bersifat heterogen, artinya kecuali pembawa semangat Angkatan Pujangga Baru, juga pembawa suara angkatan sesudahnya.
B.     Karakterisasi Angkatan Pujangga Baru
Di dalam Angkatan Pujangga Baru berkumpul sekelompok pengarang yang memiliki berbagai keanekaragaman Berlainan halnya dengan Angkatan Balai Pustaka, yang sebagian besar pengarangnya berasal dari satu lingkungan daerah dan dari satu lingkungan keyakinan hidup.
Walaupun para pengarang Pujangga Baru memiliki suatu kenekaragaman, mereka merupakan suatu angkatan karena mereka terikat oleh satu cita- cita yang sama yang hendak mereka perjuangkan. Mereka semuanya bercita- cita hendak membentuk kebudayaan baru, kebudayaan persatuan kebangsaan Indonesia.
C.      Angkatan 80 dan Pengaruhnya terhadap Pujangga Baru
Angkatan 80 dan Tokh- tokohnya
Pada tahun 1880 di negeri Belanda  tampil beberapa orang pengarang yang berusaha hendak mengadakan pembaharuan di bidang kebudayaan. Sesuai dengan tahun munculnya, gerakan itu disebut Gerakan 80 (De Tachtiger Beweging). Tokoh- tokoh dari gerakan itu ialah Willem Kloos, yacques Perk, Frederik van Eeden, Albert Verwey, Herman Gorter, dan Lodewyk van Deyssel. Mereka menerbitkan majalah bernama De Nieuwe Gids artinya Pandu Baru, yang terbit tahun 1885. Nama itu sebagai pertentangan dengan majalah yang sudah terbit sebelumnya yang bernama De Gids (Pandu) pada tahun 1840 yang diusahakan oleh Potgieter, Busken Heut, dan Vosmaer. De Gids dapat dipandang sebagai jembatan antara sastra pendeta (sastra domine) dengan sastra Angkatan 80. Angkatan 80 bertentangan dengan sastra pendeta yang dipandang sebagai sastra yang bersifat lamban.
D.     Pujangga Baru sebagai Aliran Kebudayaan
Seperti kita keahui, bahwa pengarang – pengarang Pujangga Baru merupakan satu angkatan dan memungkinkan mereka bekerja sama karena mereka terikat oleh satu cita- cita yang sama, yaitu cita- cita hendak membangun kebudayaan baru dan dinamis, kebudayaan persatuan kebangsaan Indonesia.Akan tetapi, tentang rupa (wujud) kebudayaan baru itu dan bagaimana cara mendirikannya antara yang seorang berbeda dengan yang lain. Cita- cita mereka sama, tetapi bagaimana mewujudkan cita- cita itu mereka berebeda- beda. Perbedaan itu tmpak jelas pada sikap dan pendirian dari tiga tokoh Pujangga Baru, yaitu S. Takdir Alisjahbana, Sanusi Pane, dan Amrin Pane.
E.      Asas Seni pada Pujangga Baru
Masalah yang dipersoalkan ialah tentang seni bertendens dan seni untuk seni (I’art pour I’art). Ada pengarang Pujangga Baru yang condong pada asas seni bertendens dan ada pula yang sebaliknya.
Asas seni bertendens mksudnya mencipta seni dengan suatu tujuan tertentu. Keindahan cipta seni itu menjadi alat untuk mencapai tujuan tersebut. Asas seni untuk seni memandang tujuan pokok penciptaan seni ialah keindahan. Keindahan menjadi tujuan, bukan alat. Apakah seni tersebut dimengerti oleh masyarakat, berguna atau tidak bagi masyarakat , tidak menjadi soal. Seni bersifat otonom, ukuran- ukuran di luar seni tidak dapat dipergunakan untuk menilai suatu karya seni. Kehidupan seni terpisah dari kehidupan masyarakat.
Bagaimana asas seni yang baik dan tepat bagi pembentukan kebudayaan Indonesia yang baru, para pengarang Pujangga Baru berbeda- beda pendapat.
F.      Para Pengarang Pujangga Baru
Di dalam buku antologinya yang berjudul Pujangga Baru, Prosa dan Puisi, H.B. Jassin telah mencoba mengumpulkan beberapa tulisan dari para pengarang  yang dipandangnya sebagai pengarang Pujangga Baru. Kecuali lima tokoh penting Pujangga Baru seperti STA, Amir Hamzah, Sanusi Pane , dan Moh. Yamin, terdapat nama – nama pengarang M.Taslim Ali, Sutomo Jauhar Arifin, L.K. Bohang, M.R. Dayoh, Hamidah, Rustam Effendi, Asmara Hadi, A. Hasymy, Mozasa, Suman Hs,Yogi, dan lain- lain.
Bila deretan nama pengarang itu kita bandingkan dengan nama- nama pengarang itu kita badingkan dengan nama- nama pengarang dalam penggolongan yang di lakukan oleh Teeuw dalam bukunya Pokok dan Tokoh dalam Kessatraan Indonesia Baru, maka terdapat  beberapa  perbedaan. Hamidah, I Gusti Nyoman Panji Tisna, Suman Hs, yang oleh Teeuw digolongkan ke dalam pengarang Balai Pustaka, oleh Jassin dimasukkan sebagai pengarang  Pujangga Baru. Perbedaan ini kemungkinan disebabkan Teeuw mempergunakan ukuran- ukuran yang keras dan menilai hasil- hasil karangan ketiga pengarang tersebut belum jelas membawakan aspirasi pembaharuan. Memang setiap penggolongan pada umumnya tidak bersifat mutlak. Perbedaan pendapat selalu mungkin terjadi, terutama pada hal- hal yang ada di batas penggolongan.

(7) Sastra Periode Tahun ’30 Di Luar Pujangga Baru
A.Teeuw membagi satra Indonesia sebelum perang menjadi tiga golongan, yaitu :
(1) sastra hasil Pujangga Baru,
(2) sastra penerbitan Balai Pustaka, dan
(3) sastra berupa seri cerita- ceita roman.
                Batas antara ketiga golongan itu tidak jelas benar, masing- masing saling melengkapi satu dengan yang lain. Walaupun karya Suman H.S. sebagian masuk golongan satu, setengahnya masuk golongan tiga. Demikian pula Hamka, sebagai pengarang ia jarang dimasukkan ke dalam golongan satu atau dua karena hasil sastranya sebagian besar penerbitannya melaui golongan tiga, tetapi karangan- karangannya sebagian bersifat sastra golongan dua.
                Sastra periode tahun 1930 di luar Pujangga Baru umumnya berupa seri cerita- cerita roman yang diterbitkan di kota- kota besar, seperti semarang, Padang, Solo, Surabaya, dan yang terutama ialah Medan. Oleh karena itu, sering disebut juga sastra penerbitan Medan.
                Seri cerita – cerita roman adalah penerbitan roman atau novel berjilid- jilid dalam suatu seri dengan nama bermacam- macam , misalnya Seri Roman Indonesia di Padang, Dunia Pengalaman , dan Lukisan Pujangga di Medan, Seri Suasana Baru, Seri Kejora, Seri Panorama, dan lain- lain.
                Tidak semua penerbitan seri cerita roman berupa roman picisan, walaupun sebagian besar memang nilai sastranya kurang. Demikian pula seorang pengarang yang telah banyak menulis cerita yang dinilai sebagai roman picisan, tidak berarti bahwa semua karangannya tidak ada yang bernilai sastra. Hal ini perlu ditegaskan untuk menghindari penilaian yang kurang tepat tentang diri seorang pengarang dan hasil karangannya.
                Seorang pengarang yang penting di luar sastra golongan satu dan dua, dan yang hasil sastranya mempunyai kedudukan penting dalam sejarah sastra Indonesia ialah Hamka.
(8) SASTRAINDONESIA DI MASA JEPANG
A.      Situasi Sastra Indonesia di Masa Jepang
                Menilik jangka waktunya sebenarnya sastra Indonesia di masa Jepang kurang penting untuk dibicarakan tersendiri.Sastra Indonesia  di masa Jepang berlangsung hanya _+ 3,5 tahun; waktu yang amat singkat bagi pertumbuhan suatu kebudayaan. Akan tetapi, dilihat dari peranan sastra masa itu bagi perkembangan selanjutnya, maka sastra Indonesia di masa Jepang perlu diberi tempat tersendiri dalam sejarah sastra Indonesia. Jassin msenganggap bahwa zaman jepang adalah masa pemasakan jiwa revolusi, yang kemudian meletus pada tanggal 17 Agustus 1945. Dilihat dari pertumbuhan kebudayaan Indonesia, zaman Jepang adalah penempatan pengalaman hidup dengan berbagai penderitaan sehingga memungkinkan timbulnya keragaman dan kedewasaan sastra kemudian.
B.     Karakterisasi Sastra di Masa Jepang
                Pada bagian terdahulu sudah dibicarakan, bahwa sastra zaman jepang memiliki corak yang beraneka ragam. Pada dasarnya ada dua acam sastra pada waktu itu: (1) sastra yang tersiar dan (2) sastra yang tersimpan.
                Sastra yang tersiar maksudnya sastra yang berhasil disiarkan, baik melalui majalah maupun mealui penerbitan tersendiri, sesudah mengalami sensor pemerintah. Sastra yang tersimpan ialah sastra yang ditulis pada masa itu, tetapi baru disiarkan sesudah Proklamasi Kemerdekaan 1945, misalnya beberapa sketsa(lukisan) Idrus dalam Corat- Coret di Bawah Tanah. Corak dua macam sastra tersebut sangat berbeda bahkan sering tampak bertentangan. Selain itu, tiap maca sastra itu pun masing- masing memiliki variasi tersendiri.
C.      Pengarang dan Hasil Karangannya
                Buku sumber tentang sastra di masa Jepang tidak banyak. Satu antologi yang berharga, terutama dari segi dokumentasi sastra ialah Kesusastraan Indonesia di Masa Jepang, yang disusun oleh  H.B. jassin. Kita dapat memeperoleh bahan tentang pengarang- pengarang masa Jepang dan hasil karangannya terutama dari antologi tersebut. Disamping itu, H.B. Jassin juga menyusun suatu antologi lain yang berjudul Gema Tanah Air, Prosa dan Puisi 1942- 1948, yang di dalamnya termuat juga beberapa hasil karangan yang ditulis di masa Jepang.
(9) SASTRA PERIODE TAHUN’45
                Periode tahun 1945 mencakup masa perkembangan sastra Indonesia  dari tahun 1945 sampai sekitar tahun 1950. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 mempunyai pengaruh besar sekai bagi kebudayaan indonesia, termasuk kehidupan dan perkembangan sastra. Bahasa Indonesia yang berkembang pesat pada masa Jepang, yang sudah dipergunakan sebagai  media dalam segala keperluan hidup pada masa itu, sesudah proklamasi kemerdekaan ditetapkan sebagai bahasa resmi negara Republik Indonesia.Persentuhannya dengan kebudayaan bangsa lain dan dengan kemajuan teknologi modern makin memperkaya perkembangan bahasa Indonesia. Dengan demikian, sebagai media pengungkapan sastra, bahasa Indonesia memiliki potensi dan kemampuan yang makin bertambah besar.
                Sikap para pengarang dan seniman tentang kebudayaan Indonesia berbeda dengan masa sebelum proklamasi. Mereka memandang perkembangan kebudayaan Indonesia dari horizon yang lebih luas. Kemerdekaan telah memberikan kebebasan bagi mereka untuk mengadakan orientasi pada perkembangan sastra dunia, baik Barat maupun Timur.
                Pada mulanya konsepsi dan pandangan tentang masalah kebudayaan hampir bersamaan, tetapi beberapa tahun kemudian timbul perbedaan- perbedaan. Walaupun perbedaan- perbedaan tersebut menjadi jelas dan tajam sesudah tahun 50- an, benihnya sudah tumbuh beberapa tahun sesudah kemerdekaan. Itulah sebabnya, periode tahun 1945 kami bedakan atas dua corak, yaitu :
(1)  Angkatan 45
(2)  Sastra di luar Angkatan 45
                Kehidupan sastra di luar Angkatan 45 tidak dibicarakan secara khusus. Sastra di luar Angkatan 45 meliputi kegiatan sastra para pengarang angkatan- angkatan sebelumnya yang tetap menulis pada sekitar 1945, seperti Nur Sutan Iskandar, Sutan Takdir Alisjahbana, dan lain- lain. Disamping itu, termasuk dalam kelompok tersebut para pengarang yang kemudian menolak eksistensi dan konsepsi Angkatan 45 seperti pengarang- pengarang Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Seperti juga pada setiap pembagian yang terdahulu maka batas- batas antara dua corak itu tidak tegas benar. Pembagian itu lebih bersifat menjelaskan, bahwa tidak semua pengarang dan seniman mendukung konsepi dan ide Angkatan 45.



0 komentar:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.