Home » » “Budaya Mahasiswa yang Memudar”

“Budaya Mahasiswa yang Memudar”

Written By Berbagi ide muda Berkarya on Mar 12, 2017 | 2:40 PM

“Budaya Mahasiswa yang Memudar”
Oleh: Angga Aprinasta Putra

Orientasi Budaya
Masyarakat Indonesia yang menjadi pendukung peradaban modern di kota- kota telah meneruskan sikap sosial dan budaya lapisan bangsa Indo-Eropah. Bersama dengan bentuk seninya sebagai inti pernyataan budaya, kita telah mewariskan pula penilaian sosial- budayanya. Tanpa memiliki darah campuran Indonesia- Eropah, kita menunjukkan sikap hidup yang sama dengan orang- orang Indo- Eropah. Kedudukan kita sama dengan manusia perbatasan, yakni sepenuhnya orang Timur bukan, orang Barat bukan. (Subagio, 1980 hal.28).
Pada umumnya masyarakat Indonesia sudah menghakikat yang namanya silaturrahmi terhadap antar sesama. Proses pembentukan kebudayaan yang juga berbeda. Pada arus yang pertama nilai- nilai lebih banyak didapatkan melalui konflik-konflik, suatu nilai budaya ditolak dan diganti dengan yang baru. Sedang pada arus yang kedua nilai- nilai ditemukan lebih banyak melalui konsensus- konsensus. Masing- masing nilai dan sistem yang berbeda bertemu untuk kemudian menghasilkan yang baru. Di dalam dan sistem yang baru itu mungkin saja ditemukan unsur atau semangat dari nilai atau sistem sebelumnya.(Antilan, Esai Sastra Indonesia hal.277). Kebudayaan yang dominan yang menguasai kehidupan sosial- budaya masyarakat kita selama ini menunjukkan gejala campuran unsur- unsur pribumi dan asing. Sama halnya dengan budaya mahasiswa yang semakin hari dilihat dari kacamata publik, sangat menimalisir sekali.
Menurunnya silaturrahmi antara leluhur dengan para pembaharu dalam sebuah proses menimpa ilmu sering dialami oleh mahasiswa. Bagaimana menciptakan sinergi yang memuat ide- ide dalam mencapai suatu masalah. Kebanyakan dari 3- 5 mahasiswa hanya menjalani kehidupan kupu- kupu (kuliah pulang- kuliah pulang), tidak ada proses kreatif bagi mereka tersendiri. Apakah budaya ini akan selamanya terjadi dalam kehidupan mahasiswa?
Seharusnya sebagai seorang mahasiswa, banyak hal yang harus dipelajari dalam menambah wawasan dengan menciptakan suatu tradisi budaya dalam menciptakan suatu sinergi yang baru. Banyak sekali wadah- wadah tempat untuk saling berbagi ide dan lain sebagainya. Itu juga hanya satu dari ribuan mahasiswa yang mampu bersaing dalam segi memajukan kecerdasan dan kepedulian akan penindasan kebodohan oleh bangsa sendiri. Namun, bagaimana dengan yang lainnya? Dikenal dengan “kupu-kupu”, bagaimana menumbuhkan kepribadian mereka agar menjadi manusia yang lebih kritis dalam berproses. Sedang dalam ruang wadah untuk mengemukakan ide atau problem yang harus dihadapi belum terjalin, komunikasi antara senior dan junior belum tersampaikan dengan semestinya. Hal ini sering terjadi di kampus- kampus Indonesia, mahasiswa- mahasiswa baru lebih tertutup karena tidak adanya pembaharuan, misal angkatan 12 mengadakan diskusi bagaimana solusi ke depan dalam menciptakan kampus agar lebih mampu bersaing dalam akademik, maupun non akademik atau apa saja yang menjadi kendala dalam proses belajar mengajar di ruang kelas?
Secara kasat mata, belum terlihat adanya budaya yang sekiranya berguna bagi mahasiswa lainnya. Pembaharuan seperti ini perlu untuk diterapkan, agar menjadikan karakter sebagai mahasiswa untuk hidup dalam sosial. Semakin merosotnya budaya yang dipengaruhi Barat sedang dalam Timur sendiri makin menghilang seperti musik tradisional kalah dengan musik modern. Bagaimana kita sebagai mahasiswa mengatasi pergolakan yang semakin hari membuat terjatuh dalam dunia yang memutarbalikkan kata. Mahasiswa hanya beperan sebagai manusia biasa. Padahal peran mahasiswa sangat dibutuhkan untuk membela dan melestarikan kembali budaya yang pernah silam. Berawal dari hal sederhana seperti menciptakan budaya diskusi setiap angkatan lama dan baru, sekiranya hal tersebut dapat menumbuhkan semangat-semangat baru terhadap proses lebih lanjut. Jangan hanya hidup dalam ruang sunyi, ego, mau jadi apa? Pemimpin pun tak akan jadi. Jadikan medan perang melawan era reformasi yang semakin hari membuat masyarakat Indonesia keterpurukan terhadap penjajahan oleh bangsa sendiri, agar tetap bangkit berjuang dan melawan.


Hak Asasi Berbudaya
Kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakannya dengan belajar beserta keseluruhan dari hasil budi pekertinya. Ini menunjukkan bahwa budaya merupakan identitas dan karakter seseorang atau suatu masyarakat yang harus dibertahankan sebagai jati dirinya. Perkembangan peradaban senantiasa diikuti dengan ditinggalkannya budaya- budaya yang lalu. Begitu juga budaya modern yang berdampak serupa pada budaya tradisional. Namun, modernitas menyingkirkan tradisionalitas dengan cara yang justru sangat tidak beradab, yaitu menebar ideologi bahwa budaya tradisional selamanya tidak akan sinergif dengan budaya modern yang mengedepankan industrialisasi berbagai hal, dan memegang teguh slogan “efektif efisien”.
Sebuah pembenahan dan rekonstruksi besar- besaran harus dilakukan oleh masyarakat, demi eksistensi identitas dn kembalinya hak asasi manusia pada tempat yang sebenarnya. Melawan dampak destruktif modernitas terhadap kehidupan tradisional, sebuah gerakan masif harus segera dilaksanakan. Gerakan pembenahan budaya seperti ini tidak bisa dilakukan hanya oleh satu sektor saja. Integrasi berbagai aspek juga sangat berpengaruh pada revitalisasi budaya ini. (Koentjaraningrat. 2005).
Pada perubahan era pergolakan terhadap mahasiswa selanjutnya, adanya interaksi antara leluhur dengan mahasiswa baru perlu diperbaharui. Menjadikan manusia lebih aktif dalam ranah berpikir membuat kekuatan tradisi budaya khususnya di tanah Indonesia ini menjadi lebih kental.


Daftar Pustaka
Purba, Antilan. Esai Sastra Indonesia.
Koentjaraningrat. 2005. Pengantar Antropologi. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta
Sastrowardoyo,Subagio. 1980. Sosok Pribadi dalam Sajak. Jakarta. Percetakan Negara






Angga Aprinasta Putra Lahir di Belitung,12 April 1995. Riwayat pendidikannya ia pernah bersekolah di SD Negeri 4 Kecamatan Kelapa Kampit(2007), SMP Negeri 1 Kecamatan Kelapa Kampit(2009), dan SMA Negeri 1 Kec. Kelapa Kampit (2012). Sekarang berstudi prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.
Alamat di Yogyakarta: Gambiran Sawit, Umbulharjo, Yogyakarta.

0 komentar:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.