Home » » “Umbu Landu Paranggi, Guru Penyair yang Menghilang dalam Bahasa”

“Umbu Landu Paranggi, Guru Penyair yang Menghilang dalam Bahasa”

Written By Berbagi ide muda Berkarya on Apr 22, 2015 | 5:19 AM


Oleh: Angga Aprinasta Putra

Para Pencipta Tradisi
Pengarang yang baik adalah pengarang yang dapat menciptakan tradisi. Pengarang semacam ini mau tidak mau mempunyai gagasan yang orisinal. Dan pengarang ini juga mempunyai kepribadian yang kuat. (Dalam buku Kumpulan Esei Sastra SOLILOKUI,Budi Darma). Bagaimana konteksnya dengan seorang penyair yang bernama Umbu Landu Paranggi telah berhasil menciptakan tradisi tulis menulis serta mendirikan Persada Studi Klub di Yogya. Hal tersebut membuat sejarahnya akan terukir untuk selamanya. Sastra indonesia mempunyai jumlah penulis yang bukan main banyaknya. Tapi kebanyakan mereka hanya melongok sastra sebentar, kemudian pensiun. Ada pula yang setelah melongok sebentar kemudian tidur, melongok lagi sebentar, untuk kemudian tidur lagi, entah sampai kapan. Keterlibatan mereka dalam sastra hanyalah sepintas- lalu. Berbeda pula dengan halnya Umbu Landu Paranggi, tidak adanya konsistensi terhadap pendirian suatu karya yang merupakan proses awal kreatif bagi para penyair lainnya.
Umbu Landu Paranggi tidak konsisten bergerak dalam arena produksi terbatas atau apa yang disebut dengan seni tinggi. Pada tahun 1968-1969 beliau mendirikan komunitas sangat kecil yang bernama Persada Studi Klub. Namun, sejak tahun 75-77 beliau telah bermukim di Bali mengelola lembar kebudayaan Bali Pos. Pada Era 78 tersebut Persada Studi Klub bubar, bersama majalah pelopor Yogya yang tidak terbit lagi, perkembangan sastra di Yogya pun berubah dari tahun ke tahun. Pada awal tahun 2000 seorang aktivis jamaah salahudin UGM anak asuh demikian dari Caknun aktif di Patang Puluhan bernama Abrinus Salam, sekarang menjadi dosen UGM, beliau yang pernah mengambil tesis berjudul sejarah sastra Yogya namun gagal. Akhirnya mengambil tesis berubah ke sastra sufi.
Pada tahun 2007 Orang- orang yang berproses di Malioboro mencoba berkumpul kembali menerbitkan sebuah buku kecil yang diterbitkan Badan Bahasa Jakarta yang berjudul Orang-orang Malioboro namun percetakannya tidak begitu tersebar luas ke masyarakat. Pada tahun 2013 menerbitkan majalah sabana yang sampai sekarang sudah terbit edisi 6, lalu bagaimana dengan seorang Umbu? Apa ini sikap yang diambil seorang yang dikatan Presiden Penyair Malioboro? Apa itu bentuk suatu proses kreatif yang harus dilalui anak didiknya beserta teman-teman seperjuangannya?
Menurut penulis hal tersebut tidaklah tepat, karena beliau menghilang dalam bahasa, lewat bahasa beliau berkomunikasi, lewat bahasa beliau pergi begitu saja meninggalkan anak didiknya, sikap seperti apa yang pantas dicontoh? Sedangkan pada intinya sastra itu merupakan dunia jungkar-balik, ketika seseorang telah berhasil membangkitkan sebuah monumen wadah sastra seperti Persada Studi Klub bukan berarti beliau meninggalkannya begitu saja tanpa alasan yang jelas lalu pindah ke Bali. Karya sastra barang tentu bukannya karya yang hanya mengungkapkan kata- kata belaka. Setiap kata dalam karya sastra mempunyai banyak kemungkinan. Karya sastra juga bukan karya yang hanya mengungkapkan fakta-fakta belaka. Setiap fakta dalam karya sastra juga mempunyai banyak kemungkinan.
Penulis menginginkan seorang Umbu mengatakan pengakuan secara terbuka apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan seorang Guru besar sastra ini. Seperti yang dikemukakan Penyair John Milton, “Penyair John Milton adalah penyair besar. Sementara itu, seorang penyair besar yang sekaligus juga kritikus besar bernama T.S. Eliot pernah melancarkan kritik tajam terhadap Milton. Kedudukan Milton turun, dari penyair besar menjadi penyair buruk. Masyarakat sastra percaya apa saja yang dikatakan oleh Eliot. Ternyata kemudian Eliot mengakui bahwa penilaiannya terhadap Milton keliru. Dan masyarakat sastra kembali mengikuti “penobatan kembali” Milton sebagai penyair besar. Perkataan- perkataan tadi, dan cerita- cerita tadi, menggambarkan betapa banyaknya kemungkinan yang ada dalam sastra. Sastra tidak hanya mengandung satu kemungkinan, akan tetapi banyak sekali. Dan kemungkinan- kemungkinan itu sendiri timbul, karena sastra sendiri merupakan bahan yang terbuka terhadap penafsiran-penafsiran”.( Dalam buku Kumpulan Esei Sastra SOLILOKUI,Budi Darma).
SASTRA SEBUAH CATATAN
Jalannya hidup penyair Presiden Malioboro ini konon misterius – ada yang bilang nomaden – dan biasa berjalan dari tempat nongkrongnya di Malioboro utara sambil menyapa orang orang dan menulis puisi. Ia selalu mengajar orang menulis sastra ,membimbingnya dalam Persada Studi Klub di Koran Pelopor Jogja. Ia memperhatikan pertumbuhan puisi, menjaga dan menumbuhkan Sastrawan- sastrawan baru yang kini mungkin anda banyak mengenalnya, seperti Emha Ainun Najib, Linus Suryadi sampai musisi Ebiet G Ade.
Sastra memang karya tulis, akan tetapi yang penting bukanlah tulisannya, melainkan yang ada di dalamnya. Dan apabila kebanyakan orang mengatakan bahwa yang penting di dalam tulisan sastra adalah keindahannya, maka sebetulnya keindahan itu pun bukanlah disebabkan oleh keindahan bahasanya seperti yang banyak dikatakan orang melainkan karena keberhasilan tulisan sastra tersebut mendekati kebenaran. ( Dalam buku Kumpulan Esei Sastra SOLILOKUI,Budi Darma). Selanjutnya Subagio Sastrowardoyo dalam Simphoni (Pustaka Jaya, Jakarta, 1971, hal.45) mengatakan, bahwa puisi adalah filsafat, sedangkan roman, cerita pendek, atau drama adalah ilmu jiwa.
Umbu lahir di Kananggar, Paberiwai, Sumba Timur, 10 Agustus 1943. Usianya sudah cukup renta, 71 tahun. Sejak tahun 1960-an, Umbu Wulang Landu Paranggi kerap disebut sebagai tokoh yang misterius dalam ranah sastra Indonesia. Bagi putra bangsawan Sumba itu, manusia adalah makhluk yang punya magnet yang sanggup tarik-menarik di antara jiwa yang lain. Namun ia memilih setia pada kesunyian. Kesenangan hidup dikorbankannya untuk menyendiri, jauh sanak kadang, jauh dari dari murid-murid yang mengaguminya.
Walaupun dikenal sebagai Presiden Malioboro, mentor berbagai penyair "lulusan" Malioboro terkenal, seperti Emha Ainun Nadjib dan almarhum Linus Suryadi AG, ia sendiri seperti menjauh dari popularitas dan publik. Ia konon sering "menggelandang" sambil membawa kantung plastik berisi kertas-kertas, yang tidak lain adalah naskah-naskah puisi koleksinya. Orang-orang menyebutnya "pohon rindang" yang menaungi bahkan telah membuahkan banyak sastrawan kelas atas, tapi ia sendiri menyebut dirinya sebagai "pupuk" saja. Salah satu bentuk sajak yang menggambarkan kehidupan lewat keindahn bahasanya,

Sajak UMBU LANDU PARANGGI : MELODIA

Cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan
karena sajak pun sanggup merangkum duka
gelisah kehidupan
baiknya mengenal suara sendiri dalam mengarungi
suara suara dunia luar sana
sewaktu-waktu mesti berjaga dan pergi
membawa langkah kemana saja.

Karena kesetiaanlah maka jinak mata dan hati pengembara
dalam kamar berkisah, taruhan jerih
memberi arti kehadirannya
membukakan diri, bergumul dan menjaring
hari-hari tergesa berlalu
meniup deras usia, mengitari jarak
dalam gempuran waktu.

Takkan jemu napas bergelut di sini,
dengan sunyi dan rindu menyanyi
dalam kerja berlembur suka-duka
hikmah pengertian melipur hati damai
begitu berarti kertas-kertas di bawah bantal,
penanggalan penuh coretan
selalu sepenanggungan, mengadu padaku
dalam manja bujukan
Rasa-rasanya padalah dengan dunia sendiri manis,
bahagia sederhana
di rumah kecil papa, tapi bergelora hidup
kehidupan dan berjiwa
kadang seperti terpencil, tapi gairah
bersahaja harapan dan impian
yang teguh mengolah nasib dengan urat biru
di dahi dan kedua tangan
Yogya, 1964

Ketika ada argumen yang menyatakan bahwa pengarang Sutardji Calzoum Bachri ialah penyair sunyi yang menggeser diri. Penyair Sutardji Calazoum Bachri pernah “beralasan”, bahwa ia kini tengah menggapai “puncak-puncak” yang lama dalam mantra. Jika yang terakhir ia temukan di ketinggian, yang pertama justru ia dapatkan di kerendahan, di keawaman. Alasan itulah yang tampaknya menjelaskan mengapa lagi puisi-puisinya setelah O Amuk Kapak, yang dibuatnya pada tahun 70-an, seperempat abad yang lalu. Dan kelakar itu pula yang menjelaskan mengapa puisi-puisinya beakangan, di tahun 90-an, bergeser baik dalam bentuk maupun isinya.(Dalam buku KEBENARAN DAN DUSTA DALAM SASTRA, RADHAR PANCA DAHANA). Penulis juga dapat menyimpulkan bahwa Umbu salah satu termasuk di dalamnya yang selalu setia bersembunyi dibalik kata- kata.
Sajak- sajak Umbu Landu Paranggi tidak ada yang memuat antologi sendiri namun sajak beliau hanyalah memuat di kumpulan tonggak dengan majalah sabana. Salah satu unsur eksistensialis Umbu ialah kehidupan yang penuh dengan cinta sehingga bahasa yang digunakan dalam puisi tersebut begitu indah maknanya. Hanya saja beliau mampu bersembunyi dalm kata- kata sehingga beliau bisa hidup dimana saja.














Daftar Pustaka
http://id.wikipedia.org/wiki/Umbu_Landu_Paranggi
http://etd.repository.ugm.ac.id/index.php?mod=penelitian_detail&sub=PenelitianDetail&act=view&typ=html&buku_id=62956
http://sosbud.kompasiana.com/2014/10/30/umbu-landu-paranggi-sehatlah-kata-kata-menantimu-688657.html
Darma,Budi.1983.SOLILOKUI Kumpulan Esei Sastra .Jakarta. PT Gramedia
Suryadi,AG.1987. Tonggak Antologi Puisi Indonesia Modern 3.Jakarta. PT Gramedia
Panca Dahana, Radhar. 2001. Kebenaran dan Dusta Dalam Sastra. Magelang. Perpustakaan Nasional RI: Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Sastrowardoyo,Subagio. 1980. Sosok Pribadi dalam Sajak. Jakarta. Percetakan Negara

0 komentar:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.