NAMA:
ANGGA APRINASTA PUTRA
NM:
12003179
KELAS
: PBSI C
MATA
KULIAH : SEJARAH SASTRA
RINGKASAN
SEJARAH SASTRA INDONESIA MODERN KARYA Prof.Drs.H.Sarwadi
(2) Masa Permulaan Sastra
Indonesia Modern
1. Arti modern
Kata
modern pada sastra Indonesia modern dipergunakan tidak dalam pertentangan
dengan kata klasik. Bahkan sebenarnya, istilah sastra Indonesia klasik sebagai
pertentangan dengan sastra Indonesia modern tidak ada. Kata modern dipergunakansekadar
menunjukkan betapa intensifnya pengaruh Barat pada perkembangan dan kehidupan
kesusastraan pada masa itu. Sebelum berkembangnya sastra Indonesia modern kita
mengenal sastra Melayu atau sering disebut juga sastra Melayu lama/klasik untuk
membedakan dengan sastra Melayu modern yang berkembang di Malaysia.
2. Pengertian Sastra Indonesia
Ada
beberapa pendapat mengenai apa yang disebut sastra Indonesia. Ada yang
berpendapat bahwa suatu karya sastra dapat dinamakan dan digolongkan ke dalam
pengertian kesusastraan Indonesia apabila:
(1) Ditulis
buat pertama kalinya dalam bahasa Indonesia:
(2) Masalah-
masalah yang dikemukakan di dalamnya haruslah masalah – masalah Indonesia.
(3) Pengarangnya
haruslah bangsa Indonesia (Soemawidagdo, 1996:62)
Berdasarkan
pendapat di atas, pengertian sastra Indonesia mencakup tiga unsur persyaratan, yaitu bahasa, masalah
yang dipersoalkan, dan pengarangnya.
Permulaan Sastra Indonesia Modern
Seperti halnya dengan masalah
pengertian sastra Indonesia, masalah permulaan sastra Indonesia modern ini pun
menimbulkan beberapa macam pendapat. Dalam garis besarnya ada 4 macam pendapat,
yaitu:
1.
Slametmuljana (1953:17) dalam sebuah artikelnya yang
berjudul “Ke Mana Arah Perkembagan Puisi Indonesia?” berpendapat bahwa sastra
Indonesia yang resmi haruslah dimulai dari tahun 1945. Pengertian tentang
sastra Indonesia tidak dapat dipisahkan dari Indonesia sebagai nama suatu
negara. Negara Republik Indonesia baru ada sejak diumumkannya Proklamasi
Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945 dan baru pada tahun itu pulalah
bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa resmi negara Republik muljana dengan
tegas berpendapat bahwa berbicara
tentang Indonesia sebagai suatu istilah dewasa ini tidak dapat terlepas dari
masalah politik. Sastra suatu bangsa
tidak mesti dimulai dari saat bangsa itu memperoleh kemerdekaannya. Disamping
itu, tampaknya Slametmuljana mencampuradukkan pengertian bahasa Indonesia
sebagai bahasa resmi dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, dan
kemudian mengaitkan kehidupan sastra Indonesia dengan saat ditetapkannya bahasa
Indonesia sebagai bahasa resmi. Padahal, kenyataannya bahasa Indonesia sebagai
bahasa nasional sudah berkembang sebelum proklamasi Kemerdekaan.
2. Umar
junas di dalam karangannya yang berjudul “Istiah dan Masa Waktu Sastra Melayu
dan Sastra Indonesia” yang termuat dalam majalah Medan Ilmu Pengetahuan 1/3
Juli 1960 berpendapat bahwa sastra Indonesia baru mulai berkembang pada sekitar
28 Oktober 1928, yaitu saat diikrarkannya Tri Sumpah Pemuda. Sebagai seorang
linguis Umar Junus beranggapan bahwa sastra terikat erat sekali dengan bahasa.
Tidak ada bahasa maka sastra pun tidak akan ada juga. Oleh karena itu, kriteria
penamaan suatu hasil sastra, harus terutama berdasarkan media bahasa yang
dipergunakan. Suatu hasil sastra disebut sastra X karena bahasa yang
dipergunakan ialah bahasa X. Berdasarkan pemikiran tersebut, perkembangan
sastra Indonesia dimulai sejak adanya bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.
3. Nugroho
Notosusanto, seorang sarjana Ilmu Sejarah, berpendapat bahwa berbicara tentang
sastra Indonesia, bukan berarti berbicara tentang bahasa Indonesia,
melainkan prinsip kebangsaan. Kapankah
kesadaran kebangsaan bangsa Indonesia
mulai bangkit ?
Karena
kita telah menetapkan tanggal 20 Mei 1908 sebagai Hari Kebangkitan Nasional
maka berarti bahwa setiap kegiatan bangsa Indonesia sejak saat itu sudah
didorong oleh aspirasi nasional. Sastra Indonesia sebagai bagian kebudayaan
bangsa Indonesia, seharusnya sudah pula memancarkan unsur kebangsaan itu.
Dengan demikian, sastra Indonesia sebagai sastra Nasional Indonesia sudah
berkembang sejak permulaan abad ke-20. Terhadap
pendapat Nugroho Notosusanto tersebut ada satu keberatan. Meskipun dasar
pikirannya benar, pendapat itu tidak berlandaskan hasil- hasil sastra yang konkret.
Pada permulaaan abad ke- 20 kita belum dapat menunjukkan karangan- karangan
yang dapat dipandang sebagai hasil sastra yang bernilai atau bercorak nasional.
Kecuali itu, teori yang dikemukakan oleh Nugroho Notosusanto tersebut
ternyata tidak sesuai dengan periodisasi
yang dibuatnya. Nugroho Notosusanto dalam periodesisasinya memulai perkembangan
sastra Indonesia modern pada tahun 20-an, bukan pada permulaan abad ke-20.
4. Pendapat
yang terakhir menyatakan bahwa sastra Indonesia modern mulai berkembang sekitar
tahun 20-an. Mereka yang berpendapat demikian itu antara lain: Fachrudin Ambo
Enre, Ajip Rosidi, H.B. Jassin, dan A.Teeuw. Alasan yang mereka kemukakan tidak
sama, tetapi pada dasarnya menyangkut dua hal, yaitu :
a. Media
Bahasa yang Dipergunakan
Meskipun
bahasa Indonesia itu secara formal diakui sebagai bahasa persatuan pada tahun
1928, realitasnya bahasa tersebut pasti sudah berkembang pada tahun- tahun
sebelumnya. Tahun 1928 adalah sekadar tahun peresmiannya saja atau tahun
pemandiannya ( menurut istilah A.Fokker) menjadi bahasa nasional. Kenyataan
kehadirannya harus kita cari beberapa tahun sebelumnya. Apabila kita perhatikan
buku- buku hasil sastra Balai Pustaka sekitar tahun 20-an, misalnya novel Azab
, dan Sengsara, Siti Nurbaya dan juga puisi- puisi Moh.Yamin, Sanusi Pane, dan
Rustam Effendi, yang termuat dalam majalah Yong Sumatra, majalah Timbul,
nyatalah bahwa bahasa yang dipergunakan dalam karangan- karangan tersebut tidak
jauh berbda dengan bahasa yang kemudian diresmikan menjadi bahasa persatuan
pada tahun 1928. Berdasarkan kenyataan itu, kita beralasan untuk mengatakan
bahwa bahasa Indonesia sudah ada sekitar tahun 20-an.
b. Corak
Isi yang Terdapat di Dalamnya
Corak
isi karya sastra sudah mencerminkan sikap watak bangsa Indonesia, artinya
mengandung unsur kebangsaan. Pada bagian depan sudah dikemukakan, bahwa hasil-
hasil sastra pada sekitar tahun 20-an sudah mengandung unsur kebangsaan.
Terlebih apabila kita perhatikan hasil sastra di luar Balai Pustaka, unsur itu
amat jelas. Tanah Air kumpulan puisi Moh. Yamin temanya ialah kecintaan penyair
pada tanah air dan bangsanya yang pada waktu itu hidup dalam penjajahan.
(3)PERIODISASI SEJARAH
SASTRA INDONESIA MODERN
Masalah Periodisasi
Ada
beberapa macam periodisasi yang pernah dikemukakan orang, yang satu berbeda
dengan yang lain. Pangkal perbedaan itu terutama ialah:
1. Tidak
adanya kesamaan istilah yang dipergunakan. Istilah- istilah yang biasa dipakai
misalnya angkatan, periode,dan generasi:
2. Tidak
adanya kesamaan pengertian terhadap istilah- istilah tersebut. Tentang apa yang
disebut angkatan, banyak perbedaan pendapat. Rumusan Pramudya Ananta Tur
berbeda dengan rumusan Asrul Sani, berbeda pula dengan rumusan Rachmat Djoko
Pradopo, Ajip Rosidi, dan sebagainya:
3. Tidak
adanya kesamaan nama yang dipergunakan untuk menyebut suatu angkatan atau suatu
periode. Ada yang memakai angka tahun, ada yang memakai nama badan penerbit,
nama majalah, nama buku, dan sebagainya:
4. Tidak
adanya kesamaan sistem yang dipergunakan. Ada yang menunjuk satu angka tahun,
misalnya Angkatan 20, dan ada pula yang menunjuk satu angka tahun, misalnya
Angkatan tahun 20, dan ada pula yang menunjuk jangka waktu dari dua angka
tahun, misalnya periode tahun’20 hingga tahun ’30.
Masalah periodisasi memang merupakan
masalah yang banyak menarik perhatian orang. Bukan hanya para penelaah sastra
saja yang berbicara tentang itu, melainkan juga para sastrawan ikut melibatkan
diri. Sebenarnya, masalah periodisasi itu tidak begitu penting bagi para
sastrawan. Bahkan, ada beberapa pengarang yang tidak mau dirinya dimasukkan
kedalam salah satu angkatan karena
mungkin dipandang akan membatasi dan mempersempit kebebasan daya
kreativitasnya.
Walaupun demikian, periodisasi sejarah sastra
Indonesia modern itu perlu, terutama bagi para penelaah sastra dan bagi dunia
pendidikan dan pengajaran.
Dengan periodisasi itu kita akan dapat
dengan mudah mengetahui tahap- tahap perkembangan sastra Indonesia dengan corak
dan aliran yang mungkin ada pada tiap tahap perkembangan itu.
Adapun beberapa periodisasi yang pernah
dikemukakan orang lain ialah:
1.
Periodisasi Bujung Saleh
|
2.
Periodisasi H.B.Jassin
|
1.
Sebelum tahun 20-an
2.
Antara tahun 20-an hingga tahun ‘33
3.
Tahun 1933 hingga Mei 1942
4. Mei
1942 hingga sekarang
|
I.
Sastra Melayu Lama
II.
Sastra Indonesia Modern
1. Angkatan
20
2. Angkatan
33 atau pujangga Baru
3. Angkatan
45 mulai sejak 1942
4. Angkatan
66 mulai kira-kira tahun 1955
|
3. Periodisasi
Nugroho Notosusanto
|
4. Periodisasi
Ajip Rosidi
|
I.
Sastra Melayu Lama
II.
Sastra Indonesia Modern A. Masa Kebangkitan
1. Periode
‘20
2. Periode
‘33
3. Periode
‘42
A. Masa
Perkembangan
1. Periode
‘45
2. Periode
‘50
|
I.
Sastra Nusantara Klasik (Sastra dari berbagai bahasa
daerah di Nusantara )
II.
Sastra Indonesia Modern
A. Masa
Kelahiran (Masa Kebangkitan)
1. Periode
awal – 1993
2. Periode
1993- 1942
3. Periode
1942- 1945
B. Masa
Perkembangan
1. Periode
1945- 1953
2. Periode
1953- 1961
3. Periode
1961-sekarang
|
Dari
ikhtisar 4 macam periodisasi di atas,
nyatalah bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan yang prinsip antara
periodisasi yang satu dengan yang lain. Kesemuanya memulai perkembangan sastra
Indonesia modern sejak tahun 20-an. Kesemuanya menempatkan tahun ’30, tahun
’45, dan tahun ’66 sebagai tonggak- tonggak penting dalam perkembangan sastra.
Perbedaan hanya berkisar pada masalah istilah dan masalah peranan tahun 1942
dan tahun 1950 di dalam perkembangan sastra Indonesia.
Periodisasi Sastra Indonesia Modern
Di dalam masyasrakat khususnya
masyarakat sastra, istilah angkatan dan periode amat banyak digunakan. Akan
tetapi, pengertian kedua istilah itu sering dicampuradukkan. Untuk keseragaman
periodisasi kiranya kedua istilah tersebut perlu diperjelas perbedaan
pengertiannya.
Periode adalah sekadar kesatuan
waktu dalam perkembangan sastra yang dikuasai oleh suatu sistem norma tertentu
atau kesatuan waktu yang memiliki sifat dan cara pengucapan yang khas yang
berbeda dengan masa sebelumya.
Angkatan adalah sekelompok
pengarang yang memiliki kesamaan konsepsi atau kesamaan ide yang hendak
dilaksanakan dan diperjuangkan. Di dalam angkatan ada satu cita- cita yang
menghikmati atau melandasi penciptaan, meskipun tidak disajikan secara formal
dalam suatu manifestasi atau dalam suatu rumusan.
Sekelompok pengarang pada masa
Balai Pustaka dapat dipandang sebagai suatu angkatan karena mereka pada
hakikatnya tergerak oleh satu cita- cita, yaitu hendak memberikan pendidikan
budi pekerti dan mencerdaskan kehidupan bangsanya melalui bacaan. Angkatan
Pujangga baru memiliki kesamaan cita-cita yang hendak diperjuangkan, yaitu membentuk
kebudayaan baru, kebudayaan persatuan kebangsaan Indonesia. Angkatan 45
memiliki konsepsi humanisme universal dan menuju ke arah pembentukan kebudayaan
universal dan menuju ke arah pembentukan kebudayaan universal seperti yang
tercantum dalam Surat Kepercayaan Gelanggang. Angkatan 66 mempunyai konsepsi
pemurnian pelaksanaan Pancasila dan melaksanakan ide yang terkandung dalam
Manifes Kebudayaan.
Dalam suatu periode mungkin
timbul suatu angkatan, tetapi suatu periode tidak harus melahirkan suatu angkatan,
tetapi suatu periode tidak harus melahirkan suatu angkatan. Istilah angkatan
lebih menuntut sifat gerak dan dinamika dari pada istilah periode.
(4)ANGKATAN BALAI PUSTAKA
A. Balai Pustaka sebagai Badan Penerbit
Angkatan
Balai Pustaka lazim disebut juga Angkatan 20 atau Angkatan Siti Nurbaya.
Menyamakan Angkatan Balai Pustaka dengan Angkatan 20 sebenarnya tidak tepat
karena kegiatan sastra Indonesia sekitar tahun 1920 tidak semata- mata terbatas
pada kegiatan Balai Pustaka. Penamaan Angkatan Siti Nurbaya pun kami rasa tidak
tepat sebab penamaan itu hanya berdasarkan nama novel yang paling populer pada
masa itu dalam arti paling banyak dibaca orang, bukan berdasarkan nilai sastra
novel itu. Dalam hal nilai, orang memandang Salah
Asuhan lebih tinggi dari pada Siti
Nurbaya.
Nama
Balai Pustaka menunjuk dua pengertian: (1) sebagai nama badan penerbit dan (2)
sebagai nama suatu angkatan dalam sastra Indonesia. Kedua pengertian itu
berhubungan erat. Balai Pustaka sebagai badan penerbit hingga kini masih ada,
meskipun status dan fungsinya berbeda sama sekali dengan dahulu. Badan tersebut
sekarang ada dalam lingkungan Depdiknas.
Balai
Pustaka sebagai angkatan tidak terlepas dari riwayat pendirian Balai Pustaka.”
Pada akhir abad ke -19 pemerintah Belanda banyak membuka sekolah untuk
bumiputra” dengan maksud: (1) mendidik pegawai- pegawai rendah yang dibutuhkan
oleh pemerintah dan (2) agar politik pengajaran tetap dikuasai oleh
pemerintah.Akan tetapi, ternyata sekolah- sekolah tersebut makin luas sehingga
banyak bangsa kita yang pandai membaca dan menulis. Pemerintah khawatir
terhadap kegemaran membaca di kalangan rakyat. Untuk memenuhi hasrat membaca
itu dengan keputusan no 12. Tanggal 14 September 1908 oleh pemerintah
dibentuklah suatu komisi yang diberi bernama Commissie voor de Inlandsche
School en Volkslectuur ( Komisi untuk Bacaan Rakyat di Sekolah- Sekolah
Bumiputra) di bawah pimpinan G.A.J.Hazeu. Komisi ini makin lama makin luas dan
makin bertambah kegiatannya; sehingga pada tahun 1917 diubah menjadi suatu
badan penerbit yang diberi nama Balai Pustaka. Pimpinan badan penerbit tersebut
berturut – turut yaitu D.A. Rinkes, G.W.J. Drewes, dan K.A.h. Hidding.
Adapun
tujuan pemerintah Belanda mendirikan Balai Pustaka itu antara lain sebagai
berikut.
1.
Agar kehausan membaca di kalangan rakyat bisa dicukupi
dengan buku- buku yang diterbitkan sendiri sehingga tidak akan membahayakan
ketertiban dan keamanan negeri. Pemerintah khawatir apabila rakyat memperoleh
dan membaca buku- buku dari luar, hal itu pasti akan membahayakan kedudukannya.
Oleh karena itu, pemerintah membuat peraturan yang keras terhadap impor buku.
2.
Dengan menerbitkan sendiri buku- buku bacaan itu, pemerintah
bermaksud secara tidak langsung memasukkan unsur- unsur penjajahan melalui
bacaan. Hal ini tampak pada banyaknya cerita kepahlawanan yang disaring ke
dalam bahasa Indonesia dan juga adanya karangan- karangan, yang baik cerita
maupun gambarannya dapat memberikan kesan buruk terhadap bangsa Indonesia, dan
sebalikya memberikan kesan baik terhadap usaha – usaha pemerintah Belanda
Indonesia.
3.
Seakan- akan sebagai
balas jasa atau sekadar untuk memberi hati kepada rakyat dalam
hubungannya dengan politik etis pemerintah pada masa itu.
B. Pengaruh Balai Pustaka terhadap Perkembangan Sastra
Indonesia
Balai
Pustaka didirikan oleh pemerintah Belanda sama sekali tidak disertai maksud
agar badan tersebut memberikan dorongan terhadap perkembangan sastra Indonesia.
Tujuan yang pokok ialah memberikan konsumsi berupa bacaan pada rakyat yang
isinya cocok dengan politik pemerintah kolonial. Akan tetapi, kita tahu bahwa
badan penerbit merupakan suatu faktor yang penting bagi perkembangan sastra, di
samping faktor pengarang sebagai pencipta dan masyarakat sebagai pembaca atau
penikmat. Oleh karena itu, didirikannya Balai Pustaka oleh Belanda dalam hal-
hal tertentu memberikan manfaat kepada rakyat dan juga kepada perkembangan
sastra Indonesia.
C. Karakterisasi Sastra Balai Pustaka
Perkembangan
sastra tidak terlepas dari perkembangan masyarakat. Segala sesuatu yang hidup
dan berkembang dalam masyarakat sebagian besar tercermin dalam hasil- hasil
sastra zamannya. Sastra Balai Pustaka tumbuh dan berkembang sekitar tahun
20-an. Sikap hidup dan cita- cita masyarakat, adat- istiadat dan tumbuhnya
pergolakan tentang pandangan hidup menjadi pokok- pokok persoalan penciptaan
sastra pada masa itu. Karakterisasi sastra suatu periode pada umumnya
dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu:
Berdasarkan
uraian di atas, karakterisasi atau sifat- sifat khas sastra Balai Pustaka dapat
dituturkan secara rinci sebagai berikut di bawah ini.
1.
Sebagian besar sastra Balai Pustaka mengambil tema pokok
masalah kawin paksa. Masyarakat beranggapan terutama kaum tua bahwa perkawinan
adalah urusan orang tua. Pihak orang tua mempunyai kekuasaan mutlak dalam
menentukan jodoh terhadap anaknya, dan hal ini dipandangnya sebagai adat yang
takkan lapuk oleh hujan. Adapun motif kawin paksa itu bermacam- macam:
a.
Karena pandangan adat bahwa perkawinan cross cousin (antara
saudara sepupu) sebagai perkawinan yang ideal. Kecenderungan ini misalnya
terdapat pada novel Salah Asuhan.
b.
Karena masalah harta kekayaan, misalnya sebagai penebus
utang (Siti Nurbaya) atau untuk
mendapatkan menantu yang kaya (Azab dan
Sengsara).
c.
Karena masalah kedudukan dan keturunan. Banyak orang tua
yang mencita –citakan anak gadisnya agar memperoleh jodoh keturunan bangsawan
atau keturunan sayid; sebab keduanya dipandang keduanya memiliki kedudukan
terhormat dalam masyarakat ( Si Cebol
Rindukan Bulan).
2.
Latar belakang sosial sastra Balai Pustaka umumnya berupa
pertentangan paham antara kaum tua dengan kaum muda. Kaum tua yang hendak
mempertahankan adat versus kaum muda yang hendak menyesuaikan adat dengan
kemajuan zaman. Pertentangan itu bukan hanya dalam hal memilih jodoh, melainkan
juga dalam masalah perkawinan pada umumnya, masalah penddikan, dan lain- lain.
Sikap penulis dalam hal ini bermacam- macam:
a.
Ada kecenderungan simpati kepada yang lama. Yang baru tidak
semuanya baik( Salah Asuhan, Si Cebol
Rindukan Bulan);
b.
Ada kecenderungan simpati kepada yang baru. Kaum muda
memperoleh kemenangan (Pertemuan Jodoh,
Asmara jaya, Darah Muda);
c.
Bersikap tengah (Siti Nurbaya).
3.
Unsur nasionalitas pada sastra Balai Pustaka belum jelas
benar, meskipun tidak berarti bahwa unsur itu tidak ada sama sekali. Hal ini
sudah ditegaskan di depan mengingat kedudukan Balai Pustaka sebagai badan
penerbit resmi pemerintah. Pelaku- pelaku novel Balai Pustaka umumnya masih
mencerminkan kehidupan tokoh yang berasal dari daerah- daerah.
4.
Peristiwa- peristiwa yang diceritakan sesuai dengan realitas
kehidupan dalam masyarakat, tidak lagi berhubungan dengan kehidupan raja- raja,
dewa, atau kejadian- kejadian yang tidak masuk akal seperti halnya dalam cerita-
cerita lama. Karena ceritanya sebagian besar berhubungan dengan lapisan
masyarakat kaum tengahan maka sastra Balai Pustaka sering disebut juga sebagai
sastra borjuis.
5.
Analisis psikologis pelaku- pelakunya belum dilukiskan
secara mendalam. Yang mengarah pada usaha ini ialah novel Katak Hendak Jadi
Lembu karangan Nur Sutan Iskandar.
6.
Sastra Balai Pustaka merupakan sastra bertendens dan
bersifat didaktis. Hal ini sudah sewajarnya mengingat persyaratan yang sudah
ditentukan oleh pimpinan Balai Pustaka. Ada tendens yang bersifat politis,
antara lain berusaha menanmkan jiwa pegawai yang taat dan patuh kepada
pemerintah, misalnya secara tersirat tampak pada novel Siti Nurbaya, dan ada pula tendens didaktis, yaitu usaha membentuk
budi pekerti pada pembacanya. Tendens didaktis ini menonjol sekali pada hasil
sastra Balai Pustaka sehingga ditnjau secara literer menimbulkan kelemahan-
kelemahan karya sastra itu, misalnya:
a.
Pengarang sering keluar dari jalan cerita untuk memberikan
nasihat kepada pembaca;
b.
Jalan cerita sering menjadi tidak wajar dan tidak logis,
misalnya sesorang yang sudah menghadapi sakaratul maut masih sanggup berwasiat
dengan lancar dan panjang lebar;
c.
Watak para pelaku umumnya hanya terbagi menjadi dua, yaitu
hitam- putih atau buruk – baik, tanpa mengenal variasi;
d.
Lukisan kehidupan pelaku sering kurang wajar sebagai tokoh
yang berpribadi, hanya sekadar mengabdi pada tendens yang sudah ditentukan.
7.
Bahasa sastra Balai Pustaka adalah bahasa Indonesia pada
masa permulaan perkembangan yang pada masa itu disebut bahasa Melayu Umum.
Karena anggota, pimpinan, dan para pengarang sebagian besar berasal dari daerah
Sumatra Barat maka pengaruh pada bahasa sastra Balai Pustaka terutama dari
bahasa Minangkabau. Dari bahasa- bahasa daerah lain dan juga dari bahasa asing
belum terasa sekali pengaruhnya.
8.
Genre(jenis) sastra hasil Balai Pustaka terutama berbentuk
novel, sedangkan puisinya masih berupa pantun dan syair. Hal ini disebabkan
novel mungkin dipandang bentuk yang paling tepat untuk menjalinkan unsur- unsur
didaktis.
D. Tiga Pengarang Balai Pustaka yang Penting
Tiga
pengarang Balai Pustaka yang penting ialah Nur Sutan Iskandar, Abdul Muis, dan
Marah Rusli. Nur Sutan Iskandar penting karena ia mempunyai pengaruh yang besar
terhadap hampir sebagian besar hasil sastra Balai Pustaka. Ia mula- mula
sebagai korektor, kemudia sebagai redaktur, dan akhirnya sebagai kepala
redaktur badan tersebut. Abdul Muis penting karena novelnya Salah Asuhan dipandang sebagai yang paling
menonjol nilai sastranya, baik dari segi bahasa maupun dari segi pengolahan
ceritanya. Marah Rusli penting juga kedudukannya pada masa itu karena novelnya Siti Nurbaya merupakan hasil sastra yang
paling banyak dibaca orang. Novel Salah
Asuhan dan Siti Nurbaya sering
disebut orang sebagai puncak- puncak sastra Balai Pustaka.
Berikut
ini kami sebutkan beberapa hal secara ringkas tentang pengarang- pengarang
tersebut.
1. Nur sutan Iskandar
Pengarang ini memiliki keistimewaan dibandingkan dengan
yang lain.
a.
Ia seorang pengarang Balai Pustaka yang paling produktif.
b.
Karangan yang dihasilkan beraneka ragam:
1).
Berbentuk novel sejarah, novel psikologi, novel adat, dan lain- lain;
2).
Ada karangan asli, saduran, dan terjemahan;
3).
Ada yang berisi pengetahuan umum, cerita anak- anak, riwayat hidup, dan catata
harian.
c.Seorang
pengarang yang tetap menghasilkan pada hampir setiap tahap dalam perkembangan
sastra.
d. Seorang pengarang yang berhasil mencapai
kemajuan terutama dari kemampuannya belajar sendiri.
Karena banyaknya karangan yang telah
dihasilkan maka dibawah ini akan disebutkan sebagian saja, diantaranya yaitu:
1). Karangan asli:
- Salah pilih (dikarang dengan nama
samaran Nursinah tahun 1928)
- Karena Mentua (1932)
- Hulubalang
Raja (novel sejarah yang oleh Teeuw dipandang yang terbaik)
- Katak
Hendak Jadi Lembu
- Neraka
Dunia (1937)
- Cinta
Tanah Air (novel yang terbit pada zaman Jepang tahun 1944)
- Mutiara
(1946)
- Cobaan
(1947)
- Cinta
dan Kewajiban (dikarang bersama dengan L. Wairata)
2). Karangan terjemahan:
- Anjing
Setan – A. Canon Doyle
- Gudang
Intan Nabi Sulaiman – Rider Haggard
-
Kasih Beramuk dalam Hati – Beatrice Harradan
- Tiga
Panglima Perang – Alexander Dumas
- Graaf
de Monte Cristo – Alexander Dumas
- Iman
dan Pengasihan – H. Sienkiewick
- Sepanjang
garis Kehidupan – R. Casimir
3). Karangan saduran:
- Pengajaran
di Sweden – Jan Ligthart
- Pengalaman
Masa Kecil – Jan Ligthart
- Pelik-
Pelik Pendidikan – Jan Ligthart
- Si
Bakhil – Moliere Lavare
- Abunawas
- Janger
Bali
- Korban
karena Percintaan
- Apa
Dayaku karena Aku Perempuan
- Dewi
Rimba
4). Catatan harian:
Ujian Masa (21-7 -1947 s.d. 1-4-1948)
Kami berpendapat bahwa Katak HendakJadi Lembu merupakan novel
Nur Sutan Iskandar yang berhasil. Dalam novel itu dilukiskan betapa perangai
seorang pegawai berpangkat kecil berbuat hendak menyamai kehidupan orang yang
berpenghasilan banyak. Suria seorang menteri kabupaten pangkat dibawah camat,
hidupnya bermegah- megah seperti kehidupan priyayi yang besar gajinya.
Akhirnya, semuanya menjadi korban dan hidup dalam penderitaan. Dialog dalam
novel tersebut terasa hidup, dan tampaknya kekuatan bahasa Nur Sutan Iskandar
terletak pada penggunaan dialog dari pada gaya penuturan.
Di dalam karangan – karangannya
pengaruh bahasa Minangkabau lebih terasa dibandingkan dengan karangan Marah
Rusli dan Abdul Muis, walaupun dalam karangan- karangannya kemudian pengaruh
juga berasal dari bahasa Jawa, dialek Jakarta, dan lain- lain. Hal- hal ini
tampak, misalnya pada novel Cobaan,
yang dipandang oleh Teeuw sebagai novel yang tidak berhasil, mirip- mirip novel
picisan.
Dua novel sejarah Nur Sutan Iskandar
ialah Hulubalang Raja dan Mutiara. Hulubalang Raja mengisahkan hubungan antara
Minangkabau dengan Belanda pada abad ke- 17, sedangkan Mutiara mengisahkan
perang gerilya bangsa Aceh melawan Belanda tahun 1903. Hulubalang Raja sering dianggap orang sebagai novel sejarah Nur
Iskandar yang paling berhasil, walaupun menurut kami penceritaannya kurang
menarik, terlebih pada bagian- bagian permulaan. Di dalam melukiskan sesuatu
terasa amat teliti sampai pada soal- soal yang kecil.
2. Abdul Mui
Abdul
Muis terkenal karena novel Salah Asuhan yang terbit tahun 1928. Dalam novel itu
dilukiskan bahwa perkawinan campuran antarbangsa lebih banyak membawa kesulitan
daripada kebahagiaan. Hanafi, anak Minangkabau yang sejak kecil mendapat
pendidikan dan hidup dalam pergaulan Belanda rela mengorbankan bangsa dan ‘’
payung’’-nya demi cintanya kepada Corrie du Bussee, seorang gadis keturunan
Eropa. Ayah Corrie orang perancis, sedangkan ibunya orang Melayu dan sudah lama meninggal.
Pada mulanya Corrie menolak cinta Hanafi sebab teringat pada nasihat ayahnya,
bahwa kawin campuran itu (Timur dan Barat) akan memburukkan kehidupan rumah
tangga.Sesudah ayahnya meninggal, akhirnya dengan melalui berbagai kesulitan
dilangsungkan juga perkawinan antara keduanya dengan dihadiri oleh dua orang
saksi saja. Dua tahun mereka hidup berumah tangga yang tersisih dari lingkungan
masyarakat dan keluarga kedua belah pihak. Karena tidak ada keselarasan
kehidupan rumah tangga mereka, akhirnya perpisahan tidak dapat lagi dielakkan.
Salah
Asuhan merupakan novel yang menarik sekali, dalam beberapa hal lebih
berhasil daripada Siti Nurbaya.
Bahasanya lancar dan pengaruh bahasa Minang tidak menganggu jalan cerita.
Masalah kawin paksa tidak jadi tema pokok cerita, terasa sekadar sebagai latar
belakang cerita belaka. Hidup kejiwaan
dalam pelaku- pelakunya dilukiskan secara teliti. Oleh karena itu, Salah Asuhan ada yang menyebutnya
sebagai novel psikologis. Memang ada juga peristiwa peristiwa dalam cerita itu
yang terasa dibuat- buat, tidak wajar, seperti peristiwa Hanafi digigit anjing
gila, peristiwa pertemuan Corrie dengan Hanafi di Betawi (Jakarta) pada saat
sepedanya tertumbuk sepeda orang lain, dan sebagainya.
Novel
Abdul Muis yang kedua ialah Pertemuan
Jodoh (1993). Dibandingkan dengan novelnya yang pertama, Pertemuan Jodoh kurang berhasil. Hal
yang menarik dalam novel ini ialah dipergunakannya bahasa dialek dalam dialog
pelaku – pelakunya. Plot ceritanya mengambil pola cerita cerita Panji: dua
muda- mudi (Suparta dan Ratna) berkenalan # berkasih- kasihan# timbul kesulitan
dan rintangan – rintangan# akhirnya bertemu kembali# happy ending.
Dalam novel tersebut terasa adanya
kritik terhadap unsur- unsur feodalisme yang menghambat kemajuan.
Karangan Abdul Muis yang lain berupa
novel sejarah, yaitu Surapati (1950) dan Robert Anak Surapati (1953).
Karangan terjemahannya ialah Sebatang
Kara (Hector Mallot) dan Tom Sawyer (Mark twain).
Memang Abdul Muis sebagai penulis
tidak banyak menghasilkan karangan. Akan tetapi, dengan novelnya Salah Asuhan ia termasuk pengarang Balai
Pustaka yang penting. Di samping seorang pengarang, Abdul Muis bergerak juga di
lapangan politik dan jurnalistik. Oleh pemerintah ia ditetapkan sebagai seorang
pejuang Perintis Kemerdekaan.
3.Marah Rusli
Marah Rusli lahir di Padang tahun 1889
dan meninggal pada 17 januari 1968. Ia seorang keturunan bangsawan kota Padang.
Ia sekolah di kedokteran hewan di Bogor dan kemudian kawin dengan seorang gadis
Sunda tanpa persetujuan keluarganya. Karena perkawinannya itu, ia tersisih dari
ikatan keluarga di kampungnya.
Hasil
karangannya:
1.
Siti
Nurbaya,
terbit tahun 1922 dengan subjudul Kasih
Tak Sampai
2.
Anak
dan Kemenakan
(1956)
3.
Memang
jodoh, yaitu
sebuah novel yang bersifat autobiografis yang khsus dihadiahkan kepada ketiga
anknya (Drg.S.Rusli,Brigjen R. Rusli, dan Nani Rusli ). Naskah novel tersebut
tebalnya 316 halaman ukuran ½ folio tik rapat. Mungkin karena pertimbangan
tertentu maka oleh keluarganya sampai sekarang belum diterbitkan. Selain
sebagai pengarang, Marah Rusli bergerak juga di lapangan seni musik dan
olahraga.
Diantara
hasil karangannya, Siti Nurbaya
merupakan novel Marah Rusli yang
paling terkenal. Bahkan, pada zaman Belanda buku itu dicantumkan juga sebagai
buku pelajaran di AMS Yogya. Novel itu melukiskan cinta kasih tak sampai antara
Siti Nurbaya dengan Syamsul Bahri disebabkan perbuatan busuk Datuk Maringgih.
Siti Nurbaya akhirnya harus kawin dengan Datuk Maringgih semata- mata
sebagai “ pembayar utang” orang tuanya
yang telah lama jatuh miskin dan banyak utang akibat akal licik yang sengaja
dipasang oleh Datuk Maringgih.
Meskipun
terdapat beberapa kelemahan terlebih apabila dilihat dari situasi masa
sekarang, terbitnya novel Siti Nurbaya
di pandang sebagai novel perintis sastra Indonesia modern.
Bila
dibandingkan dengan karangan- karangan Nur Sutan Iskandar dan Abdul Muis,
terdapat beberapa perbedaan sebagai berikut.
1)
Di dalam karangannya Marah Rusli sering melukiskan sesuatu
sampai pada hal yang sekecil- kecilnya, lebih – lebih dalam melukiskan alam
tempat tinggalnya. Kebiasaan ini pada karangan Abdul Muis tidak kita dapati.
2)
Karena dorongan hendak memberi nasihat. Marah Rusli sering
keluar dari jalan cerita dan muncul perannya sebagai “pemberi fatwa” kepada
pembaca. Akibatnya, jalan cerita menjadi terganggu. Sikap semacam ini juga
terasa pada karangan N.Sutan Iskandar, sedangkan karangan Abdul Muis lebih
wajar.
3)
Bahasa Marah Rusli lebih bersifat Melayu dibandingkan dengan
bahasa N.Sutan Iskandar dan Abdul Muis. Akan tetapi, dibandingkan dengan
pengarang- pengarang Minangkabau yang lain, bahasa Marah Rusli tidak seberapa
banyak memakai pepatah, petitih, dan peribahasa.
E. Pengarang- Pengarang Balai Pustaka yang Lain
1. Aman Datuk Majoindo
Aman
terkenal sebagai pengarang cerita anak- anak. Ia memimpin rubrik cerita anak-
anak pada majalah Panji Pustaka. Buku karangannya tentang cerita anak- anak
yaitu:
1)
Si Dul
Anak Betawi.
Buku ini menarik perhatian karena lukisannya yang hidup dan lucu yang diselingi
dialek Betawi.
2)
Anak
Desa.
Buku ini pada cetakan diganti judulnya dengan Cita- Cita Mustafa. Isi ceritanya melukiskan kehidupan anak gembala
di Bukit Barisan, Sumatera Barat.
2. Muhammad Kasim
Pengarang
cerita anak – anak yang lain ialah M. Kasim karangannya yang pernah mendapat
hadiah Balai Pustaka tahun 1924 berjudul Pemandangan Dunia Anak- Anak. Dalam
karangan itu dituliskan dengan tepat dan hidup betapa pengarai dan tingkah laku
seorang anak, bagaimana Samin membujuk minta makanan adiknya, bagaimana ia
bertengkar , dan sebagainya.
M.
Kasim terkenal sebagai seorang pengarang cerita- cerita lucu, disamping
pengarang lucu
Yang lain, seperti
Suman Hasibuan dan Aman Datuk Majoindo.
Cerita-
cerita pendek M. Kasim yang pernah dimuat dalam
majalah Panji Pustaka antara
tahun 1931 s.d tahun 1935 kemudian dibukukan dan diberi nama Teman Duduk. Karangan M.Kasim yang lan
ialah Muda Taruna, dan Niki
Bahtera.
3.
Tulis Sutan Sati
Ia
pernah juga bekerja pada Balai Pustaka. Bahasa Tulis Sutan Sati amat
terpengaruh bahasa Minangkabau dan penuh dengan bahasa klise yang berupa
peribahasa dan pepatah. Ceritanya sebagian besar juga berhubungan dengan
perikehidupan masyarakat Minang.
Karangannya
yang berbentuk novel:
(1) Tidak membalas Guna (1932)
(2) Memutuskan Pertalian (1932)
(3) Sengsara Membawa Nikmat(1928)
Cerita lama yang disadur dalam bentuk syair:
(1) Siti
Marhumah yang Saleh
(2) Syair
Rosina
Sementara itu, hikayat lama yang dituliskan kembali dalam
bentuk prosa liris ialah Sabai nan Aluih.
4.
Selasih dan Sa’adah Alim
Keduanya
pengarang wanita. Selasih sering memakai nama samaran (pseudonim) Seleguri atau
Sariamin. Ia seorang pengarang wanita yang lahir tahun 1909. Karangannya yang
berbentuk novel ialah:
(1) Kalau
Tak Untung (1933)
(2) Pengaruh
Keadaan (1973)
Selain
sebagai pengarang novel, Selasih banyak juga menulis puisi, antara lain dimuat
dalam majalah Panji Pustaka dan Pujangga Baru.
Sa’adah
Alim menulis sebuah sandiwara yang berjudul Pembalasannya
(1941) dan kumpulan cerpen yang berjudul Taman Penghibur Hati (1941).
Karangan terjemahannya berjudul Angin
Timur Angin Barat dari karangan Pearl S.Buck, pengarang wanita
berkebangsaan Amerika.
5.
Merari Siregar
Merari
Siregar sebenarnya dapat dikatakan sebagai pengarang novel Balai Pustaka yang
pertama. Bukunya yang berjudul Azab dan
Sengsara, mengisahkan nasib seseorang gadis bernama Mariamin yang tidak
berhasil kawin dengan pemuda yang dicintainya, yaitu saudara sepupunya sendiri
yang bernama Aminuddin.
Walaupun
persoalan yang dilukiskan dalam novel tersebut mengenai kehidupan masyarakat
modern, gaya ceritanya masih terasa terpengaruh hikayat lama. Novel Azab dan Sengsara menggunakan subjudul Kisah
Kehidupan Seorang Anak Gadis.
(5)SASTRA PERIODE TAHUN ’20
DI LUAR BALAI PUSTAKA
A. Karangan – Karangan yang Bertendens Politik
Sastra
pada sekitar tahun 1920 tidak terbatas hanya pada kegiatan dan usaha Balai
Pustaka saja. Diluar itu, juga diusahakan penerbitan majalah dan buku- buku
yang isinya banyak yang bersifat sastra. Ada dua golongan penerbitan pada masa
itu:
(1) Penerbitan
karangan- karangan yang bertendens
politik dan
(2) Penerbitan
karangan- karangan yang lebih bersifat sastra.
Pembedaan
di atas sebenarnya tidak mutlak sebab
karangan- karangan yang bersifat sastra tidak berarti semuanya bersih dari nafas politik. Masalahnya
bergantung pada kadar dan pengolahannya dalam wujud karya sastra.
Karangan-
karangan yang bertendens politik pada masa itu sering disebut sebagai “bacaan liar” . Beberapa pengarang “bacaan
liar” itu antara lain ialah:
1. Marco Kartodikromo
Karangannya
yang terkenal:
(1) Student Hijo (1919)
(2) Rasa Merdeka atau disebut juga Hikayat Sujanmo (1924)
Karangan yang lain:
(3) Mata Gelap (1914)
(4) Syair Rempah- Rempah (1919)
Karena
karangan- karangan itu, Marco Kartodikromo berulang – ulang dijatuhi hukuman
oleh pemerintah Belanda dan kemudian dibuang ke Digul Atas, Irian Jaya. Oleh golongan komunis di
Indonesia ia dipandang sebagai pelopor sastra Indonesia modern karena isi
karangan- karangannya dinilai mengandung kritik terhadap feodalisme dan
kolonialisme. Soal nilai sastranya bukan masalah yang penting sebab goongan ini
semboyan “politik adalah panglima”, artinya segala sesuatu mesti mengabdi untuk
kepentingan politik, termasuk kegiatan di bidang sastra.
2. Semaun
Karangannya
berupa sebuah novel yang berjudul Hikayat Kadirun (1924). Novel tersebut
sesudah terbit segera dilarang beredar oleh pemerintah. Semaun termasuk seoran
pemimpin Partai Komunis Indonesia pada saat itu sehingga bagi golongan ini ia
pun dipandang sebagai tokoh pengarang yang pentig.
Partai
Komunis Indonesia (PKI) sudah dibubarkan oleh Pemerintah Republik Indonesia dan
dinyatakan sebagai partai terlarang sejak tahun 1966 dengan Tap MPRS No. XVII
th.1966.
Buku –
buku kedua “pengarang liar” tersebut sukar diperoleh sehingga secara pasti
sukar berbicara tentang niai sastranya. Akan tetapi, suatu karangan yang lebih
mengutamakan tendens , terlebih tendens
politik, lazimnya nilai sastranya menjadi kurang atau dikorbankan.
B. Sastra Pra- Pujangga Baru
Didepan
sudah disebutkan, bahwa di samping “bacaan liar” , di luar Balai Pustaka
berkembang pula penerbitan karangan- karangan yang lebih bersifat sastra.
Kegiatan sastra ini lazim disebut sastra Pra- Pujangga Baru sebab pengarang –
pengarang golongan ini kemudian dikenal juga sebagai pengarang Pujangga Baru.
Hasil karangan mereka pada sekitar tahun 1920 dapat dipandang sebagai sastra
Pra – Pujangga Baru. Beberapa pengarang Pra- Pujangga Baru yang kami maksudkan
ialah:
1.
Moh. Yamin
Ia
adalah tokoh pejuang bangsa dan pejuang bahasa Majalah Yong Sumatra yang pada dasarnya merupakan majalah berbahasa Belanda
banyak diisi oleh Yamin dengan karangan- karangan berbahasa Indonesia. Karangan
– karangan Yamin dalam majalah tersebut selama masa dua tahun, yaitu tahun
1920- 1921, sudah dikumpulkan oleh Amrin Pane dan diterbitkan dengan judul Sanjak- Sanjak Masa Muda Mr. Moh. Yamin.
Sembilan belas dari 21 puisi dalam kumpulan
itu berupa soneta, sedangkan yang lain berjudul
“Tanah Air” berbentuk 9, 9, 9 dan yang berjudul “ Bahasa , Bangsa “ berbentuk 4,3,5,6,6.
2. Rustam Effendi
Jika
Marah Rusli dan Abdul Muis dikenal sebagai perintis sastra Indonesia modern
dibidang penulisan novel, Yamin dan Rustam Effendi adalah pembuka sejarah baru
dalam bentuk puisi.
Karangan
Rustam Effendi yang sudah dibukukan ada dua yaitu Bebasari dan Percikan
Permenungan , keduanya merupakan
“Pasangan yang sejoli” karena
kedua buku itu dikarang dalam saat dan suasana yng bersamaan.
3. Sanusi Pane
Penggemar
bentuk soneta dalam sastra Indonesia selain Moh. Yamin dan Rustam Effendi,
terutama adalah Sanusi Pane. Kumpulan puisinya berjudul Puspa Mega yang seluruhnya terdiri atas 34 puisi, hanya satu yang
tidak berbentuk soneta.
Sanusi
Pane sudah banyak menulis pada tahun dua puluhan. Beberapa karagannya dimuat
dalam Majalah Yong Sumatra dan Majalah Timbul, dua majalah yang pada dasarnya
memuat karangan- karangan dalam bahasa Belanda. Dramanya yang berjudul Airlangga (1928) dan Eenzame Garuda vlucht (1929) pertama
kali dimuat dalam majalah Timbul.
Puisi
Sanusi Pane pada permulaanya tidak
banyak berbeda dengan puisi Moh. Yamin. Bentuk sonetanya hampir semuanya
tersusun atas dua kuartren dan dua terzina.
Dalam
perkembangannnya kemudian Sanusi Pane merupakan tokoh penting Angkatan Pujangga
Baru, tokoh ketiga sesudah Sultan Takdir Alisjahbana dan Amir Hamzah. Oleh
karena itu, pada tempatnya bila tokoh ini diuraikan lebih lanjut pada
pembicaraan tentang pengarang- pengarang Pujangga Baru.
(6)PERIODE TAHUN ’30
ANGKATAN PUJANGGA BARU
A. Majalah Pujangga Baru
Nama
Pujangga Baru mempunyai dua pengertian, yang satu dengan yang lain erat
hubungannya. Dua pengertian itu ialah:
(1) Pujangga
Baru sebagai nama majalah dan
(2) Sebagai
nama angkatan dalam Sastra Indonesia.
Pujangga
Baru sebagai nama majalah mengalami dua periode penerbitan, yaitu Pujangga Baru sebelum perang( Juli-
1933- Maret 1942) dan sesudah perang (Maret 1948- Maret 1953). Dua periode
penerbitan majalah itu masing- masing mempunyai kedudukan yang berbeda dalam
perkembangan sastra Indonesia. Majalah Pujangga
Baru sesudah perang tidak penting lagi artinya sebagai pembawa kehidupan
sastra, walaupun tenaga pengasuhnya ditambah.
Majalah
Pujangga Baru sebelum bersifat
homogen, artinya pembawa semangat dari satu cita- cita, sedangkan sesudah peran
bersifat heterogen, artinya kecuali pembawa semangat Angkatan Pujangga Baru,
juga pembawa suara angkatan sesudahnya.
B. Karakterisasi Angkatan Pujangga Baru
Di
dalam Angkatan Pujangga Baru berkumpul sekelompok pengarang yang memiliki
berbagai keanekaragaman Berlainan halnya dengan Angkatan Balai Pustaka, yang
sebagian besar pengarangnya berasal dari satu lingkungan daerah dan dari satu
lingkungan keyakinan hidup.
Walaupun
para pengarang Pujangga Baru memiliki suatu kenekaragaman, mereka merupakan
suatu angkatan karena mereka terikat oleh satu cita- cita yang sama yang hendak
mereka perjuangkan. Mereka semuanya bercita- cita hendak membentuk kebudayaan
baru, kebudayaan persatuan kebangsaan Indonesia.
C. Angkatan 80 dan Pengaruhnya terhadap Pujangga Baru
Angkatan 80 dan Tokh- tokohnya
Pada
tahun 1880 di negeri Belanda tampil
beberapa orang pengarang yang berusaha hendak mengadakan pembaharuan di bidang
kebudayaan. Sesuai dengan tahun munculnya, gerakan itu disebut Gerakan 80 (De
Tachtiger Beweging). Tokoh- tokoh dari gerakan itu ialah Willem Kloos, yacques
Perk, Frederik van Eeden, Albert Verwey, Herman Gorter, dan Lodewyk van
Deyssel. Mereka menerbitkan majalah bernama De Nieuwe Gids artinya Pandu Baru,
yang terbit tahun 1885. Nama itu sebagai pertentangan dengan majalah yang sudah
terbit sebelumnya yang bernama De Gids (Pandu) pada tahun 1840 yang diusahakan
oleh Potgieter, Busken Heut, dan Vosmaer. De Gids dapat dipandang sebagai
jembatan antara sastra pendeta (sastra domine) dengan sastra Angkatan 80.
Angkatan 80 bertentangan dengan sastra pendeta yang dipandang sebagai sastra
yang bersifat lamban.
D. Pujangga Baru sebagai Aliran Kebudayaan
Seperti
kita keahui, bahwa pengarang – pengarang Pujangga Baru merupakan satu angkatan
dan memungkinkan mereka bekerja sama karena mereka terikat oleh satu cita- cita
yang sama, yaitu cita- cita hendak membangun kebudayaan baru dan dinamis,
kebudayaan persatuan kebangsaan Indonesia.Akan tetapi, tentang rupa (wujud)
kebudayaan baru itu dan bagaimana cara mendirikannya antara yang seorang
berbeda dengan yang lain. Cita- cita mereka sama, tetapi bagaimana mewujudkan
cita- cita itu mereka berebeda- beda. Perbedaan itu tmpak jelas pada sikap dan
pendirian dari tiga tokoh Pujangga Baru, yaitu S. Takdir Alisjahbana, Sanusi
Pane, dan Amrin Pane.
E.
Asas Seni pada Pujangga Baru
Masalah
yang dipersoalkan ialah tentang seni bertendens dan seni untuk seni (I’art pour
I’art). Ada pengarang Pujangga Baru yang condong pada asas seni bertendens dan
ada pula yang sebaliknya.
Asas
seni bertendens mksudnya mencipta seni dengan suatu tujuan tertentu. Keindahan
cipta seni itu menjadi alat untuk mencapai tujuan tersebut. Asas seni untuk
seni memandang tujuan pokok penciptaan seni ialah keindahan. Keindahan menjadi
tujuan, bukan alat. Apakah seni tersebut dimengerti oleh masyarakat, berguna
atau tidak bagi masyarakat , tidak menjadi soal. Seni bersifat otonom, ukuran-
ukuran di luar seni tidak dapat dipergunakan untuk menilai suatu karya seni.
Kehidupan seni terpisah dari kehidupan masyarakat.
Bagaimana
asas seni yang baik dan tepat bagi pembentukan kebudayaan Indonesia yang baru,
para pengarang Pujangga Baru berbeda- beda pendapat.
F. Para Pengarang Pujangga Baru
Di
dalam buku antologinya yang berjudul Pujangga Baru, Prosa dan Puisi, H.B.
Jassin telah mencoba mengumpulkan beberapa tulisan dari para pengarang yang dipandangnya sebagai pengarang Pujangga
Baru. Kecuali lima tokoh penting Pujangga Baru seperti STA, Amir Hamzah, Sanusi
Pane , dan Moh. Yamin, terdapat nama – nama pengarang M.Taslim Ali, Sutomo
Jauhar Arifin, L.K. Bohang, M.R. Dayoh, Hamidah, Rustam Effendi, Asmara Hadi,
A. Hasymy, Mozasa, Suman Hs,Yogi, dan lain- lain.
Bila
deretan nama pengarang itu kita bandingkan dengan nama- nama pengarang itu kita
badingkan dengan nama- nama pengarang dalam penggolongan yang di lakukan oleh
Teeuw dalam bukunya Pokok dan Tokoh dalam
Kessatraan Indonesia Baru, maka terdapat
beberapa perbedaan. Hamidah, I
Gusti Nyoman Panji Tisna, Suman Hs, yang oleh Teeuw digolongkan ke dalam
pengarang Balai Pustaka, oleh Jassin dimasukkan sebagai pengarang Pujangga Baru. Perbedaan ini kemungkinan
disebabkan Teeuw mempergunakan ukuran- ukuran yang keras dan menilai hasil-
hasil karangan ketiga pengarang tersebut belum jelas membawakan aspirasi
pembaharuan. Memang setiap penggolongan pada umumnya tidak bersifat mutlak.
Perbedaan pendapat selalu mungkin terjadi, terutama pada hal- hal yang ada di
batas penggolongan.
(7) Sastra Periode Tahun
’30 Di Luar Pujangga Baru
A.Teeuw
membagi satra Indonesia sebelum perang menjadi tiga golongan, yaitu :
(1)
sastra hasil Pujangga Baru,
(2)
sastra penerbitan Balai Pustaka, dan
(3)
sastra berupa seri cerita- ceita roman.
Batas antara ketiga golongan itu
tidak jelas benar, masing- masing saling melengkapi satu dengan yang lain.
Walaupun karya Suman H.S. sebagian masuk golongan satu, setengahnya masuk
golongan tiga. Demikian pula Hamka, sebagai pengarang ia jarang dimasukkan ke
dalam golongan satu atau dua karena hasil sastranya sebagian besar
penerbitannya melaui golongan tiga, tetapi karangan- karangannya sebagian
bersifat sastra golongan dua.
Sastra periode tahun 1930 di
luar Pujangga Baru umumnya berupa seri cerita- cerita roman yang diterbitkan di
kota- kota besar, seperti semarang, Padang, Solo, Surabaya, dan yang terutama
ialah Medan. Oleh karena itu, sering disebut juga sastra penerbitan Medan.
Seri cerita – cerita roman
adalah penerbitan roman atau novel berjilid- jilid dalam suatu seri dengan nama
bermacam- macam , misalnya Seri Roman Indonesia di Padang, Dunia Pengalaman ,
dan Lukisan Pujangga di Medan, Seri Suasana Baru, Seri Kejora, Seri Panorama,
dan lain- lain.
Tidak semua penerbitan seri
cerita roman berupa roman picisan, walaupun sebagian besar memang nilai
sastranya kurang. Demikian pula seorang pengarang yang telah banyak menulis
cerita yang dinilai sebagai roman picisan, tidak berarti bahwa semua karangannya
tidak ada yang bernilai sastra. Hal ini perlu ditegaskan untuk menghindari
penilaian yang kurang tepat tentang diri seorang pengarang dan hasil
karangannya.
Seorang pengarang yang penting
di luar sastra golongan satu dan dua, dan yang hasil sastranya mempunyai
kedudukan penting dalam sejarah sastra Indonesia ialah Hamka.
(8) SASTRAINDONESIA DI MASA JEPANG
A. Situasi Sastra
Indonesia di Masa Jepang
Menilik
jangka waktunya sebenarnya sastra Indonesia di masa Jepang kurang penting untuk
dibicarakan tersendiri.Sastra Indonesia
di masa Jepang berlangsung hanya _+ 3,5 tahun; waktu yang amat singkat
bagi pertumbuhan suatu kebudayaan. Akan tetapi, dilihat dari peranan sastra
masa itu bagi perkembangan selanjutnya, maka sastra Indonesia di masa Jepang
perlu diberi tempat tersendiri dalam sejarah sastra Indonesia. Jassin msenganggap
bahwa zaman jepang adalah masa pemasakan jiwa revolusi, yang kemudian meletus
pada tanggal 17 Agustus 1945. Dilihat dari pertumbuhan kebudayaan Indonesia,
zaman Jepang adalah penempatan pengalaman hidup dengan berbagai penderitaan
sehingga memungkinkan timbulnya keragaman dan kedewasaan sastra kemudian.
B. Karakterisasi Sastra di Masa Jepang
Pada bagian terdahulu sudah
dibicarakan, bahwa sastra zaman jepang memiliki corak yang beraneka ragam. Pada
dasarnya ada dua acam sastra pada waktu itu: (1) sastra yang tersiar dan (2)
sastra yang tersimpan.
Sastra yang tersiar maksudnya
sastra yang berhasil disiarkan, baik melalui majalah maupun mealui penerbitan
tersendiri, sesudah mengalami sensor pemerintah. Sastra yang tersimpan ialah
sastra yang ditulis pada masa itu, tetapi baru disiarkan sesudah Proklamasi
Kemerdekaan 1945, misalnya beberapa sketsa(lukisan) Idrus dalam Corat- Coret di Bawah Tanah. Corak dua
macam sastra tersebut sangat berbeda bahkan sering tampak bertentangan. Selain
itu, tiap maca sastra itu pun masing- masing memiliki variasi tersendiri.
C. Pengarang dan Hasil Karangannya
Buku sumber tentang sastra di
masa Jepang tidak banyak. Satu antologi yang berharga, terutama dari segi dokumentasi
sastra ialah Kesusastraan Indonesia di
Masa Jepang, yang disusun oleh H.B.
jassin. Kita dapat memeperoleh bahan tentang pengarang- pengarang masa Jepang
dan hasil karangannya terutama dari antologi tersebut. Disamping itu, H.B.
Jassin juga menyusun suatu antologi lain yang berjudul Gema Tanah Air, Prosa dan Puisi 1942- 1948, yang di dalamnya
termuat juga beberapa hasil karangan yang ditulis di masa Jepang.
(9) SASTRA PERIODE TAHUN’45
Periode
tahun 1945 mencakup masa perkembangan sastra Indonesia dari tahun 1945 sampai sekitar tahun 1950.
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 mempunyai
pengaruh besar sekai bagi kebudayaan indonesia, termasuk kehidupan dan
perkembangan sastra. Bahasa Indonesia yang berkembang pesat pada masa Jepang,
yang sudah dipergunakan sebagai media
dalam segala keperluan hidup pada masa itu, sesudah proklamasi kemerdekaan
ditetapkan sebagai bahasa resmi negara Republik Indonesia.Persentuhannya dengan
kebudayaan bangsa lain dan dengan kemajuan teknologi modern makin memperkaya
perkembangan bahasa Indonesia. Dengan demikian, sebagai media pengungkapan
sastra, bahasa Indonesia memiliki potensi dan kemampuan yang makin bertambah
besar.
Sikap para pengarang dan seniman
tentang kebudayaan Indonesia berbeda dengan masa sebelum proklamasi. Mereka
memandang perkembangan kebudayaan Indonesia dari horizon yang lebih luas.
Kemerdekaan telah memberikan kebebasan bagi mereka untuk mengadakan orientasi
pada perkembangan sastra dunia, baik Barat maupun Timur.
Pada mulanya konsepsi dan
pandangan tentang masalah kebudayaan hampir bersamaan, tetapi beberapa tahun
kemudian timbul perbedaan- perbedaan. Walaupun perbedaan- perbedaan tersebut
menjadi jelas dan tajam sesudah tahun 50- an, benihnya sudah tumbuh beberapa
tahun sesudah kemerdekaan. Itulah sebabnya, periode tahun 1945 kami bedakan
atas dua corak, yaitu :
(1) Angkatan
45
(2) Sastra
di luar Angkatan 45
Kehidupan sastra di luar
Angkatan 45 tidak dibicarakan secara khusus. Sastra di luar Angkatan 45
meliputi kegiatan sastra para pengarang angkatan- angkatan sebelumnya yang
tetap menulis pada sekitar 1945, seperti Nur Sutan Iskandar, Sutan Takdir
Alisjahbana, dan lain- lain. Disamping itu, termasuk dalam kelompok tersebut
para pengarang yang kemudian menolak eksistensi dan konsepsi Angkatan 45
seperti pengarang- pengarang Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Seperti juga
pada setiap pembagian yang terdahulu maka batas- batas antara dua corak itu
tidak tegas benar. Pembagian itu lebih bersifat menjelaskan, bahwa tidak semua
pengarang dan seniman mendukung konsepi dan ide Angkatan 45.

0 komentar:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.