Home » » Sinopsis Novel Andrea Hirata: (Sebelas Patriot)

Sinopsis Novel Andrea Hirata: (Sebelas Patriot)

Written By Berbagi ide muda Berkarya on Mar 12, 2017 | 3:18 PM


Novel yang mengisahkan tentang perjuangan seorang ayah di masa penjajahan Belanda. Sebelas patriot berarti menceritakan tentang perjuangan sebelas pemain dimasa penjajahan Belanda. Cerita ini mengisahkan bagaimana kisah pemain bola di masa penjajahan Belanda. Pada masa penjajahan Belanda di pulau terpencil yaitu Pulau Belitong diceritakan kenangan pahit yang dialami masyarakat Melayu. Tangsi merupakan tempat penindasan Belanda, apabila ada masyarakat Melayu yang tidak menghormati Belanda di masa itu, maka langsung ditindas di tangsi tersebut. Tangsi dibangun oleh Van Holden Belanda. Tempat tersebut menjadi tempat terpahit bagi masyarakat Melayu. Apabila Belanda memperingati hari lahirnya ratu Belanda, diadakan turnamen olahraga. Masyarakat melayu tidak diperbolehkan menang dalam perlombaan olahraga tersebut. Ada yang menjuarainya kan ditindas ditangsi dan pulang keadaaan babak belur. Pada ketika memperingati hari lahirnya ratu Belanda tahun selanjutnya, Van Holden mendengar bahwa ada tiga saudara yang hebat dalam dunia persepakbolaan.
Pada masa penjajahan di sela- sela pekerjaan anak- anak bermain sepak bola sengaja dipaksa penjajah menggantikan ayahnya bekerja di parit tambang. Van Holden terpana menyaksikan anak- anak muda tersebut bermain. Sebelumnya kompetisi sepak bola memperingati hari lahir ratu Belanda selalu berakhir seperti yang sudah- sudah. Kemenangan di pihak Belanda. Pada pertandingan kali ini, tiga saudara tersebut dilarang tampil, karena posisi tim Melayu kritis, mereka nekat tampil. Mereka tak menghiraukan bahaya yang akan mengancam jiwa. Mereka tak dapat menahan diri untuk tidak bermain sepak bola, karena sepak bola adalah kegembiraan mereka satu- satunya. Mereka tahu rakyat jelata mendukung mereka dalam sepak bola. Lapangan bola adalah medan pertempuran untuk melawan penjajah. Tim kuli parit tambang menang dengan gol yang diciptakan si saudara tengah, namun tetap saja kekejaman Belanda menindas mereka semua karena sudah menganggap menjatuhkan harga diri Belanda.
Setelah mengetahui cerita tentang ayahnya di masa pada waktu penjajahan Belanda dulu dalam menjuarai piala Distric beherdeer , tekad anak yang bernama Ikal ingin mewujudkan cita- cita ayahnya dalam dunia sepak bola. Berbagai usaha demi menjadi pemain sayap kiri dalam pertandingan diupayakan sekuat tenaga. Ia juga berlatih melakukan tendangan dengan kaki kiri. Ikal mempunyai tekad yang kuat menjadi pemain PSSI. Ia sedih melihat kondisi ayahnya setiap kali menonton PSSI di layar TV hitam putih di kampung halamannya sesekali dia memperhatikan ayahnya. Kaki kiri ayahnya seakan ingin menendang, seakan ingin bermain dalam PSSI tersebut namun apa daya akibat kekejaman penindasan Belanda tempurung lutut kaki kirinya dihancurkan oleh Belanda. Ikal telah menjadi pemain bola di kampung halamannya dengan pelatih Toharun. Ikal, Mahar maupun teman- temannya beberapa kali menang dalam pertandingan bola di kampung halamannya.
Tidak disangka Ikal berhasil terpilih menjadi pemaian junior kabupaten. Dua langkah lagi baginya untuk menjadi pemain junior PSSI. Akan tetapi Ikal gagal dalam mewujudkan keinginan ayahnya. Setelah mendengar cerita dari ayahnya sehabis menonton Indonesia vs Korea, Ikal bertanya kepada ayahnya apakah ada Club favorit lai selain PSSI ternyata ada yaitu Real Madrid. Pemain kesukaaannya ialah Luis Figo. Setelah Ikal selesai SMA, ia merantau serta berhasil mendapatkan beasiswa kuliah di Universitas Sarbonne, Prancis. Menjelang musim panas, rencana Ikal bersama sepupunya yang bernama Aria untuk Backpacking merambah Eropa dan Afrika kian menggebu. Salah satu tujuaannya ialah Madrid, demi ayahnya. Ikal berjanji akan memebelikan kaus bertuliskan Luis Figo di toko resmi Real Madrid, di markas besar klub itu di Stadion Santiago Bernabeu. Ia sengaja merahasiakan hal tersebut dari ayahnya, karena baginya merupakan sebuah kejutan,pasti nanti manis rasanya. Setelah ikal berhasil di tempat tersebut, dia terpana karena melihat kaus luis figo beserta tanda tangan aslinya. Adriana penjual kaus di tempat tersebut memberikan senyuman sapa kepada Ikal, dan dia mengetahui bahwa pasti anak yang berbau jalanan, bau matahari,dan bau melarat tersebut pasti sangat memerlukan kaus tersebut. Adriana tersebut menyebutkan harga baju tersebut dua rats lima puluh euro. Akan tetapi di saku Ikal hanya terdapat uang enam puluh euro. Dari Santiago Bernabeu, Ikal bergegas menuju stasiun kereta terdekat dan meluncur ke Barcelona. Di Barcelona Ikal segera ke Placa de Catalunya.tempat tersebut merupakan sudah menjadi semacam kiblat bagi para backpacker. Apapun yang terjadi Ikal harus mendapatkan kaus tersebut. Dengan segala usaha dan jerih payahnya, Ikal berhasil mendapatkan kaus Luis Figo tersebut.

0 komentar:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.