Home » , » Tugas Teori sastra

Tugas Teori sastra

Written By Berbagi ide muda Berkarya on Jun 26, 2013 | 12:08 AM

             UNSUR INTRINSIK DALAM CERPEN DONGENG KEMATIAN
                                        KARYA SULE SUBAWEH
  PENDEKATAN STRUKTURALISME
                          UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
                 TEORI SASTRA
     DOSEN PENGAMPU: Dr.Rina Ratih Sri Sudaryani,M.Hum
Disusun oleh:
Angga Aprinasta Putra           12003179
Edi Teguh Mulyanto               12003177
Hidayat Nur Septiadi              12003160
Nawan Effendy                       12003143
Arya Pambudi                         12003153



PENDIKIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN YOGYAKARTA 2012/2013
Daftar Isi

                                                                                               
A                                                                                
1.1  Latar Belakang        ..................................................3                             
1.2  Rumusan masalah    ..................................................4                                        
1.3  Tujuan                      ..................................................4
1.4   Kajian Teori            ..................................................4                                                    

B                                                                                            
Pembahasan                                                 
            2.1 Sinopsis Cerpen.................................................12
            2.2 Tema                ................................ ................. 9
2.3 Perwatakan Tokoh ................................ ........... 9
            2.5 Setting            ................................ ................. 10
            2.6 Amanat           ................................ .................10

C                                                                    
            Penutup
            3.1 Kesimpulan     ................................ .................11

            Daftar Pustaka











PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Karya sastra selalu berisi pemikiran, gagasan, kisah-kisah dan amanat yang di komunikasikan kepada para pembaca. Di dalam karya sastra di lukiskan keadaan dan kehidupan sosial suatu masyarakat, peristiwa-peristiwa, ide, dan gagasan, serta nilai- nilai yang di amanatkan pencipta lewat tokoh- tokoh  cerita.Sastra mempersoalkan manusia dalam berbagai aspek kehidupannya,sehingga karya sastra berguna untuk mengenal manusia, kebudayaan serta zamannya. Dalam perkembangan  sastra di Indonesia sangat erat kaitannya dengan kebudayaan yang dianut oleh sastrawan yang berhasil membuat karya sastra lebih terpandang di masyarakat terutama cerpen.
Dalam penelitian karya sastra, analisis atau pendekatan obyektif terhadap unsur- unsur intrinsik atau struktur karya sastra merupakan tahap awal untuk meneliti karya sastra sebelum memasuki penelitian lebih lanjut (Damono,1984:2).Pendekatan struktural ini membatasi diri pada penelaahan karya sastra itu sendiri, terlepas dari soal pengarang dan pembaca. Dalam hal ini kritikus memandang karya sastra sebagai kebulatan makna akibat perpaduan visi dengan pemanfaatan bahasa sebagai alatnya.Dengan kata lain pendekatan ini memandang dan menelaah sastra dari segi intrinsik yang membangun sebuah karya sastra yaitu tema,alur, tokoh, latar, dan gaya bahasa.
Perpaduan yang harmonis antara bentuk dan isi merupakan kemungkinan kuat untuk menghasilkan sastra yang bermutu (Semi, 1990: 44-45 ). Pendekatan struktural menurut Teeuw(1984) adalah pendekatan struktural bertujuan membongkar dan memaparkan secermat mungkin keterkaitan unsur- unsur karya sastra yang membentuk makna menyeluruh (universal ).
Dalam konsep Rene Wellek dan Austin Warren di dalam buku Teori Kesusastraan di  pelajari mengenai karya sastra yang memuat unsur intrinsik dan ekstrensik. Unsur intrinsik dipahami sebagai unsur pembangun yang berada di dalam teks sastra. Menurut Rene Wellek dan Austin Warren unsur intrinsik itu diantaranya alur,tokoh, latar. Sebenarnya masih banyak bagian lain, yang dapat diposisikan sebagai unsur instrinsik seperti adanya sudut pandang pengarang, amanat, dan gaya bahasa.
Unsur- unsur intrinsik adalah unsur – unsur yang membangun karya sastra yang dapat ditemukan dalam teks karya sastra itu sendiri. Hal ini didasarkan pada pandangan bahwa suatu karya sastra menciptakan dunianya sendiri yang berbeda dari dunia nyata.
Berdasarkan dalam makalah ini, kami akan meganalisis Cerpen Dongeng kematian karya Sule Subaweh,edisi Minggu Kliwon,20 Mei 2013 Surat Kabar Kedaulatan Rakyat, menggunakan pendekatan obyektif/strukturalisme. Analisis pendekatan strukturalisme ini bertujuan memberikan perhatian yang penuh pada karya sastra yang bersistem unsur karya sastra yang satu dengan yang lain saling berterkaitan, menghasilkan sebuah kemenyuluruhan.

1.2 Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan maka dapat di rumuskan permasalahan sebagai berikut:
            1.Apa tema yang terdapat dalam cerpen dongeng kematian ?
            2.Bagaimana analisis perwatakan tokoh yang terdapat dalam cerpen dongeng kematian?
            3.Bagaimana Pendeskripsian setting yang terdapat dalam cerpen dongeng kematian ?
            4.Apa  amanat yang terdapat dalam cerpen dongeng kematian ?

1.3 Tujuan
            Analisis ini bertujuan sebagai berikut:
            1.Untuk mengetahui tema apa yang terdapat dalam cerpen dongeng kematian tersebut.
            2.Untuk mengetahui perwatakan tokoh yang terdapat dalam cerpen dongeng kematian tersebut.
            3.Untuk mengetahui bagaimana pendeskripsian setting yang terdapat dalam cerpen dongeng kematian tersebut.
            4. Untuk mengetahui pesan/amanat yang terdapat dalam cerpen dongeng kematian tersebut.

1.4  Kajian Teori
Menurut Teori Aristoteles, pendekatan strukturalisme yaitu pendekatan yang menekankan karya sastra sebagai struktur yang sedikit banyaknya bersifat otonom. Pendekatan obyektif sesungguhnya sama tuanya di dunia barat dengan puitik sebagai cabang ilmu pengetahuan. Aristoteles dalam bukunya yang berjudul Poetika, yang ditulis di sekitar tahun 340 sebelum Masehi di Athena,meletakkan dasar yang kuat untuk pandangan yang menganggap karya sastra sebagai struktur yang otonom. Jenis sastra yang terdapat dalam poetikaAristoteles, yaitu struktur karya sastra di bicarakannya dalam rangka pembahasan tragedi, khususnya dalam pasal-pasal mengenai plot. Menurut Pandangan Aristoteles dalam tragedi action, tindakan, bukan character, watak, yang terpenting, efek tragedi di hasilkan oleh aksi plotnya, dan untuk menghasilkan efek tragedi dihasilkan oleh aksi plot harus mempunyai keseluruhan.
       Pendekatan struktural merupakan pendekatan intrinsik, yakni membicarakan karya tersebut pada unsur- unsur yang membangun karya sastra dari dalam Pendekatan tersebut meneliti karya sastra sebagai karya yang otonom dan terlepas dari latar belakang sosial, sejarah, biografi pengarang dan segala hal yang ada di luar karya sastra (Satoto,1993:32). Pendekatan struktural berangkat dari pandangan kaum strukturalisme yang menganggap karya sastra sebagai struktur yang unsurnya terjalin secara erat dan berhubungan antara satu dan lainnya.
Asal usul strukturalis dapat dilacak dengan Poetica Aristoteles, dalam kaitannya dengan tragedi, lebih khusus lagi dalam pembicaraannya mengenai plot. Plot memiliki ciri-ciri: kesatuan, keseluruhan, kebulatan, dan keterjalinan (Teeuw, 1988: 121-134).

1.5 Sejarah Pengembangan Teori
Teori strukturalisme memiliki latar belakang sejarah evolusi yang cukup panjang  dan berkembang secara dinamis.Strukturalisme menentang teori mimetik  yang berpandangan bahwa karya sastra adalah tiruan kenyataan. Teori ekspresif yang menganggap sastra pertama-tama sebagai ungkapan perasaan dan watak pengarang, dan menentang teori-teori yang dianggap sastra sebagai media komunikasi antara pengarang dan pembacanya.                                  
 Teori strukturalisme yang dikembangkan oleh Ferdinand de Sausessure, yang memunculkan konsep bentuk dan makna ( sign and meaning).
       a.    Strukturalisme Formalis
Istilah Formalisme (dari kata Latin forma yang berarti bentuk, wujud) berarti cara pendekatan dalam ilmu dan kritik sastra yang mengesampingkan data biografis, psikologis, ideologis, sosiologis dan mengarahkan perhatian pada bentuk karya sastra itu sendiri. Istilah Strukturalisme acap kali digunakan pula untuk menyebut model pendekatan ini karena mereka memandang karya sastra sebagai suatu keseluruhan struktur yang utuh dan otonom berdasarkan paradigma struktur kebahasaannya.
Tokoh; Kaum Formalis Rusia tahun 1915-1930 dengan tokoh-tokohnya seperti Roman Jakobson, Rene Wellek,Sjklovsky, Eichenhaum, dan Tynjanov .Rene Wellek dan Roman Jakobson beremigrasi ke Amerika Serikat .
      b.     Strukturalisme Dinamik
Secara Etimologis struktur berasal dari kata Structure, bahasa latin yang berarti bentuk atau bangunan. Struktur berasal dari kataStructura (Latin) = bentuk, bangunan (kata benda). System (Latin)= cara (kata kerja). Asal usul strukturalis dapat dilacak dengan Poetica Aristoteles, dalam kaitannya dengan tragedi, lebih khusus lagi dalam pembicaraannya mengenai plot. Plot memiliki ciri-ciri: kesatuan, keseluruhan, kebulatan, dan keterjalinan (Teeuw, 1988: 121-134).
Menurut Mukarovsky dalam (Rene Wellek, 1970: 275-276), sejarah Strukturalisme mulai diperkenalkan tahun 1934, tidak menggunakan nama metode atau teori sebab di satu pihak, teori berarti bidang ilmu pengetahuan tertentu, di pihak yang lain, metode berarti prosedur ilmiah yang relatif  baik. Sebagai sudut pandang epistemologi, sebagian sistem tertentu dengan mekanisme antar hubungannya.
      c.   Strukrutalisme Genetik
Merupakan jembatan penghubung antara teori struktural formalis dan teori semiotik.
Struktural Dinamik menekankan pada struktur, tanda, dan realitas.
     Tokoh-tokohnya : Julia Cristeva dan Roland Bartes (Strukturalisme Prancis)
Menurut Jan Van Luxemburg (1986: 38) struktur yang dimaksudkan, mengandung pengertian relasi timbal balik antara bagian-bagiannya dan antara keseluruhannya.
Struktur karya sastra (fiksi) terdiri atas unsur unsur alur, penokohan, tema, latar dan amanat sebagai unsur yang paling menunjang dan paling dominan dalam membangun karya sastra (fiksi) (Sumardjo, 1991:54).
1. Alur (plot)
Dalam sebuah karya sastra (fiksi) berbagai peristiwa disajikan dalam urutan tertentu (Sudjiman, 1992: 19). Peristiwa yang diurutkan dalam menbangun cerita itu disebut dengan alur (plot). Plot merupakan unsur fiksi yang paling penting karena kejelasan plot merupakan kejelasan tentang keterkaitan antara peristiwa yang dikisahkan secara linier dan kronologis akan mempermudah pemahaman kita terhadap cerita yang ditampilkan.
Masih mengenai alur (plot), secara estern Mursal (1990: 26) merumuskan bahwa alur        bisa bermacam- macam seperti berikut :
a. Alur maju (konvensional Progresif ) adalah teknik pengaluran dimana jalan peristiwa  dimulai dari melukiskan keadaan hingga penyelesaian.
b. Alur mundur  (Flash back, sorot balik, regresif), adalah teknik pengaluran dan menetapkan peristiwa dimulai dari penyelesaian kemudian ke titik puncak sampai melukiskan keeadaan.
c. Alur tarik balik (back tracking), yaitu teknik pengaluran di mana jalan cerita peristiwanya tetap maju, hanya pada tahap-tahap tertentu peristiwa ditarik ke belakang (1990: 26)
Melalui pengaluran tersebut diharapkan pembaca dapat mengetahui urutan-urutan atau kronologis suatu kejadian dalam cerita, sehingga bisa dimengerti maksud cerita secara tepat.

2. Tokoh
            Tokoh menunjuk pada orangnya, pelaku cerita (Nurgiyantoro, 2000: 165).
Penokohan adalah bagaimana pengarang menampilkan tokoh-tokoh dalam ceritanya dan bagaimana tokoh-tokoh tersebut, ini berarti ada dua hal penting, yang pertama berhubungan dengan teknik penyampaian sedangkan yang kedua berhubungan dengan watak atau kepribadian tokot-tokoh tersebut (Suroto, 1989: 92-93).
Watak, perwatakan, dan karakter menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh seperti ditafsirkan oleh pembaca, lebih menunjuk pada kualitas pribadi seorang tokoh (Nurgiyantoro, 2000: 165).
Penokohan atau karakter atau disebut juga perwatakan merupakan cara penggambaran tentang tokoh melalui perilaku dan pencitraan. Panuti Sudjiman mencerikan definisi penokohan adalah penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh (1992: 23).
Hal senada diungkapkan oleh Hasim dalam (Fanani, 1997: 5) bahwa penokohan adalah cara pengarang untuk menampilkan watak para tokoh di dalam sebuah cerita karena tanpa adanya tokoh, sebuah cerita tidak akan terbentuk.

3. Latar (setting)
Latar atau setting adalah sesuatu yang menggambarkan situasi atau keadaan dalam penceritaan. Panuti Sudjiman mengatakan bahwa latar adalah segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang dan suasana (1992:46).
Latar atau setting tidak hanya menyaran pada tempat, hubungan waktu maupun juga menyaran pada lingkungan sosial yang berwujud tatacara, adat istiadat dan nilai-nilai yang berlaku di tempat yang bersangkutan.

a. Latar tempat
    Latar tempat menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Latar tempat tanpa nama biasanya hanya berupa penyebutan jenis dan sifat umum tempat-tempat tertentu misalnya desa, sungai, jalan dan sebagainya. Dalam karya fiksi latar tempat bisa meliputi berbagai lokasi.
b. Latar waktu
Latar waktu menyaran pada kapan terjadinyaperistiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Masalah “kapan” tersebut biasanya dihubungkan dengan waktu faktual, waktu yang ada kaitannya atau dapat dikaitkan dengan sejarah.
c. Latar sosial
    Latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Perilaku itu dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, pandangan hidup, pola pikir dan bersikap. Penandaan latar sosial dapat dilihat dari penggunaan bahasa daerah dan penamaan terhadap diri tokoh.

4. Tema dan amanat
Secara etimologis kata tema berasal dari istilah meaning, yang berhubungan arti, yaitu sesuatu yang lugas, khusus, dan objektif. Sedangkan amanat berasal dari kata significance, yang berurusan dengan makna, yaitu sesuatu yang kias, umum dan subjektif, sehingga harus dilakukan penafsiran.
















PEMBAHASAN

2.1       Sinopsis Cerpen Dongeng Kematian
            Terlampir halaman 12
2.2       Tema
           Tema yang terdapat dalam cerpen dongeng kematian yaitu seseorang yang tak mau bangkit dari keterpurukan hidupnya.
2.3        Tokoh
            Pemuda, Tante, Ani tetangganya
2.4       Perwatakan
1.Pemuda dalam cerpen ini merupakan sosok yang penurut.Terbukti dari beberapa percakapan berikut.
“Ceritakan satu kisah lagi, aku masih belum bisa tidur,”pintanya lemah.
“Iya Tante,Tapi setelah ini langsung tidur ya.”pintanya.Permpuan itu tak menjawab.
2.Tante dalam cerpen ini digambarkan sebagai berikut:
a. baik hati
“Kalau saja da bukan orang yang mengangkatku dari jalanan yang kejam.Kalau saja dia bukan orang yang membiayai semua kebutuhanku dan uang sekolahku sampai kuliah. Tentu aku tidak sudi menerimanya setiap malam hanya untuk membacakan dongeng sebelum tidur,” gumamnya. Dari cuplikan kalimat tersebut digambarkan jelas bahwa tante itu sangat peduli dengan orang lain. Dia tidak memandang apakah pemuda tersebut baik atau tidak,Namun dia tetap mau mengangkat dan membiayai sekolah pemuda tersebut.
b. Seseorang yang playgirls
    Kata orang- orang waktu dia masih muda daya genit sekali. Jika ada pemuda tampan, dia seperti kucing yang sedang mengejar tikus Tom and Jerry. Jika sudah bosan,dicampakkannya laki- laki itu tanpa alasan. Dia dikenal playgirls.Sewaktu muda perempuan tua itu digambarkan sebagai wanita yang genit. Ketika sudah menikahpun perempuan tua itu masih saja mempermainkan laki-laki.Perempuan tua itu juga mencari orang yang bisa memberikan dia anak.
c. Penakut dan Cemas
“Kau tidurlah di kamar ini. Aku takut besok pagi tak bisa melihat matahari terbit.”
Dari kalimat tersebut permpuan tua takut jika dia tidak bisa melihat matahari terbit,ketakutan yang amat sangat yang dirasakan oleh perempuan tua itu.Malam itu dia putuskan untuk tidak memejamkan mata.
“Apakah meninggal itu sakit?”
Perempuan tua itu terus menanyakan perihal kematian dan memiliki pencabut nyawa kepada pemuda. Kecemasan yang menyelimuti hatinya membuat wanita tua itu merasa sedih dan takut.
3.Ani tetangganya
Sesosok yang tahu dengan keadaan perempuan tua tersebut.
    “Tidak hanya itu. Sebelum kau hadir di tengah- tengah mereka.Dia sering mencari orang yang bisa memberikan dia anak. Dia pikir suaminya mandul. Tapi sampai sekarang dia tidak hamil- hamil. Kami sih diam saja.Sebab meskipun kami tetanggaan. Tidak pernah ada tutur sapa atau bergaul bersama kami, sampai sekarang.” lanjutnya.
2.3  Setting
Setting yang digunakan dalam cerpen dongeng kematian karya sule subaweh ini adalah :
di kamar.
“Kau tidurlah di kamar ini”.
Di halaman rumah.
    Setiap pagi dia menyirami bunga di halaman rumahnya
2.5 Amanat
1.      Jangan pernah merasa takut terhadap apapun.
2.      Berlatih menata diri untuk selalu sabar dalam menjalani sebuah kehidupan.
3.      Terutama pada perempuan,janganlah suka mempermainkan lelaki, karena mungkin dari permainannya tersebut akan menimbulkan kesan yang tidak baik bagi si perempuan tersebut.   












PENUTUP

3.1  Kesimpulan

Dari uraian di atas, penulis menyimpulkan bahwa karya sastra selalu berisi pemikiran, gagasan, kisah – kisah dan amanat yang dikomunikasikan kepada para pembaca. Sejarah pengembangan teori Strukturlisme menghasilkan strukturalisme formalis,Struturalisme Dinamik, dan Strukturalisme genetik.
Tokoh perempuan tua tersebut menggambarkan sosok yang penakut dan cemas yang terlarut dalam permasalahannya. Pemuda tersebut membantu mencari jalan keluar permasalahan yang dialami perempuan tua tersebut. Kita harus bangkit dari keterpurukan permasalahan yang selama ini kita alami. Percayalah setiap permasalahan pasti ada jalan keluarnya tinggal bagaimana kita mencari jalan keluar itu sendiri.


      Daftar Pustaka

A.Teeuw.1984.Sastra dan Ilmu sastra.Bandung: Pustaka Jaya.
Subaweh.Sule.26 Mei 2013.Dongeng Kematian.Kedaulatan Rakyat.
Sotoy.Phianz.2010.“ Pendekatan Struktural”.http://phianzsotoy.blogspot.com.
Wakuru.Iwan.2012.“Analisis Pendekatan Struktural”.http://iwanwakuru.blogspot.com
Lap.Lhay. “Teori Strukturalisme Prosa Fiksi”.http://www.slideshare.net/lhaylap.di unduh            tnggal 15 juni 2013
Apora.Pang.2008. “Pendekatan Struktural dalam Penelitian”.http://pangapora07.blogspot.com.di unduh tanggal 15 juni 2013
Unesa.Pasca.2011. “Teori strukturalisme”.http:// pascaunesa2011.blogspot.com


0 komentar:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.