UNSUR INTRINSIK DALAM CERPEN DONGENG
KEMATIAN
KARYA
SULE SUBAWEH
PENDEKATAN
STRUKTURALISME
UNTUK MEMENUHI TUGAS
MATAKULIAH
TEORI
SASTRA
DOSEN
PENGAMPU: Dr.Rina Ratih Sri Sudaryani,M.Hum
Disusun oleh:
Angga Aprinasta Putra 12003179
Edi Teguh Mulyanto 12003177
Hidayat Nur Septiadi 12003160
Nawan Effendy 12003143
Arya Pambudi 12003153
PENDIKIKAN
BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN YOGYAKARTA 2012/2013
Daftar Isi
A
1.1 Latar Belakang
..................................................3
1.2 Rumusan masalah
..................................................4
1.3 Tujuan
..................................................4
1.4 Kajian Teori
..................................................4
B
Pembahasan
2.1 Sinopsis Cerpen.................................................12
2.2 Tema ................................
................. 9
2.3 Perwatakan Tokoh ................................
........... 9
2.5 Setting ................................
................. 10
2.6 Amanat ................................
.................10
C
Penutup
3.1 Kesimpulan ................................
.................11
Daftar
Pustaka
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Karya sastra selalu berisi pemikiran, gagasan,
kisah-kisah dan amanat yang di komunikasikan kepada para pembaca. Di dalam
karya sastra di lukiskan keadaan dan kehidupan sosial suatu masyarakat,
peristiwa-peristiwa, ide, dan gagasan, serta nilai- nilai yang di amanatkan
pencipta lewat tokoh- tokoh
cerita.Sastra mempersoalkan manusia dalam berbagai aspek
kehidupannya,sehingga karya sastra berguna untuk mengenal manusia, kebudayaan
serta zamannya. Dalam perkembangan
sastra di Indonesia sangat erat kaitannya dengan kebudayaan yang dianut
oleh sastrawan yang berhasil membuat karya sastra lebih terpandang di
masyarakat terutama cerpen.
Dalam penelitian karya sastra, analisis atau pendekatan
obyektif terhadap unsur- unsur intrinsik atau struktur karya sastra merupakan
tahap awal untuk meneliti karya sastra sebelum memasuki penelitian lebih lanjut
(Damono,1984:2).Pendekatan struktural ini membatasi diri pada penelaahan karya
sastra itu sendiri, terlepas dari soal pengarang dan pembaca. Dalam hal ini
kritikus memandang karya sastra sebagai kebulatan makna akibat perpaduan visi
dengan pemanfaatan bahasa sebagai alatnya.Dengan kata lain pendekatan ini
memandang dan menelaah sastra dari segi intrinsik yang membangun sebuah karya
sastra yaitu tema,alur, tokoh, latar, dan gaya bahasa.
Perpaduan yang harmonis antara bentuk dan isi merupakan
kemungkinan kuat untuk menghasilkan sastra yang bermutu (Semi, 1990: 44-45 ). Pendekatan
struktural menurut Teeuw(1984) adalah pendekatan struktural bertujuan
membongkar dan memaparkan secermat mungkin keterkaitan unsur- unsur karya
sastra yang membentuk makna menyeluruh (universal ).
Dalam konsep Rene Wellek dan Austin Warren di dalam buku Teori Kesusastraan di pelajari mengenai karya sastra yang memuat
unsur intrinsik dan ekstrensik. Unsur intrinsik dipahami sebagai unsur
pembangun yang berada di dalam teks sastra. Menurut Rene Wellek dan Austin
Warren unsur intrinsik itu diantaranya alur,tokoh, latar. Sebenarnya masih
banyak bagian lain, yang dapat diposisikan sebagai unsur instrinsik seperti
adanya sudut pandang pengarang, amanat, dan gaya bahasa.
Unsur- unsur intrinsik adalah unsur – unsur yang
membangun karya sastra yang dapat ditemukan dalam teks karya sastra itu
sendiri. Hal ini didasarkan pada pandangan bahwa suatu karya sastra menciptakan
dunianya sendiri yang berbeda dari dunia nyata.
Berdasarkan dalam makalah ini, kami akan meganalisis
Cerpen Dongeng kematian karya Sule Subaweh,edisi Minggu Kliwon,20 Mei 2013
Surat Kabar Kedaulatan Rakyat, menggunakan pendekatan obyektif/strukturalisme.
Analisis pendekatan strukturalisme ini bertujuan memberikan perhatian yang penuh
pada karya sastra yang bersistem unsur karya sastra yang satu dengan yang lain
saling berterkaitan, menghasilkan sebuah kemenyuluruhan.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang yang telah disampaikan maka dapat di rumuskan permasalahan
sebagai berikut:
1.Apa
tema yang terdapat dalam cerpen dongeng kematian ?
2.Bagaimana
analisis perwatakan tokoh yang terdapat dalam cerpen dongeng kematian?
3.Bagaimana
Pendeskripsian setting yang terdapat dalam cerpen dongeng kematian ?
4.Apa amanat yang terdapat dalam cerpen dongeng
kematian ?
1.3 Tujuan
Analisis
ini bertujuan sebagai berikut:
1.Untuk
mengetahui tema apa yang terdapat dalam cerpen dongeng kematian tersebut.
2.Untuk
mengetahui perwatakan tokoh yang terdapat dalam cerpen dongeng kematian
tersebut.
3.Untuk
mengetahui bagaimana pendeskripsian setting yang terdapat dalam cerpen dongeng
kematian tersebut.
4. Untuk
mengetahui pesan/amanat yang terdapat dalam cerpen dongeng kematian tersebut.
1.4 Kajian Teori
Menurut Teori
Aristoteles, pendekatan strukturalisme yaitu pendekatan yang menekankan karya
sastra sebagai struktur yang sedikit banyaknya bersifat otonom. Pendekatan
obyektif sesungguhnya sama tuanya di dunia barat dengan puitik sebagai cabang
ilmu pengetahuan. Aristoteles dalam bukunya yang berjudul Poetika, yang ditulis di sekitar tahun 340 sebelum Masehi di
Athena,meletakkan dasar yang kuat untuk pandangan yang menganggap karya sastra
sebagai struktur yang otonom. Jenis sastra yang terdapat dalam poetikaAristoteles, yaitu struktur
karya sastra di bicarakannya dalam rangka pembahasan tragedi, khususnya dalam
pasal-pasal mengenai plot. Menurut Pandangan Aristoteles dalam tragedi action,
tindakan, bukan character, watak, yang terpenting, efek tragedi di hasilkan
oleh aksi plotnya, dan untuk menghasilkan efek tragedi dihasilkan oleh aksi plot
harus mempunyai keseluruhan.
Pendekatan struktural merupakan
pendekatan intrinsik, yakni membicarakan karya tersebut pada unsur- unsur yang
membangun karya sastra dari dalam Pendekatan tersebut meneliti karya sastra
sebagai karya yang otonom dan terlepas dari latar belakang sosial, sejarah,
biografi pengarang dan segala hal yang ada di luar karya sastra
(Satoto,1993:32). Pendekatan struktural berangkat dari pandangan kaum
strukturalisme yang menganggap karya sastra sebagai struktur yang unsurnya
terjalin secara erat dan berhubungan antara satu dan lainnya.
Asal usul
strukturalis dapat dilacak dengan Poetica Aristoteles, dalam kaitannya dengan
tragedi, lebih khusus lagi dalam pembicaraannya mengenai plot. Plot memiliki
ciri-ciri: kesatuan, keseluruhan, kebulatan, dan keterjalinan (Teeuw, 1988:
121-134).
1.5 Sejarah
Pengembangan Teori
Teori
strukturalisme memiliki latar belakang sejarah evolusi yang cukup panjang dan berkembang secara dinamis.Strukturalisme
menentang teori mimetik yang
berpandangan bahwa karya sastra adalah tiruan kenyataan. Teori ekspresif yang
menganggap sastra pertama-tama sebagai ungkapan perasaan dan watak pengarang,
dan menentang teori-teori yang dianggap sastra sebagai media komunikasi antara
pengarang dan pembacanya.
Teori strukturalisme yang dikembangkan oleh
Ferdinand de Sausessure, yang memunculkan konsep bentuk dan makna ( sign and
meaning).
a. Strukturalisme Formalis
Istilah
Formalisme (dari kata Latin forma yang berarti bentuk, wujud) berarti cara
pendekatan dalam ilmu dan kritik sastra yang mengesampingkan data biografis,
psikologis, ideologis, sosiologis dan mengarahkan perhatian pada bentuk karya
sastra itu sendiri. Istilah Strukturalisme acap kali digunakan pula untuk
menyebut model pendekatan ini karena mereka memandang karya sastra sebagai
suatu keseluruhan struktur yang utuh dan otonom berdasarkan paradigma struktur
kebahasaannya.
Tokoh;
Kaum Formalis Rusia tahun 1915-1930 dengan tokoh-tokohnya seperti Roman
Jakobson, Rene Wellek,Sjklovsky, Eichenhaum, dan Tynjanov .Rene Wellek dan
Roman Jakobson beremigrasi ke Amerika Serikat .
b. Strukturalisme Dinamik
Secara Etimologis
struktur berasal dari kata Structure, bahasa latin yang berarti bentuk atau
bangunan. Struktur berasal dari kataStructura (Latin) = bentuk, bangunan (kata
benda). System (Latin)= cara (kata kerja). Asal usul strukturalis dapat dilacak
dengan Poetica Aristoteles, dalam kaitannya dengan tragedi, lebih khusus lagi
dalam pembicaraannya mengenai plot. Plot memiliki ciri-ciri: kesatuan,
keseluruhan, kebulatan, dan keterjalinan (Teeuw, 1988: 121-134).
Menurut Mukarovsky
dalam (Rene Wellek, 1970: 275-276), sejarah Strukturalisme mulai diperkenalkan
tahun 1934, tidak menggunakan nama metode atau teori sebab di satu pihak, teori
berarti bidang ilmu pengetahuan tertentu, di pihak yang lain, metode berarti
prosedur ilmiah yang relatif baik.
Sebagai sudut pandang epistemologi, sebagian sistem tertentu dengan mekanisme
antar hubungannya.
c. Strukrutalisme Genetik
Merupakan jembatan
penghubung antara teori struktural formalis dan teori semiotik.
Struktural Dinamik menekankan pada struktur, tanda, dan
realitas.
Tokoh-tokohnya
: Julia Cristeva dan Roland Bartes (Strukturalisme Prancis)
Menurut Jan Van Luxemburg (1986: 38) struktur yang
dimaksudkan, mengandung pengertian relasi timbal balik antara bagian-bagiannya
dan antara keseluruhannya.
Struktur karya sastra (fiksi) terdiri atas unsur unsur
alur, penokohan, tema, latar dan amanat sebagai unsur yang paling menunjang dan
paling dominan dalam membangun karya sastra (fiksi) (Sumardjo, 1991:54).
1. Alur (plot)
Dalam sebuah karya
sastra (fiksi) berbagai peristiwa disajikan dalam urutan tertentu (Sudjiman,
1992: 19). Peristiwa yang diurutkan dalam menbangun cerita itu disebut dengan
alur (plot). Plot merupakan unsur fiksi yang paling penting karena kejelasan
plot merupakan kejelasan tentang keterkaitan antara peristiwa yang dikisahkan
secara linier dan kronologis akan mempermudah pemahaman kita terhadap cerita
yang ditampilkan.
Masih mengenai alur (plot), secara estern Mursal (1990:
26) merumuskan bahwa alur bisa
bermacam- macam seperti berikut :
a. Alur maju
(konvensional Progresif ) adalah teknik pengaluran dimana jalan peristiwa dimulai dari melukiskan keadaan hingga
penyelesaian.
b. Alur mundur (Flash back, sorot balik, regresif), adalah
teknik pengaluran dan menetapkan peristiwa dimulai dari penyelesaian kemudian
ke titik puncak sampai melukiskan keeadaan.
c. Alur tarik balik
(back tracking), yaitu teknik pengaluran di mana jalan cerita peristiwanya
tetap maju, hanya pada tahap-tahap tertentu peristiwa ditarik ke belakang
(1990: 26)
Melalui pengaluran
tersebut diharapkan pembaca dapat mengetahui urutan-urutan atau kronologis
suatu kejadian dalam cerita, sehingga bisa dimengerti maksud cerita secara
tepat.
2. Tokoh
Tokoh
menunjuk pada orangnya, pelaku cerita (Nurgiyantoro, 2000: 165).
Penokohan adalah bagaimana pengarang menampilkan
tokoh-tokoh dalam ceritanya dan bagaimana tokoh-tokoh tersebut, ini berarti ada
dua hal penting, yang pertama berhubungan dengan teknik penyampaian sedangkan
yang kedua berhubungan dengan watak atau kepribadian tokot-tokoh tersebut
(Suroto, 1989: 92-93).
Watak, perwatakan,
dan karakter menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh seperti ditafsirkan oleh
pembaca, lebih menunjuk pada kualitas pribadi seorang tokoh (Nurgiyantoro,
2000: 165).
Penokohan atau
karakter atau disebut juga perwatakan merupakan cara penggambaran tentang tokoh
melalui perilaku dan pencitraan. Panuti Sudjiman mencerikan definisi penokohan
adalah penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh (1992: 23).
Hal senada
diungkapkan oleh Hasim dalam (Fanani, 1997: 5) bahwa penokohan adalah cara
pengarang untuk menampilkan watak para tokoh di dalam sebuah cerita karena
tanpa adanya tokoh, sebuah cerita tidak akan terbentuk.
3. Latar (setting)
Latar atau setting
adalah sesuatu yang menggambarkan situasi atau keadaan dalam penceritaan.
Panuti Sudjiman mengatakan bahwa latar adalah segala keterangan, petunjuk,
pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang dan suasana (1992:46).
Latar atau setting
tidak hanya menyaran pada tempat, hubungan waktu maupun juga menyaran pada
lingkungan sosial yang berwujud tatacara, adat istiadat dan nilai-nilai yang
berlaku di tempat yang bersangkutan.
a. Latar tempat
Latar tempat menyaran pada lokasi
terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Latar tempat
tanpa nama biasanya hanya berupa penyebutan jenis dan sifat umum tempat-tempat
tertentu misalnya desa, sungai, jalan dan sebagainya. Dalam karya fiksi latar
tempat bisa meliputi berbagai lokasi.
b. Latar waktu
Latar waktu
menyaran pada kapan terjadinyaperistiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah
karya fiksi. Masalah “kapan” tersebut biasanya dihubungkan dengan waktu
faktual, waktu yang ada kaitannya atau dapat dikaitkan dengan sejarah.
c. Latar sosial
Latar sosial menyaran pada hal-hal yang
berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang
diceritakan dalam karya fiksi. Perilaku itu dapat berupa kebiasaan hidup, adat
istiadat, tradisi, pandangan hidup, pola pikir dan bersikap. Penandaan latar
sosial dapat dilihat dari penggunaan bahasa daerah dan penamaan terhadap diri
tokoh.
4. Tema dan amanat
Secara etimologis
kata tema berasal dari istilah meaning, yang berhubungan arti, yaitu sesuatu
yang lugas, khusus, dan objektif. Sedangkan amanat berasal dari kata significance,
yang berurusan dengan makna, yaitu sesuatu yang kias, umum dan subjektif,
sehingga harus dilakukan penafsiran.
PEMBAHASAN
2.1 Sinopsis
Cerpen Dongeng Kematian
Terlampir
halaman 12
2.2 Tema
Tema yang terdapat dalam cerpen dongeng
kematian yaitu seseorang yang tak mau bangkit dari keterpurukan hidupnya.
2.3 Tokoh
Pemuda,
Tante, Ani tetangganya
2.4 Perwatakan
1.Pemuda dalam cerpen ini merupakan sosok yang
penurut.Terbukti dari beberapa percakapan berikut.
“Ceritakan satu kisah lagi, aku masih belum bisa
tidur,”pintanya lemah.
“Iya Tante,Tapi setelah ini langsung tidur
ya.”pintanya.Permpuan itu tak menjawab.
2.Tante dalam cerpen ini digambarkan sebagai berikut:
a. baik hati
“Kalau saja da bukan orang yang mengangkatku dari jalanan
yang kejam.Kalau saja dia bukan orang yang membiayai semua kebutuhanku dan uang
sekolahku sampai kuliah. Tentu aku tidak sudi menerimanya setiap malam hanya
untuk membacakan dongeng sebelum tidur,” gumamnya. Dari cuplikan kalimat tersebut
digambarkan jelas bahwa tante itu sangat peduli dengan orang lain. Dia tidak
memandang apakah pemuda tersebut baik atau tidak,Namun dia tetap mau mengangkat
dan membiayai sekolah pemuda tersebut.
b. Seseorang yang playgirls
Kata orang-
orang waktu dia masih muda daya genit sekali. Jika ada pemuda tampan, dia
seperti kucing yang sedang mengejar tikus Tom and Jerry. Jika sudah
bosan,dicampakkannya laki- laki itu tanpa alasan. Dia dikenal playgirls.Sewaktu
muda perempuan tua itu digambarkan sebagai wanita yang genit. Ketika sudah
menikahpun perempuan tua itu masih saja mempermainkan laki-laki.Perempuan tua
itu juga mencari orang yang bisa memberikan dia anak.
c. Penakut dan Cemas
“Kau tidurlah di kamar ini. Aku takut besok pagi tak bisa
melihat matahari terbit.”
Dari kalimat tersebut permpuan tua takut jika dia tidak
bisa melihat matahari terbit,ketakutan yang amat sangat yang dirasakan oleh
perempuan tua itu.Malam itu dia putuskan untuk tidak memejamkan mata.
“Apakah meninggal itu sakit?”
Perempuan tua itu terus menanyakan perihal kematian dan
memiliki pencabut nyawa kepada pemuda. Kecemasan yang menyelimuti hatinya
membuat wanita tua itu merasa sedih dan takut.
3.Ani tetangganya
Sesosok yang tahu dengan keadaan perempuan tua tersebut.
“Tidak hanya
itu. Sebelum kau hadir di tengah- tengah mereka.Dia sering mencari orang yang
bisa memberikan dia anak. Dia pikir suaminya mandul. Tapi sampai sekarang dia
tidak hamil- hamil. Kami sih diam saja.Sebab meskipun kami tetanggaan. Tidak
pernah ada tutur sapa atau bergaul bersama kami, sampai sekarang.” lanjutnya.
2.3 Setting
Setting yang digunakan dalam cerpen dongeng kematian
karya sule subaweh ini adalah :
di kamar.
“Kau tidurlah di kamar ini”.
Di halaman rumah.
Setiap pagi dia
menyirami bunga di halaman rumahnya
2.5 Amanat
1.
Jangan pernah
merasa takut terhadap apapun.
2.
Berlatih menata
diri untuk selalu sabar dalam menjalani sebuah kehidupan.
3.
Terutama pada
perempuan,janganlah suka mempermainkan lelaki, karena mungkin dari permainannya
tersebut akan menimbulkan kesan yang tidak baik bagi si perempuan
tersebut.
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari uraian di
atas, penulis menyimpulkan bahwa karya sastra selalu berisi pemikiran, gagasan,
kisah – kisah dan amanat yang dikomunikasikan kepada para pembaca. Sejarah
pengembangan teori Strukturlisme menghasilkan strukturalisme formalis,Struturalisme Dinamik, dan Strukturalisme genetik.
Tokoh perempuan tua
tersebut menggambarkan sosok yang penakut dan cemas yang terlarut dalam
permasalahannya. Pemuda tersebut membantu mencari jalan keluar permasalahan
yang dialami perempuan tua tersebut. Kita harus bangkit dari keterpurukan
permasalahan yang selama ini kita alami. Percayalah setiap permasalahan pasti
ada jalan keluarnya tinggal bagaimana kita mencari jalan keluar itu sendiri.
Daftar
Pustaka
A.Teeuw.1984.Sastra
dan Ilmu sastra.Bandung: Pustaka Jaya.
Subaweh.Sule.26 Mei 2013.Dongeng Kematian.Kedaulatan Rakyat.
Sotoy.Phianz.2010.“ Pendekatan
Struktural”.http://phianzsotoy.blogspot.com.
Wakuru.Iwan.2012.“Analisis
Pendekatan Struktural”.http://iwanwakuru.blogspot.com
Lap.Lhay. “Teori
Strukturalisme Prosa Fiksi”.http://www.slideshare.net/lhaylap.di unduh tnggal 15 juni 2013
Apora.Pang.2008.
“Pendekatan Struktural dalam Penelitian”.http://pangapora07.blogspot.com.di
unduh tanggal 15 juni 2013
Unesa.Pasca.2011. “Teori
strukturalisme”.http:// pascaunesa2011.blogspot.com

0 komentar:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.